
Malam hari.
Adi baru saja mendapatkan pesan singkat dari Sang Ayah, memberitahu bahwa Ibu Puspita sedang sakit di rumah. Sebagai seorang anak tentu saja Adi harus pulang menjenguk Ibunya yang sedang sakit.
“Pesan dari siapa, Mas?” tanya Caca penasaran.
“Ibu sedang sakit di rumah dan Mas harus pulang menjenguk Ibu,” jawab Adi sedih.
“Caca ikut ya Mas! Sekalian tidur di rumah Mas Adi. Lagipula, Caca belum pernah ke rumah Mas,” tutur Caca yang ingin tidur di rumah orang tua Sang suami.
“Lalu, bagaimana dengan Mama?” tanya Adi yang tidak enak dengan Ibu mertuanya.
“Mas tidur perlu khawatir mengenai Mama. Mama pasti akan mengerti,” balas Caca.
Caca meminta suaminya untuk bersiap-bersiap, sementara dirinya menemui Mama Ismia untuk memberitahu bahwa ia dan suami akan tidur di rumah orang tua dari Adi Hidayatullah.
“Mama!” Caca berlari kecil menghampiri Mama Ismia yang sedang minum teh sembari menonton televisi.
Mama Ismia menoleh dan meminta Caca untuk duduk di sampingnya. Menerima dirinya menonton televisi yang sedang Mama Ismia tonton.
“Mama, malam ini Caca tidur di rumah orang tua Mas Adi ya!” pinta Caca.
“Loh, kenapa sayang? Kenapa mendadak begini?” tanya Mama Ismia yang sedikit kecewa.
“Ibu sekarang sakit di rumah dan Caca tidak mungkin diam di sini, sementara Mas Adi menjenguk Ibunya,” jawab Caca.
“Ya Allah, kalau begitu Mama ikut mengantarkan kalian. Mama juga ingin melihat kondisi Ibu mertua kamu,” sahut Mama Ismia.
Mama Ismia pun bergegas ke kamarnya untuk bersiap-bersiap mengantarkan Putri kesayangannya dan juga menantunya pulang ke rumah besan.
Caca bernapas lega dan saat itu juga berlari menaiki anak tangga untuk segera bersiap-bersiap.
“Bagaimana dengan Mama?” tanya Adi sesaat setelah Sang istri masuk ke kamar.
“Mama akan mengantarkan kita sekaligus menjenguk Ibu,” jawab Caca.
Adi seketika itu mengucap Alhamdulillah atas pengertian Mama mertua.
“Kira-kira Caca pakai baju apa ya Mas?” tanya Caca meminta pendapat dari suaminya.
“Pakai baju yang santai saja. Lagipula, ini sudah malam dan udara pun dingin,” jawab Adi.
Caca membuka almari pakaiannya yang banyak sekali berbagai macam mode pakaian.
__ADS_1
“Ternyata baju Caca banyak juga ya Mas. Padahal di rumah kita juga sudah banyak,” tutur Caca seraya mengambil setelah pakaian berwarna cokelat muda.
***
Beberapa saat kemudian.
Mereka akhirnya tiba di rumah kediaman orang tua Adi yang sangat sederhana. Rumah yang bisa dikatakan seperti rumah orang kampung pada umumnya.
Pertama kali Caca menginjakkan kakinya di rumah itu, cukup membuatnya terkesan. Meskipun rumah itu cukup sederhana, tapi di dalamnya mampu membuat Caca merasakan kenyamanan.
“Assalamu'alaikum,” ucap mereka sembari masuk ke dalam rumah.
“Wa’alaikumsalam,” balas Ayah Faizal.
Mama Ismia seketika itu menanyakan kondisi kesehatan Ibu Puspita dan menawarkan diri untuk mengantarkan besannya itu ke rumah sakit. Akan tetapi, Ayah Faizal menolaknya dengan lembut karena Sang istri anti sekali pergi ke rumah sakit.
“Lantas, bagaimana Mbak Puspita sembuh kalau tidak pergi ke rumah sakit?” tanya Mama Ismia penasaran.
“Kami sudah membeli obat di apotek,” jawab Ayah Faizal.
“Saya do'akan semoga Mbak Puspita segera sembuh ya Mas,” tutur Mama Ismia.
“Terima kasih, Mbak Ismia atas do'anya,” balas Papa Faizal.
“Boleh saya lihat Mbak Puspita?” tanya Mama Ismia yang ingin melihat besannya.
“Assalamu'alaikum,” ucap Mama Ismia sembari masuk ke dalam kamar.
Ibu Puspita membalas salam Mama Ismia seraya tersenyum kecil.
Wajah Ibu Puspita malam itu terlihat sangat pucat dan membuat Mama Ismia takut dengan kondisi Besannya itu.
“Mbak sudah makan?” tanya Mama Ismia sembari duduk di tepi ranjang dan memegang tangan kiri Ibu Puspita dengan hati-hati.
“Alhamdulillah sudah,” jawab Ibu Puspita yang sangat lirih dan hampir tidak terdengar.
Adi dan Caca perlahan mendekat, kemudian mencium punggung tangan Ibu Puspita.
“Kalian di sini ternyata, maaf ya karena membuat kalian harus datang kemari,” tutur Ibu Puspita meminta maaf karena sakitnya membawa Adi dan Caca datang menjenguk dirinya.
“Ibu kenapa meminta maaf? Kami justru sangat sedih ketika tahu Ibu sakit,” ujar Caca sedih.
Ibu Puspita tersenyum lega melihat menantunya ada di hadapannya.
__ADS_1
Karena sudah sangat malam, Mama Ismia pamit untuk pulang ke rumah. Sementara Adi dan Caca memutuskan untuk bermalam.
Selepas Mama Ismia pergi, Adi pun mengunci pintu rumah dan memastikan semuanya terkunci.
“Adi, ajaklah Caca tidur. Sudah jam 11 malam, kalian juga harus beristirahat,” ucap Ayah Faizal meminta Adi mengajak Caca untuk segera masuk ke dalam kamar.
“Baik, Ayah,” balas Adi dengan patuh.
Adi tersenyum sembari merangkul bahu istri dan menuntun istri kecilnya itu masuk ke dalam kamar.
“Ini kamar, Mas Adi?” tanya Caca penasaran.
“Meskipun tidak sebagus kamar kamu, Mas harap kamu nyaman tidur di kamar ini,” ujar Adi.
Caca saat itu juga memeluk suaminya dan meminta Sang suami untuk menciumnya.
Adi tersenyum kecil dan memberikan kecupan hangat di bibir manis Caca.
“Jangan hanya di kecup, Mas. Di cium yang lama dong!” pinta Caca dengan raut wajah centil.
“Kamu mau yang lama?” tanya Adi sambil menahan tawa ketika melihat raut wajah istrinya.
“Kalau Mas tidak mau ya sudah. Caca mengantuk dan ingin tidur,” pungkas Caca dan melepaskan pakaiannya di depan Adi.
Caca sengaja melepaskan pakaiannya dan hanya menyisakan baju dalaman yang sangat tipis dan setelah itu merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
“Caca!” panggil Adi pada Caca yang tidur dengan posisi tubuh membelakangi nya.
Caca sama sekali tidak merespon panggil darinya dan itu cukup membuat Adi frustasi. Adi akhirnya menyusul Sang istri dan mendekap tubuh istrinya dengan erat.
Perlahan tangan Adi bergerak ke arah gunung kembar Caca dan seketika itu Caca menggeliat merasakan efek dari tangan nakal suaminya.
“Mas, Caca mengantuk,” tutur Caca dan suaminya malah semakin gila dengan aksinya itu.
“Kalau mengantuk ya tidur saja,” balas Adi dengan santai.
Caca mendengus kesal dan berbalik badan menghadap ke arah suaminya. Kemudian, Caca menggerakkan tangannya kebagian telur milik suaminya.
“Awww...” Adi reflek menjerit karena Caca tiba-tiba saja memencet telur miliknya.
Caca tertawa lepas melihat bagaimana suaminya menjerit karena ulahnya.
“Jangan salahkan Caca, salah sendiri Mas mulai duluan,” ucap Caca membalas apa yang suaminya lakukan padanya.
__ADS_1
“Caca, kalau sudah begini akan susah untuk tidurnya. Sepertinya kita akan begadang,” tutur Adi.
Caca mulai memahami obrolan dewasa suaminya dan tentu saja Caca menyukai hal itu.