
Pagi itu, Caca dan Adi baru saja tiba di sekolah. Mereka berjalan beriringan menuju kantin karena di rumah mereka tidak sarapan.
“Mas mau makan apa?” tanya Caca yang berada di sisi kiri Adi.
“Nasi uduk, kalau Caca?” tanya Adi.
“Tentu saja nasi uduk, sama seperti Mas. Kita makan sepiring berdua ya Mas!” pinta Caca dengan manja.
“Caca, kita sekarang sedang berada di lingkungan sekolah. Mas tidak ingin mereka bergosip dan membicarakan hal yang tidak-tidak mengenai kita. Terlebih kamu adalah seorang murid,” ujar Adi mempercepat langkahnya menuju kantin.
“Mas, jangan cepat-cepat dong jalannya. Kaki Caca tidak sepanjang kaki Mas!”
Adi mengarahkan jari telunjuknya ke bibirnya.
“Caca, kita di lingkungan sekolah dan Caca harus mengganti panggilan Mas dengan Bapak!” perintah Adi.
“Baiklah,” balas Caca yang sedang tidak ingin banyak bicara.
Setibanya di kantin, Adi memesan nasi uduk dua porsi dan juga teh hangat.
“Sudah pesan?” tanya Caca pada Adi yang baru saja duduk di kursi kantin sekolah.
“Sudah. Nasi uduk dan teh hangat,” jawab Adi.
“Gorengan juga, Mas. Makan nasi uduk itu wajib sama gorengan,” ucap Caca lirih karena tidak ingin di dengar yang lain.
Para murid yang juga sedang berada di kantin, memilih acuh tak acuh dengan Adi dan Caca yang duduk semeja.
“Kamu mau tempe apa bakwan?” tanya Adi.
“Tempe aja deh Mas.”
Seusai sarapan nasi uduk, Caca dan Adi berpisah ke ruangan mereka masing-masing.
“Caca, aku kira kamu tidak masuk. Aku dan Rina menunggu kamu di Koridor,” ucap Lia teman sebangku Caca.
“Oh itu, aku tadi sedang sarapan di kantin,” jawab Caca.
“Apaaaa!!!” Rina dan Lina kaget mendengar cara sarapan di kantin.
“Heh, ini kelas bukan hutan belantara,” celetuk Wuri yang sangat terganggu dengan suara Rina dan Lina.
Caca membalas ucapan Wuri dengan tatapan dingin.
Melihat tatapan dingin Caca, Wuri segera memalingkan pandangannya ke arah lain.
“Kamu tidak sedang bercanda, 'kan?” tanya Lia penasaran sekaligus tak percaya dengan ucapan Caca.
Mereka tahu bahwa Caca tidak akan pernah ke kantin kalau tidak di temani oleh dua temannya, yaitu Lia dan Rina.
“Aku serius dan kalian mau tahu tidak siapa yang pergi ke kantin bersamaku?” tanya Caca.
__ADS_1
“Siapa?” tanya Lia dan Rina dengan kompak.
Ketika Caca ingin menjawab rasa penasaran dua temannya, tiba-tiba saja Caca ingat mengenai permintaan suaminya di kantin. Adi meminta Caca untuk merahasiakan pernikahan mereka untuk sementara waktu.
“Caca, jawab dong!” pinta Lia mendesak Caca untuk segera menjawab rasa penasaran mereka.
“Hehehe.. Maaf, aku tadi tidak serius mengatakannya. Sudah ya, lupakan ucapanku yang tak jelas ini,” pungkas Caca.
Di lain sisi, Intan sengaja menghampiri Adi yang sedang menyusun buku besar di mejanya.
“Selamat pagi, Pak Adi!” Intan menyapa Adi dengan memberikan senyum terbaiknya.
Adi hanya membalas sapaan Intan dengan anggukan kecil.
“Saya tadi melihat motor Pak Adi datang duluan, tapi Pak Adi kenapa tidak ada di ruangan ini?” tanya Intan penasaran.
Adi melirik sekilas ke arah pintu memastikan bahwa Caca tidak berada di sekitar ruang guru. Adi hanya tidak ingin istrinya itu cemburu dan ngambek di saat yang tidak tepat.
“Saya ke kantin,” jawab Adi yang tak menoleh ke lawan bicaranya.
Intan merasa ada sesuatu yang aneh dari rekan kerjanya. Akan tetapi, Intan memilih untuk mengabaikan hal itu dengan santai.
“Pak Adi suka cokelat? Kebetulan kemarin saudara saya habis pulang dari umroh dan membawakan cokelat yang cukup banyak. Ini ada beberapa cokelat untuk Pak Adi!”
Adi menerima pemberian Intan dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Intan mengiyakan dengan senang hati dan bergegas mengambil buku untuk segera mengajar.
“Cokelat ini lebih baik aku berikan pada Caca,” gumam Adi dan memasukkan cokelat pemberian Intan ke dalam tas.
“Caca, mau ke kantin?” tanya Rina.
“Okelah, aku juga mau belum es teh,” jawab Caca.
Caca menggandeng tangan Lia dan Rina dengan terus tersenyum bahagia.
“Kamu kenapa Ca?” tanya Lia penasaran.
“Kenapa yang bagaimana? Apa ada yang salah denganku?” tanya Caca heran.
“Ya aneh aja sih, kamu tuh biasanya curhat masalah Pak Adi. Tapi, dari pagi sampai sekarang kamu tidak pernah membalas perihal Pak Adi,” ujar Lia.
“Setuju!” seru Rina yang setuju dengan ucapan Lia yang mewakili rasa penasarannya.
“Menurut kalian aku dan Pak Adi itu cocok atau tidak?” tanya Caca penasaran.
Lia dan Rina dengan kompak mengangkat kedua baju mereka.
“Cepat jawab, kalau kalian jawab jujur aku akan mentraktir kalian seminggu full,” ujar Caca.
Tanpa pikir panjang, mereka berdua mengatakan dengan kompak bahwa Caca dan Adi sangat cocok.
“Good,” tutur Caca dan tersenyum dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
Mereka bertiga telah sampai di kantin dan saat itu juga mereka memesan apa yang ingin mereka beli.
“Berapa Bu semuanya?” tanya Caca yang ingin membayar jajan mereka.
“25 ribu,” jawab pemilik kantin.
Caca merogoh sakunya dan teringat bahwa ia tidak membawa uang.
“Kenapa Ca?” tanya Lia dan Rina ketika melihat Caca yang nampak kebingungan.
“Aku lupa membawa uang, kalian tunggu sebentar di sini. Ingat, tetap di sini!”
Caca pun berlari meninggalkan Lia dan Rina yang masih di kantin.
Gadis itu berlari menuju Ruang guru untuk meminta uang kepada suaminya.
“Kamu mau ngapain?” tanya Intan menghalangi Caca masuk ke dalam Ruang guru.
“Caca mau bertemu Mas Adi, eh maksudnya Pak Adi,” ucap Caca yang segera membetulkan panggilannya kepada Adi.
“Apa? Coba ulangi sekali lagi! Kamu memanggil Pak Adi dengan panggilan Mas? Pak Adi tidak ada di ruangan ini. Sekarang lebih baik kamu masuk ke dalam kelas!” Intan memperlihatkan ketidaksukaannya kepada Caca.
Kebetulan Adi melihat sekaligus mendengar ucapan kasar Intan kepada istrinya.
“Maksud Bu Intan apa ya bicara kasar kepada seorang murid? Lagipula, Ibu Intan tidak berhak memutuskan apakah Caca boleh bertemu saya atau tidak,” tegas Adi.
Untungnya saja, saat itu tidak ada guru yang mendengar perbincangan tersebut.
Intan tak bisa membela diri, jika ia berusaha membelai diri itu artinya ia membuat kesalahan besar dan Adi semakin menjauh darinya.
“Saya permisi,” ucap Intan yang lebih memilih untuk segera pergi.
Kini, tatapan Adi berfokus pada gadis di hadapannya.
“Caca kenapa mencari Mas?” tanya Adi.
“Mas, Caca ternyata tidak membawa uang saku. Boleh Caca pinjam uang Mas? Nanti ketika sampai di rumah Caca ganti deh 3 kali lipat,” terang Caca.
“Memangnya Caca butuh berapa?” tanya Adi sambil mengeluarkan dompet miliknya.
“25 ribu,” jawab Caca.
“Ini ada 50 ribu dan Caca tidak perlu mengganti uang Mas,” ujar Adi sembari menyerahkan selembar uang berwarna biru.
“Terima kasih Mas Adi, I love you.” Caca berlari menuju kantin dengan suasana hati yang bahagia.
Adi tersenyum melihat kelakuan istrinya yang datang padanya hanya untuk meminjam uang padanya.
“Asik, dapat uang dari suami,” gumam Caca.
Wuri dari kejauhan menyaksikan bagaimana Adi memberikan uang kepada Caca.
__ADS_1
“Pak Adi memberikan uang kepada Caca?” Wuri bertanya-tanya dengan penuh kecurigaan.