
Beberapa Hari Kemudian.
Caca duduk seorang diri di kursi teras depan sembari menunggu Sang suami pulang dari pasar, semenjak Caca diketahui mengandung, dirinya sudah tidak boleh pergi ke pasar.
Meskipun Caca mencoba meyakinkan Sang suami bahwa dirinya bisa pergi ke sana dan kemari, tetap saja Adi tak mengizinkan Sang istri untuk ikut berbelanja di pasar. Adi melakukannya karena tidak ingin istri kecilnya kelelahan dan sebagai seorang suami, Adi harus bertanggungjawab atas istri serta calon buah hati mereka.
Adi sedang dalam perjalanan menuju rumah, ia mengendarai motornya dengan kecepatan sedang dan berharap bahwa Caca tidak ngambek karena tidak diizinkan ikut berbelanja.
Sepanjang perjalanan pulang, hanya ada wajah Caca yang Adi pikirkan. Adi sangat mencintai istrinya dan tentu saja ingin selalu berada di sisi Sang istri.
Setibanya di rumah, senyum Adi terlihat sangat bahagia karena Caca ternyata menunggu kepulangannya dari pasar.
“Assalamu'alaikum, kesayangan Mas yang cantik,” ucap Adi menyapa istri kecilnya.
“Wa'alaikumussalam, Kesayangan Caca yang paling segalanya,” sahut Caca.
Adi bernapas lega karena istri kecilnya tidak ngambek padanya.
“Mas tolong bawa Caca berkeliling daerah sini!” pinta Caca sambil menyentuh perut Adi dengan jari telunjuknya sebanyak 3X.
“Caca mau sekarang apa nanti?” tanya Adi.
“Mas Adi yang baiknya tidak terkira, tentu saja Caca maunya sekarang. Kalau Mas tidak bisa, biar Caca saja yang pergi sendiri,” balas Caca.
“Naik motor?” tanya Adi karena yang Adi tahu Caca tidak bisa naik motor.
“Ya tentu saja tidak lah. Caca punya sepasang kaki, jadinya Caca tinggal jalan kaki saja kalau ternyata Mas tidak bisa mengantarkan Caca berkeliling,” jawab Caca.
Adi ketar-ketir mendengar jawaban istrinya yang ingin jalan kaki. Saat itu juga Adi menurunkan semua barang belanjaan dan memasukannya ke dalam rumah. Kemudian, membawa istri kecilnya berkeliling sekitar daerah tempat mereka tinggal.
Entah apa jadinya kalau sampai Caca nekad pergi seorang diri dan hanya jalan kaki. Sudah pasti, Adi akan merasa bersalah sekaligus tidak bertanggungjawab membiarkan istri kecilnya berjalan kaki dalam keadaan hamil muda.
“Mas, sebenarnya semalam Leo mengirim pesan ke Caca. Intinya Leo ingin mengajak Caca bertemu,” tutur Caca.
“Lalu?” tanya Adi yang nampak cemburu karena Leo masih saja menghubungi istrinya.
“Mas cemburu ya?” tanya Caca menggoda suaminya dan melingkarkan tangan di perut Adi.
“Tentu saja, Caca. Siapa suami yang tidak cemburu kalau ada yang mencoba menghubungi istrinya?”
“Mas ya tenang dong, lagipula Caca tidak membalas pesan Leo. Tidak ada untungnya dan juga tidak penting,” pungkas Caca.
“Alhamdulillah,” ucap Adi bernapas lega.
__ADS_1
Pada saat melewati pertigaan, Caca melihat seorang Ibu yang duduk dengan tatapan kosong. Caca yang kasihan dan penasaran dengan apa di jual Ibu itu, meminta Adi untuk segera berhenti di dekat Ibu tersebut.
“Permisi, Ibu jualan apa ya?” tanya Caca penasaran.
Ibu itu tersenyum lebar seakan-akan Caca adalah pembeli pertamanya.
“Ini Neng, Ibu menjual tape singkong. Silakan di beli Neng!” pinta Ibu penjual tape singkong.
Caca memperhatikan raut wajah Ibu penjual tape yang sedang menahan tangis.
“Ibu baik-baik saja?” tanya Caca penasaran.
Akhirnya Ibu itu menangis karena ia belum memiliki uang untuk membeli beras. Besar harapannya untuk mendapatkan uang dari hasil menjual tape singkong, ia berharap uang hari itu cukup membeli beras setidaknya 1 Kg.
Dengan suara gemeteran, Ibu itu menceritakan alasan dirinya menangis. Caca yang telah mendengarkan cerita Ibu itu ikut menangis sedih serta kasihan.
“Sebentar ya Bu,” ucap Caca mendekati Adi yang berdiri di samping motor.
Caca saat itu juga meminta Adi mengambil beras 1 karung, untuk diberikan kepada Ibu penjual tape singkong.
Adi tak banyak berpikir, ia tancap gas untuk segera pulang mengambil beras 1 karung.
“Bu, saya boleh beli semuanya?” tanya Caca.
“Ya Allah, Neng yakin mau beli semua tape ini?” tanya Ibu penjual tape singkong.
“Semuanya 50 ribu, Neng.” Ibu itu tidak bisa berkata-kata lagi, ia mengucapkan Terima kasih karena Caca memborong jualannya.
Caca mengeluarkan uang 100 ribu dan memberikannya kepada Ibu itu.
“Kembaliannya buat Ibu saja,” ucap Caca.
Adi datang membawa beras 1 karung dan memberikannya kepada Ibu penjual tape singkong.
Ibu itu menangis terharu dengan terus mengucapkan terima kasih atas kebaikan mereka berdua.
“Ibu jangan bersedih lagi ya, saya do'akan semoga kedepannya Ibu mendapatkan rezeki lebih dari Allah,” ucap Caca.
“Ya Allah, Neng. Semoga Neng dan Suami diberikan keberkahan serta panjang umur. Ibu tidak bisa berkata-kata lagi, hanya do'a yang bisa Ibu berikan kepada Neng dan suami Neng,” terangnya.
Caca berterima kasih dan meminta Ibu itu untuk segera pulang karena matahari akan semakin panas.
Wanita itu dengan perasaan bahagia pulang dengan mengayuh sepeda miliknya yang sudah sangat tua.
__ADS_1
“Hari ini Mas mendapatkan pelajaran dari kamu, Caca. Terima kasih ya sudah mau membuat Mas merasa tertampar,” ucap Adi.
“Mas ini bicara apa sih? Caca melakukannya karena tidak tega melihat Ibu itu. Caca berharap kedepannya Ibu itu bisa memiliki uang untuk membeli beras,” pungkas Caca dan mengajak Sang suami untuk segera pulang ke rumah.
****
Siang hari.
Caca membuka matanya dan tak lupa merenggangkan otot-ototnya seperti yang biasa suaminya lakukan. Melihat Adi yang masih terlelap, membuat Caca enggan meninggalkan tempat tidur.
“Mas Adi...” Panggil Caca lirih seraya menyentuh bibir Adi.
Adi perlahan membuka matanya dan itu membuat Caca terkejut, hingga reflek menampar wajah Adi.
Plak! Suara tamparan yang tak disengaja.
“Astaghfirullahaladzim, maafkan Caca ya Mas. Caca sungguh tidak sengaja melakukannya,” ucap Caca meminta maaf dan menciumi pipi suaminya berulang kali.
Adi tahu bahwa istri kecilnya tidak sengaja melakukannya, namun Adi tidak mengatakannya karena masih ingin menikmati apa yang istrinya lakukan.
“Maafkan Caca ya Mas!” pinta Caca dan kembali menciumi pipi Adi.
Adi tersenyum puas dan memaafkan perbuatan istri kecilnya.
“Mas tidak bohong, kan?” tanya Caca memastikan bahwa Sang suami benar-benar memaafkan dirinya.
“Iya, Caca sayang. Mas sudah memaafkan kamu,” jawab Adi dan menarik tubuh Caca ke dalam pelukannya.
Caca tersenyum lega dan mendekatkan telinganya di dada suaminya yang tidak berbusana. Caca bisa mendengarkan dengan jelas detak jantung suaminya yang berdetak semakin cepat.
“Apakah Mas baik-baik saja?” tanya Caca penasaran.
“Tentu saja, apa Mas tidak terlihat baik-baik saja?”
“Bukan itu maksud dari perkataan Caca, Mas. Oya, bagaimana kalau tape di kulkas kita jual untuk besok pagi?” tanya Caca karena tidak mungkin tape sebanyak itu di konsumsi berdua.
“Kalau hanya dalam bentuk tape sepertinya akan sulit menjualnya. Bagaimana kalau kita buat es tape?” tanya Adi.
“Wah, ide bagus itu. Tapi, bagaimana caranya? Caca tidak bisa membuat es tape singkong,” ujar Caca.
“Kalau soal itu serahkan saja sama ahlinya,” sahut Adi sembari menepuk dadanya dengan penuh percaya diri.
“Iya deh, Caca percaya. Kalau begitu tunggu apa lagi Mas? Ayo ke dapur!” ajak Caca bergegas turun dari tempat tidur dengan sangat lincah.
__ADS_1
Adi tertegun sejenak melihat bagaimana Caca begitu aktif bergerak padahal sedang hamil muda.
“Astaghfirullah, ini anak kenapa bisa selincah itu?” tanya Adi ketika istri kecilnya sudah meninggalkan kamar.