
Mereka akhirnya tiba di rumah keluarga Caca dan kedatangan mereka disambut hangat oleh Papa dan Mama.
“Assalamu'alaikum,” ucap Adi dan Caca.
“Wa’alaikumsalam, bagaimana hari ini?” tanya Mama Ismia pada putri kesayangannya.
“Hari ini aku kesal,” jawab Caca dan melenggang pergi dengan raut wajah tak bersahabat.
Papa dan Mama pun menatap Adi meminta penjelasan mengenai Caca yang sedang ngambek itu.
“Nak Adi, Caca kenapa? Kalian ada masalah?” tanya Mama Ismia.
Adi pun menceritakan alasan mengapa istrinya pulang-pulang dalam keadaan seperti itu.
“Oh jadi begitu, ya sudah sana coba kamu rayu Caca agar tidak ngambek lagi,” ujar Papa Rio pada menantunya.
Caca bergegas mengganti pakaiannya dan di saat yang bersamaan Adi masuk ke dalam kamar.
“Astagfirullahalazim!” Adi terkejut melihat Caca yang sedang melepaskan pakaian dan nampak jelas kacamata milik Caca berwarna putih berserta gundukan kembar.
“Mas Adi apaan sih? Cepat tutup pintu!”
Caca semakin kesal dengan Adi yang malah berteriak dan menutup matanya serapat mungkin.
“Caca ini istri Mas dan tidak seharusnya Mas terkejut begitu,” protes Caca.
Adi yang masih menutup matanya rapat-rapat memilih memalingkan tubuhnya.
“Kalau Mas masih begitu, Caca akan telanj*ng,” tegas Caca.
Adi tahu bahwa ucapan Caca tidak main-main, seketika itu juga Adi berbalik dan membuka matanya. Akan tetapi, tak sedikitpun Adi menoleh ke arah Caca yang masih sibuk mengenakan pakaiannya.
“Mas lihatlah Caca, Caca sudah berpakaian!” pinta Caca yang lebih dulu naik ke tempat tidur.
Adi melirik kecil dan ternyata Caca memang telah mengenakan pakaiannya.
“Mas kenapa sih masih kaku begini sama Caca? Mas tidak pernah pacaran ya? Kalau gitu sama dong!”
“Entah sudah berapa kali Mas mencoba mensugestikan pikiran Mas kalau Caca itu istri Mas. Namun, tetap saja yang ada dalam benak Mas kalau Caca itu adalah murid di sekolah dan tak pantas bagi seorang Guru melakukan hal seperti.... ” Adi malu melanjutkan ucapannya.
“Terserah Mas saja deh, Caca akan lihat sampai mana Mas bisa bertahan untuk tidak melakukan hal itu bersama Caca,” ucap Caca dan tersenyum menyeringai.
__ADS_1
Adi menggaruki tengkuknya yang gatal dan memutuskan untuk masuk ke dalam kamar sebagai pelarian dari ucapan Caca itu.
“Aku sangat yakin, bahwa tidak sampai sebulan Mas Adi akan menyentuh ku,” gumam Caca penuh keyakinan.
Perut Caca tiba-tiba berbunyi karena lapar dan meminta suaminya untuk segera keluar dari kamar mandi.
“Mas Adi!” panggil Caca.
Adi tentu saja tidak mendengar panggilan Caca dan itu membuat Caca berinisiatif menghampiri suaminya.
“Kira-kira di kunci tidak ya?” tanya Caca penasaran.
Caca dengan gerakan cepat memutar handle pintu dan ternyata memang tidak di kunci.
Adi dan Caca saling tatap-menatap dan di beberapa detik kemudian, Adi berteriak dan reflek menyiram istrinya dengan hujanan air shower.
“Mas Adi!” Caca berteriak dan berusaha mengambil shower tersebut.
Kini Caca membalas perbuatan Adi dengan menyirami seluruh tubuh Adi.
“Caca, hentikan!” perintah Adi yang saat itu celana panjang miliknya belum ia pasang kembali.
Terjadilah aksi di mana mereka berdua main basah-basahan di dalam kamar mandi.
Karena terlalu bersemangat, Caca terpeleset dan dengan gesit Adi menangkap Caca ke dalam pelukannya. Caca tentu saja tidak ingin melewatkan kesempatan itu, ia membalas pelukan suaminya dan mencium bibir suaminya yang basah itu.
Adi berusaha menghindari apa yang Caca lakukan, akan tetapi naluri nya tidak bisa memungkiri keinginan itu. Pada akhirnya Adi larut dalam permainan bibir Caca.
Kini tidak hanya bibir mereka saja yang saling menempel, bahkan merekapun kompak memainkan lid*h mereka satu sama lain.
Tak sampai 5 menit, Adi memutuskan menyudahinya karena tidak ingin bila Caca masuk angin.
“Kenapa berhenti Mas?” tanya Caca yang ingin melanjutkan cium*n mereka.
“Kita sudah basah dan Mas tidak ingin Caca masuk angin. Sekarang Caca keluar duluan!” perintah Adi.
“Kalau Caca masuk angin, ada Mas Adi yang bisa menghangatkan Caca,” balas Caca.
“Caca ini perintah suami kepada istri!”
Caca mengiyakan dengan terpaksa dan bergegas keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang sudah basah kuyup.
__ADS_1
Adi menyentuh dadanya yang berdegup lebih kencang dari biasanya dan perlahan ia menyentuh bibirnya sendiri.
“Apakah ini masih bibirku? Jadi, yang tadi itu beneran aku?” Adi benar-benar tak percaya bahwa ia tidak melakukannya bersama Caca.
First kiss yang pada akhirnya telah berhasil ia lakukan kepada istrinya.
****
Caca tak bisa melupakan kejadian beberapa jam lalu di kamar mandi bersama suaminya, ia merasakan kebahagiaan yang tidak bisa ia ungkapan dengan kata-kata.
“Mas, Caca mau seperti tadi yang di kamar mandi!” pinta Caca ketagihan yang ingin melakukannya lagi dan lagi.
Adi yang saat itu sedang membaca buku hanya menjawab permintaan Caca dengan geleng-geleng.
“Mas.... ” Caca mendengus kesal dan memeluk suaminya yang sedang membaca buku.
“Caca, Kamu tahu Mas sedang ngapain?” tanya Adi dengan tatapan jengkel.
“Sedang membaca buku, memangnya siapa yang bilang kalau Mas sedang memasak?” tanya Caca sambil menggerakkan tangan kiri suaminya ke arah punggung dan meletakkan telapak tangan suaminya ke pinggang.
Adi mengatur napasnya secara perlahan dan kembali fokus membaca buku yang berada di tangan kanannya.
“Mas, kapan kita tidur di rumah Mas? Caca ingin sekali tidur di kamar Mas Adi,” ujar Caca sambil mengelus-elus dada suaminya.
Buku yang berada di tangan Adi seketika itu jatuh dari genggamannya akibat ulah Caca yang sengaja menyentuh bagian dadanya.
“Caca, Mas ingin fokus membaca buku dan kamu kalau ingin memeluk Mas jangan banyak bergerak,” pungkas Adi pada Caca dan memungut bukunya yang jatuh di lantai.
“Muacchhh” Caca mengecup bibir suaminya yang baru saja mengomel.
Adi tertegun tak bisa bicara apa-apa setelah mendapatkan serangan secara tiba-tiba dari Caca.
“Muach! Muach! Muach!“ Caca kembali mengecup bibir suaminya sebanyak 3 kali dan setelahnya gadis itu berlari meninggalkan suaminya di ruang keluarga.
Caca berlari secepat mungkin karena ia tahu bahwa suaminya akan mengoceh panjang lebar atas kelakuannya.
“Aku harus segera kabur ke kamar dan mengunci pintu kamarku. Mas Adi pasti kesal kepadaku,” ucap Caca sembari menahan tawa.
Adi memukul kepalanya sendiri dengan buku miliknya karena diam saja ketika Caca mengecup bibirnya.
“Anak itu sama sekali tidak ada takutnya kepadaku,” ucap Adi terheran-heran.
__ADS_1
Tanpa sadar, Adi tersenyum sembari menyentuh bibirnya sendiri.