
“Benarkah? Kalau begitu, Mas langsung mandi ya biar tidak bau lagi,” ucap Adi yang buru-buru masuk ke dalam kamar mandi.
Caca tertawa kecil melihat reaksi suaminya yang bergegas pergi masuk ke dalam kamar mandi untuk segera membersihkan diri.
Karena Adi sedang mandi, Caca memutuskan untuk menunggu warung barangkali ada yang datang membeli jualannya.
“Jualanku hari ini laris manis, semoga seterusnya berjalan lancar,” tutur Caca.
Untuk mengusir kejenuhan karena tidak ada teman mengobrol, Caca menyibukkan diri dengan mencatat apa yang akan ia beli besok. Tentu saja uang hasil berjualan akan dipakai untuk berbelanja kembali dan sisanya masuk ke dalam tabungan.
“Neng, ada telur?” tanya wanita berambut pendek.
Caca terkejut dan hampir saja jatuh dari kursi yang ia duduki.
“Hati-hati, Neng,” ucap wanita itu seraya tersenyum.
“Saya terlalu fokus, jadinya tidak melihat Ibu. Telur kebetulan sisa 1/4 kg,” tutur Caca.
“Ya sudah deh, daripada anak-anak tidak ada lauk di rumah,” balas wanita itu.
Caca menyerahkan telur tersebut dan rupanya uang yang wanita bawa itu kurang 2 Ribu.
“Kekurangannya besok ya, Neng. Rumah saya dekat kok, di belakang rumah cat putih itu,” tuturnya seraya menunjuk ke arah rumah cat berwarna putih.
“Maaf, Bu. Tidak bisa, bagaimana kalau telur Ibu saya ambil 1 butir? Jadinya, Ibu tidak punya hutang sama saya,” ujar Caca.
“Ya ampun, cuma 2 Ribu saja kamu tidak percaya. Ini saya kembalikan, saya tidak jadi beli di sini,” ucapnya dengan membentak Caca dan meminta uangnya dikembalikan.
Wanita itu pergi dengan terus mengucapkan kata-kata tak pantas pada Caca, mengatakan kalau Caca adalah wanita pelit dan wanita tak punya rasa sopan santun.
Untuk pertama kalinya, Caca dibentak dan diperlakukan seperti orang jahat hanya karena ia mengambil 1 butir telur.
“Caca, tadi Mas mendengar ada seorang wanita yang seperti sedang marah-marah,” ucap Adi yang belum menyadari bahwa wajah istrinya terlihat sedih.
Adi menyentuh pundak Caca dari belakang, karena Caca belum juga menjawab pertanyaannya.
Pada saat Adi membalikkan tubuh istrinya menghadap padanya, seketika itu juga Caca menangis.
“Kamu kenapa menangis?” tanya Adi yang ikut sedih jika istrinya menangis.
Caca tak langsung menjawab, ia ingin mengeluarkan air matanya sebanyak mungkin.
“Kita masuk ya,” ucap Adi mengajak Caca untuk masuk ke dalam.
Adi pun membawa istrinya ke kursi ruang tamu dan membiarkan Caca menangis supaya kesedihannya bisa Caca keluarkan. Sambil menunggu Caca berhenti menangis, Adi memutuskan untuk menutup warung karena cuaca sore itu juga sedang tidak mendukung.
“Mas, Caca tidak mau berjualan lagi,” ucap Caca yang takut jika nantinya wanita yang membentak dirinya datang kembali, hanya untuk mengolok-olok dirinya perihal 1 butir telur.
“Caca kalau tidak mau berjualan juga tidak apa-apa. Tapi, coba Caca cerita kenapa menangis seperti ini?” tanya Adi penasaran sembari menghapus air mata Caca dengan tisu.
“Mas, apa Caca sangat keterlaluan? Apa Caca begitu pelit dan buruk di mata Ibu tadi? Hanya karena 1 butir telur, Ibu itu tidak jadi beli dan justru membentak Caca,” tutur Caca sesegukan.
__ADS_1
“Coba ceritakan secara detail, Mas kurang paham jika Caca hanya menceritakannya sepotong-sepotong,” pinta Adi dengan tangan yang terus membelai rambut panjang Sang istri tercinta.
Caca pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan apa saja yang wanita itu katakan tentang dirinya.
Setelah mendengar hal itu, Adi merasa kesal terhadap wanita yang telah membentak serta mengatakan hal yang tak pantas kepada istrinya.
“Caca yang tenang ya, Ibu itu tidak akan bisa menyakiti Caca lagi. Nanti malam, Mas akan mendatangi rumahnya,” ujar Adi.
“Jangan, Mas. Caca tidak ingin nantinya Ibu itu semakin membenci Caca, InsyaAllah Caca tidak akan bersedih lagi,” tutur Caca.
Adi menghela napasnya dengan panjang dan memberikan pelukan hangat untuk membuat istrinya jauh lebih tenang.
“Caca masih mau jualan?” tanya Adi.
“Boleh tidak Caca untuk beberapa ke depan tidak keluar rumah?” tanya Caca yang masih takut jika melihat wanita yang telah membentak nya.
“Tentu saja, boleh. Lagipula, Mas tidak akan memaksakan Caca untuk terus berjualan,” jawab Adi.
Adi melepaskan pelukannya dan mengajak Sang istri untuk makan bersama.
“Mas, Caca mau di suapin!” pinta Caca yang ingin manja dengan Adi.
Adi tersenyum lebar dan menyuapi istri kecilnya dengan penuh cinta.
Usai makan bersama, keduanya kompak mencuci piring bersama-sama.
“Assalamu'alaikum!”
“Mendengar apa, Mas?” tanya Caca yang tidak mendengar suara apapun, kecuali suara air yang keluar dari kran.
“Caca di sini dulu ya, Mas mau ke depan,” tutur Adi dan buru-buru pergi ke ruang tamu.
Adi membuka pintu rumah yang ternyata ucapan salam itu dari Ibu Puspita serta Ayah Faizal.
“Wa’alaikumsalam, Ayah dan Ibu kenapa tidak memberi kabar kalau ingin main ke sini?” tanya Adi dan mempersilakan orang tuanya untuk masuk ke dalam.
“Ibu tadi mencoba menghubungi kamu, tapi nomor kamu tidak aktif,” terang Ibu Puspita.
Adi baru ingat kalau ponselnya sengaja tidak ia nyalakan setelah sampai di rumah.
“Ayah, Ibu!” Caca tersenyum lebar dan tak lupa mencium punggung tangan mertuanya.
Ibu Puspita tertegun melihat kantong mata Caca yang bengkak, efek dari menangis.
“Kalian ada masalah? Kamu apakan Caca?” tanya Ibu Puspita mengira bahwa Adi dan Caca sedang bertengkar.
“Ibu jangan salah paham pada Mas Adi, kami sama sekali tidak bertengkar. Caca menangis sama sekali bukan karena Mas Adi,” terang Caca pada Ibu Puspita agar tak terjadi kesalahpahaman.
“Benar, Adi?” tanya Ibu Puspita yang akan siap memarahi Adi jika berani membuat Caca menangis.
“Adi tidak akan pernah membuat Caca menangis, Ibu,” jawab Adi seraya merangkul pinggang Sang istri.
__ADS_1
“Ini kami ada sedikit beras dari Pak Karno, Alhamdulillah Bapak kemarin mendapat beras yang cukup banyak,” terang Ayah Faizal sembari meletakkan sekarung beras dengan berat 10 kg.
“Ayah tidak perlu memberikan kami beras, lebih baik beras ini untuk makan Ayah dan Ibu,” ucap Adi.
“Mas, rezeki itu tidak boleh di tolak. Lagipula, Ayah dan Ibu sudah jauh-jauh main ke sini,” ujar Caca dan berterima kasih kepada mertuanya yang sudah memberikannya beras.
“Lihatlah, istrimu saja pengertian,” sahut Ibu Puspita yang sangat senang dengan Caca.
Caca tidak ingin membuat Ayah dan Ibu sedih, maka dari itu ia menerima beras itu daripada menolaknya.
“Bapak dan Ibu tidur di sini ya!” pinta Caca dan menjelaskan kalau sebentar lagi akan turun hujan.
Baru saja selesai mengatakannya, hujan pun turun dengan sangat deras.
“Ayah dan Ibu harus menuruti keinginan kami untuk menginap di sini. Kalau Ayah dan Ibu tidak mau, kami tidak akan menerima beras ini,” ujar Adi.
“Kalian memang pasangan yang cocok,” celetuk Ayah Faizal.
“Mas di sini, mengobrol dengan Ayah dan Ibu. Caca mau ke belakang, mau membuatkan minuman untuk mereka,” ucap Caca lirih.
Caca kemudian izin ke belakang, sementara Adi berbincang-bincang dengan orang tuanya.
“Nak, tadi Ibu melihat di samping ada meja panjang dan banyak tapi bergelantungan. Kamu berjualan?” tanya Ibu Puspita.
“Iya, Ibu. Kami berjualan kecil-kecilan, selain mencari uang kami juga ingin mencari kesibukan di rumah. Lumayan juga berjualan di sini, karena warung di sekitar sini tidak ada,” pungkas Adi.
“Alhamdulillah, semoga jualan kalian lancar. Ngomong-ngomong, kalian berjualan apa?” tanya Ibu Puspita semakin penasaran.
Adi tersenyum lebar dan menjelaskan apa saja yang ia jual.
Ibu dan Ayah menatap bangga Adi yang sudah bisa bertanggungjawab untuk kehidupan rumah tangga mereka.
Tak berselang lama, Caca kembali dengan membawa teh yang ia buat.
“Silakan diminum,” tutur Caca sambil meletakkan nampan ke atas meja.
Adi tersenyum bangga melihat istrinya yang sudah bisa membuat teh.
“Ayah minum ya tehnya,” ucap Ayah Faizal dan menuangkan teh tersebut ke dalam piring kecil, setelah itu Ayah Faizal meminumnya.
Raut wajah Ayah Faizal tiba-tiba saja berubah ketika merasakan teh buatan Caca.
“Astagfirullahaladzim,” ucap Ayah Faizal.
Mereka semua terkejut, begitu juga dengan Caca yang membuat teh tersebut.
“Ada apa, Ayah?” tanya Caca panik mendengar Ayah mertuanya mengucapkan istighfar.
“Baru kali ini ada yang membuatkan Ayah teh yang rasanya luar biasa asin,” jawab Ayah Faizal dan tertawa lepas.
Adi tertawa, begitu juga dengan Ibu Puspita setelah mendengar jawaban dari Ayah Faizal. Sementara Caca, hanya bisa tersenyum malu.
__ADS_1