Istri Centil Mas Adi

Istri Centil Mas Adi
Resmi Menjadi Suami Istri


__ADS_3

Hari yang dinantikan oleh Caca akhirnya datang juga, gadis itu tak sabar ingin mengenakan gaun pengantin hasil desain dari Mama Ismia.


“Mama, Caca cantik tidak?” tanya Caca penasaran.


“Cantik dong,” jawab Mama Ismia.


Papa Rio masuk ke dalam kamar Caca untuk melihat putrinya yang sebentar lagi menjadi seorang istri.


“Masya Allah, ini bidadari dari mana? Pasti dari Surga,” ucap Papa Rio memuji kecantikan putrinya yang saat itu mengenakan gaun pengantin dengan warna putih bertaburan mutiara asli.


Caca tersipu malu-malu mendengar Papanya memuji kecantikannya saat itu.


Bibi Ningrum tiba-tiba masuk ke kamar untuk memberitahukan bahwa pengantin pria sudah tiba.


Caca yang semula begitu semangat, mendadak panik.


“Bagaimana ini Ma? Pa?” tanya Caca panik.


“Mama, tolong tenangkan Caca. Papa mau ke bawah menyambut keluarga baru kita,” ucap Papa Rio.


Mama Ismia menyentuh erat jemari tangan Caca dan meminta Caca untuk mengatur napasnya secara perlahan.


“Caca bisa, pokoknya nanti Caca tinggal duduk dan ikuti arahan dari Kak Ranti. Salah satu sepupu Caca yang berprofesi sebagai host TV,” tutur Mama Ismia.


Caca terlahir dari keluarga kaya raya, hampir semua saudaranya adalah orang-orang sukses. Meskipun begitu, Caca sama sekali tidak pernah menyombongkan apa yang keluarga miliki. Hanya saja, sifat jeleknya yaitu suka manja dengan orangtuanya maupun keluarganya.


“Kak Ranti yang jadi MC untuk pernikahan Caca?” tanya Caca memastikan.


“Iya sayang, kebetulan Kak Ranti hari ini libur dan Mama aja sekalian untuk menjadi MC. Ya walaupun yang hadir tidak sampai 50 orang, karena acara yang sebenarnya akan diselenggarakan tahun depan,” jawab Mama Ismia.


Caca mulai tenang dan berusaha untuk tetap cantik di hari Jum'at yang penuh keberkahan itu.


“Kapan kita turun, Mama?” tanya Caca yang ingin segera melihat Adi.


“Sebentar ya sayang, setelah calon suamimu selesai mengucapkanakad nikah kamu boleh bertemu dengannya,” jawab Mama.


Di saat yang bersamaan, Adi mencoba mengatur napasnya dengan sekali tarik.


“Saya terima nikah dan kawinnya Caca Lestari binti Rio Brawijaya dengan emas 5 gram serta seperangkat alat sholat dibayar tunai,” ucap Adi dengan lantang.


Mereka serempak mengucapkan sah dan bahkan ada juga yang menitikkan air mata.


Caca pun turun ditemani oleh Mama Ismia. Melihat Caca yang mengenakan gaun pengantin berwarna putih dengan taburan mutiara, membuat Adi tak bisa berkata-kata. Kecantikan Caca membuat Adi sadar bahwa gadis yang ia nikahi adalah wanita tercantik yang pernah ia lihat.

__ADS_1


“Adi!” Ibu Puspita menepuk bahu putranya yang melongo melihat Caca.


“Silakan pengantin wanita duduk di samping pengantin pria,” ucap Ranti selaku MC.


Caca dengan malu-malu duduk bersebelahan dengan Gurun olahraga yang telah resmi menjadi suaminya.


“Mas Adi,” ucap Caca yang mengubah panggilannya menjadi Mas.


Adi terkejut dan nampak grogi mendengar panggilan Caca terhadap dirinya.


“Kepada mempelai pria, silakan menyematkan cincin di jari manis mempelai wanita,” ucap Ranti.


Tangan Adi gemeteran hebat ketika akan membuka kotak cincin. Untungnya, ada Ibu Puspita yang ikut membantu Adi menyematkan cincin tersebut di jari manis Caca.


“Alhamdulillah, sekarang mempelai pria mencium kening mempelai wanita,” ucap Ranti.


Adi begitu takut mencium kening Caca, karena Adi masih tersugesti mengenai status Caca yang masih menjadi muridnya.


“Ayo Nak Adi, cium kening Caca,” ucap Mama Ismia pada Adi yang nampak gugup.


Keringat Adi mengucur dengan cukup deras, sampai-sampai pakaian yang ia kenalan basah kuyup.


Melihat Adi yang begitu gugup, Mama Ismia akhirnya turun tangan untuk membuat Adi mencium kening Caca. Jika Adi nampak sangat grogi dan juga gugup. Lain halnya dengan Caca yang nampak sangat bahagia dan begitu menikmati hari spesial tersebut.


Tak terasa waktu hampir mendekati sholat jum'at, satu-persatu mereka pergi untuk kembali dengan pekerjaan mereka. Sementara Adi dan kedua orang tuanya masih berada di rumah keluarga Caca.


Caca mulai mengantuk dan meminta izin untuk tidak sejenak karena semalaman ia tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan pernikahannya itu.


“Nak Adi kenapa diam saja? Nak Adi pergilah ke kamar bersama Caca,” ujar Mama Ismia.


Caca tersenyum lebar dan merangkul lengan suaminya untuk ikut bersamanya ke kamar.


“Ayo, Mas Adi!” ajak Caca.


Adi belum terbiasa dengan panggilan baru itu, setiap Caca memanggilnya dengan kata Mas membuat telinga Adi merasa sangat geli.


“Tada... Ini kamar pengantin kita,” ucap Caca memperlihatkan kamarnya yang memang kamar itu sengaja tidak dihias seperti kebanyakan kamar pengantin baru lainnya.


Adi hanya diam dengan terus menjaga jarak dari Caca yang telah resmi menjadi istrinya.


Melihat Adi yang begitu menjaga jarak darinya, membuat Caca gemas untuk mendekati suaminya itu.


“Mas Adi!” Caca dengan centil mendekati Adi yang saat itu duduk di sofa.

__ADS_1


Dengan centilnya Caca menyentuh wajah Adi secara perlahan.


Adi cepat-cepat menjauhi Caca karena sentuhan itu di khawatirkan membangunkan sesuatu yang lain.


“Mas Adi kenapa? Bukankah tidak masalah jika Caca menyentuh Mas Adi. Kita sudah menikah dan itu sama sekali tidak berdosa,” ujar Caca yang protes dengan sikap Adi padanya.


“Caca, memang tidak masalah. Akan tetapi, Bapak harus segera pergi ke masjid untuk sholat jum'at,” balas Adi.


“Bapak? Kita sudah menikah dan Caca akan memanggil Mas,” tegas Caca.


Adi tidak ingin membuat keributan dengan Caca. Sebisa mungkin Adi mencoba memberikan Caca pengertian.


“Begini Caca, kamu boleh panggil aku Mas. Akan tetapi, untuk di sekolah lebih baik panggil Bapak. Kita harus profesional sebagai Guru dan Murid,” ucap Adi dengan lembut.


“Mas tidak perlu khawatir, Mama juga sudah memberitahu Caca mengenai hal itu. Sekarang bantu Caca melepaskan gaun pengantin ini!” pinta Caca.


“Haaa?” Adi terkejut karena harus membantu melepaskan gaun yang dikenakan oleh istrinya.


“Kenapa dengan Haa? Cepat Mas, Caca sudah tidak nyaman dengan gaun ini. Gaun ini sangat berat!”


Tangan Adi kembali gemetaran, pria itu sekuat tenaga mencoba membantu Caca melepaskan gaun tersebut.


“Astagfirullahalazim!” Adi dengan cepat memalingkan pandangannya ke arah lain ketika melihat belahan dada Caca.


Caca tersenyum kecil dan dengan nakalnya mengarahkan tangan suaminya ke gunung kembar miliknya.


“Caca!” Adi lagi-lagi terkejut dengan sikap agresif Caca.


“Kenapa? Kita sudah menikah dan bagi sepasang pengantin itu hal wajar. Bahkan, nanti malam kita akan melakukan hubungan malam pertama kita di sini,” tutur Caca dengan sangat santai.


Adi menutup telinganya rapat-rapat ketika mendengar penuturan Caca yang begitu dewasa.


“Meskipun begitu, kamu tidak boleh berbicara seintim itu. Sekarang Mas tanya, siapa yang mengajarkan Caca seperti itu?” tanya Adi penasaran.


“Mbah Google,” jawab Caca dengan santai.


“Apa?” tanya Adi sekali lagi.


“Mas Adi, sekarang itu zaman sudah canggih. Kalau tidak tahu apa-apa kita bisa tanyakan langsung kepada Mbah Google,” jawab Caca.


Adi geleng-geleng kepala dan memutuskan untuk membasahi kepalanya di kamar mandi.


“Boleh ikut?” tanya Caca yang semakin agresif.

__ADS_1


__ADS_2