Istri Centil Mas Adi

Istri Centil Mas Adi
Akhirnya Adi Pulang Ke Rumah


__ADS_3

Beberapa Bulan Kemudian.


Tepat usia Yusuf yang menginjak 7 bulan, Adi akhirnya diperbolehkan untuk keluar dari Rumah sakit. Adi begitu antusias begitu juga dengan istri dan keluarga mereka.


Mengetahui Sang suami akan segera pulang, membuat Caca sulit untuk tidur. Caca tak sabar menunggu matahari terbit dan menyambut kedatangan Sang suami tercinta.


Meskipun belum sepenuhnya sembuh, Adi sudah bisa menggerakkan bagian tubuh yang sebelumnya patah.


“Ya Allah, hamba masih belum bisa tidur,” gumam Caca yang tak sabar ingin segera memeluk suaminya.


Caca mencoba memejamkan matanya, namun lagi-lagi yang muncul adalah wajah Sang suami tercinta.


“Nak Caca!” panggil Ibu Puspita.


Caca yang memang belum bisa tidur, seketika itu juga berlari kecil untuk membuka pintu.


“Nak Caca belum bisa tidur?” tanya Ibu Puspita ketika melihat mata Caca yang masih terang benderang.


“Iya Bu, Caca belum bisa tidur. Caca tidak sabar ingin bertemu Mas Adi,” jawab Caca.


Ibu Puspita tertawa geli mendengar jawaban Caca.


“Kalau Ibu bagaimana?” tanya Caca pada Ibu Mertuanya yang belum juga tidur, padahal saat itu sudah jam 11 malam.


“Sebenarnya Ibu sudah tidur dari jam 8 tadi, cuma kebangun 1 jam yang lalu. Ini Ibu mau tidur lagi dan malah mendengar suara berisik di kamar Caca,” terang Ibu Puspita.


“Caca sangat senang mengetahui Mas Adi akan pulang, Ibu. Apa yang harus Caca lakukan untuk menyambut kedatangan Mas Adi?” tanya Caca.


Sebelumnya, Adi telah menghubungi Caca dan meminta Caca untuk tidak menjemputnya. Caca tentu saja menuruti apa yang dikatakan Sang suami tercinta. Meskipun, sebenarnya ia sangat ingin menjemput suaminya.


“Sebaiknya Caca tidur, besok Nak Caca harus tampil segar,” tutur Ibu Puspita.


Ibu Puspita kemudian menunjuk kantung mata Caca yang nampak menghitam karena kurangnya tidur.


Seketika itu juga Caca pamit untuk tidur berharap mata panda miliknya segera menghilang.


Ibu Puspita tertawa geli melihat reaksi Caca seperti orang yang sedang kebakaran jenggot.


***


Keesokan Pagi.


Caca terbangun dari tidurnya dengan nyawa yang masih belum terkumpul sempurna. Matanya masih terpejam, namun kakinya terus melangkah mencari pintu keluar.


Bughhhh!!!! Caca tak sengaja menabrak ujung pintu dan membuatkan seketika itu jatuh.


“Akkhhhh!” Teriak Caca kesakitan.


Ibu Puspita panik dan berlari masuk ke dalam kamar menantunya.


“Astagfirullah Ya Allah!” Ibu Puspita terkejut melihat hidung Caca yang mengeluarkan darah segar.


Sementara Caca, masih dengan posisi terduduk dengan darah yang terus keluar dari hidungnya.


Ibu Puspita dengan panik mencari kotak P3K untuk hidung menantunya.


“Hiks... hiks....” Caca menangis ketakutan setelah melihat darah yang cukup banyak keluar dari hidungnya.


“Ssuuttsss... Jangan menangis, sekarang lebih baik Caca mendongak!” perintah Ibu Puspita agar darah segera berhenti.


Caca mengikuti perintah Ibu Puspita dengan menahan tangis karena rasa sakit yang tidak bisa dijabarkan.


“Sekarang, Ibu akan mencoba membersihkan darah Caca,” tutur Ibu Puspita.


Tak berselang lama, akhirnya pendarahan di hidung Caca telah berhenti dan Caca saat itu juga pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Setelah mandi, Caca dengan semangat mengenakan pakaian terbaiknya dan memoles wajahnya dengan make up.


“MasyaAllah, cantik sekali menantu Ibu ini,” puji Ibu Puspita melihat wajah cantik menantunya yang semakin cantik.


“Benarkah? Apakah Caca sudah terlihat Cantik?” tanya Caca kurang yakin.

__ADS_1


“Tentu saja, bahkan kalau ada yang mengatakan Caca tidak cantik, itu artinya ada yang salah dengan penglihatan mereka,” jawab Ibu Puspita.


“Ibu, boleh minta tolong?” tanya Caca penuh harap dengan raut wajah sedih.


“Iya Nak Caca, minta tolong apa?” tanya Ibu Puspita penasaran.


“Masalah hidung Caca yang berdarah, tolong jangan beritahu Mas Adi ya. Kalau Mas Adi tahu, yang ada malah Caca ditertawakan!” pinta Caca yang tidak ingin sampai suaminya menertawakan dirinya akibat dari kecerobohannya sendiri.


“Tenang saja, Ibu tidak akan memberitahu Adi,” balas Ibu Puspita.


Ibu Puspita kemudian menanggalkan pakaian cucu pertamanya.


“Yusuf kesayangan Nenek waktunya mandi,” ucap Ibu Puspita dan membawa bayi Yusuf ke dalam kamar mandi.


Sebelumnya, Caca telah menyiapkan air hangat untuk bayinya mandi.


1 Jam Kemudian.


Caca baru saja mendapat kabar dari Mama Ismia bahwa mereka sebentar lagi sampai. Dengan sangat antusias, Caca berlari ke depan terus rumah dan berdiri tegak sambil memperhatikan arah jalan raya.


“Apakah mereka akan segera tiba, Nak Caca?” tanya Ibu Puspita penasaran.


“InshaAllah sebentar lagi, Ibu. Caca sudah tidak sabar ingin menyambut kedatangan Mas Adi!” seru Caca penuh semangat.


“Sekarang, Caca lebih baik duduk di kursi dan jaga Yusuf. Ibu akan ke dapur menyiapkan sarapan untuk kita,” ucap Ibu Puspita.


“Caca ikut membantu ya bu?” tanya Caca yang hendak membantu Ibu mertua kesayangannya.


“Tidak usah, Nak Caca. Lebih baik Nak Caca diam di sini bersama Yusuf sambil menunggu mereka datang. Ok!!”


“Baiklah, Ibu. Caca akan di sini bersama Yusuf,” balas Caca.


Ibu Puspita masuk ke dalam dan di saat itu juga mobil milik Papa Rio sudah terlihat dari kejauhan.


“Alhamdulillah,” ucap Caca bernapas lega.


Ketika mobil baru saja berhenti di depan rumah, Caca celat-cepat menghampiri suaminya.


Melihat Caca yang begitu bahagia menyambut Adi, membuat Mama Ismia was-was dan dengan sigap mengambil Bayi Yusuf dari gendongan putrinya.


“Alhamdulillah Ya Allah, akhirnya suami Caca kembali kepelukan Caca!” teriak Caca penuh semangat.


“Ssuuttss... Caca sayang, jangan teriak seperti itu. Malu didengar Papa dan Mama,” bisik Adi.


“Biarkan saja, Mas. Tidak usah malu dengan Papa dan Mama. Lagipula, Caca tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan Caca ini,” terang Caca dan menuntun suaminya masuk ke dalam.


Caca dengan genit menepuk bokong suaminya.


“Pok! Pok! Pok!” Caca menepuk bokong suaminya sebanyak 3 kali.


Wajah Adi langsung merah merona karena apa yang Caca lakukan dilihat langsung oleh kedua mertuanya.


“Caca, ini masih terlalu pagi dan suami Caca belum sepenuhnya sembuh,” ucap Mama Ismia sambil mendelik tajam.


Caca tersenyum bodoh dan meminta maaf kepada Adi atas kelakuannya.


“Kita ke kamar dulu ya Mas!” pinta Caca dan diiyakan oleh Adi.


Ibu Puspita yang baru saja dari dapur, tersenyum lebar menyambut kedatangan kedua besannya.


“Mbak Puspita apa kabar? Sudah hampir dua minggu kita tidak bertemu,” ucap Mama Ismia.


“Alhamdulillah saya baik, bagaimana kabar Mbak Ismia dan Mas Rio?” tanya Ibu Puspita balik.


“Alhamdulillah kami baik,” jawab keduanya.


“Mbak dan Mas pasti belum sarapan. Mari kita sarapan bersama!” ajak Ibu Puspita.


Mama Ismia mengiyakan dan mengetuk pintu kamar Caca serta menantunya untuk memberitahukan bahwa para orang tua menunggu mereka berdua di ruang makan.


“Iya Ma, sebentar lagi Caca dan Mas Adi menyusul!” seru Caca yang saat itu sedang berpelukan dengan suaminya.

__ADS_1


Caca sangat merindukan sentuhan suaminya, begitu juga dengan Adi yang merindukan semua yang ada pada diri istri kecilnya.


“Apakah Mas merindukan Caca?” tanya Caca penasaran.


“Sangat. Mas sangat merindukan Caca ketika berada di Rumah sakit. Bahkan, ada kalanya Mas membayangkan bahwa istri Mas ini tidur disamping Mas,” jawab Adi.


“Benarkah? Kalau begitu, seberapa besar rasa rindu Mas untuk Caca?” tanya Caca penasaran.


“Tentu saja lebih besar dari rasa rindu Caca untuk Mas,” jawab Adi.


“Tidak. Rasa rindu Caca lah yang lebih besar dari rasa rindu yang Mas miliki untuk Caca,” jelas Caca.


“Ih tidak bisa, jelas-jelas rasa rindu Mas yang lebih besar dari rasa rindu Caca untuk Mas,” tegas Adi.


Caca tertawa geli begitu juga dengan Adi karena perdebatan mereka mengenai rindu.


“Caca sayang, Mas masih belum bisa berdiri lama,” ucap Adi yang mulai merasakan sakit karena berdiri lebih dari 3 menit.


“Begini saja, karena kaki Mas yang belum sembuh sepenuhnya, bagaimana kalau kita makan berdua di kamar?” tanya Adi.


“Jangan, Caca sayang. Kita juga harus menghargai para orang tua yang saat ini menunggu kita di ruang makan. Sekarang, Caca bantu Mas ke ruang makan!” pinta Adi.


Caca mengiyakan permintaan suaminya dan memapah suaminya menuju ruang makan.


“Mama kira kalian ketiduran di kamar,” ucap Mama Ismia menggoda Adi dan Caca.


“Masih pagi, Mama. Nanti malam baru bergadang,” celetuk Caca sambil mendaratkan bokongnya di kursi.


Sontak saja mereka tertawa mendengar celetuk Caca yang langsung membuat para orang tua tak bisa berkata-kata lagi.


Caca mengedipkan sebelah matanya dengan senyum penuh kemenangan.


Usai sarapan bersama, Adi kembali masuk ke dalam kamar dan sebagai istri yang baik, Caca memberikan pijatan lembut di bahu serta punggung suaminya.


“Mas tahu, tidak...”


“Tidak,” celetuk Adi yang sengaja menyela ucapan istri kecilnya.


“Mas Adi sayang, Caca yang cantik dan lucu ini belum selesai bicara. Tolong dengarkan sampai selesai ya!” pinta Caca dengan nada selembut mungkin namun terdengar seperti ingin menelan bulat suaminya.


“Iya Caca sayang, coba beritahu Mas!” pinta Adi dengan santai.


“Dari hati yang paling dalam, Caca sangat senang karena akhirnya Mas pulang ke rumah. Kalau boleh tahu, bagaimana perasaan Mas ketika sudah diperbolehkan pulang dan serumah lagi dengan Caca?” tanya Caca penasaran.


Adi terdiam sejenak dan meminta istri kecilnya untuk berbaring di sampingnya. Kemudian, Adi berganti posisi dari yang tengkurap menjadi terlentang.


“Sekarang, tataplah mata suamimu ini!” pinta Adi.


Caca dengan patuh menatap mata suaminya dan senyum Caca merekah sempurna ketika melihat pantulan wajahnya.


“Semua pikiran Mas telah dihantui oleh wajah cantik Caca. Intinya, Mas sangat bahagia karena akhirnya bisa pulang dan berkumpul bersama kalian semua,” ungkap Adi.


Caca tersipu malu-malu mendengar jawaban suaminya yang membuatnya terasa ingin terbang sampai langit ke tujuh.


“MasyaAllah, cantik sekali istriku ketika tersipu malu seperti ini,” ucap Adi dan meminta istri kecilnya untuk berbaring di dadanya.


“Mas genit banget deh,” celetuk Caca dan berbaring di dada suaminya.


“Mas hanya genit kepada Caca,” ungkap Adi.


“Tentu saja. Caca tahu itu,” sahut Caca dan perlahan memejamkan matanya.


Caca tersenyum lebar mendengar detak jantung suaminya yang berdetak dengan cukup kencang.


“Jantung Mas berdetak sangat kencang, apakah karena posisi kita yang sangat dekat tak berjarak?” tanya Caca penasaran.


“Tentu saja. Hanya Caca yang bisa membuat jantung Mas berdetak tak karuan. Bagaimana dengan Caca?” tanya Adi yang juga penasaran.


Keduanya terlihat seperti pengantin baru yang akan menikmati malam pertama.


“I love you my wife,” ucap Adi penuh cinta.

__ADS_1


“I love you too my husband,” balas Caca tersenyum malu-malu membalas ucapan cinta dari Sang suami.


__ADS_2