
Sore Hari.
Sehabis sholat ashar, Adi mendapat undangan untuk pergi yasinan di rumah salah satu tetangga yang letaknya hanya sekitar 30 meter dari rumah kontrakan.
Sambil menunggu Sang suami datang, Caca memutuskan untuk menyetrika pakaian miliknya dan suami tercinta.
“Alhamdulillah hari ini es balon rasa tape singkong ludes, uangnya buat beli apa ya kira-kira?” tanya Caca bermonolog sambil terus menyetrika pakaian.
Selesai menyetrika pakaian, Caca mengganti seprai kasur, sarung guling dan sarung bantal. Tak lupa juga Caca menyemprotkan wewangian agar tidur ia dan suami semakin nyenyak.
“Hhmm.. harum sekali,” ucap Caca dengan mata terpenjam.
Caca perlahan menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur dan berguling-guling karena terhipnotis oleh kenyamanan serta keharuman tempat tidur tersebut.
“Assalamu'alaikum, Mas pulang,” ucap Adi yang telah menenteng dua kotak nasi dari Yasinan tetangga.
“Wa’alaikumsalam, sebentar!” seru Caca buru-buru menghampiri suaminya yang baru saja pulang dari Yasinan.
Adi tersenyum lebar sambil memperlihatkan dua nasi kotak pada istri tercinta.
“Apa ini, Mas?” tanya Caca penasaran.
“Buka saja, Caca pasti suka!”
Dengan penasaran Caca membuka isi nasi kotak tersebut yang ternyata adalah nasi dengan banyak lauk dan ada juga rendang daging.
“Wah, sepertinya enak nih kalau langsung di makan,” ucap Caca seraya memandangi nasi kotak tersebut dan ingin segera menikmatinya.
“Kok cuma dilihat saja? Di makan dong Caca sayang,” tutur Adi.
“Terima kasih, Suami terbaik Caca,” balas Caca dan bergegas duduk di kursi untuk segera menyantap makanan tersebut.
“Ca, Mas ke kamar dulu ya. Mau ganti baju!”
“Habis itu langsung ke sini ya Mas!” seru Caca.
Saat Caca tengah asik menikmati makanannya, tiba-tiba saja seorang wanita masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan salam.
Caca terkejut melihat wanita yang di kenalnya nyelonong masuk ke dalam rumah tanpa permisi.
“Bu Intan? Ibu ngapain datang kemari?” tanya Caca seraya bangkit dari duduknya.
“Mana Pak Adi? Ibu ingin bertemu Pak Adi,” ucap Intan yang malah mencari Adi.
“Ibu maksudnya apa yang datang kemari dan mencari suami saya?” tanya Caca.
__ADS_1
Adi bergegas keluar setelah mendengar keributan dari ruang tamu.
“Pak Adi!” Intan tersenyum lebar seraya berlari menuju Adi.
Adi dengan cepat menghindar dan mendekati istri kecilnya.
“Ibu Intan kenapa datang kemari? Cepatlah pergi dari sini!” Teriak Adi mengusir Intan.
“Pak Adi, dengarkan dulu penjelasan saya. Saya ke sini hanya ingin silaturahmi saja, tidak lebih dari itu,” ucap Intan yang tidak ingin di usir begitu saja.
“Bohong, Mas. Kalau Ibu Intan memang ingin silahturahmi ke sini mana mungkin Bu Intan nyelonong masuk dan malah mencari Mas saja, ” ungkap Caca dengan menatap tajam Intan.
Caca tidak harus menghormati Intan, meskipun Intan dulu adalah Guru di sekolah. Sikap Caca tentu saja tergantung dengan sikap Intan.
“Bu, cepat pergi dari sini atau saya akan memanggil para warga untuk mengusir Anda,” tegas Caca.
“Pak Adi, tolong jangan memperlakukan saya seperti ini. Saya ke sini benar-benar ingin bersilaturahmi saja,” ujar Intan membela diri.
Caca tidak bisa diam saja, ia dengan geram menarik paksa tangan Intan dan mendorongnya keluar.
"Bu Intan punya malu atau tidak? Mas Adi telah memiliki istri dan Ibu tidak pantas datang kemari,” tegas Caca dengan suara lantang.
Para tetangga satu-persatu keluar rumah untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Plak! Caca menampar pipi Intan begitu saja dan membuat Intan terkejut, begitu juga dengan Adi.
“Sikap Ibu yang seperti ini sangat tidak pantas disebut Guru. Bagaimana bisa seorang Guru tidak tahu malu mengejar suami dari mantan muridnya?” tanya Caca.
Para tetangga akhirnya menghampiri mereka dan mengusir Intan karena telah membuat keributan.
Karena para tetangga sudah mulai mengamuk, Intan akhirnya terpaksa pergi dengan perasaan yang teramat malu. Sementara Caca masuk ke dalam kamar untuk menenangkan diri atas apa yang dilakukan Intan padanya.
Adi pun menjelaskan permasalahan yang terjadi dan saat semuanya sudah mengerti, mereka memutuskan untuk kembali ke rumah mereka masing-masing.
Di dalam kamar, Caca duduk terdiam dan sedang tidak ingin berbicara ataupun diajak bicara. Rasanya, ingin sekali ia mencekik leher Intan sampai Intan memohon ampun padanya.
Sebagai suami, Adi tentu saja tidak ingin melihat istrinya bersedih. Terlebih lagi melihat istri kecilnya duduk terdiam di tempat tidur.
“Caca sayang,” panggil Adi seraya mendekati istri kecilnya.
Caca hanya diam dan bahkan tidak menoleh kearah Sang suami.
“Caca kalau mau marah silakan, Mas terima. Tapi tolong ya, jangan diam begini,” ujar Adi karena tak nyaman jika Caca hanya diam membisu.
Lagi-lagi Caca hanya diam dan memilih untuk berbaring sambil memeluk erat guling miliknya.
__ADS_1
Adi duduk di samping Caca sambil menunggu istri kecilnya berbicara.
1 Jam Kemudian.
Caca perlahan bangkit dari tempat tidur dan masih tidak ingin bicara dengan Sang suami.
Adi bergegas turun dari tempat tidur untuk mengikuti kemana istri kecilnya pergi.
Caca berjalan ke dapur untuk mengambil beberapa butir kelengkeng dan juga anggur. Kemudian, Caca mengambil kacang Thailand yang masih ada sekitar 250 gr. Setelah itu, Caca duduk di ruang tamu untuk menikmati semuanya.
Adi menghela napasnya dan duduk tepat di samping istri kecilnya.
“Caca sayang,” ucap Adi seraya menempelkan pipinya ke pipi Caca.
“Mas ngapain?” tanya Caca lirih.
“Caca, kamu tega mendiamkan Mas seperti ini? Mas sungguh tidak tahu kalau dia akan datang kemari,” balas Adi dan menyentuh tangan kanan istri kecilnya dengan erat.
“Ini bukan masalah tega atau tidak, Mas. Ini masalahnya hati Caca sakit karena Mak Lampir itu sengaja membuat Caca marah. Dan 1 lagi, kenapa Mak Lampir bisa tahu alamat rumah kita?” tanya Caca yang masih enggan menatap suaminya.
“Mas tidak pernah memberitahu alamat kita kepada siapapun, termasuk Pak Kepala Sekolah,” ungkap Adi tanpa ada yang ditutup-tutupi sedikitpun.
Caca mengangguk pelan, ia percaya dengan perkataan suaminya. Akan tetapi, yang Caca tidak habis pikir adalah Intan yang datang tanpa ada rasa malu sedikitpun.
“Sudahlah Mas jangan bahas Mak Lampir itu lagi, Caca tidak ingin memikirkan hal yang tidak penting,” ucap Caca dan mengunyah kacang Thailand dalam jumlah banyak.
“Caca, kalau makan jangan sampai penuh mulutnya,” ucap Adi.
Adi menoleh ke arah luar rumah dan menutup warung lebih awal dari biasanya.
“Sebentar ya sayang, Mas tutup dulu warung kita,” tutur Adi dan mengecup lembut pipi Caca sebelum bangkit untuk menutup warung mereka.
Di saat yang bersamaan, Intan terus saja menangis di kamarnya. Ia sangat malu sekaligus kesal karena Caca menampar pipinya di depan Adi.
Bahkan, tidak hanya Adi yang menyaksikannya banyak pula tetangga yang melihat bagaimana Caca menampar dirinya.
Hal itu, tentu saja membuat Intan tak berani datang lagi ke rumah kontrakan Adi dan Caca. Jika dia sampai nekad, para warga pasti akan memukulinya hingga babak belur.
“Intan, ayo cepat makan. Dari tadi kamu kok diam di kamar saja, cepat keluar kita makan bersama!”
“Nanti saja, Bu. Aku sedang tidak ingin makan,” jawab Intan yang enggan untuk keluar dari kamar.
Intan menangis sambil terus menatap foto Adi yang masih saja ia simpan.
“Pak Adi, kenapa saya susah sekali untuk move on? Kenapa saya menjadi wanita tak tahu malu seperti ini? Padahal Anda sudah memiliki orang spesial di samping Pak Adi,” gumam Intan pada Foto milik Adi Hidayatullah.
__ADS_1