
Sore hari.
Sebuah truk angkut datang dengan membawa perabotan rumah tangga untuk mengisi tempat tinggal baru bagi Adi dan Caca.
Kebanyakan perabotan rumah tangga adalah hasil dari kerja keras Adi, pria 28 tahun itu memang sengaja membelinya dengan uangnya sendiri. Meskipun Orang Caca maupun orang tua Adi menawarkan diri untuk membelikan mereka peralatan rumah tangga, Adi menolaknya dengan halus. Adi ingin membuktikan kepada orang tuanya serta mertuanya bahwa ia bisa menjadi kepala keluarga yang baik sekaligus bertanggung jawab.
“Mama sudah pesan nasi kotak?” tanya Caca pada Mama Ismia.
“Kamu tenang saja, Mama sudah pesan nasi kotak untuk acara syukuran nanti malam. Mama dan Papa berharap kamu dan suamimu selalu bahagia,” balas Mama Ismia.
Caca menarik tangan Mama Ismia masuk ke dalam kamar, Mama Ismia tertawa kecil sembari mengikuti kemana putrinya membawa dirinya.
“Mama tahu, kan? Kalau selama ini Caca suka sama Mas Adi?” tanya Caca setengah berbisik.
“Iya dong, Mama tahu kalau kamu suka sama suamimu. Memangnya kenapa?”
“Mama tidak perlu khawatir dengan Caca di sini, karena Mas Adi benar-benar menjaga Caca. Pokoknya Caca bahagia tinggal berdua sama Mas Adi,” pungkas Caca.
Mama Ismia menangis terharu dan memberikan pelukan hangat kepada putri semata wayangnya.
“Mama bangga sama kamu, sayang. Rumah pasti sangat sepi karena tidak ada kamu,” ujar Mama Ismia.
Adi masuk ke dalam kamar dan melihat adegan mengharukan itu.
“Nak Adi!” panggil Mama Ismia ketika Adi hendak keluar kamar.
“Iya Mas!” seru Adi mendekat.
“Terima kasih karena kamu telah memilih Caca sebagai istrimu. Mama berharap, pernikahan kalian ini adalah yang pertama dan terakhir,” ucap Mama Ismia.
“Meskipun saya belum mencintai Caca, tapi saya akan berusaha untuk menjadi sosok suami yang bertanggung jawab. Dan saya tidak akan menceraikan Caca sekarang ataupun selamanya,” tegas Adi.
Tidak ada kata yang membahagiakan bagi Mama Ismia selain kata yang keluar dari mulut menantunya.
“Kalian Berbincang-bincanglah di kamar, Mama mau menemui yang lainnya,” ujar Mama Ismia sambil menepuk pundak Adi sebelum keluar dari kamar itu.
Caca menatap suaminya dengan tatapan penuh cinta, kemudian ia berjinjit agar bibirnya bisa meraih bibir suaminya.
Dengan perlahan Caca mencium bibir suaminya dan Adi belum juga merespon. Caca berusaha untuk tetap tenang sambil terus mencoba menggoda suaminya, ternyata usaha Caca berhasil. Suaminya membalas ciumannya dengan lembut.
Adi sangat menikmatinya dan benar-benar terlena dengan apa yang mereka dua lakukan.
“Astagfirullahaladzim!” Ibu Puspita terkejut melihat Adi dan menantunya sedang kissing dengan pintu kamar yang terbuka lebar.
Adi dan Caca tak kalah terkejut, mereka seketika itu saling menjauh dan salah tingkah.
Ibu Puspita memilih pergi dan bersikap seperti tidak terjadi apa-apa.
“Caca, jangan sembarangan mencium Mas seperti tadi. Terlebih lagi ketika pintu tidak di tutup,” ucap Adi dengan tubuh gemetaran.
“Ya Caca mana tahu, Mas. Lagipula, Mas Adi ikut menikmatinya,” sahut Caca sambil melempar bantal ke arah wajah Adi.
Adi reflek menangkap bantal yang hampir mengenai wajahnya dan mencoba untuk menghentikan langkah Caca yang ingin ke luar dari pintu.
“Lain kali harus memastikan dulu apakah aman atau tidak,” ucap Adi yang masih memegang tangan istrinya.
Caca tersenyum lebar dan mengajak suaminya untuk melakukannya lagi.
__ADS_1
“Kita lanjutkan lagi ya Mas!” pinta Caca penuh semangat dan kaki kirinya bergerak menutup pintu kamar mereka.
“Kita tidak boleh berlama-lama di dalam kamar, ayo keluar!” perintah Adi dan bergegas pergi dari kamar tidur mereka.
Melihat respon suaminya yang begitu datar, niat Caca untuk menggoda suaminya semakin besar.
“Lihat saja, Caca akan membuat Mas tergila-gila dengan Caca,” gumam Caca.
****
Satu-persatu tetangga datang untuk menghadiri acara syukuran kecil-kecilan, tidak hanya para tetangga saja yang hadir. Kerabat dari keluarga Adi dan juga Caca ikut datang memeriahkan acara syukuran tersebut.
Tentu saja yang datang hanyalah kerabat yang tahu mengenai pernikahan mereka, karena terlalu dini untuk memberitahukan keluarga yang lain mengenai pernikahan beda usia yang terpaut 11 tahun itu.
“Mas, kira-kira selesai jam berapa? Caca ngantuk,” ucap Caca yang memang tidak tidur siang karena sibuk berbenah.
“Tahan sebentar,” sahut Adi datar.
“Mas, kita lanjutkan yang tadi sore yuk!” ajak Caca yang ingin kembali bersentuhan bibir dengan suaminya.
“Astagfirullahaladzim,” ucap Adi yang beristiqhfar mendengar ajakan istrinya.
“Ayolah, Mas. Itu jalan satu-satunya agar Caca tidak mengantuk,” balas Caca sambil menggoyangkan tangan suaminya.
Adi menggelengkan kepalanya yang artinya bahwa ia menolak keinginan Caca yang aneh itu.
“Nak Adi, tolong bawakan air mineral!” pinta Papa Rio.
Adi mengucap syukur karena Papa mertua memintanya mengambil air mineral, karena jika tidak sudah pasti Caca bersikeras meminta sebuah ciuman darinya.
“Papa ganggu saja,” celetuk Caca.
Tak berselang lama, acara syukuran pun di mulai. Adi sebagai penyewa baru mengucapkan terima kasih dan memperkenalkan dirinya secara langsung serta memperkenalkan istri centilnya itu.
Adi sangat berharap ke depannya mereka hidup rukun bersama dengan masyarakat sekitar tempat di mana Adi dan istri tinggal.
Usai do'a bersama, Adi dan keluarga yang lain memberikan nasi kotak sebagai rasa terima kasih atas do'a yang telah mereka panjatkan.
Sebenarnya, sepanjang acara syukuran Caca merasa tidak nyaman. Karena para Ibu yang hadir menatapnya dengan tatapan kurang bersahabat. Meskipun begitu, Caca memilih untuk diam dan tak ingin memberitahu permasalahan itu kepada orang tuanya maupun Sang suami.
Adi melirik sekilas ke arah istrinya yang ternyata tengah melamun.
“Caca, kamu benar-benar mengantuk?” tanya Adi memastikan.
Caca mengangguk-angguk tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
“Acara sudah selesai, Caca boleh tidur,” tutur Adi sambil menyentuh kepala Sang istri.
Caca pun beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar dengan tatapan kosong.
“Caca!” Adi memutuskan menyusul istrinya yang terlihat tidak baik-baik saja.
Gadis itu masuk ke dalam kamar dan membaringkan tubuhnya menghadap tembok kamar.
“Kamu kenapa?” tanya Adi penasaran.
“Caca mengantuk, Mas. Seharusnya Caca tidur sebelum acara, intinya suasana hati Caca sedang tidak baik,” terang Caca dan menarik selimut hingga menutup seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Adi tak ingin mengganggu tidur istrinya, saat itu juga ia meninggalkan Caca yang sudah berbaring di tempat tidur.
“Dasar suami tidak peka,” gumam Caca.
Adi sibuk membantu Papa Rio dan Ayah Zainal memungut gelas air mineral. Sementara Mama Ismia dan Ibu Puspita sibuk di dapur mencuci piring yang kotor.
Kedua wanita itu tak banyak bicara, mereka fokus dengan alat makan kotor yang sedang mereka kerjakan.
“Bu Ismia habis ini langsung pulang?” tanya Ibu Puspita kepada Mama Ismia.
“Iya, kami langsung pulang. Besok ada pekerjaan yang memang harus diselesaikan sebelum jam 10,” jawab Mama Ismia.
Ibu Puspita hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
Suasana kembali hening, hanya terdengar suara guyuran air kran dan suara alat piring yang saling bersentuhan.
“Bu Puspita setelah ini langsung pulang atau bagaimana?” tanya Mama Ismia.
“Kami juga akan pulang, Bu Ismia,” jawab Ibu Puspita.
Suasana semakin canggung dan mereka berdua juga sangat kaku untuk berbincang-bincang.
“Bagaimana kalau saya memanggil Ibu dengan Mbak? Sepertinya lebih enak di dengar,” ujar Mama Ismia.
“Baiklah, Mbak. Mbak Ismia panggil saya Mbak juga bagaimana?” tanya Ibu Puspita.
Mama Ismia tersenyum dan mengiyakan pertanyaan Ibu Puspita.
Di dalam. kamar, Caca yang sebelumnya sangat mengantuk sama sekali tidak bisa tidur. Caca butuh tubuh suaminya untuk memeluknya di kala ia ingin tidur.
“Mas Adi!” panggil Caca yang sudah berada di depan pintu.
Mendengar namanya di panggil, Adi pun bergegas menghampiri istrinya.
“Mas kenapa sih tidak peka?” tanya Caca sambil menarik tangan Adi agar segera masuk ke dalam kamar mereka.
“Ada apa, Ca? Kamu kalau mau sesuatu bilang ya sama Mas, jangan bilang Mas tidak peka kalau kamu saja tidak memberitahukan keinginan kamu,” balas Adi dengan tatapan penasaran.
“Caca mengantuk dan ingin di peluk!” pinta Caca dengan sedikit merengek. “Kalau Mas tidak mau, Caca akan berteriak supaya Mama dan Papa dengar,” imbuh Caca.
“Ok, Mas akan peluk kamu.”
Gadis 17 tahun itu tersenyum lega dan bergegas berbaring di tempat tidur. Adi pun menyusul dan akhirnya memberikan pelukan hangatnya kepada istri genitnya itu.
“Mas, apakah sudah ada cinta untuk Caca?” tanya Caca penasaran.
“Kenapa bertanya seperti ini? Bukankah Caca tahu alasan mengapa kita menikah?”
“Kalau memang Mas tidak ingin melanjutkan pernikahan ini, ceraikan saja Caca,” ucap Caca tanpa memikirkan perasaan Adi ketika mendengar kata cerai yang terlontar dari mulutnya.
“Caca!” Adi seketika itu ******* bibir Caca dengan cukup liar.
Caca melotot tak percaya, bibirnya benar-benar seperti lolipop bagi suaminya.
“Ahhh..” Tiba-tiba saja ******* kecil ke luar dari mulut Caca dan itu membuat Adi seketika menghentikan aksinya.
Adi berlari terbirit-birit, suara desah*n Caca membuat pria 28 tahun itu ketakutan. Ia merasa bahwa jika ia tidak menyudahinya, maka ia akan lepas kendali.
__ADS_1
Caca yang berada di dalam kamar, terlihat kebingungan. Ia heran dengan suara aneh yang keluar dari mulutnya.