Istri Centil Mas Adi

Istri Centil Mas Adi
Banjir Ucapan Selamat Serta Do'a


__ADS_3

Keesokan Pagi.


Caca sedang mengirim pesan kepada dua sahabatnya untuk memberitahukan bahwa dirinya telah melahirkan. Tentu saja berita itu, membuat Lia dan Rina tak sabar ingin menemui Caca serta ingin melihat bayinya.


“Mas, nanti sore Lia dan Rina akan datang kemari,” tutur Caca pada Sang suami yang tengah menggendong bayi Yusuf.


“Benarkah? Para Guru InshaAllah sore nanti ingin berkunjung ke sini,” sahut Adi.


“Mas memberitahu mereka?” tanya Caca.


“Tentu saja, Caca sayang. Mereka juga ingin mengucapkan selamat untuk kita,” jawab Adi.


“Apa tidak apa-apa, Mas? Bagaimana kalau teman Mas tahu bahwa Cava masih sangat muda?” tanya Caca khawatir.


“Mereka sudah tahu, Caca. Mereka sama sekali tidak mempermasalahkan usia kita yang berbeda cukup jauh,” ungkap Adi.


“Syukurlah,” sahut Caca bernapas lega.


Bayi Yusuf tiba-tiba saja menangis dan saat itu juga Adi panik.


Melihat wajah panik suaminya, Caca tertawa lepas.


“Mas kenapa panik begitu? Bayi kita pasti ingin menyusu. Sini, biar Caca susui,” tutur Caca yang akan menyusui bayi mereka.


Adi dengan hati-hati memberikannya bayi Yusuf ke dalam gendongan istri kecilnya.


“Sayang, kalau begitu Mas berangkat ke sekolah ya,” tutur Adi.


“Caca tetap di kamar ya Mas,” sahut Caca karena sedang menyusui bayi mereka.


“Iya, Caca di kamar saja. Ya sudah Mas berangkat dulu, assalamu'alaikum!”


“Wa’alaikumsalam!” seru Caca dan mencium punggung tangan suaminya.


Adi pun keluar kamar dan pamit kepada orang tuanya.


Mama Ismia dan Papa Rio sudah kembali ke rumah mereka sebelum subuh. Karena mereka adalah penguasa sekaligus pembisnis yang harus bertanggungjawab dengan pekerjaan mereka.


“Hati-hati Adi,” tutur Ibu Puspita.


“Baik, Ibu. Adi berangkat, assalamu'alaikum!”


“Wa'alaikumsalam,” balas Ibu Puspita dan Ayah Faizal.


Caca tersenyum senang melihat bagaimana bayi Yusuf tertidur dengan mulut yang terus menyusu. Perlahan Caca meneteskan air matanya terharu mengingat bagaimana perjuangannya melahirkan bayi mungilnya.


“Yusuf sayang, Bunda sangat senang karena kamu terlahir dari rahim Bunda. Bunda berharap kamu selalu dalam kebaikan serta menjadi anak sholeh yang berbakti kepada orang tua,” tutur Caca.


Wajah Yusuf sangat mirip dengannya, bahkan bibir Yusuf dan Caca tidak ada bedanya.

__ADS_1


“Tidur ya nyenyak ya sayang,” tutur Caca dan meletakkan bayi mungilnya dengan tempat tidur.


Setelah dirasa aman, Caca memutuskan untuk keluar dari kamarnya.


“Caca, Yusuf tidur?” tanya Ibu Puspita.


“Alhamdulillah, Bu. Yusuf sekarang sedang tidur setelah menyusu,” jawab Caca.


“Karena Yusuf sudah tidur, sebaiknya Caca sarapan!”


Dengan penuh perhatian Ibu Puspita menggandeng tangan menantunya menuju ruang makan.


“Terima kasih ya Ibu, atas perhatian Ibu selama ini. Caca justru sungkan karena Ibu selalu membantu Caca dan sangat perhatian dengan Caca,” tutur Caca sungkan.


“Caca sudah Ibu anggap seperti anak sendiri. Jadi, Caca tidak perlu merasa sungkan. Sekarang Ibu tanya, apakah Caca menganggap Ibu seperti Ibu kandung Caca?” tanya Ibu Puspita penasaran.


Caca menatap teduh Ibu mertuanya dan mengiyakan pertanyaan tersebut.


Siapa yang tidak menolak ketika Ibu mertuanya menganggap dirinya seperti putri kandungnya sendiri, begitu juga sebaliknya.


“Syukurlah,” balas Ibu Puspita lega.


Saat Caca dan Ibu Puspita sedang berada di ruang makan, Ayah Faizal datang dan memberitahukan bahwa dirinya harus pulang ke rumah. Dikarenakan salah satu anak Pak RT sakit dan masuk rumah sakit.


Ibu Puspita tentu saja tidak bisa ikut menjenguk, ia memiliki tanggungjawab besar untuk menjaga Caca serta Bayi Yusuf.


Kini, di rumah hanya ada Caca, Bayi Yusuf dan juga Ibu Puspita.


“Masakan Ibu memang yang terbaik,” ucap Caca memuji rasa masakan Ibu mertuanya.


Masakan Ibu Puspita memang tak diragukan lagi, rasanya sangat enak dan juga tiada duanya.


“Alhamdulillah,” balas Ibu Puspita dengan perasaan senang.


****


Sore Hari.


Ibu Puspita tengah sibuk menyiapkan makanan ringan serta minuman segar untuk para tamu yang akan datang memberi selamat maupun do'a untuk bayi Yusuf.


Tentu saja yang menyiapkan semuanya adalah Ibu Puspita, sementara Mama Ismia yang mengirim semua makanan ringan serta bahan minuman segar tersebut.


“Ibu, terima kasih atas semua ini. Caca tambah sayang sama Ibu,” tutur Caca.


“Terima kasih juga kepada Mama Ismia, karena ini semua yang mengirimnya adalah Mama dari Caca,” balas Ibu Puspita.


“Alhamdulillah, Caca tadi sudah menelpon Mama dan mengucapkan terima kasih. Saat ini Mama dan Papa dalam perjalanan menuju ke sini,” terang Caca.


Adi ternyata telah tiba dengan membawa cukup banyak pasukan. Diantaranya adalah guru serta beberapa anggota OSIS yang memang sengaja datang untuk melihat bayi Yusuf.

__ADS_1


“Assalamu'alaikum!”


Caca terkejut dan buru-buru masuk ke dalam kamar, sementara Ibu Puspita lah yang bergegas menyambut para tamu.


“Wa'alaikumussalam, silakan masuk!” Dengan ramah Ibu Puspita mempersilakan mereka untuk segera masuk.


“Seharusnya Ibu tidak perlu repot-repot menyiapkan semua ini untuk kami,” ucap salah satu Guru bernama Warno.


“Tidak repot sama sekali,” jawab Ibu Puspita.


Lia dan Rina pun datang dengan membawa kado yang ukurannya cukup besar.


“Assalamu'alaikum,” ucap Lia dan Rina.


“Wa'alaikumsalam!” seru mereka sambil menoleh ke arah Lia dan Rina.


Adi meminta mereka untuk duduk santai sambil menikmati makanan ringan serta minuman segar. Sementara dirinya pergi ke kamar untuk membawa istri serta buah hati mereka ke ruang tamu.


Tak berselang lama, Adi tiba di ruang tamu bersama dengan Caca dan bayi Yusuf.


Mereka salah fokus dengan kecantikan Caca yang ternyata sangat muda. Bahkan, banyak dari mereka yang mengira bahwa Caca adalah gadis SMA.


“Pak Adi, Kakak ini sungguh istri Pak Adi?” tanya Leonardo.


“Tentu saja, bagaimana menurut kamu?” tanya Adi.


“Cantik banget, Pak. Kasih tahu dong tips mendapatkan istri cantik!” pinta Leo.


Semua orang yang ada di ruang tamu tertawa lepas mendengar perkataan Leo yang begitu semangat untuk mengetahui bagaimana Adi bisa mendapatkan seorang Caca yang masih muda serta sangat cantik itu.


Jika semua orang tertawa, lain halnya dengan Caca yang justru tersipu malu.


“Selamat ya Caca, atas kelahiran putra pertamanya Semoga menjadi anak yang berbakti kepada orang tua, negara dan menjadi anak yang sholeh,” tutur Kepala Sekolah.


“Amiin!” seru Adi, Caca serta yang lainnya.


Lia dan Rina beranjak dari duduk mereka untuk menghampiri Caca yang tengah menggendong bayi Yusuf.


“Caca, habis melahirkan kamu semakin cantik saja. Apa rahasianya?” tanya Lia berbisik.


“Hei, aku mendengar ucapanmu dengan jelas,” celetuk Rina.


Lia dan Rina menatap wajah bayi Yusuf dengan serius.


“Caca, bayimu mirip sekali denganmu,” tutur Lia.


“Ya. Aku setuju!” seru Rina.


Caca hanya tertawa kecil mendengar penuturan Lia dan juga Rina mengenai wajah bayi mungilnya.

__ADS_1


__ADS_2