Istri Centil Mas Adi

Istri Centil Mas Adi
Ujian Nasional


__ADS_3

3 Bulan Kemudian.


Jantung Caca berdebar tak karuan ketika akan memasuki kelas. Ia sangat berharap tidak ada kesulitan selama mengerjakan soal ujian nasional yang tentu saja akan menentukan masa depannya.


“Caca, cepat masuk!” panggil Lia seraya melambaikan tangannya ke arah Caca yang diam kaku di depan kelas.


Dengan mengucapkan basmallah, Caca masuk ke dalam kelas dengan perasaan gugup.


Caca duduk di kursinya dan tak berselang lama, Adi masuk ke dalam kelas seraya tersenyum kepada peserta ujian Nasional, termasuk istri tercintanya.


“Bagaimana anak-anak? Apakah kalian sudah siap?” tanya Adi.


“Siap, Pak!” seru mereka serempak.


Adi tersenyum lepas dan berjabat tangan dengan salah satu pengawas dari sekolah lain.


Caca dari tempat duduknya, terus saja memandangi semuanya seraya tersenyum gugup. Sementara dari sisi kiri Caca, ada Leo yang menatap jengah Adi Hidayatullah.


Leo masih tidak rela dan ikhlas dengan hubungan mereka berdua. Sakit hati pasti dan mungkin butuh waktu cukup lama untuk menghilangkan rasa sakit hati itu.


“Leo, kalau suka itu ya bilang lah. Mumpung kita masih satu sekolah,” ucap Tegar yang duduk tepat di belakang Leo.


Leo sudah berjanji pada Mama Ismia untuk merahasiakan hubungan Caca dan Guru olahraga itu. Oleh karena itu, Leo memilih diam jika teman-temannya sering menggoda dirinya untuk segera menyatakan cinta pada Caca.


“Ok semuanya, sekarang keluarkan alat tulis kalian!” perintah Adi.


Merekapun serempak mengeluarkan alat tulis untuk mengerjakan soal-soal ujian tersebut.


Caca baru menyadari bahwa ia lupa membawa alat tulisnya dan seketika itu juga Caca panik.


“Caca, kamu kenapa?” tanya Adi pada istrinya yang nampak kebingungan.


Caca menundukkan kepalanya karena malu dengan suaminya yang sebelumnya telah menyuruhnya untuk memeriksa semua keperluan ujian. Akan tetapi, Caca malah mengabaikan ucapan suaminya dan akhirnya terjadilah hal yang tidak diinginkan.


Leo tiba-tiba datang menghampiri Caca dan memberikan alat tulis lengkap kepada Caca. Hal itu, membuat semua murid menatap kagum sosok Leo yang terlihat keren.


Sebelum kembali ke kursinya, Leo memberikan senyuman penuh kemenangan kepada Adi.


Dasar bocah tengil, bisa-bisanya dia tersenyum seperti itu kepadaku. (Batin Adi)


Caca bernapas lega atas pertolongan cepat Leo yang telah meminjamkannya pensil, penghapus dan juga buku kosong padanya.

__ADS_1


Memangnya Pak Adi saja yang bisa membuat Caca terpukau? Saya juga bisa, Pak. (Batin Leo)


Melihat Leo yang sangat perhatian dengan Caca, membuat Wuri cemburu. Wuri merasa setiap pria yang ia sukai pasti menyukai Caca dan bukan dirinya, hal itulah yang membuat Wuri tidak menyukai sosok Caca.


Beberapa saat kemudian.


Caca menghela napasnya yang terasa sesak dan memutuskan untuk segera pulang karena ujiannya sudah selesai.


“Caca, tidak mau ke kantin dulu?” tanya Lia.


“Aku sedang tidak nafsu makan, aku pulang ya,” jawab Caca.


Siang itu, Adi tidak bisa pulang bersama Sang istri. Karena sibuk menata lembar jawaban dan juga beberapa hal penting yang harus ia selesaikan. Mau tak mau Caca akhirnya pulang dengan di jemput oleh Mama Ismia.


“Sayang, kamu kenapa nampak kusut begini?” tanya Mama Ismia sesaat setelah Caca masuk mobil.


“Caca kepikiran tentang nilai Caca, Ma. Caca takut nilai Caca jelek,” jawab Caca seraya memanyunkan bibirnya.


“Kamu itu harus percaya diri, sayang. Mama percaya kalau nilai kamu memuaskan,” tutur Mama Ismia.


“Karena Caca putri Mama, makanya Mama bisa bicara seperti itu,” celetuk Caca dan meminta Mama Ismia untuk segera membawanya pulang.


Di saat yang bersamaan, Adi sedang sibuk menyusun kertas jawaban para murid bersama Guru yang lainnya. Kebetulan, Intan duduk bersebelahan dengan Adi yang teramat di cintainya.


“Belum,” jawab Adi singkat tanpa menoleh Intan.


“Habis ini bagaimana kalau kita makan siang bersama, Pak Adi?” tanya Intan penuh harap.


“Saya tidak lapar,” jawab Adi dingin.


Meskipun, Adi berulang kali cuek ataupun mengabaikan dirinya. Tetap saja Intan menyukainya, sikap Adi itu menjadi daya tarik bagi seorang Intan.


Adi beranjak dari duduknya dan berpindah tempat karena tidak ingin diganggu oleh Intan.


“Pak Adi!” panggil Intan dan ikut pindah tempat duduk.


Suara Intan yang memanggil Adi, membuat para Guru menatap ke arah mereka berdua. Kemudian, para guru itu melanjutkan kembali pekerjaan mereka masing-masing.


Adi semakin jengkel dengan Intan yang sangat suka mengganggu dirinya. Karena tidak bisa menahannya lagi, Adi pun memberitahu Intan bahwa ia sudah memiliki seorang istri.


“Bu Intan, tolong jaga jarak dari saya. Saya sudah beristri,” tegas Adi dan melenggang pergi menuju ruang Kepsek.

__ADS_1


“Haaa?” Intan melongo tak percaya dengan ucapan Adi.


Pikiran Intan saat itu benar-benar kosong, ia tidak bisa memikirkan apapun selain ucapan Adi beberapa detik yang lalu.


“Bu Intan, kenapa melamun? Cepat selesaikan pekerjaan Ibu!” pinta salah satu Guru yang berada di ruangan itu.


Intan tersenyum lepas dan menganggap apa yang Adi katakan hanyalah gurauan belaka.


“Pak Adi!” Intan dengan semangat berlari ke arah Adi yang baru saja keluar dari rumah Kepala Sekolah.


Adi terheran-heran dengan raut wajah Intan yang nampak semangat, padahal sebelumnya Adi sudah memberitahukan mengenai dirinya yang telah memiliki seorang istri.


“Pak Adi, lucu deh,” ucap Intan reflek menyenggol lengan Adi.


Adi bergeser beberapa langkah untuk menjaga jarak dari Intan yang terlalu dekat padanya.


“Saya masih ada beberapa pekerjaan, permisi,” tutur Adi yang lagi-lagi mengabaikan Intan.


Sore hari.


Caca berada di kamarnya dan tidak ingin keluar kamar. Caca bahkan tidak mau makan sebagai bentuk protes terhadap dirinya sendiri yang kesulitan menjawab pertanyaan soal-soal ujian nasional.


“Caca sayang!” Adi masuk ke kamar seraya memanggil istrinya yang tengah berbaring di tempat tidur.


Caca seketika itu bangkit dari tempat tidur dan tergesa-gesa menghampiri suaminya yang berdiri di dekat pintu.


“Mas kenapa baru pulang?” tanya Caca penasaran.


“Maaf,” balas Adi meminta maaf karena telah membuat istrinya menunggu.


“Mas tidak membalas pesan Caca, apa karena ada Bu Intan di dekat Mas?” tanya Caca.


“Kamu kenapa berpikiran seperti itu? Mas kerja untuk kita dan sama sekali tidak dekat-dekat dengan Bu Intan. Mas juga mengerti yang namanya batasan, Intan,” terang Adi dan memberikan kecupan mesra di bibir istrinya.


“Benarkah begitu?” tanya Caca memastikan.


“Apa menurut Caca, Mas berbohong?” tanya Adi.


Caca menggelengkan kepalanya seraya tersenyum lega.


“Kalau tersenyum begini, Caca semakin cantik,” ucap Adi memuji senyum cantik istrinya.

__ADS_1


Caca tersipu malu-malu mendengar pujian dari suaminya.


“Peluk dong Mas!” pinta Caca dengan manja.


__ADS_2