Istri Centil Mas Adi

Istri Centil Mas Adi
Datang Menjenguk


__ADS_3

Pagi Hari.


Kali ini Caca tidak pergi sendirian menemui suaminya, dikarenakan kedua orang tua Sang suami sangat merindukan putra mereka yang sedang dirawat di rumah sakit.


“Ayo, jemputan kita sudah datang,” tutur Ayah Faizal.


Mereka bergegas masuk ke dalam mobil untuk melakukan perjalanan ke rumah sakit.


“Apa yang sedang Caca pikirkan?” tanya Ibu Puspita ketika melihat Caca tengah melamun.


Caca terkejut dengan tepukan Ibu Puspita dipunggung nya dan dengan senyum kecil ia berkata bahwa tidak ada yang ia pikirkan.


“Sungguh?” tanya Ibu Puspita yang tak yakin dengan ucapan Sang menantu.


Caca hanya mengangguk kecil dan menunduk menatap wajah bayinya yang tengah terlelap. Caca memang sedang memikirkan sesuatu hal dan dia memilih untuk tidak memberitahukan tentang apa yang ia pikirkan. Cukup ia dan Tuhan Yang Maha Esa lah yang tahu.


Ibu Puspita mengiyakan sambil membelai lembut rambut menantunya.


Untuk mengusir kejenuhan di dalam mobil, Ayah Faizal memilih untuk mengajak pengemudi mobil online untuk berbincang-bincang sekedar melepas kepenatan.


“Mas sudah lama kerja menjadi pengemudi online?” tanya Ayah Faizal basa-basi.


“Alhamdulillah, tahun ini jalan 5 tahun,” jawab pemilik Nama Wawan.


“Cukup lama ya Mas,” sahut Ayah Faizal sambil mengangguk-angguk.


“Alhamdulillah,Mas. Kalau boleh tahu, Mas sendiri kerja apa?” tanya Wawan penasaran.


“Bisa dikatakan pekerjaan saya adalah kuli bangunan,” jawab Ayah Faizal apa adanya.


“Wah, Mas hebat. Tidak semua orang bisa melakukan pekerjaan itu, saya salut dengan Mas,” puji Wawan.


Mereka terus saja mengobrol, sampai akhirnya tak terasa sudah berada di depan rumah sakit.


“Terima kasih, Mas Wawan,” ucap Ayah Faizal pada pengemudi online itu.


“Sama-sama, saya juga berterima kasih kepada Mas Faizal. Kalau begitu, saya lanjut ya!” seru Wawan.


Ayah Faizal senang berbicara dengan pria bernama Wawan itu. Banyak hal yang mereka perbincangkan selama berada di perjalanan.


“Yusuf biar Ibu yang gendong,” ucap Ibu Puspita dan mengambil alih menggendong cucu pertamanya.

__ADS_1


Ketiganya dengan kompak berjalan memasuki rumah sakit.


“Assalamu'alaikum,” ucap mereka bertiga ketika memasuki ruangan Adi.


“Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” balas Adi.


Caca berjalan sambil memandangi wajah suaminya dan akhirnya Caca sadar bahwa suaminya yang berbaring di ranjang nampak sangat tak terurus.


“Ada apa, Sayang? Kok wajahnya langsung masam begitu?” tanya Adi penasaran.


“Tidak ada apa-apa, Mas. Bagaimana keadaan Mas? Apakah ada keluhan?” tanya Caca.


Belum juga menjawab, tiba-tiba saja ada suara ketukan pintu.


Ayah Faizal dengan sigap berjalan menuju pintu yang ternyata sudah ada 5 orang berpakaian Guru.


“Assalamu'alaikum, Pak Faizal. Kami dari sekolah tempat Pak Adi mengajar,” ucap Pak Nugroho, selalu kepala sekolah.


“Wa'alaikumsalam, silakan masuk!” Ayah Faizal cukup mengenal rekan kerja dari putranya, karena sebelumnya ketika ada acara syukuran Pak Nugroho serta Guru yang lainnya datang untuk ikut memeriahkan acara syukuran.


Adi terkejut melihat rekan kerjanya datang menjenguk dirinya tanpa memberi kabar.


Ada kepala sekolah, yaitu Pak Nugroho serta beberapa Guru yang ikut menjenguk Adi.


Karena kedatangan mereka yang mendadak, membuat Caca serta mertuanya kebingungan.


“Caca, Yusuf kamu gendong dulu ya. Ibu akan keluar membeli sesuatu untuk tamu kita,” ucap Ibu Puspita dan ucapannya terdengar sampai ke telinga Pak Nugroho.


“Ibu Puspita, tidak perlu repot-repot. Kami di sini hanya sebentar,” ucap Pak Nugroho dan memberikan buah-buahan yang mereka beli kepada Ibu Puspita serta Ayah Faizal.


Pak Nugroho kemudian meminta Adi untuk beristirahat sampai benar-benar sembuh. Dan jika Adi sudah sembuh, Adi baru boleh mengajar kembali.


“Maaf semua, sepertinya kami harus kembali,” ucap Pak Nugroho.


Adi mengucapkan banyak terima kasih kepada Pak Nugroho serta yang lainnya. Karena sudah repot-repot datang menjenguk dirinya.


“Pak Adi harus tetap semangat, jangan mudah menyerah. InshaAllah Pak Adi bisa melewati cobaan ini dengan sangat baik,” tutur Pak Nugroho.


Salah satu Guru melangkah mendekat menghampiri Adi.


“Pak Adi, Anak-anak di sekolah menitip pesan ke saya, bahwasanya mereka merindukan Pak Adi. Kata mereka, Pak Adi Guru olahraga favorit mereka,” ucap Kevin dengan berbisik.

__ADS_1


Adi tertawa kecil mendengar keterangan Kevin padanya.


“Sampaikan salam saya untuk mereka,” balas Adi.


Pak Nugroho, Kevin serta Guru yang lain akhirnya pamit untuk kembali ke sekolah.


Setelah mereka semua pergi, Caca kembali mendekati suaminya dan meletakkan bayi Yusuf di ranjang.


“Mas kenapa kelihatannya sedih? Mau berbagi cerita sama Caca?” tanya Caca.


“Sebenarnya, sudah beberapa hari ini ada yang Mas pikirkan. Tapi, Mas belum bisa memutuskan perkara yang ada di dalam hati Mas. InshaAllah ketika Mas sudah tenang, Mas akan berbagi cerita kepada Caca, Ibu, Ayah, Mama dan juga Papa,” terang Adi.


“Baiklah, Caca akan menunggu saat yang tepat untuk Mas bercerita. Sekarang waktunya Mas sarapan, Caca tadi pagi memasak ayam goreng,” terang Caca.


Ayah Faizal dan Ibu Puspita memilih untuk duduk diam. Mereka tidak ingin mengganggu interaksi keduanya.


Melihat Caca yang akan menyuapi Adi, membuat Ibu Puspita beranjak dari duduknya dan memutuskan untuk menjaga cucunya.


“Nak Caca, Yusuf biar Ayah dan Ibu yang jaga ya,” tutur Ibu Puspita.


Ibu Puspita dan Ayah Faizal akhirnya memilih untuk mengajak Yusuf berkeliling rumah sakit.


“Mas sayang kamu, Caca.”


Deg!


Jantung Caca berdegup cukup kencang, bisa-bisanya Sang suami menggoda dirinya.


“Caca juga sayang sama Mas Adi,” balas Caca dan membantu suaminya untuk mencari posisi nyaman ketika menikmati makanan.


“Kalau begitu, apakah Caca masih akan menerima Mas setelah mendengar keputusan Mas?” tanya Adi penasaran.


Caca tersenyum lebar dan tak akan mempermasalahkan tentang keputusan suaminya. Akan tetapi, Caca tidak bisa menerima keputusan yang membuatnya merasa dirugikan.


“Apapun keputusan Mas, tentu saja Caca akan menerimanya dengan senang hati. Akaj tetapi, kalau sampai Mas meminta Caca untuk bersedia dimadu, tentu saja Caca tidak akan mau. Lebih baik kita ber.....”


“Astaghfirullah, kenapa Caca punya pikiran seperti itu?” tanya Adi menyela perkataan istrinya.


“Berarti bukan itu ya Mas? Lalu apa?” tanya Caca penasaran.


“Nanti saja ya sayang, sekarang Mas sangat lapar,” tutur Adi.

__ADS_1


Adi sendiri sengaja menolak makanan yang disediakan pihak rumah sakit. Bukan karena rasanya, melainkan Adi ingin makan masakan Ibunya dan juga istri kecilnya.


“Kalau ayam goreng buatan Caca tidak enak, terus terang saja ya Mas. Agar kedepannya Caca bisa lebih serius lagi belajar memasak,” terang Caca sambil menyendok nasi untuk suaminya tercinta.


__ADS_2