
Adi merasa sedikit gugup karena hari itu adalah pertama kalinya ia menginjakkan kaki di sekolah Cendekiawan. Sekolah yang pernah menjadi saingan sekolahnya dulu.
Langkahnya terasa berat dan untungnya ada seorang Guru yang datang menghampirinya.
“Assalamu'alaikum, apakah Bapak ini adalah Pak Adi Guru olahraga yang ditugaskan mengajar di sini?” tanya pria yang juga berprofesi sebagai Guru.
“Wa’alaikumsalam, benar saya adalah Adi Guru yang ditugaskan mengajar di sini,” terang Adi membalas jabatan tangan dari pria yang menyapanya lebih dulu.
“Panggil saya Kevin, saya Guru yang mengajar bidang bahasa Inggris,” ucap Kevin memperkenalkan diri.
Kevin dengan ramah membawa Adi untuk berkumpul bersama Guru yang lain di Ruang Rapat. Kebetulan pagi itu, Guru sedang melakukan rapat mingguan. Yaitu, setiap hari Kamis pagi mereka akan mengadakan rapat untuk terus mengembangkan sekolah mereka agar terus maju.
“Assalamu'alaikum, saya membawa Guru baru kita,” ucap Kevin.
“Wa’alaikumsalam,” sahut Para Guru.
Kepala Sekolah yang bernama Nugroho, menghampiri Adi dan mengucapkan selamat datang atas kepindahannya.
“Selamat datang, Pak Adi. Saya selaku Kepala Sekolah di sini, sangat senang karena Pak Adi mau pindah mengajar di sini,” ucap Pak Nugroho.
Pak Nugroho kemudian meminta Para Guru untuk segera bangkit dari kursi dan menyapa Rekan kerja baru mereka.
Adi menyadari bahwa Guru di sekolah barunya ternyata masih muda. Hanya sekitar 5 Guru yang sudah berumur, termasuk Pak Nugroho.
Setelah saling menyapa dan memperkenalkan diri. Merekapun kembali ke kursi masing-masing untuk melanjutkan rapat mingguan mereka.
“Pak Adi, duduklah di sini!” panggil Guru wanita yang memberikan kursi kosong kepada Adi.
Adi mengangguk kecil dan duduk di kursi kosong yang diberikan oleh Guru wanita bernama Santi.
Usai rapat mingguan, merekapun bergegas menuju kelas yang akan mereka ajar. Sementara itu, Adi menghadap Pak Nugroho untuk menanyai tentang sistem ajar di sekolah itu.
Tentu saja Adi harus tahu seluk-beluk sekolah itu, agar ia pun nyaman mengajar di sekolah baru.
Pak Nugroho sendiri rupanya orang yang humoris dan santai jika diajak berbicara. Bahkan, Pak Nugroho berpesan kepada Adi jika mengajar nanti jangan terlalu keras kepada para murid. Pak Nugroho ingin sekolah mereka dikenal sebagai sekolah yang santai, namun bisa mencetak anak-anak yang pintar. Baik pintar di dunia pendidikan maupun dunia seni.
“Terima kasih atas penjelasan Pak Nugroho yang sangat membantu saya. Saya berjanji akan selalu mengingat semua perkataan Bapak kepada saya,” ujar Adi dan mohon izin untuk segera mengajar di kelas.
“Pak Adi, mari saya antar ke kelas,” ujar Pak Nugroho.
“Dengan senang hati,” jawab Adi.
Pak Nugroho dan Adi pun bersama-sama menuju kelas 10 IPA 1.
Para murid di kelas 10 IPA 1 ternyata sudah menunggu kedatangan Guru baru, hal itu dapat dilihat ketika Pak Nugroho dan Adi baru memasuki kelas. Para murid dengan kompak menatap Adi dengan sangat antusias.
“Anak-anak, ini Guru yang Bapak bicara sebelumnya kepada kalian. Bapak harap kalian bisa menunjukkan rasa hormat kepada Pak Adi. Sekarang, Pak Nugroho akan meninggalkan kalian bersama Pak Adi,” ucap Pak Nugroho dan bergegas meninggalkan Adi yang akan berbaur dengan murid barunya.
Adi tersenyum ramah seraya mengangguk kecil.
“Assalamu'alaikum!” Adi berteriak dengan penuh semangat.
“Wa’alaikumsalam!” Merekapun membalasnya dengan penuh semangat.
“Bagaimana penampilan Bapak pagi ini?” tanya Adi yang ingin bicara lebih santai karena Pak Nugroho mengizinkannya untuk tidak mengajar khusus hari itu.
“Bagus!” seru mereka.
__ADS_1
“Alhamdulillah, ini semua berkat istri Bapak di rumah,” ucap Adi.
Mendengar bahwa Adi telah beristri, membuat para murid terkejut. Mereka bahkan penasaran dengan istri dari Guru baru mereka.
“Bapak sudah menikah? Wah, pasti istri Bapak Cantik ya?” tanya seorang siswi yang nampak cukup penasaran.
“Alhamdulillah sangat cantik, kalian mau melihatnya?” tanya Adi.
“Mau!” seru mereka yang tak sabar ingin melihat berapa cantiknya istri dari Adi.
“Kalau begitu, yang menjawab pertanyaan Bapak bisa maju ke depan untuk melihat istri Bapak!” seru Adi.
Salah seorang siswa mengangkat tangannya seraya tersenyum lebar.
“Iya, kamu. Ada pertanyaan?” tanya Adi.
“Pak Adi, kalau satu-persatu sepertinya waktu tidak cukup. Bagaimana kalau perbaris?” tanya murid tersebut.
“Ide yang bagus, Bapak suka ide kamu. Oya siapa nama kamu?” tanya Adi.
“Saya Leonardo, Pak,” jawab murid tersebut yang bernama Leonardo.
Seketika itu Adi teringat dengan muridnya dulu yang bernama Leonardo, murid yang menyukai istri kecilnya.
Ternyata bisa kebetulan begini. (Batin Adi)
“Baiklah, Leonardo. Bapak akan mengikuti ide kamu!” seru Adi.
Adi pun melontarkan pertanyaan dan pada akhirnya mereka bisa menjawab. Satu-persatu murid maju ke depan untuk melihat wajah cantik Caca.
“Wah, berarti usianya sama seperti saya, Pak. Kebetulan minggu kemarin saya ulang tahun ke 18,” ucap seorang siswa.
“Pak Adi, kalau boleh tahu umur Bapak berapa tahun? Kelihatannya masih muda, umur 23 tahun ya Pak?” tanya Leonardo.
Adi tertawa kecil mendengar pertanyaan Leonardo yang mengira umurnya 23 tahun.
“Apa Bapak masih pantas berumur 23 tahun?” tanya Adi.
“Masih pantas!” seru mereka.
Adi tersenyum lebar dan meminta para murid untuk maju ke depan memperkenalkan diri mereka.
Mereka dengan senang hati maju satu-persatu untuk memperkenalkan diri mereka kepada Guru baru yang menurut mereka sangat menghibur.
Setelah mereka sempurna memperkenalkan diri, bel ganti pelajaran berbunyi.
Terlihat jelas wajah kecewa mereka karena belum puas bercengkrama dengan Adi.
“Pak Adi, jangan bosan ya masuk ke kelas kami!” pinta siswa bernama Hanif.
“Kalian juga jangan bosan melihat wajah Pak Adi!” seru Adi.
Adi mengucapkan Terima kasih atas keseruan pagi itu dan tak lupa mengucapkan salam sebelum meninggalkan kelas.
Kesan pertama para murid kepada Adi sangat baik, bahkan mereka sangat siap untuk memberikan bintang 5 kepada Adi.
Adi tersenyum puas, ia sangat senang bisa mengajar di sekolah Cendekiawan. Ia berharap ke depannya dirinya bisa lebih baik lagi di sekolah itu.
__ADS_1
“Jam pertama sudah selesai, sekarang aku harus kembali ke Ruang Guru,” gumam Adi dengan terus melangkahkan kakinya menuju Ruang Guru.
****
Siang hari.
Caca duduk melamun di kursi sembari menatap kangkung di hadapannya. Ia merasakan kebosanan serta kejenuhan karena hanya diam di rumah sembari menunggu warung. Ingin rasanya ia jalan-jalan di mal dan berbelanja baju yang ia inginkan.
“Lia dan Rina sekarang lagi apa ya? Apa bisa aku bermain bersama mereka lagi?” tanya Caca.
Saat Caca sedang memikirkan Caca untuk bisa bermain bersama Lia dan Rina. Ternyata Adi sudah pulang dan buru-buru turun dari motornya.
“Assalamu'alaikum, Caca.” Adi menepuk pelan punggung Caca.
“Astaghfirullah!” Caca terkejut karena tiba-tiba saja ada yang menepuk punggungnya.
Caca kemudian meminta maaf karena asik melamun dan tidak mendengar ucapan salam Sang suami.
“Caca sedang memikirkan apa? Akhir-akhir ini Mas lihat kamu sering melamun. Coba cerita sama Mas!” pinta Adi.
“Mas kok pulang jam setengah dua?” tanya Caca yang mencoba mengalihkan pertanyaan Sang suami.
“Iya karena sekolah baru Mas dekat dari sini, bukankah Caca juga tahu? Coba ceritakan dengan jujur kenapa Caca melamun?” tanya Adi.
Caca enggan jujur dengan suaminya, bukan apa-apa. Caca hanya tidak ingin menambah pikiran Sang suami karena harus mencari uang untuk biaya pendaftaran kuliah dirinya.
Jika Caca berkata jujur dengan keinginannya berkumpul bersama Lia dan Rina untuk berbelanja di mal. Dapat dipastikan bahwa itu hanya akan membuat suaminya semakin bingung mencari uang.
“Caca, kenapa wajah kamu pucat?” tanya Adi dan membawa Caca untuk masuk ke dalam rumah.
Caca tiba-tiba kehilangan keseimbangannya dan jatuh di pelukan suaminya dengan tak sadarkan diri.
“Caca!” Adi panik dan bergegas menggendong istrinya masuk ke dalam rumah.
Adi tentu saja panik bukan main, ia tidak pernah melihat wajah istrinya yang sangat pucat hingga istri kecilnya jatuh pingsan.
Adi mengambil minyak kayu putih dan mengoleskan di bagian dada serta leher istri kecilnya.
“Caca sepertinya kelelahan, aku tidak boleh membiarkan Caca terlalu banyak bergerak,” gumam Adi.
Tak berselang lama, Caca bangun dan menyadari bahwa dirinya sudah ada di tempat tidur.
Melihat Caca yang sudah sadar, Adi mengucap syukur dan tak lupa mencium kening istri kecilnya.
“Caca kenapa bisa di sini, Mas?” tanya Caca yang tak ingat apa-apa.
“Caca tadi pingsan, apa Caca tadi tidak makan? Mas lihat makanan di meja masih utuh,” terang Adi.
Caca tak bisa berbohong, ia pun memutuskan untuk jujur kepada Sang suami.
“Mas, Caca sebenarnya ingin main bersama Lia dan Rina. Tapi, Caca tidak berani jujur sama Mas,” tutur Caca.
“Astaghfirullah, jadi ini alasannya mengapa Caca banyak melamun? Kalau Caca mau bermain dengan mereka Mas setuju-setuju saja. Lagipula, Caca pasti jenuh kalau terus di rumah. Oya, minggu depan kita akan pergi ke kampus untuk mendaftar kuliah Caca,” terang Adi.
“Benarkah? Kalau begitu, Caca mainnya minggu depan saja ya Mas!” pinta Caca.
“Siap!” seru Adi dan mengajak Caca untuk segera makan.
__ADS_1