
Adi dan Caca yang telah selesai mengganti pakaian, bergegas menemui Mama Ismia yang berada di ruang tamu.
“Sudah?” tanya Mama Ismia seraya tersenyum lebar.
“Sudah,” jawab Adi dan Caca dengan malu-malu.
Mama Ismia meminta Adi mengambil belanjaannya di dalam mobil, karena bahan makanan serta buah-buahan yang Mama Ismia beli cukup banyak dan tentu saja harus Adi yang mengangkatnya.
Adi mengiyakan permintaan tolong dari Mama Ismia dan berlari kecil menuju mobil.
“Mama kenapa datang tanpa pemberitahuan? Bagaimana jika Caca dan Mas Adi sedang tidak di rumah?” tanya Caca.
“Mama sengaja datang ke sini tidak memberitahu kamu dan suami kamu. Untungnya, kalian di rumah dan tidak kemana-mana,” jawab Mama Ismia.
“Mama datang ke sini pasti karena kangen ya sama Caca?” tanya Caca percaya diri.
“Tentu saja, kalau tidak kangen ya apa lagi? Lagian, anak Mama dan Papa cuma kamu,” pungkas Mama Ismia.
“Ya kalau gitu, Mama buat lagi saja. Biar Mama dan Papa ada yang nemenin di rumah,” balas Caca yang tak masalah jika dirinya memiliki adik.
Mama Ismia tertawa mendengar ucapan Caca yang terdengar seperti orang yang sedang melawak.
“Mama jangan ketawa dong, Caca mengatakannya juga karena tidak ingin membuat Mama repot-repot datang kemari,” ujar Caca dengan raut wajah ngambek.
“Ya bagaimana Mama tidak tertawa? Kamu dengan santainya menyuruh Mama memiliki anak lagi di usia tua begini. Seharusnya, kamu lah yang memberikan Mama seorang cucu.”
Caca menggelengkan kepalanya, ia masih belum siap untuk menjadi seorang Ibu. Terlebih lagi dirinya masih berusia 17 tahun dan belum sanggup mengurus bayi.
“Caca takut, Ma. Caca belum bisa menjadi pribadi yang dewasa dan Caca masih ingin berduaan dulu sama Mas Adi,” terang Caca yang ternyata di dengar oleh Adi.
Adi menganggap santai apa yang Caca katakan. Lagipula, Adi masih harus menabung uang untuk masa depan rumah tangannya.
“Sudah, Adi?” tanya Mama Ismia pada Adi yang baru saja mendaratkan bokongnya di kursi.
“Alhamdulillah, sudah Mama. Seharusnya Mama tidak perlu membawakan kami bahan makanan dan buah-buahan sebanyak itu,” ucap Adi sungkan.
“Jangan sungkan sama Mama. Kamu itu udah Mama anggap seperti anak sendiri, pokoknya kalau kalian membutuhkan sesuatu langsung hubungi Mama,” ujar Mama Ismia.
Adi mengucapkan terima kasih atas pemberian Mama mertua.
“Sebenarnya, kedatangan Mama ke sini selain kangen dengan Caca. Mama ingin menanyakan soal kuliah kamu, Ca. Bagaimana, sudah kamu tentukan jurusan mana yang mau kamu ambil?” tanya Mama Ismia.
Adi menatap istrinya dengan tatapan bertanya-tanya, karena selama ini kuliahSang Istri belum memberitahunya perihal kuliah.
__ADS_1
“Caca mau kuliah?” tanya Adi penasaran.
Mama Ismia menutup mulutnya rapat-rapat mendengar pertanyaan menantunya.
Dengan perlahan Adi membelai rambut istrinya dan meminta Sang istri membahas perihal kuliah dengannya dulu. Baru setelah itu, bicara dengan Mama Ismia dan juga Papa Rio.
Mama Ismia sama sekali tak tersinggung, bagaimanapun juga Adi lah yang berhak memutuskan langkah selanjutnya untuk putri tunggalnya, Caca Lestari.
“Caca, sebaiknya kamu bicarakan dulu sama suamimu. Mama harus pulang sekarang, sore nanti Mama dan Papa ada rapat di kantor,” ujar Mama Ismia.
Mama Ismia pun pamit dan tak lupa meminta Adi untuk selalu menjaga putrinya yang masih kekanak-kanakan itu.
Setelah Mama Ismia benar-benar pergi, Caca meminta maaf sembari memeluk suaminya.
Adi merespon sikap Caca dengan santai karena hal itu bukanlah kesalahan yang fatal.
“Caca mau kuliah?” tanya Adi penasaran.
“Iya, Mas. Caca mau kuliah, tapi Caca masih bingung mau mengambil jurusan apa,” jawab Caca yang belum menentukan jurusan apa yang akan ia ambil.
“Caca pikirkan matang-matang dan jangan terburu-buru. Mas akan selalu mendukung kamu selamanya,” tutur Adi dan memberikan kecupan singkat di kening Caca.
“Kalau dipikir-pikir Caca ingin mengambil jurusan manajemen. Tapi, Caca belum tahu fakultas mana yang ingin Caca tempuh,” ujar Caca.
“Kalau soal itu, kita cari bareng-bareng. In shaa Allah kita akan segera menemukan fakultas yang cocok untuk kamu,” tutur Adi.
Malam hari.
Hujan kembali mengguyur daerah itu dengan sangat deras dibarengi suara gemuruh yang cukup keras. Tentu saja bunyi gemuruh itu membuat Caca takut dan untungnya ada Sang suami yang bisa terus ia dekap dengan erat.
Dekapan Caca begitu erat, hingga membuat Adi sulit untuk bernapas.
“Caca, jangan kencang-kencang yang ada Mas tidak bisa bernapas,” ucap Adi.
Caca mengiyakan sembari melonggarkan dekapannya agar Sang suami bisa bernapas.
“Bagaimana, apakah sekarang Mas sudah bisa bernapas dengan baik?” tanya Caca yang enggan melepaskan dekapannya pada Adi.
“Setidaknya ini jauh lebih baik daripada yang sebelumnya,” jawab Adi.
“Mas, Caca kangen kamar Caca di rumah. Di sini cukup sempit dan tidak bisa menaruh lebih dari satu almari pakaian,” tutur Caca.
“Caca yang sabar ya, kalau sudah ada rezeki Mas akan membeli rumah yang layak untuk kita tempati,” ujar Adi.
__ADS_1
“Mas, apakah Mas ingin membuat Caca hamil dalam waktu dekat ini?” tanya Caca penasaran ingin mendengar jawaban suaminya.
“Kenapa Caca bertanya begitu?” tanya Adi pura-pura tidak mengerti maksud istrinya.
Adi tentu saja sudah mendengar pembicaraan antara Caca dan Mama Ismia. Meskipun begitu, Adi memilih berpura-pura tidak tahu karena ingin mendengar langsung dari mulut Sang istri.
“Caca mau jujur sama Mas. Sebenarnya Caca belum siap untuk memiliki bayi, Mas tahu sendiri sampai sekarang Caca belum bisa menjadi Ibu rumah tangga yang baik. Caca bahkan belum bisa memegang wajan dengan benar,” tutur Caca yang belum bisa melakukan apapun.
Hampir semua pekerjaan dikerjakan oleh Adi dan Caca sesekali membantu suaminya menyapu maupun mengepel lantai. Selebihnya Adi sendiri yang melakukan pekerjaan rumah.
“Caca sayang, jangan terlalu banyak berpikir. Kenapa tidak kita nikmati saja masa-masa pengantin baru ini? Anggap saja kita sedang pacaran setelah menikah,” pungkas Adi.
“Mas memang paling bisa membuat Caca senang. Terima kasih, guru olahraga Caca yang kini merangkak menjadi suami Caca,” ujar Caca.
“Ssssuuttt, jangan bicara begitu. Mas geli mendengarnya,” sahut Adi.
Duaarrrr!!! Suara petir berbunyi dengan sangat keras dan dibarengi dengan mati lampu.
“Mas!” teriak Caca yang takut akan kegelapan.
“Kamu tenang, Ca. Mas di sini, coba kamu atur napas dengan tenang,” tutur Adi karena suara napas Caca terdengar sangat berantakan.
Caca mencoba mengikuti arahan suaminya dan perlahan memejamkan matanya. Ia begitu takut akan kegelapan secara tiba-tiba, terlebih lagi suara gemuruh serta petir yang begitu kencang.
“Mas jangan kemana-mana dan tetaplah di tempat tidur sama Caca!” pinta Caca.
“Caca sayang, Mas tidak kemana-mana. Kamu jangan panik ya, sebentar lagi lampunya menyala.”
5 menit kemudian.
Lampu akhirnya menyala dan Caca seketika itu turun dari tempat tidur.
“Caca mau kemana?” tanya Adi.
“Caca mau makan buah anggur, ayo Mas temani Caca ke dapur!” pinta Caca.
Adi menyadari celana bagian belakang istrinya terdapat darah, Adi panik dan meminta istrinya untuk diam di tempat.
Caca terheran-heran dengan raut wajah suaminya yang menatapnya dengan penuh kekhawatiran.
“Ada apa, Mas?” tanya Caca penasaran.
Adi tak menjawab pertanyaan istrinya, ia sibuk membuka almari pakaian untuk mengambil celana dan pembalut.
__ADS_1
“Kamu datang bulan dan ini sudah Mas siapkan,” ucap Adi seraya menyerahkan celana serta pembalut.
“Ini yang membuat Caca tidak salah menyukai Mas Adi. Sudah tampan, baik, tidak pelit dan pengertian. Caca sepertinya wanita yang paling beruntung di dunia ini,” ujar Caca dengan jantung berdebar-debar tak menentu.