
Beberapa Bulan Kemudian.
Caca telah disibukkan dengan tugas yang menumpuk, ia bahkan sangat susah untuk beristirahat karena di rumah harus bergantian menjaga warung.
“Mas, Caca pergi dulu ya. Assalamu'alaikum, Caca cinta sama Mas,” ucap Caca dan mencium punggung tangan suaminya sebelum berangkat kuliah.
“Wa'alaikumsalam, Mas juga cinta sama Caca,” balas Adi seraya memandang Caca yang masuk ke dalam mobil milik Lia.
Caca berangkat 1 jam lebih dulu daripada Adi, selama 1 jam itu Adi gunakan untuk menunggu para pelanggan. Tentu saja warung tidak buka, akan tetapi jika ada yang ingin mencari beras atau kebutuhan dapur lainnya Adi masih bisa melayani, selama belum berangkat mengajar.
“Assalamu'alaikum, Mas ada telur? Boleh deh 2 Kg!”
“Wa’alaikumsalam, tunggu sebentar ya Mas. Saya ambilkan dulu telurnya,” balas Adi dan berlari kecil mengambil telur seberat 2 Kg.
Transaksi berhasil dan tak lupa Adi mengucapkan terima kasih kepada pelanggan setia.
Lagi-lagi ada pembeli datang untuk berbelanja sayuran. Kebetulan, sayur-mayur yang Adi beli kemarin masih ada dan tanpa pikir panjang Adi menjual sayur tersebut yang tentunya masih segar.
Tak terasa waktu hampir mendekati jam 8, Adi buru-buru berangkat ke sekolah.
Di Kampus.
Perut Caca masih belum terlihat membuncit, bahkan Lia dan Rina belum tahu jika Caca tengah mengandung. Caca tentu saja sengaja merahasiakan kehamilannya, sampai Lia dan Rina tahu sendiri.
“Caca, tugas dari Pak Tri sudah kamu kerjakan?” tanya Lia penasaran.
“Sudah dong!” seru Caca yang sudah menyelesaikan tugasnya.
“Kami nyontek ya!” pinta Lia dan Rina dengan kompak.
Mereka bertiga berada di kelas yang sama, tentu saja bukan sebuah kebetulan. Awalnya hanya Caca dan Rina saja yang sekelas, akan tetapi Lia meminta orang tuanya untuk memasukkannya ke kelas yang sama dengan Caca serta Rina. Pada akhirnya, Lia pun sekelas dengan mereka berdua.
“Tapi janji ya, ini yang terakhir kalian menyontek. Ke depannya kalian harus mengerjakannya sendiri,” ucap Caca pada kedua sahabatnya.
“Terima kasih, Caca!” seru Lia dan Rina.
Mereka bertiga tak sengaja berpapasan dengan Monica, teman semasa sekolah Adi. Masalah beberapa bulan itu tentu saja sudah diselesaikan dengan cara baik-baik dan justru saat ini mereka cukup akrab satu sama lain.
“Selamat pagi!” sapa Monica melihat Caca, Lia dan Rina yang sedang berjalan.
“Selamat pagi juga, Ibu Monica,” balas Caca, Lia dan Rina yang menyapa dosen mereka.
“Jam ketiga nanti ada pelajaran Ibu, ingat ya kalian harus fokus dengan pelajaran Ibu,” ucap Monica.
“Baik, Bu!” seru mereka bertiga.
“Caca, kamu hari ini sangat cantik,” ucap Monica seraya melenggang pergi dengan high heels yang dikenakannya.
Lia dan Rina tersenyum lebar melihat bagaimana dosen mereka berpenampilan layaknya anak muda.
“Jawab jujur pertanyaanku. Apakah saat ini aku cantik?” tanya Caca memastikan barangkali Monica berbohong pada ucapannya.
“Kamu memang sudah cantik dari orok,” jawab Lia dan disetujui pula oleh Rina.
“Kalian ini bisa saja, ayo masuk ke kelas!” ajak Caca seraya menggandeng tangan Lia dan Rina.
__ADS_1
****
Siang Hari.
Caca tiba di rumah dengan diantarkan oleh Lia, tak lupa Caca mengucapkan terima kasih dan bergegas membuka pintu kamar untuk beristirahat sejenak.
“Astaghfirullah, kenapa hari ini bawaannya lelah sekali?” tanya Caca sembari berjalan masuk ke dalam kamar.
Caca merebahkan tubuhnya di tempat tidur dengan niat untuk beristirahat meluruskan punggungnya, namun ternyata kenyamanan dari tempat tidur membuatnya terlena sampai akhirnya dirinya terlelap begitu saja.
Beberapa hari terakhir, Caca memang mudah kelelahan. Ia harus membagi waktu antara kuliah dan urusan rumah tangannya.
Sekitar 20 menit Caca terlelap sampai akhirnya ia terbangun karena harus membuka warung.
“Semangat Caca, kamu pasti bisa,” ucap Caca yang setiap hari menyemangati dirinya sendiri.
Caca melepaskan kemejanya dan menggantinya dengan pakaian biasa. Kemudian, Caca membersihkan wajahnya dengan sabun cuci muka agar sisa-sisa make up yang menempel di wajahnya hilang tak tersisa.
Baru saja Caca ingin menata jualannya, dua orang wanita datang untuk membeli cabe.
“Neng, beli cabenya dong. 10 ribu bisa?” tanya salah satu calon pembeli.
“Bisa, Bu. Tapi sedikit tidak apa-apa ya Bu, maklum cabe sekarang lagi mahal,” terang Caca.
“Terserah Neng saja, kami juga tahu cabe sekarang harganya mahal,” jawabnya.
Caca meminta mereka berdua untuk bersabar menunggu karena ia harus menimbang terlebih dulu cabe yang akan dibeli oleh dua wanita tersebut.
“Ya lumayanlah segini, daripada tidak dapat sama sekali. Terima kasih ya Neng!”
“Sama-sama, Ibu. Besok mampir lagi ya Bu!” seru Caca.
Setelah selesai menata jualannya, Caca beristirahat sejenak di kursi ruang tamu. Ia mengelus perutnya dengan perlahan.
“Hanya tinggal beberapa bulan lagi, kami akan melihat wajah lucu kamu sayang,” ucap Caca berbicara pada calon buah hatinya.
Adi tiba di rumah dan bergegas mencari istri kecilnya yang tengah duduk di kursi ruang tamu.
“Assalamu'alaikum, Caca sayang!” panggil Adi sambil melepaskan helm yang ia kenakan.
Caca seketika itu beranjak dari kursi dan berdiri di tengah pintu seraya tersenyum lebar.
“Wa’alaikumsalam, Mas sayang!” seru Caca.
Adi berlari kecil menghampiri istri kecilnya, lalu memdekap Sang istri seraya mengecup kening Caca dengan lembut.
“Bagaimana hari ini?” tanya Adi yang masih memdekap tubuh Caca.
“Hari ini banyak sekali tugas yang harus Caca selesaikan, Mas. Rasanya Caca ingin berhenti kuliah,” jawab Caca mengeluh dengan tugas kuliah yang banyak.
“Sabar ya sayang, Mas yakin kamu bisa. Atau kamu ingin cuti sementara waktu?” tanya Adi yang telah melepaskan dekapannya dan menuntun Caca untuk masuk ke dalam kamar.
“Kalau boleh ya Caca ingin sekali mengambil cuti, Mas. Tetapi, bagaimana dengan Lia dan Rina? Mereka pasti kecewa kalau Caca mengambil cuti sementara mereka terus melanjutkan pendidikan,” jawab Caca.
Caca duduk di bibir tempat tidur seraya memandangi Adi yang tengah ganti pakaiannya.
__ADS_1
“Mas, 1 minggu lagi resepsi pernikahan kita. Jujur, Caca merasa sedikit tegang,” ucap Caca yang kini berumur 18 tahun.
“Caca sayang, kamu pasti bisa dan kita pasti bisa. Cukup duduk dan tersenyum kepada tamu yang hadir,” balas Adi yang sebenarnya cukup tegang karena akan bertemu dengan orang banyak, terlebih lagi orang-orang yang tentunya adalah orang dari kalangan atas.
“Mas, tolong pijat bagian punggung Caca!” pinta Caca pada Adi.
Adi mengiyakan dan melepaskan pakaian yang istri kecilnya kenakan. Kemudian, Adi mengoleskan minyak ke bagian punggung Caca secara perlahan. Setelah itu, Adi mulai memijat punggung Caca yang terasa pegal.
“Bagaimana, apakah enak?” tanya Adi.
“Sangat enak, Caca menyukainya,” jawab Caca.
Saat sedang menikmati pijatan tangan dari suami tercinta, ponsel Caca berbunyi dan saat itu juga Caca membukanya.
“Ya ampun, kenapa tugas justru semakin banyak begini?” tanya Caca yang bingung harus mengerjakan tugas yang mana dulu karena hampir semua mata pelajaran memiliki tugas untuk diselesaikan.
“Caca, Mas bantu ya mengerjakannya?” tanya Adi yang tidak tega melihat istri kecilnya pusing dengan tugas yang begitu banyak.
Karena tugas yang terlalu banyak, akhirnya Caca menyetujui keinginan Sang suami untuk membantu dirinya.
“Mas, ayo kita makan! Caca lapar dan pasti bayi kita juga lapar,” ucap Caca mengajak Sang suami untuk segera mengisi perut mereka.
“Ayo, Mas buatkan sambal goreng dan telur dadar ya!” seru Caca.
Caca mengiyakan dengan setuju dan mereka berdua bergegas menuju dapur.
Selama pernikahan mereka, Caca sangat jarang memasak. Tentu saja yang sering memasak adalah Adi. Adi memang sengaja tidak memperbolehkan istri kecilnya masak di dapur, karena Adi ingin Caca selalu mengandalkan nya. Bahkan Adi, ingin selalu meratukan istri kecilnya itu.
“Mas, apakah Caca sekarang terlihat gendut?” tanya Caca seraya menyentuh pipinya yang chubby.
“Sedikit,” jawab Adi yang sedang menggoreng telur dadar.
“Bagaimana kalau Caca menjadi gendut?” tanya Caca penasaran.
“Tidak masalah, akan ada waktunya tubuh Caca kembali normal. Caca tidak perlu mengkhawatirkan masalah itu, yang terpenting adalah kamu dan bayi kita sehat,” pungkas Adi.
Telur dadar sudah matang dan tinggal sambal goreng yang belum jadi.
Tak berselang lama, sambal goreng serta telur dadar pun siap untuk dinikmati.
“Mas, nanti malam kita keluar ya mencari sate ayam!” pinta Caca.
“Sate ayam yang mana nih? Langganan kita ada dua yaitu, Pak Djarot dan Pak Jarwo.”
“Minggu kemarin kita sudah beli di tempat Pak Jarwo, jadi minggu ini kita belinya di sate Pak Djarot ya Mas!”
“Oke, nanti malam kita akan pergi ke sana. Mau makan di tempat atau di bawa pulang?” tanya sembari mengambil nasi.
“Makan di tempat saja, Mas. Lebih enak makan di tempat sekalian kencan kita,” balas Caca dan mengecup lembut pipi kiri Adi.
Adi tersenyum lebar dan meminta Caca untuk mencium pipi bagian kanan.
“Caca sayang, pipi yang ini juga dong!” pinta Adi.
Caca tertawa kecil dan mencium pipi kanan suaminya itu.
__ADS_1
“Sudah,” tutur Caca dan meminta Sang suami untuk segera menyuapi dirinya.
“Jangan lupa berdo'a dulu, Caca sayang,” ucap Adi mengingatkan istri kecilnya untuk selalu berdo'a sebelum makan.