
Siang Hari.
Caca terlelap di kursi ruang tamu dengan posisi yang masih terduduk, sementara Yusuf tidur dikereta bayi dengan sangat pulas.
“Astaghfirullah,” ucap Caca yang hampir saja jatuh.
Caca reflek bangkit dari kursi dan berlari masuk ke dalam kamar.
“Yusuf!” Caca terkejut melihat ranjang bayi yang kosong melompong.
Saat itu, Caca sangat panik. Ia berlari menuju dapur dan tak menemukan keberadaan Ibu mertua. Kemudian, Caca berlari menuju warung untuk melihat Yusuf.
“Astaghfirullah, Ibu kaget sekali. Ada apa Caca?” tanya Ibu Puspita yang kaget karena Caca tiba-tiba muncul.
“Yusuf mana, Bu? Yusuf ke mana?” tanya Caca panik.
Ibu Puspita ikut panik dan berlari masuk ke dalam rumah. Paniknya langsung hilang ketika melihat Yusuf yang tengah tidur pulas di kereta bayi.
“Caca, kamu sepertinya syok bangun dari tidur. Lihatlah, Yusuf sedang tidur pulas!”
Panik Caca seketika itu menghilang, ia benar-benar seperti orang kebingungan.
“Ya Allah, Caca tadi sedang tidur dan tidak sadar bahwa Yusuf ada di dekat Caca. Maafkan Caca ya Bu,” ucap Caca menyesal.
“Sudah tidak apa-apa, dulu Ibu juga pernah seperti itu. Caca terlihat sangat mengantuk, lebih baik tidur di dalam kamar saja.”
“Caca sudah tidak mengantuk lagi, Bu. Ayah ke mana Bu? Belum pulang dari Masjid?” tanya Caca.
“Sebentar lagi paling juga pulang,” jawab Ibu Puspita.
Caca menoleh ke arah jam di dinding yang hampir menujukkan pukul 1 siang.
“Ibu, tolong jaga Yusuf ya. Caca mau ke dapur, sebentar lagi Mas Adi pulang. Caca ingin membuat tempe goreng untuk cemilan nanti,” ucap Caca.
Ketika hendak pergi ke dapur, Caca merasakan ada sesuatu yang aneh. Sepertinya ada hal buruk yang akan terjadi.
“Astaghfirullah,” ucap Caca yang tidak sengaja menabrak tembok.
Ibu Puspita yang melihat hal itu, bergegas menghampiri Caca yang terlihat bingung.
“Kamu kenapa, Caca? Sudah biar Ibu saja yang menggoreng tempe, kamu dan Yusuf pergilah ke warung!” pinta Ibu Puspita.
“Baiklah, Bu. Maaf ya Bu, entah kenapa Caca tiba-tiba saja kepikiran Mas Adi.”
Ibu Puspita tertawa kecil mengira bahwa menantunya sedang merindukan putra kandungnya.
“Sebentar lagi Adi pulang, Caca yang sabar ya.”
Disaat yang bersamaan, Ayah Faizal kembali dari Masjid dengan menenteng dua buah durian berukuran sebesar kepala orang dewasa.
“Assalamu'alaikum,” ucap Ayah Faizal sambil berjalan menuju dapur.
“Wa'alaikumsalam,” jawab Caca dan Ibu mertua.
Caca terkejut begitu juga Ibu Puspita ketika melihat Ayah Faizal pulang membawa buah durian.
“Ayah, darimana buah durian ini? Ayah minta ya?” tanya Ibu Puspita.
“Enak saja, mana berani Ayah minta gratis? Kebetulan tadi ada orang bagi-bagi durian gratis dan hasilnya ini,” terang Ayah Faizal yang sangat senang mendapatkan durian gratis.
__ADS_1
“Alhamdulillah, ternyata masih ada orang baik,” balas Ibu Puspita.
****
Di Sekolah.
Usai melaksanakan sholat jum'at di masjid sekolah, Adi bergegas untuk pulang ke rumah. Pria 29 tahun tidak sabar ingin pulang ke rumah, melihat keluarga kecilnya dan warung mereka.
Sebenarnya Adi ingin membantu orang rumah untuk menata barang jualan/dagangan mereka. Akan tetapi, ia memiliki tanggungjawab sebagai Guru yang mana ia tidak bisa sembarang izin.
“Mau pulang ya Pak?” tanya salah satu Siswa yang juga berada di area parkir.
“Iya nih, sudah waktunya pulang. Kamu mau pulang juga?” tanya Adi basa-basi.
“Masih ada kegiatan ekstrakurikuler, Pak. Jadinya, saya belum bisa pulang.”
“Semangat ya, Bapak mau pulang dulu!”
Adi menyalakan mesin motornya dan perlahan keluar dari area sekolah.
Kebetulan, jalan raya di hari Jum'at cukup ramai dan harus extra hati-hati.
Semula perjalanan menuju rumah lancar-lancar saja, sampai akhirnya ada sebuah truk yang melintas dengan kecepatan tinggi mengarah ke arah Adi.
Adi tak sempat menghindar karena truk tersebut melaju dengan kecepatan tinggi. Pada akhirnya Adi diseruduk truk dan jatuh tak sadarkan diri.
Semua orang panik, sementara sopir truk kabur begitu saja. Meninggalkan truk yang sudah terguling di tepi jalan.
“Ya Allah, cepat panggil Ambulance!”
Darah mengalir segar dibagian kening dan juga lega Adi. Semua orang yang melihat kejadian itu tidak tega melihat keadaan Adi.
****
Sore Hari.
Caca duduk diteras depan rumah sambil menunggu suaminya pulang. Berulangkali dirinya menghubungi nomor suaminya, namun nomor yang dituju justru tidak aktif.
“Bagaimana Nak Caca? Apa sudah ada kabar dari Adi?” tanya Ibu Puspita.
“Pesan Caca belum dibuka dan nomor Mas Adi belum juga aktif. Kira-kira Mas Adi kemana ya Bu? Caca takut ada apa-apa sama Mas Adi, karena sebelumnya Mas Adi tidak pernah begini,” pungkas Caca.
“Kamu yang sabar ya sayang, mungkin masih ada kendala dijalan atau bisa saja sedang mampir ke suatu tempat,” terang Ibu Puspita yang berusaha berpikir positif.
Caca menghela napasnya dan kembali menghubungi suaminya.
Pak Fattah dengan motornya terlihat dari kejauhan melaju dengan cukup kencang. Saking kencangnya, Pak Fattah hampir saja menabrak tembok rumah.
“Ya Allah, Pak Fattah kenapa? Ada apa?” tanya Ayah Faizal yang baru saja keluar dari warung.
Caca dan Ibu Puspita mendekat menghampiri Pak Fattah yang seperti orang yang dikejar-kejar hantu.
“Mas Adi... Mas Adi...” Pak Fattah mencoba mengatur napasnya yang berantakan.
“Mas Adi kenapa, Pak Fattah? Ada apa dengan suami saya?” tanya Caca panik dan reflek menarik kerah baju milik Pak Fattah.
“Tolong jangn panik dulu, sekarang Mas Adi sedang berada di rumah sakit. Mas Adi tadi siang kecelakaan ditabrak truk,” terang Pak Fattah.
Bagaikan tersambar petir di siang bolong. Caca, Ibu Puspita dan Ayah Faizal sangat syok mendengar bahwa Adi mengalami kecelakaan.
__ADS_1
“Mas Adi!” Caca berteriak histeris dan menangis mengetahui bahwa suaminya kecelakaan.
Ayah Faizal dengan tangan gemetar mencoba menghubungi besannya agar segera datang ke rumah kontrakan.
Sebagai seorang Ibu, Ibu Puspita tentu saja sedih dan juga syok. Akan tetapi, sebisa mungkin Ibu Puspita menahan air matanya.
“Pak Fattah, bisa tolong antarkan saya ke rumah sakit?” tanya Ayah Faizal yang tidak berani mengendarai motor dengan seluruh tubuh yang gemetaran.
“Bisa, Pak Faizal. Mari saya antarkan ke rumah sakit!”
Ayah Faizal berlari masuk ke dalam kamar untuk mengambil dompet dan juga tasbih miliknya. Kemudian, bergegas pergi bersama Pak Fattah.
Sebelum pergi, Ayah Faizal memberitahu Caca bahwa ia sudah menghubungi orang tua Caca dan kini sedang dalam perjalanan.
Kaki Caca sangat lemas, wanita muda itu sudah tak memiliki tenaga untuk bangkit. Sementara Ibu Puspita memutuskan untuk menutup warung sambil menunggu besannya datang.
“Oek... Oek... Oek...” Bayi Yusuf menangis di kereta bayi miliknya dan Bundanya tak kunjung menggendongnya.
Bayi Yusuf terus saja menangis, sampai Ibu Puspita datang dan menggendong cucunya.
Ibu Puspita sedikitpun tidak memarahi Caca, karena Ibu Puspita tahu bahwa mereka dalam suasana berduka.
“Ibu, apakah Mas Adi baik-baik saja?” tanya Caca dengan tatapan kosong.
“Kita serahkan semuanya sama Allah ya sayang, Ibu yakin Adi pasti baik-baik saja. Ibu sangat tahu bahwa Adi adalah pria yang kuat,” jawab Ibu Puspita.
“Kenapa ya Bu, musibah datang tidak terduga? Kenapa harus seperti ini? Tidak cukup kah dengan musibah warung beberapa bulan yang lalu? Apakah Allah tidak saya dengan kami?”
“Caca jangan berpikiran seperti itu, ayo sebaiknya kita masuk. Adi butuh beberapa pakaian,” balas Ibu Puspita.
Pak Fattah tidak menjelaskan secara terperinci betapa parahnya kondisi Adi dan keluarga Adi pun juga tidak menanyakannya secara detail.
Entah apa jadinya kalau sampai mereka tahu kondisi dari Adi yang sebenarnya.
45 Menit Kemudian.
Mama Ismia dan Papa Rio akhirnya sampai di rumah kontrakan. Keduanya dengan cepat berlari masuk ke dalam rumah.
“Mama! Papa!” Caca kembali menangis ketika melihat kedua orang tuanya.
“Caca jangan nangis, Caca harus kuat. Ayo, kita harus ke rumah sakit sekarang!” perintah Papa Rio yang mencoba untuk menguatkan Caca.
“Papa, Mama. Caca takut,” ucap Caca.
Papa Rio hanya diam sambil terus memapah putri kesayangannya masuk ke dalam mobil.
Sementara Ibu Puspita menggendong Yusuf dan Mama Ismia menarik koper berukuran sedang.
“Caca banyak istighfar, tidak akan ada hal buruk yang terjadi kepada suami kamu,” tegas Papa Rio sambil menyetir mobilnya menuju rumah sakit.
Mama Ismia membelai lembut rambut Caca yang cukup berantakan sambil terus mengucap istighfar di dekat telinga Caca.
“Astagfirullahaladzim,” ucap Caca menirukan ucapan Mama Ismia.
Bayi Yusuf yang berada digendongan Neneknya, terlihat tak bisa diam. Meskipun tidak sampai menangis, tapi Yusuf terus saja bergerak-gerak seperti orang yang sedang gelisah.
“Ya Allah, tolong. sembuhkanlah Mas Adi,” pinta Caca.
“Amiin,” sahut para orang tua.
__ADS_1
Caca lalu menoleh ke arah bayi Yusuf dan mengambil alih menggendong bayinya dari Ibu Puspita.