
Beberapa Hari Kemudian.
Caca tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan. Ia ingin menikmati hidup rumah tangganya bersama Sang suami dengan penuh canda dan tawa.
“Caca sudah tidak sedih lagi?” tanya Adi ketika melihat istrinya yang sedang duduk di kursi teras depan seraya bersenandung kecil.
“Mas mau Caca bersedih terus-menerus? Lagipula, tidak ada untungnya bersedih. Bukankah hidup akan terus berjalan?” tanya Caca.
“Ya Allah, kenapa bocah SMA yang Mas kenal sebelumnya cepat sekali dewasanya?” tanya Adi menggoda istrinya.
“Mas jangan mulai ya, atau Caca gigit nih,” sahut Caca dengan menirukan raut wajah seperti vampir yang ingin memgisap darah.
“Kalau mau gigit Mas jangan di sini, ayo di kamar saja!” ajak Adi penuh semangat.
Caca tertawa geli melihat betapa semangatnya Sang suami jika sudah mengajaknya ke kamar.
“Mau ngapain ke kamar?” tanya Caca pura-pura tak mengerti maksud dari ajakan suaminya.
“Caca, jangan Mas tidak bisa menundanya. Ayo kita ke kamar, mumpung cuaca sedang mendukung,” balas Adi dan kembali mengajak istri kecilnya untuk segera masuk ke dalam kamar.
“Sekarang?” tanya Caca yang ingin melihat respon selanjutnya dari Adi.
“Cepatlah,” balas Adi seraya menggigit bibirnya dan memberikan ekspresi wajah yang cukup menggemaskan.
“Gendong!” pinta Caca dengan manja.
Adi melihat sekitar rumah untuk memastikan bahwa tidak ada orang yang melihat mereka. Setelah cukup aman, Adi dengan semangat menggendong istrinya masuk ke dalam rumah.
Seorang wanita berusia 30 tahunan tertawa geli ketika tak sengaja melihat Adi yang tengah menggendong Caca dan buru-buru masuk ke dalam rumah.
“Dasar pengantin baru, mentang-mentang sudah menikah seenaknya bermesraan di depan rumah,” ucapnya bermonolog dan melanjutkan lagi aktivitas menyapu nya.
Sebelum masuk ke dalam kamar, Adi mengajak Sang istri untuk mengambil air wudhu dan sholat jama'ah dia raka'at.
Sebagai istri, Caca sudah di beri bekal sebelumnya kepada Mama Ismia untuk selalu mengikuti perintah Sang suami. Selama masih dalam hal yang wajar dan bukan perintah yang dilarang oleh Allah.
Usai sholat berjama'ah, waktunya bagi mereka berdua untuk melakukan hubungan yang lebih dekat di tempat tidur.
__ADS_1
“Lihatlah, ini semua karena Mas dan sepertinya bekas di leher serta dada Caca akan terus bertambah,” ucap Caca yang sudah menanggalkan separuh pakaiannya.
Adi tersenyum melihat apa yang sebelumnya telah ia perbuat terhadap istrinya dan senyumnya itu menjelaskan bahwa ia akan menambahkan bukti kepemilikannya di bagian lainnya.
“Apakah Caca cantik?” tanya Caca penasaran.
“Sangat cantik,” jawab Adi dan memberikan kecupan lembut di bibir Caca.
Caca pun menggigit bibir suaminya dan tersenyum penuh kemenangan.
“Kenapa bibir Mas di gigit?” tanya Adis seraya menyentuh bibir bawahnya yang baru saja di gigit oleh Caca.
“Caca sengaja menggigitnya, habis enak sih,” jawab Caca seraya tersenyum lebar.
“Mas akan membalasnya dengan durasi yang lebih lama,” pungkas Adi sembari menanggalkan seluruh pakaiannya di hadapan Caca.
Caca menelan salivanya kuat-kuat ketika melihat betapa semangatnya Sang suami hnya membalas dendam atas perbuatannya yang telah menggigit bibir ****! Sang suami.
Adi sudah lihai membuat istrinya tak berdaya di ranjang dan itu salah satu kehebatan dari seorang Adi Hidayatullah.
Setelah menuntaskan hasratnya, Adi mengajak istrinya untuk mandi wajib. Caca yang lemas meminta suaminya untuk menggendong dirinya dan memandikan dirinya.
Tak lupa juga Caca meminta Sang suami untuk tidak bertindak lebih karena ia benar-benar sangat kelelahan.
“Mas ya semakin hari kenapa semakin jago?” tanya Caca penasaran seraya melingkarkan tangannya di leher suaminya.
“Berkat Caca,” jawab Adi dengan tatapan yang begitu dalam, sampai-sampai Caca menjadi salah tingkah.
“Mas membuat jantung Caca berdebar-debar,” ucap Caca tersipu malu.
“Itu artinya Caca semakin cinta dengan Mas. Kalau begitu, Mas akan menunjukkan hal yang lebih baik dari sebelumnya,” ujar Adi yang sudah berada di depan pintu kamar mandi.
Adi perlahan menurunkan istrinya tepat di depan kamar mandi. Kemudian, mereka masuk ke dalam kamar mandi dengan kaki kiri terlebih dahulu.
Di saat yang bersamaan, Mama Ismia datang berkunjung ke rumah kontrakan Putri kesayangannya dan juga menantunya. Mama Ismia sengaja tidak memberitahu keduanya karena ingin memberikan kejutan.
“Akhirnya sampai juga,” ucap Mama Ismia dan bergegas turun dari mobil.
__ADS_1
Kedatangan Mama Ismia membuat beberapa tetangga menatapnya dengan tatapan penasaran yang tinggi. Menyadari hal itu, membuat Mama Ismia menjadi risih dan ingin buru-buru masuk ke dalam rumah.
“Assalamu'alaikum! Caca, Nak Adi!” panggil Mama Ismia seraya mengetuk pintu rumah.
Mama mencoba untuk terus mengetuk pintu dan memanggil penghuni rumah. Namun, panggilannya belum juga di respon.
“Baru jam 2 siang, apa mereka sudah tidur?” tanya Mama Ismia.
20 menit kemudian.
Adi dan Caca telah selesai mandi bersama. Pada saat akan masuk ke dalam kamar, mereka kompak menoleh ke arah suara ketukan pintu dan dibarengi dengan panggilan.
“Mama!” Adi dan Caca yang masih mengenakan handuk, buru-buru masuk ke dalam kamar untuk segera mengenakan pakaian mereka.
Saking terburu-buru mengenakan pakaian, mereka sampai tidak sadar bahwa pakaian mereka tertukar. Yang seharusnya kaos berwarna merah dikenakan Adi, justru Caca lah yang mengenakannya. Begitu juga sebaliknya.
Setelah mengenakan pakaian lengkap, Caca bergegas menuju pintu depan dengan berlari secepat mungkin.
“Caca, Mama dari tadi mengetuk pintu dan memanggil kamu. Kenapa tidak juga membuka pintu? Terlebih lagi, nomor kamu dan Adi tidak aktif,” ujar Mama Ismia yang sedikit kesal.
“Maaf ya Ma, Caca dan Mas Adi tadi mandi bareng,” terang Caca keceplosan.
Caca terkejut dengan ucapannya sendiri dan menutup mulutnya rapat-rapat seraya menundukkan kepalanya.
Mama Ismia tak bisa berkata-kata mendengar keterangan Caca dan menyadari bahwa pakaian yang Caca kenakan milik menantunya, Adi Hidayatullah.
Belum hilang rasa malu pada Caca, tiba-tiba saja Adi datang dan seketika itu juga Mama Ismia tertawa terbahak-bahak.
Mama Ismia tertawa melihat Adi mengenakan pakaian Caca yang berwarna pink (Merah Muda).
“Kalian ini benar-benar ya membuat Mama sakit perut, bisa-bisanya kalian seperti ini,” ucap Mama Ismia yang tak henti-hentinya tertawa, hingga sakit perutnya sakit karena ulah Adi dan Caca yang sangat konyol.
Wajah Caca memerah karena malu begitu juga dengan Adi. Saat itu juga mereka berlari masuk ke dalam kamar untuk menukar pakaian mereka berdua.
“Caca malu banget, Mas,” ucap Caca yang sudah berada di dalam kamar.
“Justru, malunya Mas berkali-kali lipat,” ujar Adi sembari melepaskan pakaian Caca yang menempel di tubuhnya.
__ADS_1