
Adi tiba di rumah orang tuanya dan berharap bahwa Caca ada di rumah. Adi pun mengetuk pintu rumah seraya mengucapkan salam. Tak berselang lama, Ibu Puspita membuka pintu dengan rait wajah dingin.
“Ibu, Caca apa ada di dalam?” tanya Adi sambil mencium punggung tangan Ibu Puspita.
“Ya. Kamu apakan menantu Ibu sampai nangis begitu?” tanya Ibu Puspita yang enggan mempersilakan putra kandungnya masuk ke dalam rumah.
“Ibu, Adi bisa menjelaskan semuanya. Tapi tolong, biarkan Adi menemui Caca!” pinta Adi.
“Tidak bisa sekarang, menantu kesayangan Ibu saat ini sedang tidur di kamar dan tidak bisa di ganggu,” tegas Ibu Puspita.
“Lalu, apakah boleh Adi masuk?” tanya Adi.
“Ya,” jawab Ibu Puspita singkat.
Adi pun masuk ke dalam rumah dan duduk di kursi ruang tamu. Ia seperti anak tiri di rumah itu, sedangkan Sang istri seperti anak kandung.
Ibu kandungnya terlihat sangat dingin padanya dan tak ada sedikitpun pertanyaan untuknya. Sebagai seorang anak, Adi memilih untuk diam mematung karena takut nantinya akan di kutuk menjadi batu karena banyak bicara.
Caca terbangun dari tidurnya yang terasa nyenyak dan rupanya ada Ibu Puspita yang duduk di tepi ranjang seraya tersenyum padanya.
“Bagaimana tidurnya? Apakah nyenyak?” tanya Ibu Puspita.
“Sangat nyenyak, ini semua berkat Ibu. Terima kasih Ibu yang sangat sayang dengan Caca, Ibu bahkan mau direpotkan Caca karena datang ke sini,” balas Caca dan meletakkan kepalanya di paha Ibu mertua.
Seumur hidup, Caca tidak pernah meletakkan kepalanya di paha kedua orang tuanya. Hanya kepada Adi dan Ibu mertua Caca bisa melakukan hal itu dengan bermanja-manja.
“Ibu, Mas Adi datang?” tanya Caca penasaran.
“Caca mau bertemu?”
“Memangnya Mas Adi ada di sini, Bu?” tanya Caca dengan suara yang sangat lirih.
Ibu Puspita menganggukkan kepalanya dan memberitahu Caca bahwa Adi ada di ruang tamu.
Caca pun bangkit dari tempat tidur dan tak lupa menyisir rambutnya yang sedikit berantakan. Kemudian, meminta tolong kepada Ibu mertua untuk memanggil Adi agar segera menemuinya di kamar.
Adi duduk di kursi dengan napas tak beraturan, hampir 1 jam ia menunggu istri kecilnya yang masih tidur.
“Caca sudah bangun, cepat temui menantu Ibu,” ucap Ibu Puspita yang masih dingin dengan Adi.
Adi berlari menuju kamarnya untuk bisa segera menemui istri kecilnya dan menjelaskan semuanya.
“Caca, maafkan suamimu ini. Tolong dengarkan penjelasan Mas!” pinta Adi yang ingin mendekat memeluk Caca.
“Stop! Mas berdiri di situ dan jangan mendekati Caca!” perintah Caca yang tidak ingin menatap mata Adi.
__ADS_1
“Baiklah, dari sini pun tidak masalah. Yang terpenting Caca mau mendengarkan penjelasan Mas mengenai tadi,” balas Adi.
Adi mengatur napasnya terlebih dahulu dan mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Adi bahkan memberitahu istri kecilnya soal dirinya memarahi Monica.
“Apakah Mas berkata jujur?” tanya Caca yang belum percaya 100% pada Sang suami.
“Ada Lia dan Rina yang menyaksikan langsung percakapan kami. Caca bisa tanyakan kepada mereka berdua,” terang Adi agar Caca percaya dengan penjelasannya.
Tak banyak berpikir, Caca langsung menghubungi Lia untuk memastikan ucapan suaminya. Setelah mendapat jawaban dari Lia, Caca tak langsung memaafkan suaminya. Ia justru menghubungi Rina agar dirinya semakin percaya bahwa perkataan suaminya bukanlah kebohongan.
“Bagaimana? Apa kata mereka?” tanya Adi pada Caca yang telah selesai berbicara dengan Lia dan Rina.
“Ini pertama dari terakhirnya Mas mengecewakan Caca. Kalau hal ini kejadian lagi, Caca akan tidur di sini selamanya,” pungkas Caca.
“Apakah sekarang kita sudah berbaikan?” tanya Adi yang ingin segera memeluk Caca.
“Ya,” jawab Caca singkat.
Adi bernapas lega dan segera memeluk istri kecilnya.
“Seharusnya Mas tadi itu mencekik lehernya sampai Tante genit itu pingsan dan kita tinggalkan Tante genit itu di tanah,” ucap Caca yang masih geram dengan Monica.
“Sudah jangan bahas yang tidak penting, sekarang bagaimana kalau kita pulang?” tanya Adi mengajak Caca untuk segera pulang ke rumah kontrakan.
Caca mengiyakan ajakan Sang suami, tidak mungkin juga mereka menginap di rumah orang tua dari Sang suami.
“Alhamdulillah, Ibu. Adi dan Caca sudah berbaikan,” ucap Adi yang tangannya terus saja merangkul pinggang ramping Caca.
“Syukurlah, kalau begini Ibu jadi lega,” balas Ibu Puspita dan memberi petuah panjang lebar kepada Adi agar lebih berhati-hati lagi.
Ibu Puspita tidak terima jika Caca menangis karena putra kandungnya. Meskipun Adi putra kandungnya, Ibu Puspita lebih saya dengan Caca.
Adi dan Caca pun pamit untuk kembali ke rumah kontrakan.
Beberapa saat kemudian.
Caca turun dari motor sambil memayunkan bibirnya yang terlihat pucat. Seberapa keras Caca mencoba melupakan kejadian pagi itu, tetap saja ada perasaan jengkel yang masih membekas di hatinya.
“Masih ngambek sama Mas?” tanya Adi sambil menarik motornya masuk ke dalam rumah.
“Sudah tahu masih saja bertanya,” celetuk Caca kesal.
“Kita sudah berbaikan, Caca. Ya masa' mau ngambek lagi sama Mas?” tanya Adi memasang raut wajah sedih.
“Caca itu tidak sedang ngambek sama Mas, tapi Caca masih kesal dengan Tante genit itu. Pokoknya kalau ketemu lagi, Caca akan mencukur rambutnya sampai botak kinclong,” pungkas Caca sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.
__ADS_1
Adi tertawa lepas, sembari membayangkan kepala Monica yang botak kinclong tak tersisa sehelai rambut pun.
“Bagaimana? Apakah Mas bisa membayangkannya?” tanya Caca dengan berkacak pinggang seraya tersenyum dengan penuh kemenangan.
Adi menganggukkan kepalanya sambil terus tertawa dengan memegangi perutnya yang mulai sakit.
“Mas jangan lama-lama tertawa, nanti yang ada suara lain yang ikut tertawa,” ucap Caca dan menarik tangan Adi menuju kamar.
Caca harus segera mandi untuk menghilangkan bau di tubuhnya dan menyegarkan tubuhnya yang terasa sangat lengket.
“Mas, mandi berdua yuk!” ajak Caca yang tiba-tiba saja ingin mandi berdua dengan Adi.
“Sekarang ini?” tanya Adi yang sangat antusias dengan ajakan Caca.
“Iya, Mas. Ya kali tahun depan,” balas Caca jutek.
“Jangan jutek gitu dong, nanti cantiknya kurang.” Adi dengan gemas mencubit hidung Caca.
Caca diam tak merespon dan untuk yang kedua kalinya Adi mencuba hidung Caca, tak butuh waktu lama Caca pun merespon suaminya dengan menyentuh milik Adi.
“Berhasil,” ucap Caca setelah berhasil menyentuh senjata pamungkas Sang suami.
“Caca, kamu jangan lari. Kamu harus tanggung jawab!” pinta Adi sambil terus mengejar Caca yang berlari keluar rumah.
Terjadilah aksi kejar-kejaran yang membuat mereka dalam waktu hitungan detik menjadi pusat perhatian para tetangga.
Adi dan Caca belum menyadari hal itu, mereka terlalu asik bermain kejar-kejaran. Pada saat mereka tahu bahwa sudah menjadi tontonan para tetangga, merekapun berlari secepat mungkin masuk ke dalam rumah.
Sesampainya di rumah, napas mereka terengah-engah satu sama lain. Kemudian, mereka tertawa lepas menertawai diri mereka yang malah menjadi tontonan tetangga.
“Sepertinya mereka tidak ada televisi di rumah ya Mas,” ucap Caca sembari mengatur napasnya yang terengah-engah.
“Sepertinya begitu,” balas Adi.
Caca menekuk lututnya duduk dengan posisi bersila. Saat itu juga Adi mengingatkan istrinya untuk terus meluruskan kaki dan jangan sampai di tekuk sampai beberapa menit ke depan.
“Besok kita berangkat ke kampus lagi ya, Caca harus segera mendaftar kuliah,” ujar Adi yang tidak ingin menunda-nunda pendaftaran kuliah istri kecilnya.
“Iya terserah Mas saja, yang penting Caca tidak bertemu dengan Tante genit itu lagi,” sahut Caca.
Caca kemudian meminta suaminya untuk mendekat padanya karena ia butuh baju untuk bersandar.
“Mas, beberapa bulan lagi kita akan mengadakan resepsi besar-besaran. Caca harap resepsi kita akan menjadi momen yang sangat indah untuk kita berdua,” ujar Caca yang terus menyandarkan kepalanya di bahu Adi.
“Bagi Mas semua momen itu berharga, asal ada Caca di samping Mas,” ungkap Adi.
__ADS_1
Caca tersipu malu mendengar perkataan Adi padanya yang sangat romantis.