
Beberapa hari kemudian.
Caca sudah diperbolehkan untuk pulang, begitu juga dengan bayi mereka. Caca tak henti-hentinya mengajak bayi mungilnya berbicara dan hanya fokus dengan bayi yang ia lahirkan itu.
Adi merasa terabaikan dengan sikap Caca yang lebih memperhatikan bayi mereka ketimbang dirinya.
“Sayang, sudah dong bicaranya. Mas juga mau ngobrol dengan Caca,” tutur Adi yang nampak cemburu.
“Mas kok cemburu dengan anak sendiri? Nanti ya kalau sudah sampai rumah,” jawab Caca sambil mengedipkan sebelah matanya mencoba menggoda suaminya.
Para orang tua tertawa lepas melihat tingkah dari Adi dan Caca yang baru saja menjadi orang tua.
“Nak Adi, dulu juga Papa begitu persis sekali seperti kamu. Ketika Caca lahir, Papa malah dicuekin,” sahut Papa Rio.
Mama Ismia hanya senyum malu-malu dengan apa yang suaminya katakan.
“Kalau Ibu dan Ayah juga begini?” tanya Caca penasaran.
“Bisa jadi,” jawab Ibu Puspita dan diiyakan oleh Ayah Faizal.
Caca tersenyum lebar tapi tidak dengan Adi yang memasang wajah cemberut.
“Ternyata Mas juga bisa cemburu ya sama anak sendiri,” tutur Caca sambil menyenggol lengan suaminya.
“Ya mau bagaimana lagi?” tanya Adi sambil mengangkat kedua bahunya secara bersamaan.
Dokter Sintya datang ke ruangan itu dan memberitahukan bahwa Caca sudah boleh pulang.
Dengan senang Caca berjalan sambil menggendong bayinya yang sangat menggemaskan.
“Caca, biar Ibu saja yang ya menggendong bayinya,” tutur Ibu Puspita yang ingin menggendong cucu pertamanya.
Caca tersenyum lega dan memberikan bayinya ke dalam gendongan Ibu mertua.
“Mama juga mau,” celetuk Mama Ismia.
Mendengar celetuk Mama Ismia, mereka semua tertawa lepas.
“Bagaimana dong, namanya juga cucu pertama,” celetuk Mama Ismia lagi.
“Mau punya cucu lagi?” tanya Adi melempar candaan.
“Mas, Caca belum selesai nifas dan Mas malah bercanda begitu? Tidak lucu tahu,” tutur Caca protes dengan candaan suaminya.
“Sayang, maaf ya! Mas tadi hanya bercanda saja, lagipula bayi kita harus mendapatkan perhatian lebih dari kita,” terang Adi.
***
__ADS_1
Di Rumah.
Caca lebih dulu masuk ke dalam kamar, sementara Adi dan para orang tua sibuk menata barang serta pakaian bayi mungil.
Setelah selesai menata barang serta keperluan bayi, Adi perlahan meletakkan bayi mungilnya ke dalam ranjang bayi.
“Mas, Caca mau makan sesuatu!” pinta Caca yang kembali manja dengan suaminya.
“Caca mau apa? Mau roti apa nasi?” tanya Adi.
“Roti yang rasa cokelat ya Mas!” pinta Caca.
“Oke, tunggu bentar ya sayang. Mas ambilkan dulu,” tutur Adi dan melenggang pergi menuju dapur.
Mama Ismia serta Ibu Puspita sedang sibuk di dapur. Mereka berdua sedang menyiapkan makan siang.
“Cari apa, Nak Adi?” tanya Mama Ismia.
“Roti yang semalam di mana ya Mama?” tanya Adi yang tak menemukan roti cokelat milik istrinya.
“Oh roti cokelat, itu ada di atas kulkas,” jawab Mama Ismia sembari menunjuk ke arah kulkas.
Adi mengambil dan bergegas kembali ke kamar untuk memberikan roti kepada istri tercinta.
“Terima kasih, Mas!” Caca tersenyum dan perlahan mengunyah roti cokelat itu.
“Caca tidak apa-apa, Mas. Lagipula Ada Mama, Papa, Ibu dan Ayah yang menemani Caca di sini,” jawab Caca dengan santai.
Adi menghela napasnya dan perlahan menarik tubuh istri kecilnya ke dalam pelukannya.
“Sayang, maafin Mas ya jika selama ini membuat Caca kesal. Ketika melihat Caca berusaha keras melahirkan bayi kita, Mas saat itu takut kalau terjadi sesuatu dengan kalian berdua,” tutur Adi yang tidak akan pernah melupakan kejadian di mana ia hampir saja kehilangan istri kecilnya.
Caca hanya mengangguk pelan seraya membalas pelukan suaminya dengan mulut yang masih sibuk mengunyah roti cokelat miliknya.
Malam Hari.
Mereka semua berkumpul di ruang tamu, para orang tua sudah tak sabar ingin mengetahui nama dari cucu pertama mereka.
Adi maupun Caca sebelumnya merahasiakan nama cucu pertama mereka. Dan karena sudah berada di rumah, para orang tua ingin sekali mengetahui nama bayi mungil yang lucu itu.
“Jadi, siapa nama cucu kami? Kami sangat penasaran,” tutur Papa Rio.
“Iya Adi, kami ini sangat penasaran,” sahut Ayah Faizal.
Adi menoleh istrinya dan menyentuh lembut pipi kemerah-merahan bayi mereka.
“Nama putra kami adalah Yusuf. Yusuf Hidayatullah,” ungkap Adi.
__ADS_1
“Masha'Allah,” ucap Para orang dengan kompak.
“Nama yang sangat indah,” puji Mama Ismia.
Ibu Puspita mendekat dan memanggil nama Cucunya.
“Assalamu'alaikum, Yusuf!” Ibu Puspita dengan semangat menyapa bayi Yusuf.
Adi tersenyum lega begitu juga dengan Caca yang nampak sangat bahagia.
“Hallo cucu kesayangan Oma,” ucap Mama Ismia menyapa bayi Yusuf.
“Kesayangan Opa juga dong!” seru Papa Rio.
“Kesayangannya Nenek dan Kakek juga dong!” seru Ayah Faizal.
Papa Rio mencoba menggendong Bayi Yusuf, akan tetapi Papa Rio hanya menggendong cucunya tidak sampai 2 menit. Dikarenakan, Papa Rio masih belum berani menggendong bayi yang masih hitungan hari itu.
“Biar besan saja yang menggendong Yusuf,” tutur Papa Rio dan menyerahkan bayi Yusuf ke gendongan Ayah Faizal.
Ayah Faizal sangat senang dan tidak ada kesulitan sama sekali dalam menggendong cucu pertama mereka.
Papa Rio tersenyum malu karena dirinya tidak sehebat Ayah Fazail.
“Wah, ternyata saya kalah telak,” celetuk Papa Rio.
“Mas Rio bisa saja,” sahut Ayah Faizal.
Caca sudah sangat mengantuk dan meminta suaminya untuk mengantarkannya dirinya masuk ke dalam kamar.
Ketika sudah berada di atas tempat tidur, Caca meminta suaminya untuk membawa bayi mereka masuk ke dalam ketika para orang tua sudah cukup menggendong bayi mereka.
“Caca tidur duluan ya Mas,” tutur Caca.
“Iya sayang, tidur yang nyenyak ya sayang,” balas Adi dan tak lupa memberikan kecupan mesra di kening Sang istri.
Setelah itu, Adi kembali ke ruang tamu berkumpul dengan para orang tua.
“Caca sudah tidur?” tanya Ibu Puspita.
“Alhamdulillah sudah, Bu.”
Ibu Puspita tersenyum kecil dan memutuskan untuk segera tidur. Tak berselang lama, Ayah Faizal dan Papa Rio juga mengantuk. Mereka pun bergegas masuk ke dalam kamar yang sama.
Sementara Ibu Puspita masuk ke dalam kamar milik Adi dan Caca. Berhubung kamar di rumah itu hanya dua, maka mereka harus tidur bersama. Yang di mana para pria tidur di kamar bertiga dan para wanita pun tidur di kamar bertiga.
“Mama belum mengantuk?” tanya Adi pada Mama Ismia yang terlihat masih semangat menggendong bayi Yusuf.
__ADS_1
“Sebentar lagi ya Nak Adi, Mama masih ingin menggendong cucu Mama,” balas Mama Ismia.