
Beberapa Hari Kemudian.
Intan sudah tak mengajar di sekolah sekitar 3 bulan lamanya. Penyebabnya adalah Intan yang selalu marah-marah tertawa siswa-siswi yang menurutnya tidak pintar dimata pelajarannya.
Tentu saja sikap Intan yang suka meledak-ledak itu membuat para murid melapor orang tua mereka dan pada akhirnya para orang tua berbondong-bondong ke sekolah hanya untuk mendemo cara mengajar Intan yang dinilai tak cocok sebagaimana Guru mengajar.
“Intan, kenapa kamu menjadi seperti ini? Di mana rasa malu kamu sebagai seorang wanita, Nak? Apa yang sudah kamu alami sampai kelewat batas seperti ini?” tanya Ibu kandung Intan yang biasa dipanggil Bu En.
“Ibu tidak usah banyak bicara bisa atau tidak? Aku itu lagi pusing dan tidak mau diganggu. Mau sebanyak apapun aku cerita, Ibu pasti tidak akan bisa mengerti. Jadi, tolong dengan sangat jangan ganggu aku dan jangan masuk ke kamarku!” tegas Intan.
“Ya sudah, Ibu akan memberikan kamu waktu dan jika sudah tenang jangan sungkan untuk bicara. Kasihan adik kamu yang terus saja ketakutan mendengar kamu berteriak tak jelas dan marah-marah tak jelas,” ucap Ibu En.
“Terserah Ibu saja,” balas Intan dan setelah Ibunya keluar dari kamar, Intan buru-buru menutup pintu kamarnya dengan sangat kencang.
Ibu En terkejut dan mencoba untuk sabar menghadapi sikap putri sulungnya yang berubah menjadi aneh.
***
Caca sedang menemani suaminya di rumah sakit dan berharap suaminya bisa segera pulih seperti sediakala.
“Caca...” ucap Adi lirih.
“Iya Mas, apa Mas butuh sesuatu?” tanya Caca.
“Maaf ya sayang, karena Mas kamu harus wara-wiri rumah sakit,” tutur Adi merasa bersalah karena telah membuat istrinya wara-wiri dari rumah ke rumah sakit, begitu juga sebaliknya.
“Mas ini bicara apa? Kalau Mas bicara seperti itu lagi, Caca tidak akan mau datang ke sini lagi. Biarkan saja Mas di sini sendirian sama hantu penghuni rumah sakit, syukur-syukur kalau ada suster ngesot biar membantu menjaga Mas di sini,” ujar Caca panjang lebar.
Adi tertawa kecil mendengar ucapan istri kecilnya yang begitu bersemangat dalam berbicara panjang lebar.
“Mas tertawa karena ucapan Caca? Ya sudah kalau begitu, Caca pamit pulang,” tutur Caca dan berlari keluar meninggalkan suaminya.
“Caca sayang, jangan ngambek,” ucap Adi.
Caca terus melangkah keluar dan tentu saja ucapannya tidak serius meninggalkan suaminya. Caca hanya ingin melihat reaksi suaminya ketika tahu dirinya sedang ngambek.
Dengan hati-hati Caca mengintip dari lubang pintu namun tidak bisa melihat suaminya karena jarak pintu dan ranjang tempat suaminya berbaring terhalang sebuah tembok.
“Bagaimana ini? Lebih baik aku tunggu saja dulu sekitar 5 menit,” gumam Caca.
Adi menghela napasnya dan tidak bisa mengejar istri kecilnya. Ia juga tak bisa menahan tawanya ketika melihat bagaimana cantiknya Sang istri ketika berbicara.
“Ciee... Pasti sedang memikirkan Caca ya?” tanya Caca yang sudah masuk kembali.
Adi tersenyum lebar dan meminta maaf karena telah membuat istrinya kesal sekaligus ngambek dengannya.
Caca dengan cepat menggelengkan kepalanya, ia sama sekali tidak kesal maupun ngambek.
“Sungguh?” tanya Adi penasaran.
“Iya, Mas. Mas cepat sembuh ya, kami sangat merindukan Mas. Terlebih lagi bayi kita, Yusuf pasti sangat rindu digendong Ayahnya,” terang Caca.
“Do’akan Mas terus ya sayang, atas izin Allah Mas akan segera sembuh,” balas Adi.
__ADS_1
Caca menepuk dahinya karena baru ingat bahwa ia harus pergi bersama kedua orang tuanya ke kantor polisi.
“Astaghfirullah, hampir saja lupa,” ucap Caca dan buru-buru mengeluarkan ponselnya di saku celananya.
“Caca, apa terjadi sesuatu?” tanya Adi penasaran.
“Sebenarnya, siang ini Caca akan pergi bersama Mama dan Papa ke kantor polisi. Dikarenakan siang ini adalah waktu yang tepat untuk membawa wanita itu ke penjara,” jawab Caca.
Adi tak banyak berkomentar, lagipula Intan sangat cocok mendapatkan hukuman penjara. Apa yang Intan lakukan padanya dan istri kecilnya sungguh seperti orang yang tidak mempunyai akal, bahkan masih banyak orang di luar sana yang tidak berpendidikan tetapi masih mempunyai akal.
“Maaf ya Mas, Caca harus pergi sekarang,” tutur Caca.
Wanita muda itu mencium bibir suaminya sebelum pergi ke kantor polisi.
***
Ibu En sedang menjahit pakaian di teras depan rumah dan tiba-tiba saja ada 3 orang datang menghampirinya.
“Permisi, selamat siang. Apakah benar ini kediaman Saudari Intan?” tanya pria berbadan tegap sambil memegang sebuah kertas.
“Siang, benar ini rumah kami. Ada apa ya Pak?” tanya Ibu En.
“Bisa kita berbicara di dalam!” pinta pria berpakaian casual.
Ibu En mengiyakan dan mempersilakan mereka bertiga untuk masuk ke dalam.
“Ada perlu apa ya Pak? Seperti Bapak-bapak ini bukan dari sekolahan tempat putri saya mengajar,” tutur Ibu En.
“Begini Bu, saudari Intan telah melakukan hal tak senonoh kepada Saudara Adi dan juga telah membuat saudari Caca mengalami luka. Ini surat panggilan yang tertuju kepada saudari Intan.”
Kebetulan Intan baru saja kembali dari mencari makan dan terkejut melihat Ibunya menangis.
“Hei kalian bertiga, kalian apain Ibu saya?” tanya Intan dan menarik Ibunya agar segera bangkit dari kursi.
Ibu En mendorong putrinya dan memarahi putri kandungnya yang ternyata sudah melakukan hal yang memalukan.
“Intan, kamu jahat sama Ibu. Kenapa kamu lagi-lagi mengecewakan Ibu? Sebenarnya, apa mau kamu, Nak?”
Intan masih tidak mengerti, sampai akhirnya ia mengambil secarik kertas yang berada ditangan Ibunya.
“Apa hanya karena masalah ini aku harus berurusan dengan hukum?” tanya Intan yang masih membela diri.
Beberapa Saat Kemudian.
Intan akhirnya tiba di kantor polisi guna membayar segala perbuatannya karena ulahnya sendiri.
“Caca, apa yang sudah kamu lakukan pada saya? Kamu itu dulu murid saya, tidak pantas kamu mengirim saya ke penjara,” ucap Intan berteriak.
Papa Rio dan Mama Ismia tak terima putri mereka mendapatkan teriakan dari Intan.
“Hei kamu, jaga mulut kamu itu. Bukankah kamu seorang Guru? Berperilaku lah layaknya Guru yang memiliki attitude,” tegas Mama Ismia.
“Caca adalah wanita munafik. Apa aku saya saja yang melakukan kekerasan fisik padanya? Wanita munafik ini yang lebih dulu main fisik,” ungkap Intan.
__ADS_1
“Diam! Jangan pernah berbicara kasar terhadap putriku. Seumur hidupku, aku tidak pernah berbicara kasar maupun membentak putriku. Akan aku pastikan hukumanmu bertambah berkali-kali lipat,” tegas Papa Rio.
Papa Rio kemudian menggandeng erat tangan putrinya dan membawa putrinya pergi dari tempat itu.
“Caca tidak perlu mendengarkan ucapan wanita itu. Anggap saja anjing menggonggong,” tutur Papa Rio.
Caca tersenyum lega, mau Intan menceritakan panjang lebar sekalipun sudah tidak ada gunanya. Toh, Caca sudah menjelaskan secara detail tanpa ada yang dikurang-kurangi maupun dilebih-lebihkan.
“Kalau tersenyum begini, cantiknya Mama semakin cantik,” puji Mama Ismia.
Mereka bertiga lalu naik ke dalam mobil dan memutuskan untuk mampir di kedai buah.
“Caca beli yang banyak boleh ya?” tanya Caca.
“Harus dong, pokoknya kita borong buah-buahan di sini,” sahut Mama Ismia.
“Mama memang yang terbaik,” puji Caca dan mencium pipi Mama Ismia.
Siapapun yang melihat Caca, mereka pasti tidak akan menyangka bahwa Caca telah bersuami dan bahkan telah memiliki seorang putra menggemaskan.
“Papa juga yang terbaik dong,” sahut Papa Rio.
“Mama dan Papa yang terbaik. Caca sayang Mama dan Papa selamanya,” pungkas Caca.
Malam Hari.
Caca baru saja kembali dengan diantarkan oleh kedua orangtuanya. Setelah mengantarkan Caca dan menyapa kedua besannya, Papa Rio dan Mama Ismia bergegas pulang ke rumah.
Mereka tidak bisa berlama-lama karena besok harus sampai kantor sebelum jam 7.
“Caca sayang, tidur yang nyenyak ya. Setelah pekerjaan Mama dan Papa selesai, kami akan berkunjung ke sini,” tutur Mama Ismia.
“Mama dan Papa jangan lupa jaga kesehatan. Jangan sering bergadang apa lagi sampai kurang tidur,” ucap Caca mengkhawatirkan kesehatan kedua orang tuanya.
“Terima kasih, sayang. Mama dan Papa pasti menjaga kesehatan kami,” balas Papa Rio.
Mama Ismia dan Papa Rio bergegas pamit untuk kembali ke rumah mereka.
“Nak Caca, ayo masuk!” ajak Ibu Puspita setelah besannya sudah tak terlihat lagi.
“Hari ini adalah hari yang sangat panjang dan juga hari yang tidak akan pernah wanita itu lupakan,” ucap Caca.
Ibu Puspita sengaja tidak bertanya karena sepertinya Sang menantu masih terlihat kesal.
“Ibu, bagaimana hari ini? Apakah sangat melelahkan? Bagaimana kalau besok kita memanggil tukang pijat?” tanya Caca.
“Boleh. Sepertinya kita butuh pijatan agar tidak mudah lelah,” sahut Ibu Puspita.
“Besok ya Ibu. Sekarang Caca mau masuk ke dalam kamar,” ucap Caca yang ingin segera melihat buah hatinya.
Caca tersenyum lega melihat buah hatinya tengah tidur nyenyak dan sepertinya nanti malam bayinya tidak akan rewel.
“Berhubung Yusuf sedang tidur, sebaiknya aku memompa Asi. Kasihan Yusuf kalau stok Asi milikku habis,” gumam Caca.
__ADS_1
Wanita itu perlahan berjalan ke meja rias dan menggerai rambutnya yang panjang. Kemudian, ia menyisiri rambutnya dengan lembut dan penuh kehati-hatian.
“Rambutku kalau diperhatikan sudah sangat panjang. Apa jadinya kalau rambutku dipotong pendek?” gumam Caca.