Istri Centil Mas Adi

Istri Centil Mas Adi
Yusuf Terjangkit Demam Berdarah


__ADS_3

Setelah melaksanakan salat ashar, Caca memutuskan untuk memasak. Caca yakin masakannya bisa enak, seenak masakan ibu mertua.


Sementara Adi sedang berada di rumah Pak Lurah karena ada perkumpulan antar kepala keluarga. Sambil menunggu suaminya pulang, Caca bergegas menyiapkan bahan-bahan yang ia gunakan untuk memasak.


Fokus Caca untuk memasak cukup terganggu karena saat itu Yusuf lumayan rewel. Mungkin karena kondisi tubuh Yusuf yang kurang sehat.


“Iya sayang, Yusuf mau tidur? Mau minum susu? Bentar ya sayang. Bunda memotong jagung ini terlebih dulu,” ucap Caca.


Baru satu bonggol jagung yang selesai Caca pisahkan, tiba-tiba Yusuf menangis dengan cukup keras. Saat itu juga Caca meninggalkan pekerjaannya dan menggendong buah hatinya membawa Bayi Yusuf ke dalam kamar.


“Yusuf sayang, cepat sembuh ya nak! Kalau Yusuf masih sakit bunda dan ayah akan membawa Yusuf ke dokter,”ucap Caca pada buah hatinya.


Jampir 1 jam lamanya Caca menyusui buah hatinya. Namun buah hatinya itu tak kunjung tidur juga dan justru semakin rewel karena khawatir dengan kondisi Yusuf, Caca pun menghubungi suaminya dan meminta suaminya untuk segera pulang ke rumah.


Setelah Adi sampai, Caca pun memesan mobil online. Untuk mengantarkan mereka menuju rumah sakit, Adi maupun Caca berharap sakit Yusuf hanya demam biasa dan tidak berlangsung lama.


“Mas kenapa ya Yusuf masih saja rewel padahal Caca sudah menyusui Yusuf dengan benar,” tutur Caca yang saat itu tengah memangku Yusuf di kursi teras rumah sambil menunggu mobil datang menjemput mereka.


Sabar ya Sayang Insya Allah Yusuf baik-baik saja,” ucap Adi mencoba menenangkan istrinya, meskipun sebenarnya Adi juga sama khawatirnya.


Mobil yang Caca pesan akhirnya datang. Adi dan Caca pun bergegas masuk ke dalam mobil.


Selama perjalanan menuju rumah sakit Yusuf terus menangis tiada henti. Bahkan Yusuf seakan memberontak tidak ingin disentuh oleh siapapun termasuk Bundanya sendiri.


Caca mencoba untuk terus membuat Yusuf tidak menangis dan ketika Caca bersholawat barulah Yusuf diam.


“Allahumma sholli ala sayyidina muhammad wa ala ali sayyidina muhammad.”


Yusuf akhirnya terlelap mendengar kedua orang tuanya bersholawat.


Rumah Sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Yusuf langsung ditangani oleh Dokter anak.


“ Dok, tolong sembuhkan anak kami, Dok. Saya mohon sembuhkan bayi kam!” pinta Caca.


“Mbak yang tenang ya saya akan berusaha menyembuhkan bayi Mbak dan Mas,” jawab Dokter bernama Maya.


Beberapa saat kemudian.


Dokter keluar dari ruang khusus anak dan setelah melakukan tes DBD, sudah dipastikan bahwa Bayi Yusuf terkena penyakit DBD yang disebabkan oleh virus dari nyamuk Aedes aegypti.


“Ya Allah Mas, bagaimana ini? Gara-gara Caca yang teledor Yusuf jadi sakit begini. Caca merasa sangat bersalah dan Caca sama sekali tidak becus menjadi seorang ibu,” ucap Caca menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang telah terjadi kepada buah hati mereka.


“Caca sayang istighfar yang banyak. Ini semua bukan kesalahan kamu. Caca sudah melakukan yang terbaik dan Mas tidak ingin Caca menyalahkan diri Caca sendiri karena Yusuf sakit seperti ini justru sebaiknya kita banyak-banyak berdo'a meminta pertolongan dari Allah,” ucap Adi panjang lebar.


Caca tertunduk diam dan perbanyak istighfar agar hatinya menjadi tenang. Caca tak tega jika bayi sekecil Yusuf sakit.


“Caca sayang, ayo kita pergi ke Masjid. Sudah waktunya untuk sholat!” ajak Adi yang nampak sangat tenang.


“Mas! Buah hati kita sakit, kenapa Mas kelihatan sangat tenang? Mas tidak khawatir dengan Yusuf?” tanya Caca yang terheran-heran dengan sikap tenang suaminya.


“Apa Mas harus bersikap seperti orang gila? Yusuf sedang sakit, Caca sayang. Sebagai orang tua, tentu saja Mas khawatir. Akan tetapi, kita juga tidak boleh sampai khawatir berlebihan. Ayo, akan lebih baik kalau kita pergi ke Masjid!”


Adi merangkul pinggang istri kecilnya sambil berjalan menuju Masjid yang letaknya kurang lebih 200 M dari rumah sakit.


“Mas, apa perlu Ibu, Papa dan Kaka diberitahu?” tanya Caca.


“Untuk sementara ini kita jangan beritahu mereka ya sayang. Kita berdo'a saja semoga Yusuf segera sembuh,” jawab Caca.


“Iya Mas. Terima kasih ya Mas sudah mau bersabar menghadapi sikap Caca yang masih labil ini. Dan Caca juga minta maaf karena ucapan Caca yang mungkin membuat Mas Adi kesal,” tutur Caca.


“Sekalipun Mas tidak pernah merasa kesal dengan Caca. Jadi, Caca jangan berpikir yang tidak-tidak. Oke!!”

__ADS_1


Tak terasa mereka sudah di depan Masjid. Caca berjalan ke arah selatan dan Adi berjalan ke arah utara.


Selesai sholat, mereka kembali berkumpul di depan Masjid dan berjalan beriringan menuju Rumah Sakit.


Mereka berdua berjalan dengan saling berpegangan tangan dan cukup banyak orang-orang yang memperhatikan sepasang suami-istri itu.


“Mas, apakah Mas merasa bahwa kita saat ini sedang perhatikan?” tanya Caca.


Adi tertawa kecil dan mengiyakan dengan setuju.


“Mas bahkan sudah menyadarinya ketika keluar dari rumah sakit tadi,” jawab Adi dengan santai.


“Kira-kira apa yang salah dari kita ya Mas? Caca cukup risih dengan tatapan mereka,” terang Caca.


“Sudah. Tidak usah dipikirkan lagi. Biarkan saja mereka melihat kita dengan cara pandang mereka masing-masing. Yang paling penting, kita saling mencintai satu sama lain,” pungkas Adi.


Mereka akhirnya tiba di ruang khusus anak kecil dan saat itu juga Caca meminta Dokter untuk memindahkan Yusuf ke ruang VIP. Ruangan yang di mana tidak ada anak lain, selain Yusuf.


Dokter pun mengabulkan dan bergegas memindahkan Yusuf ke ruang VIP.


“Caca sayang, sebaiknya Caca temani Yusuf di sini. Mas akan pulang mengambil keperluan kalian berdua,” tutur Adi.


“Mas hati-hati ya, Caca akan menunggu Mas di sibu,” balas Caca.


****


Pukul 01.35 WIB.


Untuk kesekian kalinya, Yusuf kembali terbangun dari tidurnya dan juga sangat rewel. Caca bahkan tidak bisa tidur karena Yusuf yang sangat rewel itu. Meskipun begitu, Caca berusaha tetap sabar menghadapi buah hatinya.


Melihat istrinya yang terus saja sibuk, membuat Adi kasihan dan meminta istrinya untuk duduk tenang serta membiarkan Adi yang mengurus bayi mereka.


“Mas belum sembuh sepenuhnya. Lebih baik Mas istirahat dan biar Caca yang mengurus Yusuf,” ujar Caca yang tidak ingin membuat suaminya kerepotan.


“Baiklah, Caca akan duduk di sini,” pungkas Caca dan duduk di tikar yang sebelumnya dibawa oleh suaminya dari rumah.


Adi perlahan mendekati Yusuf yang masih rewel dan bersholawat di dekat telinga Yusuf.


Yusuf kembali tenang dan kembali tidur dengan jarum yang menancap di punggung tangannya yang mungil.


Adi terus bersholawat agar Yusuf bisa tidur nyenyak supaya sang istri tidak banyak pikiran karena memikirkan Yusuf yang terus rewel.


Caca sedikit bernafas lega karena Yusuf bisa tidur nyenyak atas bantuan dari sang suami tercinta.


kemudian Caca berbaring di tikar dan akhirnya terlelap kelelahan. Melihat sang istri yang tidur dalam keadaan was-was membuat Adi sedih. Adi sangat kasihan dengan istri kecilnya karena ujian terus saja datang silih berganti.


“Selamat tidur istriku, ”ucap Adi dan memberikan kecupan lembut di kening istri kecilnya yang tengah tidur.


Setelah itu Adi duduk di sofa, sambil terus mengawasi buah hatinya yang tengah tertidur di ranjang rumah sakit.


“Ya Allah tolong buat Yusuf dan istri hamba tidur dengan nyenyak malam ini amin ya Allah,” gumam Adi berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.


Adi kemudian mencoba memejamkan matanya dan berharap ia bisa tidur meskipun hanya sebentar.


Saat Adi baru saja terlelap Caca bangun dan pindah ke sofa.


“Sayang kenapa bangun?”tanya Adi yang ternyata belum sepenuhnya tidur.


“Caca bangun karena ingin pindah dan bisa tidur di dekapan Mas Adi jawab Caca sambil memeluk suaminya.


Keesokan paginya


Caca meminta sang suami untuk berangkat mengajar. Caca tidak ingin sang suami dicap sebagai guru yang suka izin tidak masuk sekolah. Meskipun sebenarnya Caca mengerti bahwa Adi ingin selalu ada di sisi buah hati mereka, namun Caca maupun Adi tidak boleh egois. Adi harus tetap bertanggung jawab dengan profesinya sebagai seorang guru.

__ADS_1


“Caca sayang, kalau Mas pergi ke sekolah hari ini bagaimana dengan Caca dan Yusuf?” tanya Adi khawatir yang sangat berat jika harus meninggalkan dua orang yang sangat berarti di hidupnya.


“Mas tenang saja bukankah Mas sering bilang seperti itu kepada Caca? Bagaimanapun kita harus tetapntenang maka dari itu, hari ini Mas harus pergi ke sekolah. Caca tidak mau Mas dicap sebagai guru yang tidak bertanggung jawab,” balas Caca sambil memeluk suaminya.


“Baiklah Mas akan segera pulang ke rumah untuk berganti pakaian dan setelah pulang dari sekolah Mas akan segera ke sini, menemani kalian berdua. Apapun Yang Terjadi Caca tidak boleh panik. Yusuf. Buah hati kita, pasti akan sembuh Caca percaya kan?” tanya Adi dengan tatapan penuh perhatian.


“Iya Mas Caca percaya kok sekarang lebih baik Mas pulang. Caca sayang dan cinta sama Mas Adi. Apapun itu, kita pasti bisa melalui ini semuanya terima kasih telah menjadi suami sekaligus Ayah yang pengertian dan sayang kepada kami,” terang Caca.


“Justru mas yang sangat beruntung karena memiliki kalian berdua. Berkat kalian Mas merasa bahwa hidup ini benar-benar spesial. Kalian kado terindah yang Allah berikan kepada mas. Terima kasih Caca, maaf suamimu ini banyak kekurangannya,” pungkas Adi dan mengecup lembut kening Caca.


Caca tak dapat menyembunyikan kesedihannya, saat itu juga mempererat pelukannya dan mengucapkan terima kasih kepada Cinta Pertamanya itu.


“I love you....”ucap Caca lirih.


“I love you too my wife,” balas Adi.


Adi pun meminta sang istri untuk memesan ojek online dan setelah berhasil memesan ojek online tersebut, Adi pamit pergi dan menunggu jemputannya di depan rumah sakit.


2 jam kemudian.


Di sekolah adi banyak melamun memikirkan keadaan bayi kecilnya yang baru berusia 7 bulan. Adi merasa waktu berputar sangat lamban bahkan Adi merasa waktu di dunia seakan terhenti.


“Pak Adi kenapa saya perhatikan dari tadi Pak Adi banyak melamun? Seperti melamunkan sesuatu yang sangat berat” tanya Kevin penasaran.


“Bayiku sakit Pak Kevin. Sekarang Yusuf sedang dirawat di rumah sakit karena menderita demam berdarah,” jawab Adi dengan mata berkaca-kaca.


Kevin menyarankan agar Adi pulang lebih awal. Adi sebenarnya ingin, namun ia tidak bisa melakukannya ia harus profesional dan berharap Yusuf segera membaik.


“Pak Adi yang sabar ya Insya Allah Yusuf akan segera sembuh. Ingat Pak Adi juga pernah mengalami kecelakaan yang sangat fatal,” tutur Kevin sambil menepuk punggung Adi.


“Iya Pak Kevin. Alhamdulillah Allah masih memberikan saya kesempatan untuk bisa berkumpul lagi dengan keluarga kecil saya dan saya meyakini bahwa Yusuf bisa sembuh dari penyakit demam berdarah tersebut,” balas Adi dengan penuh keyakinan.


Kevin tersenyum dan pamit pergi karena harus menyelesaikan pekerjaannya. Adi mengiyakan dan kembali fokus memeriksa jawaban-jawaban dari para muridnya.


Sore hari.


Ad kembali datang ke rumah sakit sembari membawakan makanan untuk istri kecilnya, karena Adi tahu bahwa Caca tidak akan mau makan sebelum Yusuf baik-baik saja.


“Assalamualaikum,” ucap Adi sambil berjalan masuk menghampiri Caca yang ternyata sedang menangis sambil menggenggam erat tangan mungil bayi kecil mereka.


“Waalaikumsalam,” jawab Caca Lirih yang terdengar tak berdaya.


“Caca sudah makan belum Ini Mas membawakan makanan untuk Caca Caca harus makan meskipun hanya beberapa sendok,” ujar Adi.


“Caca sama sekali tidak nafsu Mas. Caca tidak ingin makan, biarkan saja seperti ini,” balas Caca yang enggan untuk makan.


“Bagaimana kalau Caca sakit? Lalu, siapa yang akan menguatkan Mas? Kita harus saling menguatkan sayang. Ayo sekarang makan kalau Caca tidak mau makan Mas pun tidak akan makan,” tegas Adi memaksa istri kecilnya untuk makan.


Kali itu Adi harus benar-benar tegas kepada istrinya jika menyangkut soal perut bagaimanapun perut istrinya harus terisi dengan makanan.


“Baiklah,” ucap Caca lirih.


Adi pun menyuapi istri kecilnya dan Caca hanya memakan makanan yang Adi beli, tidak lebih dari 3 sendok, meskipun hanya 3 sendok Adi mengucap syukur daripada tidak sama sekali.


“Caca mau makan lagi?” tanya Adi.


“Tdak Mas cukup segini saja,” jawab Caca dan kembali memandangi wajah tak berdosa buah hati mereka.


“Caca cepatlah tidur! Mata Caca itu terlihat sangat lelah. Biar mas yang duduk di sini dan Caca tidur di sofa!” perintah Adi.


Caca mengiyakan dan perlahan berjalan menuju sofa.


“Ya Allah,” ucap Caca sambil berlinang air mata.

__ADS_1


“Mas meminta Caca untuk tidur dan bukannya menangis.Cepat hapus air mata itu dan tidur perintah!” Adi dengan tegas.


__ADS_2