
Sore Hari.
Berhubung sudah sore dan waktu hampir mendekati Maghrib. Adi dan Caca memutuskan untuk menutup warung mereka.
Keduanya tersenyum lepas setelah menghitung pendapatan yang ternyata cukup banyak. mereka bersyukur karena Allah memberikan rezeki yang sangat lebih pada hari itu.
“Alhamdulillah ya mas, pendapatan kita hari ini lebih dari cukup,” tutur Caca penuh syukur.
“Iya Caca sayang, Alhamdulillah. Allah mendengarkan do'a-do'a kita,”sahut Adi.
Setelah mengunci pintu warung, keduanya bergegas masuk ke dalam rumah dan ternyata para orang tua sedang duduk santai di ruang tamu.
Adi maupun Caca memutuskan ikut bergabung dengan para orang tua. mereka tersenyum bahagia melihat Yusuf Yang tengah terlelap di pangkuan neneknya, yaitu Ibu Puspita.
“Bagaimana hari ini?” tanya Mama ismia.
“Alhamdulillah, Mama. Allah memberikan rezeki yang cukup banyak hari ini,” jawab Caca.
Para orang tua dengan senang mengucapkan syukur alhamdulillah dan berharap setiap harinya akan banyak yang berbelanja di warung mereka berdua.
Yusuf perlahan membuka matanya dan menyadari bahwa ada orang tuanya yang tengah menatapnya. saat itu juga Yusuf memberontak dengan tangan yang terus mengarah ke arah Caca.
“Ada apa sayang? mau sama Bunda?” tanya Caca dan saat itu juga Yusuf terus saja memberontak.
Caca bangkit dari duduknya dan menggendong bayi mungilnya yang berusia 7 bulan tersebut.
“Yusuf mau tidur lagi Nak?” tanya Caca sambil berjalan masuk ke dalam kamar.
Melihat Caca yang sudah masuk ke dalam kamar, Adi pun pamit untuk menyusul istrinya yang sudah lebih dulu masuk ke kamar.
“Caca mau menidurkan Yusuf?” tanya Adi pada Caca yang sedang menyusui Putra kecil mereka.
“Tentu saja tidak, Mas. lagi pula sebentar lagi adzan maghrib,” jawab Caca.
__ADS_1
“Kalau begitu Mas bersiap-siap ya,” ucap Adi sambil melepaskan pakaiannya untuk menggantinya dengan pakaian muslim atau baju koko.
Setelah semuanya lengkap, Adi mengambil sajadah miliknya dan pamit kepada istri kecilnya untuk segera berangkat ke masjid.
Adi tentu saja tidak sendirian, ada Papa mertua yang selalu ada di dekatnya.
“Nak Adi sudah pamit pada Caca?” tanya papa Rio pada menantunya itu.
“Sudah, Pa,” jawab Adi dan mereka pun bergegas berangkat ke masjid dengan berjalan beriringan.
Beberapa jam kemudian.
Adi dan papa Rio sedang duduk di kursi teras depan sambil mengobrol santai. tidak ada angin dan tidak ada hujan, papa Rio meminta Adi untuk membantunya bekerja di perusahaan.
Mendengar hal itu Adi sangat terkejut, tak pernah sedikitpun terbesit dipikiran Adi perihal dirinya membantu perusahaan milik orang tua Caca.
“Bagaimana, Nak Adi?” tanya papa Rio penasaran dan berharap menantunya itu menyetujui keinginannya.
Adi masih diam membisu, Iya bingung harus menjawab apa karena sedikitpun ia tak pernah memikirkan hal yang mengarah ke arah perusahaan orang tua dari istri kecilnya itu.
“Maaf ya Pa, untuk sekarang adi ingin fokus dengan warung dan juga keluarga kecil Adi. Adi ingin bisa menghabiskan lebih banyak waktu di rumah sekaligus bisa berpenghasilan di rumah,” ujar Adi Seraya tersenyum.
Papa Rio tersenyum lega, Putri kesayangannya sangat pintar mencari suami seperti Adi Hidayatullah. entah apa jadinya kalau Caca iya jodohkan dan tidak menikah dengan Adi. Mungkin, Papa Rio tidak akan bisa mendapatkan menantu sesempurna Adi Hidayatullah.
Mereka terus saja berbincang-bincang, sampai akhirnya Caca datang untuk mengajak suaminya tidur. Caca sangat membutuhkan sentuhan dari suaminya karena dengan cara itulah Caca bisa tidur nyenyak.
“Papa, ngobrolnya besok lagi saja ya. Mas Adi harus segera masuk kamar, Caca tidak bisa tidur kalau tidak ada Mas Adi,” tutur Caca pada Papa Rio.
“Benarkah? kalau begitu nak Adi Pergilah ke kamar. besok kita akan mengobrol lagi,” ujar Papa Rio pada menantunya.
Caca tersenyum lebar dan menggandeng tangan suaminya untuk segera masuk ke dalam kamar.
Setibanya di dalam kamar, Caca menarik tangan suaminya dan mengajak suaminya untuk segera naik ke atas kasur.
__ADS_1
“Mas dan papa mengobrol apa saja? Kenapa tadi terlihat sangat serius?” tanya Caca penasaran.
“Tidak ada percakapan yang serius. Sekarang, Caca tidur dan Mas juga tidur,” tutur Adi sambil membelai lembut wajah istrinya.
Caca tersenyum lebar mendapat sentuhan lembut dari suaminya dan perlahan memejamkan matanya.
“Mas, bisakah menyanyikan sebuah lagu untuk Caca?” tanya Caca penasaran dan berharap sang suami mau menyanyikan sebuah lagu untuknya sebagai pengantar tidur.
“Sebuah lagu? suamimu ini tidak bisa bernyanyi Caca sayang. bukannya tidur, Caca justru tidak akan bisa tidur,” tutur Adi yang merasa bahwa Suaranya sangat jelek dan sangat jelek lagi jika ia bernyanyi.
“Benarkah tidak bisa? Ya sudahlah,” balas Caca pasrah dan saat itu juga memejamkan matanya sambil mengubah posisi menjadi membelakangi suaminya.
Adi tersenyum kecil dan perlahan tangannya bergerak ke perut istrinya dan mendekat istrinya dengan cukup erat.
“Caca sayang, Terima kasih untuk hari ini dan terima kasih untuk semuanya,” tutur Adi pada istri kecilnya dengan suara semerdu mungkin.
Caca tersenyum dan saat itu juga berbalik menghadap suaminya. senyum Caca semakin lebar ketika mereka saling bertatapan satu sama lain.
“Mas, ayo tidur. Besok pagi kita akan pergi ke pasar untuk berbelanja,” tutur Caca mengajak suaminya untuk segera tidur.
“Apakah Caca sangat lelah? Bagaimana kalau Mas memijat kaki Caca atau bagian yang lain?” tanya Adi.
“Mas tidak perlu mengkhawatirkan Caca. Caca sama sekali tidak lelah dan Caca sangat senang karena seharian ini bisa berjualan dengan Mas,” tutur Caca yang terlihat sangat bahagia.
Adi tersenyum lega mendengar jawaban istri kecilnya dan perlahan Adi mengecup lembut bibir sang istri tercinta.
“Ayo Caca sayang, waktunya bagi kita untuk tidur dan besok akan menjadi hari yang sangat panjang untuk kita,” tutur Adi mengajak istri kecilnya untuk segera tidur.
Caca mengiyakan ajakan suaminya dan sebelum ia memejamkan matanya, Caca memutuskan untuk mencium seluruh wajah suaminya dengan penuh cinta.
Adi pasrah mendapatkan kecupan yang cukup banyak dari istri kecilnya dan Caca sangat senang melakukannya berulang kali.
“Sudah selesai?” tanya Adi ketika Caca sudah berhenti mencium seluruh wajahnya.
__ADS_1
“Kalau ditanya sudah, tentu saja jawabannya belum cukup. Akan tetapi, kita harus segera tidur dan Caca berharap Mas memimpikan Caca!” pinta Caca yang berharap sang suami tidur bermimpikan dirinya.
Adi tertawa kecil mendengar permintaan yang terdengar konyol. akan tetapi, Adi pun berharap bahwa ia bisa bermimpi istri kecilnya.