
Beberapa Hari Kemudian.
Caca tengah bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit sambil membawa bubur ayam yang ia buat dengan tangannya sendiri. Sebenarnya Caca ragu untuk membawa bubur ayam buatannya, karena ia merasa bubur ayam yang ia buat tidak seenak yang dibuat oleh Ibu Mertua.
Pagi itu, Caca pergi seorang diri dengan menggunakan jasa ojek. Sementara Ibu Puspita, Ayah Faizal dan Bayi Yusuf ada di rumah.
Tukang ojek yang Ayah Faizal pesan telah datang untuk menjemput Caca. Saatnya Caca pergi menuju rumah sakit untuk menemui belahan jiwanya.
“Ayah, Ibu. Caca berangkat ke rumah sakit. Titip Yusuf ya,” tutur Caca dan tak lupa mengucapkan salam.
Caca tak sabar ingin cepat-cepat menemui suaminya dan berbagi cerita selama ia di rumah tanpa kehadiran Sang suami. Caca berharap dengan dirinya berbagi cerita, membuat saya suami semakin semangat untuk kesembuhannya.
Mas Adi sekarang lagi apa ya? (Batin Caca)
Saking asiknya melamun, Caca bahkan tak menyadari bahwa mereka sudah tiba tepat di depan rumah sakit.
Tukang ojek yang mengantarkan Caca saat itu terheran-heran karena penumpang yang ia bawa tak kunjung turun.
“Mbak, kita sudah sampai,” ucap tukang ojek sambil menoleh setengah ke arah belakang.
Caca tersadar dan bergegas turun dari motor perasaan yang cukup malu.
“Pak, Terima kasih,” tutur Caca yang baru saja memberikan jasa antar kepada tukang ojek tersebut.
Setelah Tukang ojek pergi, Caca dengan bahagia berjalan memasuki area rumah sakit seorang diri.
Sesekali Caca bersenandung untuk mengusir kejenuhannya itu.
“Assalamu'alaikum,” ucap Caca seraya memasuki ruangan Sang suami tercinta.
Saat Caca hendak kembali mengucapkan salam, rupanya Sang suami sedang terlelap dan Caca pun menutup mulutnya serapat mungkin sambil meletakkan bubur ayam buatannya di atas nakas rumah sakit.
Setelah itu, Caca duduk dikursi yang berdekatan langsung dengan suaminya sambil menunggu Sang suami bangun dari tidurnya.
Dipandangi nya wajah Sang suami yang tampan namun sedikit pucat itu.
Karena Sang suami tak kunjung bangun dan kebetulan Caca juga mengantuk karena semalaman ia bergadang, akhirnya Caca pun terlelap dengan posisi kepala bersandar di bibir ranjang.
Sekitar 10 menit kemudian, Adi terbangun dan tidurnya dan kaget melihat ada seorang wanita muda yang terlelap disisinya. Tentu saja Adi tahu bahwa wanita yang tidur itu adalah Sang istri.
Adi tentu saja tidak bisa menyentuh rambut istrinya, karena kondisi tangannya yang belum normal seperti sediakala.
“Caca...” panggil Adi lirih.
Caca tak langsung bangun dengan panggilan itu. Dan ketika ketiga kalinya Sang suami memanggilnya, barulah Caca bangun.
“Ternyata Mas sudah bangun,” tutur Caca dan mencium lembut pipi suaminya.
__ADS_1
“Caca pasti sangat ngantuk ya?” tanya Adi.
“Bisa jadi, Mas. Caca permisi ke kamar mandi dulu ya Mas,” tutur Caca yang ingin membasuh wajahnya agar nampak segar.
Setelah membasuh wajahnya, Caca tak lupa memoles tipis wajahnya dan mengoleskan lipstick ke bibirnya. Setelah terlihat segar, Caca pun bergegas menemui suaminya.
“Mas, Caca membuatku bubur ayam untuk Mas. Caca kurang yakin dengan rasanya, tapi Caca berharap Mas menyukai bubur ayam buatan Caca,” tutur Caca sambil mengambil rantang berisi bubur ayam buatannya.
“Caca sudah bisa memasak?” tanya Adi yang sengaja ingin membuat istrinya kesal.
Bukannya kesal, Caca justru tersenyum manis.
“Caca belum pandai memasak, Mas. Tapi, Caca akan berusaha lebih giat lagi belajar memasak sama Ibu,” jawab Caca tersipu malu-malu.
“Kalau begitu, suapi Mas sekarang!” pinta Adi.
Caca menyendok bubur ayam buatannya dan meletakkan suwiran ayam di atas buburnya. Kemudian, dengan perlahan menyuapi suaminya.
Adi terdiam sejenak dengan raut wajah serius dan tiba-tiba saja Adi tersenyum lebar ke arah istri kecilnya.
“Mas kok malah senyum-senyum? Cepat beritahu Caca bagaimana rasanya!” pinta Caca penasaran dan ingin tahu pendapat suaminya mengenai bubur ayam buatannya.
“Tidak buruk,” jawab Adi.
Caca tertawa gemas mendengar jawaban suaminya dan ingin sekali memukul dada suaminya berulang.
“Apa ada yang salah dengan jawaban suamimu ini? Mas merasa tawanya Caca terdengar sangat aneh,” ucap Adi.
“Mas tadi hanya bercanda, Caca sayang. Bubur ayam buatan Caca sangat enak dan rasanya hampir mirip dengan buatan Ibu,” terang Adi.
“Benarkah?” tanya Caca antusias.
“Iya sayang, benar.”
Caca tersenyum lega dan kembali menyuapi suaminya bubur ayam.
“Alhamdulillah,” ucap Caca karena bubur buatannya benar-benar habis tak tersisa.
Adi pun mengucapkan syukur dan meminta istrinya untuk membelikan jus apel.
“Caca sayang, Mas ingin sekali minum jus apel tanpa es. Bisa tolong belikan Mas?” tanya Adi.
“Tentu saja, Mas. Caca akan membelikan jus apel untuk mas. Mas tunggu sebentar ya, Caca akan ke luar sebentar!”
Caca pun bergegas pergi untuk membeli jus apel yang suaminya inginkan.
Dari kejauhan, seorang wanita tersenyum licik melihat Caca yang baru saja keluar dari ruangan Adi.
__ADS_1
“Sepertinya Caca sudah pulang ke rumah. Sebaiknya aku masuk untuk menemui Pak Adi,” gumam wanita bernama Intan.
Intan berlari kecil masuk ke ruangan di mana Adi dirawat. Intan tersenyum lebar melihat Adi yang sedang berbaring di ranjang rumah sakit.
Adi yang tengah memejamkan matanya, saat itu membuka matanya ketika mendengar suara ketukan high heels.
“Bu Intan!” Adi terkejut melihat Intan yang sudah berada di ruangannya.
“Haduh, gara-gara saya Pak Adi jadi bangun. Padahal niat saya ke sini ingin terus memandangi wajah Pak Adi,” ucap Intan.
Adi sangat terkejut dengan penampilan Intan. Intan sebelumnya selalu mengenakan hijab dan kali ini Intan sungguh terlihat seperti wanita aneh.
Ia mengenakan setelan dengan rok yang sangat kekurangan bahan, pakaiannya pun sangat ketat seperti orang yang tidak berpakaian. Bahkan, wajahnya mencerminkan seperti wanita penghibur.
“Pak Adi kok kenapa memalingkan wajahnya begitu? Saya di sini loh, Pak Adi. Bagaimana dengan penampilan saya hari ini? Saya harap Pak Adi bisa mencintai saya dan menceraikan Caca,” tutur Intan.
Intan menyadari bahwa kedua tangan Adi sedang tidak berfungsi dengan baik. Hal itu membuat Intan lebih gampang mengambil kesempatan.
“Kalau Pak Adi masih tidak ingin melihat saya, jangan salahkan saya kalau saya melakukan hal yang mungkin akan Pak Adi sukai dan bisa jadi Pak Adi akan meminta lebih dari saya,” tutur Intan.
Intan perlahan berjalan mendekat dan senyumnya terlihat nampak aneh.
“Pak Adi, saya sangat merindukan Pak Adi. Entah kenapa, melihat Pak Adi begini membuat saya sedih sekaligus senang. Saya sedih karena Pak Adi harus menderita seperti ini dan saya senang karena dengan keadaan Pak Adi seperti ini, say bisa menyentuh Pak Adi sesuka hati saya,” terang Intan.
Tangan Intan perlahan mendarat di wajah Adi dan terlihat jelas bahwa Adi sangat risih dengan sentuhan Intan. Belum lagi kuku Intan yang panjang merah merona.
“Apakah Mas Adi juga merindukan saya?” tanya Intan dan perlahan dengan gerakan cepat mencium pipi Adi.
“Hentikan! Pergi dari sini!” Adi berteriak lantang atas apa yang telah Intan lakukan padanya.
Adi berusaha memberontak, tapi ia tidak bisa melakukannya. Kedua tangannya tak bisa digerakkan dan tubuhnya masih lemas untuk bergerak.
“Pak Adi kenapa sih tak menyukai saya? Coba lihat baik-baik betapa menggairahkan nya tubuh saya ini? Saya jamin, jika Pak Adi bersama dengan saya, Pak Adi aka mendapatkan kepuasaan yang luar biasa dan Caca tidak ada apa-apanya dibandingkan saya,” pungkas Intan dan sekali lagi mencium pipi Adi.
Intan menggigit bibirnya sendiri dengan tatapan penuh keinginan melihat bibir Adi.
“Bu Intan, jangan membuat saya hilang kesabaran. Atau anda...”
“Atau apa, Pak Adi?” tanya Intan menyela ucapan Adi.
“Berhenti!” teriak Adi.
Intan semakin menggila, tangannya perlahan membuka kancing pakaian milik Adi dan sebisa mungkin Adi memberontak. Akan tetapi, usahanya tak berhasil mengingat kondisi tubuhnya.
“Bagaimana bila saya memberikan tanda cinta di sini?” tanya Intan yang sudah berhasil membuka seluruh kancing pakaian Adi.
Intan sama sekali tak mempedulikan teriakan Adi yang tentu saja tidak bisa didengar oleh orang di luar. Dikarenakan, ruangan itu memiliki kedap suara yang cukup bagus. Maklum, ruangan itu sengaja dipesan oleh orang tua Caca yang memang adalah orang kaya raya.
__ADS_1
“Pak Adi jangan munafik dong. Di dunia ini, tidak ada orang yang akan menolak hal semacam ini. Lebih baik Pak Adi diam dan biarkan saya yang melakukannya,” tutur Intan.
Intan menggerai rambutnya yang panjangnya sebahu dan tersenyum genit pada Adi yang sama sekali tidak melihatnya.