Istri Kontrak Tuan Muda

Istri Kontrak Tuan Muda
Episode #105


__ADS_3

"Kakak ipar, kau dengar sendiri kan, kak Ziel akan Baik-baik saja, dia tidak akan mungkin meningalkan mu dan anak-anak kalian. " (Ucap Sela mengelus punggung Diva.)


"Baik lah, kalau begitu aku permisi dulu ada beberapa hal yang harus aku kerjakan dan sebentar lagi Aziel akan di pindahan ke ruang rawat inap. " (Ucap Dimas kemudian berjlan meningalkan mereka.)


"Dimas tunggu! " (Ucap Diva sedikit menaikan nada suara nya.)


Dimas pun berbalik dan menatap Diva.


"Terima kasih. " (Ucap Diva sambil menyeka air mata nya.)


Dimas hanya menjawab Diva dengan angukan, kemudian kembali berjalan menjauh dari sana.


Dua jam kemudian Aziel pun telah di pindah kan ke ruang rawat inap, tetapi dia sama sekali belum sadar entah itu efek bius atau memang kondisi nya masih sangat lemah.


"Kakak ipar, apa kau tidak mau pulang bersama kami? Ini sudah malam kau pasti sangat lelah, biar kan mama yang menjaga kak Ziel nanti. " (Bujuk Sela.)


"Tidak Sela, kau pulang saja, biar kan aku menjaga nya, dan tolong jaga anak-anak ya. " (Ucap Diva menatap Sela.)


"Tapi.." (Ucap Sela terpotong karena David menyela nya.)


"Baik lah, kami pulang sekarang. " (Ucap David tersenyum dan menarik Sela keluar dari ruang rawat Aziel.)


"Kau ini sudah kenapa? " (Ucap Sela kesal.)


"Kau yang kenapa? Sayang dengar kan aku, bukan kah ini baik, mereka bisa berduaan terus di dalam sana dan aku yakin sebentar lagi mereka akan berbaikan. " (Ucap David tersenyum jahil.)


Sela terlihat berfikir keras dan kemudian angkat bicara.


"Haha, mengapa aku menjadi lupa, iya kau benar ini sangat bagus dan itu kesenangan kak Ziel untuk memperbaiki rumah tangga nya." (Ucap Sela menatap David dengan senyum manis nya.)


"Benar sekali, sekarang mari kita pulang." (Ucap David memegang tangan Sela.)


"Ayo." (Ucap Sela.)


Mereka pun kembali pulang ke mansion.


"Kapan kau akan sadar? Kau membuat aku khawatir. "(Ucap Diva mengelus pelan rambut Aziel.)


Sekarang terlihat sekali jika Diva melupakan sakit hati nya berbalik begitu mempedulikan Aziel.

__ADS_1


" Apa aku mengangu? "(Tanya Dimas yang tiba-tiba masuk ke ruang rawat Aziel.)


"Dimas, tidak-tidak, kau tidak mengangkat katakan saja ada apa? " (Ucap Diva menatap Dimas.)


"Tidak, tidak ada apa-apa, aku hanya ingin mengecek kondisi nya. " (Ucap Dimas tersenyum paksa.)


"Ouh baik lah, silahkan. " (Ucap Diva tersenyum.)


"Kau terliat begitu peduli padanya. " (Gumam Dimas sambil memeriksa Aziel.)


"Buk... bukan begitu, aku... aku hanya... hanya merasa bersalah. " (Ujar Diva gugup.)


"Sudah lah, kau tidak perlu menyembunyikan rasa cinta mu yang masih terliat jelas itu, aku melihat nya aku ini sahabat mu. " (Ucap Dimas menatap Diva sambil tersenyum kecil.)


"Aku tidak tau harus bicara apa lagi, aku serah kan semuanya kepada takdir ku." (Ucap Diva menundukkan kepala nya.)


"Aku mengerti. " (Ucap Dimas memegang pundak Diva.)


Saat itu lah tangan Aziel mulai bergerak dan perlahan ia mulai membuka mata nya.


"Aziel? Dimas Aziel dia sudah sadar. " (Ucap Diva memegang tangan Dimas yang ada di bahu nya.)


"Ah, kepala ku.. kenapa pusing sekali? " (Ucap Aziel menatap sekeliling ruang rawat tersebut.)


"Kau terluka dan jangan banyak gerak. " (Ucap Dimas.)


"Dimas? Kau mengapa ada di sini? Bukan kah aku sedang berada di dalam mobil bersama Diva? Dan dia menangis untuk ku lalu dia memegang tangan ku dan... " (Ucap Aziel terpotong.)


"Diam lah, aku di sini. " (Ucap Diva memegang tangan Aziel kembali.)


"Aku keluar dulu. "(Ucap Dimas tersenyum sekilas dan keluar dari ruang rawat tersebut.)


Dimas tidak tahan jika harus melihat Diva dan Aziel begitu dekat sungguh sangat susah bagi nya untuk membuang perasaan nya untuk Diva.


" Dimas! "(Pangil Tania.)


" Tania? Kau mengapa ada di sini? "(Tanya Dimas menatap Tania.)


"Biasa, ambil obat untuk ibu ku. " (Ucap Tania menenteng kresek yang berisi banyak obat.)

__ADS_1


"Ouh, bagaimana keadaan ibu mu? Apa Baik-baik saja? " (Tanya Dimas.)


"Sejauh ini Baik-baik saja, tetapi harus bergantung dengan obat-obatan rumah sakit. " (Ucap Tania.)


"Bagus lah jika ibu mu Baik-baik saja. " (Ucap Dimas tersenyum.)


"Ouh iya, kita sudah lama tidak bertemu hanya sekali saat empat tahun lalu, di saat kau menabrak ku. " (Tawa Tania.)


"Benar sekali, kalau begitu bagaimana jika kita makan malam bersama kebetulan aku seharian belum makan dan sibuk mengurus pasien? " (Ucap Dimas kepada Tania.)


"Makan malam? Tumben sekali kau mengajak ku makan malam, biasanya juga kau selalu lebih dekat dengan Diva bahkan kau tidak suka dekat dengan ku. " (Canda Tania kepada Dimas.)


"Bukan begitu, kau tau sendiri kah jika Diva itu sering sakit makanya aku sering lebih dekat dengan nya, bagaimana? Mau makan malam bersama? " (Ucap Dimas mentap Tania.)


"Tentu saja aku mau. " (Ucap Tania tersenyum malu.)


"Baik lah ayo! " (Ucap Dimas.)


Tania pun berjalan mengiringi Dimas sungguh ia sangat senang setelah beberapa tahun akhirnya bisa kembali dekat dengan Dimas sahabat nya sebentar ia memiliki perasaan spesial kepada Dimas akan tetap saat ia tahu jika Dimas menyukai Diva ia lebih memilih memendam perasaan itu karena ia tidak ingin Dimas menjauh dari nya dan Diva juga pasti akan marah pada nya. Saat ada David dulu ia berusaha melupakan Dimas dan mencoba dekat dengan David namun apa daya cinta nya kembali bertepuk sebelah tangan itu lah kisah cinta Tania hingga membuat nya sampai sekarang masih tidak berhubungan dengan siapa pun.


Dimas pun mengajak Taniaasuk ke dalam mobil nya dan kemudian mereka menuju lestoran yang tidak terlalu jatuh dari rumah sakit.


Sementara itu di sini lain.


"Aku sedang bermimpi? Tadi aku bermimpi begitu indah. " (Gumam Aziel masih meracau.)


"Apa kau tuli? Aku di sini dan itu bukan mimpi kau hampir saja mati karena kecerobohan mu! " (Ucap Diva memelototi Aziel.)


"Hey, kau marah? Mengapa kau marah? Jika aku tidak ceroboh lalu aku akan kehilangan ibu dari anak-anak ku. " (Ucap Aziel menatap Diva.)


"Tetapi jika aku tiada kau lebih kuat untuk menjaga mereka. " (Ucap Diva meneteskan air mata nya.)


"Hey, shttt, jangan bicara seperti itu lagi aku tidak ingin mendengar nya. " (Ucap Aziel mengengam erat tangan Diva.)


"Mulut aku jadi terserah ku ingin bicara apapun yang ku mau. " (Ucap Diva menyeka air matanya.)


"Aku senang kita bisa seperti ini lagi, kau akhirnya mau memaafkan aku dan kembali lagi bersama ku. " (Ucap Aziel kembali meracau.)


Diva kaget dengan apa yang di katakan oleh Aziel, ia menatap Aziel bingung karena sebelumnya ia tidak bicara seperti itu.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2