Istri Kontrak Tuan Muda

Istri Kontrak Tuan Muda
Episode #67


__ADS_3

" Arghhh! Apa yang terjadi dengan Aziel? "(Ucap Luna mengepal tangan nya menahan amarah.)


"Aku tidak bisa membiarkan Aziel mempertimbangkan hal ini terlalu lama, bisa-bisa dia berubah fikiran dan tidak jadi bercerai dengan Diva. " (Ucap Luna mondar-mandir di kamar Aziel.)


Sementara itu Aziel benar-benar pergi ke pengadilan agama, untuk mengurus penceraian nya dengan Diva.


Di sisi lain.


Dimas baru saja tiba di rumah sakit.


"Sus, bagaimana keadaan nya? " (Tanya Dimas kepada suster yang menjaga Diva.)


"Seperti yang dokter lihat, saya memberikan obat penenang kepada pasien karena pasien terus menerus ingin kabur dari sini. " (Ucap suster tersebut kepada Dimas.)


"Baik kah, kau bisa keluar sekarang. " (Ucap Dimas kepada suster.)


"Baik dok. " (Ucap suster tersebut lalu keluar dari ruangan itu.)


"Diva, kau wanita yang kuat, tenang kah aku akan menyelamatkan kalian berdua. " (Ucap Dimas mengelus rambut Diva yang sedang lelap tertidur.)


Di sisi lain


Aziel baru saja keluar dari kantor pengadilan agama dengan membawa surat penceraian nya dengan Diva.


(Karena author gak tau soal persidangan jadi kita meloncat saja dengan surat cerai ya.)


"Apakah aku harus memberi kan ini sekarang? " (Batin Aziel sambil duduk di dalm mobil nya.)


"Aerghh! Aku benci hal seperti ini! Mengapa aku harus banyak berfikir bukan kah sekarang sudah ada Luna? Aku akan menikah dengan nya dan memiliki anak. " (Ucap Aziel kembali membuang hati nurani nya untuk Diva.)


Bodoh nya Aziel dia tidak tau jika Luna ingin menikah dengan nya hanya karena untuk merebut harta, dan satu hal yang tidak di ketahui Aziel jika Luna itu mandul dan tidak bisa memiliki seorang anak.


Aziel oun melakukan mobil nya pulang kerumah, karena hari sudah mulai malam ia pun berniat untuk memberikan surat itu besok pagi.


Sementara itu di mansion


Sedari tadi ponsel Luna bergetar menandakan bahwa ada telpon masuk.


"Huaaam. Siapa lagi yang berani mengangkat tidur ku? " (Ucap Luna yang sedari tadi tidur di kasur Aziel hingga tidak sadar jika jam sudah menunjukkan pukul 07.30 malam.)


Luna meraih ponsel nya dan menekan tombol hijau.


Call onn


"Hallo." (Ucap seseorang di sebrang telfon.)


"Iya hallo, Samuel, ada apa kau menghubungi ku? " (Ucap Luna memelan kan suara nya.)

__ADS_1


"Aku hanya ingin memperingati mu, agar tidak berkhianat a pada ku! Setelah kau berhasil menikah dengan Aziel masuk lah kedalam perusahaan nya dan lakukan semua yang aku katakan. " (Ucap Samuel.)


"Iya-iya, aku mengerti! " (Ucap Luna kesal.)


"Luna dengar, hanya aku yang bisa menerima kekurangan mu! Jadi kau jangan Macam-macam. " (Ucap Samuel mematikan telfon secara sepihak.)


Call off.


"Arghhhh, aku kesal sekali! Mengapa dia terus mengancam ku! Jika saja aku bisa memiliki anak, aku lebih baik benar-benar mencintai Aziel! " (Ucap Luna melempar ponsel nya.)


Semntara Aziel baru saja tiba di mansion.


"Bibi, di mana Sela? " (Tanya Aziel ketika melewati ruang tengah.)


"Tidak tau. " (Jawab Marisa singkat.)


"Bibi, kenapa bibi tidak pernah menasehati Sela, jika dia terus-menerus pulang larut dan bahkan tidak pulang apa bibi tidak khawatir dia seorang perempuan. " (Ucap Aziel ketika melihat bibi nya yang duduk sendiri di ruang tengah.)


"Ternyata di hati mu masih ada rasa peduli kepada adik mu, bibi kira kau hanya memikirkan perempuan ****** itu. " (Ucap Marisa blak-blakan.)


"Bibi kenapa bibi terus saja berkata seperti itu di saat aku mencoba memperbaiki hubungan kita. " (Ucap Aziel menatap Marisa.)


"Sudah lah, aku malas bicara dengan mu. " (Ucap Marisa mengacungkan Aziel.)


Sekuat apapun Aziel berusaha memperbaiki hubungan nya antara Marisa dan Sela dia tidak akan berhasil karena mereka sudah terlanjur sakit hati dengan apa yang Aziel lakukan kepada Diva.


"Dari mana saja kau? " (Tanya Aziel.)


"Mau aku dari mana pun, itu terserah ku karena aku mengunakan kaki ku sendiri. " (Ucap Sela.)


"Sela! Dengar beberapa hari ini aku membiarkan kan mu keluyuran dan pulang larut, tetapi kau itu angota keluarga buana apa kau ingin membuat malu keluarga ini? " (Ucap Aziel membentak Sela.)


"Aziel! Apa yang kau katakan? Membutuhkan malu keluarga buana? Sadar Aziel kau lah yang mencemari nama baik keluarga buana! " (Ucap Marisa berdiri dari duduk nya.)


"Biar kan saja ibu, jika dia sudah bilang begitu makan aku akan keluar dari mansion ini dengan begitu aku tidak akan mencemari keluarga buana lagi. " (Ucap Sela berlalu masuk ke kamar nya.)


"Sela! Tidak sela! Tunggu ibu! " (Teriak Marisa.)


"Lihat Aziel! Lihat apa yang kau lakukan! " (Ucap Marisa menatap tajam Aziel.)


Sementara itu Luna merasa menang karena ia telah berhasil menghasut Aziel untuk menegur Sela.


"Mengapa semuanya jadi seperti ini? " (Batin Aziel.)


"Ziel, apa kau sudah pulang? " (Ucap Luna pura-pura baru melihat Aziel.)


"Iya." (Jawab Aziel singkat.)

__ADS_1


"Bagaimana? Apakah kau telah mendapat surat penceraian? " (Ucap Luna antusias.)


"Luna, mengapa kau begitu antusias dalam ham ini? " (Tanya Aziel curiga.)


"Gawat, jika Aziel mulai curiga aku bisa habis. " (Batin Luna.)


"Kenapa kau diam? " (Ucap Aziel.)


"Apa aku salah bersemangat untuk segera menikah dengan mu? Apa kau tidak bahagia seperti ku? " (Ucap Luna mulai memainkan drama nya lagi.)


"Tidak Luna bukan begitu, maaf kan aku. " (Ucap Aziel kembali tergoda dengan akting kuna.)


Sungguh cinta pertama sangat berpengaruh bagi seseorang, bahkan bisa melenyapkan cinta yang sebenarnya.


Di sisi lain.


Diva kembali sadar setelah di beri obat penenang oleh suster.


"Ah, kenapa badan ku lemas sekali. " (Ucap Diva membuka mata nya.)


Saat Diva membuka mata nya terlihat Dimas yang sedang tertidur sambil memegang tangan Diva.


"Di... Dimas. " (Ucap Diva memegang rambut Dimas.)


"Ahhh, huh, kau sudah sadar? " (Ucap Dimas meleguh sambil mengucek mata nya.)


"Kenapa kau menunggu ku di sini? " (Tanya Diva kasihan.)


"Lalu siapa lagi yang akan menjaga mu jika bukan aku. " (Ucap Dimas sedikit bercanda.)


"Kau bisa saja, em apakah kau menjaga ku dari semalam? " (Tanya Diva menatap Dimas.)


"Menurut mu? " (Ucap Dimas.)


"Huh, Dimas kau tidak perlu seperti ini kepada ku. " (Ucap Diva berasa bersalah.)


"Diva sudah lah, jangan terlalu banyak berfikir fokus saja dengan kesehatan mu dan bayi mu. " (Ucap Dimas memegang tangan Diva.)


"Baik lah, terima kasih banyak Dimas. " (Ucap Diva menyeka air mata nya.)


"Hm, oh iya ada sesuatu yang ingin aku sampai kan padamu. " (Ucap Dimas menatap Diva serius.)


"Sesuatu apa? Apa kau ingin aku mengugurkan kandungan ku? Tidak Dimas itu tidak akan terjadi. " (Ucap Diva memalingkan wajah nya.)


Dimas begitu salut dengan kegigihan Diva yang ingin mempertahankan bayi nya.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2