
"Huh, ternyata Aziel ingin menemui Diva, untung saja aku pintar. " (Batin Luna.)
Aziel mengurung niat nya untuk menemui Diva malam itu. Ia berencana menemui Diva pagi saja karena kondisi Luna yang tidak baik.
***
Pagi pukul 06.30
Tiiiit... tiiiit. (Bunyi klakson mobil Dimas.)
"Iya sebentar. " (Ucap Diva keluar dari rumah nya sambil menarik koper.)
"Kau akan menitipkan rumah ini kepada siapa? " (Tanya Dimas turun dari mobil.)
"Aku tidak menitipkan kepada siapapun. " (Ucap Diva mengunci pintu rumah nya.)
"Baik lah ayo! " (Ucap Dimas mengambil koper Diva dan memasukkan ke dalam bagasi mobil nya.)
Diva hanya tersenyum kecut menatap rumah nya dan kemudian masuk kedalam mobil Dimas.
"Hari ini, aku akan meninggalkan kota kelahiran ku, demi anaku. Aku meninggal kan semua kenangan dan orang-orang yang aku sayang. " (Batin Diva sambil menatap kosong arah luar jendela mobil.)
Sementara itu Dimas fokus menyetir menuju bandara.
"Apakah aku akan benar-benar sembuh? " (Ucap Diva mencairkan suasana yang Hening itu.)
"Iya, kau akan sembuh yakin lah. " (Ucap Dimas tersenyum kepada Diva.)
Tidak butuh waktu lama, Dimas dan Diva pun tiba di bandara.
Mereka mengambil penerbangan pagi, agar tidak sampai terlalu malam ke kota (P).
Satu jam berlalu, kini tiba lah pesawat yang bertujuan kota (p) untuk lepas landas menuju kota (p).
"Apa kau baik-baik saja? " (Ucap Dimas memegang erat tangan Diva yang dingin dan berkeringat.)
"Hm, tetapi aku merasa takut. " (Ucap Diva yang baru pertama kali menaiki pesawat.)
"Haha, aku kira kau kesakitan ternyata kau takut? " (Ucap Dimas tertawa renyah.)
"Dimas kapan kita akan sampai? " (Ucap Diva mengengam erat tangan Dimas.)
"Kita baru saja brangkat bagaimana mungkin secepat itu kita untuk sampai. " (Ucap Dimas tersenyum melihat tingkah Diva yang seperti anak kecil.)
Di sisi lain.
"Aku harus segera menemui Diva. " (Ucap Aziel masuk kedalam mobil nya.)
"Ziel! Kau mau kemana? " (Ucap Luna menghampiri mobil Aziel.)
Tanpa menjawab sepatah kata pun, Aziel melajukan mobil nya.
__ADS_1
"Aziel! " (Teriak Luna. )
Tetapi Aziel tetap saja tidak mempedulikan Luna yang berteriak memanggil nama nya, di pikiran nya sekarang adalah Diva, Diva dan Diva.
"Seperti nya kau telah di buang. " (Ucap Sela yang keluar menuju mobil nya dengan pakai kantor.)
"Arghhhh! " (Ucap Luna berjalan kembali masuk ke rumah.)
Sela yang melihat itu pun merasa semakin jijik terhadap Luna ia masuk ke mobil nya untuk segera ke kantor.
Tidak butuh waktu lama Sela pun akhirnya tiba di kantor, hari ini dia begitu berharap agar ia bertemu Diva di kantor.
"Pagi semuanya. " (Ucap Sela menyapa teman-teman kerja nya.)
"Pagi." (Ucap semua yang ada di kantor.)
"Nona Sela! " (Teriak Dewi dari arah meja kerja nya.)
"Iya Dewi ada apa? " (Tanya Sela menghentikan langkah nya.)
Dewi pun menghampiri Sela dengan membawa dua buah amplop yang di berikan Diva kemarin.
"Ini ada titipan dari nona Diva. " (Ucap Dewi memberi kan dua amplop biru dan kuning tersebut.)
"Apa ini? " (Tanya Sela bingung.)
"Saya tidak tau nona, sebenarnya semalam itu nona Diva datang dan memberikan itu kepada saya, dia bilang agar saya memberikan amplop itu kepada nona hari ini. " (Ucap Dewi menjelaskan.)
"Maaf nona, saya juga tidak tau. " (Ucap Dewi yeng terlihat juga bingung.)
"Baik lah kalau begitu apakah ini untuk saya dua duanya atau.. " (Ucap Sela terpotong.)
"Ah iya saya hampir lupa nona, amplop biru itu milik Tania dan yang kuning milik nona Sela, begitu lah yang di katakan nona Diva. " (Ucap Dewi menjelaskan.)
Tanpa berkata apapun Sela langsung membuka amplop yang berwarna kuning tersebut dan membaca nya.
Isi surat:
"𝘚𝘦𝘭𝘢, 𝘈𝘬𝘶 𝘔𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘮𝘢𝘢𝘧 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘪 𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘱, 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘭𝘪𝘴 𝘴𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘶, 𝘚𝘦𝘭𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘴𝘦𝘮𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘯 𝘛𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣 𝘱𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘩𝘢𝘢𝘯 𝘬𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘰𝘩𝘰𝘯 𝘶𝘳𝘶𝘴 𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘩𝘢𝘢𝘯 𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯, 𝘮𝘢𝘢𝘧 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘯𝘢, 𝘚𝘦𝘭𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘵𝘪, 𝘋𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘬𝘶 padam𝘶, 𝘫𝘢𝘨𝘢 𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘮𝘶 𝘣𝘢𝘪𝘬-𝘣𝘢𝘪𝘬, 𝘉𝘦𝘳𝘩𝘢𝘵𝘪-𝘩𝘢𝘵𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘓𝘶𝘯𝘢 𝘚𝘦𝘭𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘫𝘢𝘩𝘢𝘵 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱 𝘬𝘢𝘶𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘨𝘢 𝘱𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘣𝘪.
𝘋𝘪𝘷𝘢 𝘈𝘧𝘬𝘢𝘳.
Begitu lah isi surat dari Diva.
Perlahan air mata Sela menetes membasahi pipi nya.
Semua karyawan yang melihat itu pun menjadi bingung melihat Sela yang menangis akibat membaca surat yang di berikan oleh Dewi yang katanya itu dari Diva CEO mereka.
"Nona Sela, nona kenapa? " (Ucap Dewi bingung.)
Sela tidak bisa berkata apapun ia hanya menangis dan terus menangis.
__ADS_1
Dewi pun berusaha menenangkan Sela.
"Nona Sela , tolong jangan menangis kami semua menjadi bingung apa yang sebenarnya terjadi? " (Ucap Dewi mengelus punggung Sela.)
"Kakak ipar, dia ... dia meningalkan kita semua. " (Ucap Sela di telah tangisan nya.)
Semua karyawan kaget dengan apa yang di katakan oleh Sela.
"Maaf nona maksud nya? " (Tanya Dewi bingung.)
Sela pun memberikan surat itu kepada Dewi dan karena ia tidak sanggup menjelaskan nya.
"Baca ini, dan beri tahu semua karyawan. " (Ucap Sela memasukkan amplop biru ke tas nya dan bergegas keluar dari kantor.)
"Apa yang sebenarnya terjadi? "(Tanya karyawan lain yang turut di buat bingung.)
" Tenang, aku akan membacakan isi surat ini kepada kalian semua dan smuanya harap diam karena ini penting. "(Jelas Dewi.)
Sementara itu Sela bergegas menuju rumah sakit untuk menemui Tania, di sepanjang jalan mengendarai mobil Tania terus saja menangis dan sesekali memukul stir mobil akibat jalan yang macet.
Di sisi lain.
Aziel memberhentikan mobil nya tepat di depan rumah Diva.
"Diva! Diva aku mohon buka pintu nya. " (Ucap Aziel mengedor-gedor pintu rumah Diva tampa melihat gembok pintu yang tergantung jelas di pintu.)
"Diva aku mohon buka! Kenapa kau merahasiakan kehamilan mu padaku Diva! " (Ucap Aziel seperti orang gila.)
Karena mendengar suara brisik, tetangga Diva pun keluar untuk melihat siapa orang yang terus berteriak.
"Permisi tuan, apa tian mencari Diva? " (Ucap tetangga Diva yang terlihat mengandong anak nya.)
"Iya buk, maaf apa kau tau di mana dia? " (Ucap Aziel bingung.)
"Saya sih tidak tau, tetapi tadi pagi saat saya sedang membawa anak saya keluar untuk menghirup udara pagi, saya melihat Diva dengan seorang lelaki masuk ke dalam mobil dan juga membawa koper seperti nya dia ingin pergi jauh, karena pintu nya juga di gembok. " (Ucap wanita itu menunjuk pintu Diva.)
"Pergi jauh? Seorang lelaki? Dan membawa koper? " (Ucap Aziel yang sudah terlihat seperti orang gila.)
"Iya tuan. " (Ucap wanita itu bingung menatap Aziel.)
Aziel memegang gembok yang terpampang jelas di pintu Diva.
"Terima kasih info nya. " (Ucap Aziel kemudian berlari masuk kedalam mobil nya.)
"Dasar aneh. " (Ucap wanita itu lalu pergi.)
Aziel pun melanjukan mobil nya tampa tau arahan yang hendak di tuju.
"Arghhh! Diva kemana kau! Beraninya kau pergi membawa calon anakku! " (Ucap Aziel memukul stir mobil dan sesekali menjambak rambut nya Furtsasi.)
Begitu lah Aziel terus melakukan mobil nya dengan kecepatan tinggi seperti orang yang sedang kesurupan saja.
__ADS_1
Bersambung ....