
Pras menghubungi Jonathan untuk bertemu di Rumah Sakit karena ada beberapa hal yang harus di bicarakan. Mereka sampai pada pukul 6 sore, dan sama sama masuk dari area parkir lantai 5. Tak ada seorang pun staff yang tahu bahwa Presdir dan Wakilnya baru saja datang.
Pintu terbuka, nampak koridor lantai 5 yang sepi seperti biasanya.
" Gue lupa laptop Jo. Sorry " Titah Pras sambil memberikan kunci mobilnya.
" Its okay, Lo pasti cape banget kan. " Jonathan meraih kunci yang Pras berikan lalu kembali keluar menuju area parkir.
Pras sengaja menunggu Jo di depan pintu masuk lantai 5, terlihat angka di lift yang jaraknya beberapa meter dari sana berhenti. Lalu pintu lift terbuka. Pras melihat Dinda keluar dari sana dengan kepala yang menunduk memperhatikan smartphone nya hingga tak sadar ada Pras di sebrang koridor.
" Mau kemana dia .. " Gumam Pras pelan.
Pras melirik jam di tangannua menunjukka pukul 6.15
" Kenapa ? Lihat setan Lo ? " Tanya Jo yang baru saja datang.
" Dinda .. " Pras mengangkat kepalanya memberikan tanda untuk melihat ke arah depan.
" Mau kemana dia ? Konsul ke spesialis kali. "
" Lo lupa gue konsulennya ? Lagian jarang ada dokter yang stay lama disini. Lo tau sendiri mereka lebih suka di ruang piket. "
" Iya juga. Eh lihat dia jalan kemana .. "
Pras dan Jo saling tatap begitu melihat Dinda ternyata masuk ke ruangan Mitha.
__ADS_1
" Di panggil Mitha dia bro ? "
" Gak tau gue, Mitha gak bilang apa apa. Gue juga belum sempet chatan lagi semenjak siang. "
" Samperin dulu deh takutnya ada masalah. " Inisiatif Jo.
Merekapun jalan bersamaan menuju ruangan Mitha. Berbeda dengan ruangan Pras yang di rancang kedap suara, ruangan Mitha masih bisa di dengar jika ada orang berdialog. Pras dan Jo berdiri disana hendak menguping pembicaraan. Awalnya hanya hening sampai hampir 5 menit, hingga Pras berpikir untuk kembali ke ruangannya saja namun begitu hendak melangkah terdengar suara Mitha.
Mereka berargumen hebat di dalam sana, sempat Pras mendengar Dinda yang mengatakan hal menyakitkan tentang istrinya. Terlihat rahang Pras mengeras, dan tangannya mengepal hingga memerah. Jo hendak melangkah melerai namun di tahan Pras, Pras menggelengkan kepalanya memberi tanda untuk Jo diam karena Pras ingin lebih jauh mendengar perdebatan mereka.
" Haruskah saya membongkar aib mu ? Yang selama ini sempat mengajak Pras berlibur bersama dan sudah memesan hotel kelas suite untuk kalian berdua namun sayang Pras tidak bisa menyentuh wanita yang tidak dia cintai. Kalo begitu bukan kah kita sama sama rendah Dinda ? Bedanya saya di nikahi, saya di jadikan ratu bukan hanya oleh Pras tapi oleh kedua orangtuanya juga tanpa saya mengemis dari mereka. Sedang kamu, kamu mengemis cinta dari Pras sampai rela hanya di jadikan wanita gelap nya ! Bangun Dinda ! Jika sekalipun Pras mau memberikan perasaannya untuk mu apakah Bunda akan menerima ? Hubungan kalian tak lebih dari hubungan gelap yang tak akan pernah mendapatkan restu dan kebahagiaan karena KAMU ! KAMU PERNAH MERENGGUT HIDUP SAYA DAN HIDUP ANAK SAYA YANG BAHKAN BELUM SEMPAT LAHIR KE DUNIA. SAYA INGATKAN ITU JIKA KAMU LUPA AKAN MASA LALU SEBERAPA BURUK DAN BERENG-SEK NYA KAMU ! " Pras mendengar Mitha dengan nada tinggi yang histeris. Untuk pertama kalinya Pras mendengarkan istrinya emosi sekalut itu.
" Bukan saya yang merenggut hidup kamu dan anak kamu. Tapi kalian ! Kalian yang merenggut hidup saya ! Kalau saja kamu tidak kembali saya yakin Presdir akan luluh dan kami akan hidup bahagia. Lagi pula bagus bukan anak haram itu tiada ? Setidaknya kalian tidak susah payah menutupi aib hamil di luar nikah untuk ke dua kalinya. Memalukan ! "
" CUKUP DINDA ! " Ucap Pras sambil membanting pintu ruangan Mitha yang membuat kegaduhan lebih besar lagi karena kini para kepala departemen yang ternyata baru saja keluar dari ruang konferensi mendengar bantingan pintu itu dan berhamburan menghampiri.
" LANCANG SEKALI MULUT KOTOR MU ITU MENGATAKAN ANAK KAMI ANAK HARAM HAH ! " Terlihat tarikan nafas Pras begitu berat.
Jo masih terpaku melihat sahabatnya emosi, bukan tidak pernah melihat sebelumnya. Namun kini yang Jo lihat adalah Pras yang dingin dan gelap seperti di masa lalu, Pras yang bahkan tak segan melenyapkan musuhnya dengan tangannya sendiri. Jujur Jo takut Pras lepas kendali.
" Ada apa pak Jo ? " Tanya salah seorang kepala departemen ortopedi.
Jo masih diam.
" Pre-Presdir .. " Ucap Dinda gugup, tercengang dan jelas shock.
__ADS_1
" MANA SUARA LANTANG MU YANG TADI DENGAN LANCANGNYA MENGATAI ANAK KAMI ANAK HARAM ? APA KAMU TUHAN YANG BISA MENENTUKAN APA YANG HALAL DAN HARAM UNTUK KAMI ? ATAU MUNGKIN INGIN BERTANYA DAN BERTEMU LANGSUNG DENGAN ANAK KAMI YANG SUDAH DI DALAM TANAH APAKAH DIA ANAK HARAM ATAU BUKAN ? SAYA BISA LAKUKAN ITU SAAT INI JUGA HANYA DALAM HITUNGAN DETIK ! "
" Pak Jo. Presdir .. " Seseorang menepuk pundak Jo yang berhasil membuatnya sadar lalu secepat kilat menahan Pras karena kini Pras tidak main main. Andai saja Dinda tau Pras benar benar bisa melenyapkan nya mungkin dia akan berpikir sejuta kali untuk mengucapkan itu.
" Udah Pras berhenti. Lihat Lo bikin banyak orang takut. " Jo menahan tubuh Pras yang semakin membuat Dinda tersudut ke tembok.
" PERSETAN DENGAN MEREKA SEMUA. MITHA DAN ANAK ANAK GUE HARGA DIRI GUE. GAK ADA SEORANG PUN YANG BERHAK MENJUDGE MEREKA ! "
" Gue ngerti Pras. Tapi gak gini caranya. Please Pras. "
" Udah mas cukup. " Kini Mitha yang memeluk Pras erat dari arah belakang dengan tangis sesenggukan. Mitha pun kaget dan belum pernah sebelumnya melihat Pras yang terlihat benar benar ingin membu*nuh orang lain. Setelah ini Mitha percaya bahwa suaminya benar benar sanggup melakukan itu.
" Aku mohon mas .. Aku juga sakit hati dan marah dengan perkataan dia. Tapi aku mohon, bahkan jika dia mati sekalipun tidak akan ada yang berubah. Yang ada hanya menambah masalah. Kamu terlalu baik buat hancur gara gara wanita itu "
Pras menarik nafas dalam lalu mundur menjauhi Dinda. Seluruh tubuhnya bergetar, hampir saja ya hampir saja dia melenyapkan anak gadis seseorang. Lalu terbersit lah Mecca dalam ingatan Pras, dirinya pun memiliki anak perempuan hingga akhirnya hatinya luluh dan pikiran sehatnya kembali.
" Jangan bawa bawa keluarga saya pada masalah kita Dinda. Yang salah saya, hubungan kita di masa lalu adalah sesuatu yang harusnya tidak pernah terjadi karena masih ada Mitha dalam hidup dan hati saya. Selamanya, itu gak akan pernah berubah sekalipun kamu memberikan hatimu bahkan tubuhmu. Kita sama sama bersalah atas kematian janin yang di kandung Mitha saat itu, Mitha lah yang jadi korban sebenarnya. Dan jangan pernah mengatakan lagi anak kami anak haram, saya ayahnya dan Mitha ibu nya meski kami pernah berpisah namun kami sudah lama bersama jauh sebelum kamu ada, kamu bukan siapa siapa dan tidak berhak mengatakan itu ! " Ucap Pras panjang lebar sebelum akhirnya pertahanannya roboh lalu terhuyung di sofa.
" Kenapa kalian masih disini ? BUBAR ! " Bentak Jo pada para dokter yang menyaksikan drama ini.
" Kamu juga Dinda, kembali ke ruangan kamu dan tunggu saya disana. Selangkah saja kamu keluar dari rumah sakit ini maka saya pastikan kamu tak akan pernah memiliki muka untuk kembali dan berada dimana pun itu " Ancam Jo.
Dinda berjelan lemas keluar ruangan, kaki nya bergetar hebat. Sakit yang teramat di rasakannya saat melihat lelaki yang di cintainya bahkan hampir membuat dia tak lagi bisa bernafas.
Dinda menangis sepanjang jalan menuju ruangannya sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.
__ADS_1