
"Aku membutuhkan bantuan mu. " (Ucap Dimas.)
"Dimas, bukan kah kau tau papa tidak akan ikut campur lagi dalam masalah apapun yang berbau rumah sakit dan pengobatan. " (Ucap tuan Anggara menatap Dimas.)
"Ku mohon, sekali ini saja, aku tidak bisa melakukan ini sendiri aku mohon. " (Ucap Dimas menatap papa nya penuh harapan.)
"Yasudah, katakan apa masalah mu. " (Ucap tuan Anggara tidak tega.)
"Ada seorang gadis, ia mengidap tumor di rahim nya, tetapi dia sedang hamil. " (Ucap Dimas menundukkan kepala nya.)
"Solusi nya sangat mudah Dimas, aku rasa kau juga sudah mengetahui nya bahwa untuk menyelamatkan nyawa nya cukup mengugurkan kandungan nya. " (Ucap Tuan Anggara merasa anehh dengan putra nya.)
"Itu dia masalah nya pah, dia bersikeras untuk tidak mengugurkan kandungan nya, pah katakan padaku jika kau memiliki jalan lain tentang ini ku mohon. " (Ucap Dimas berlutut di kaki sang papa. )
"Dimas, apa yang kau lakukan? Sebelum nya aku tidak pernah melihat mu seperti ini, berdiri lah Dimas, dan dengar kan aku tidak ada jalan lain untuk itu, dia bisa melahirkan tetapi dia harus berjuang di sepanjang hari nya menahan sakit nya tumor itu, tetapi Dimas suatu saat hal buruk bisa saja terjadi nyawa ibu dan ank itu bisa saja hilang. " (Ucap tuan Anggara memegang bahu Dimas.)
"Pa, tidak mungkin tidak ada jalan lain, kau seorang dokter terkenal, aku tidak rela jika dia harus tiada. " (Ucap Dimas menangis.)
"Jika kau tidak rela, maka yakin kan dia untuk mengugurkan kandungan nya. " (Jawab tuan Anggara.)
Dimas terdiam, ternyata memang benar-benar tidak ada jalan lain selain mengugurkan kandungan Diva atau nyawa Diva akan hilang.
"Pah, jika solusi nya hanya itu aku bisa menangani nya sendiri, tetapi masalah nya Diva tidak akan setuju. " (Ucap Dimas putus asa.)
"Diva? " (Ucap tuan Anggara menaikan satu alis nya.)
"Iya, Diva. " (Ucap Dimas menatap papa nya.)
"Dimas, setelah begitu lama, kau masih saja menggejar nya? " (Ucap tuan Anggara.)
tuan Anggara mengetahui jika Diva adalah sahabat masa SMA Dimas karena sejak sekolah Dimas selalu bercerita tentang perasaan nya ke Diva kepada sang papa, saat itu mama Dimas masih hidup.
"Kenapa pa? Kenapa jika aku masih mencintai nya? Apakah itu salah? " (Ucap Dimas detail mata yang merah akibat menangis.)
"Huh, baik lah, dengar kan aku, aku mempunyai seorang sahabat dia adalah dokter spesialis tumor. " (Ucap tuan Anggara menghentikan kalimat nya.)
"Benar kah? Di mana dia pa? Ayo katakan padaku, kenapa papa diam? " (Ucap Dimas tidak sabar.)
__ADS_1
Dimas memang lah seorang dokter yang ahli, namun dia bukan ahli tumor. Dia hanya tahu sedikit tentang itu.
"Namanya Dr. Lukaman, tetapi masalah nya dia tidak berada di kota ini dimas." (Ucap tuan Anggara.)
"Lalu di mana dia pa? " (Tanya Dimas memegang tangan papa nya.)
"Dia berada di kota (P). " (Ucap tuan Anggara.)
"Pa, bisakah papa meminta nya datang ke kota ini? " (Tanya Dimas antusias.)
"Itu dia masalah nya Dimas, umur nya mungkin sudah agak tua, dia tidak akan bisa kemari. " (Ucap tuan Anggara menatap Dimas kasihan.)
Dimas terlihat sedih dengan perkataan sang papa.
"Dengar Dimas, jika dia tidak bisa kemari maka bawa lah Diva bersama mu ke kota (P) dampingi dia dengan begitu kau akan merasa tenang. " (Ucap tuan Anggara memegang pundak Dimas.)
Dimas menatap lekat papa nya.
"Benar kah? Lalu bagaimana dengan rumah sakit? " (Tanya Dimas kepada papa nya.)
"Demi kau, aku akan kembali menangani rumah sakit, tetapi kau harus tau jika kau pulang maka aku akan kembali seperti biasanya. " (Ucap tuan Anggara memeluk Dimas.)
"Terima kasih pa. " (Ucap Dimas membalas pelukan sang papa.)
"Kau anak ku satu-satunya, tidak ada kata tidak untuk diri mu
" (Ucap tuan Anggara.)
"Aku menyayangimu. " (Ucap Dimas.)
"Sekarang kembali lah kerumah sakit, urus segalanya untuk keberangkatan kalian, dan tentu nya bicarakan hal ini dengan Diva. " (Ucap tuan Anggara melepaskan pelukan nya.)
"Baik pa, aku yakin Diva akan setuju, kalau begitu aku kerumah sakit sekarang. " (Ucap Dimas
"Hati-hati Dimas. " (Ucap tuan Anggara.)
Dimas kembali melajukan mobil nya menuju rumah sakit.
__ADS_1
Tampa. mereka sadari oma dimas telah mendengar percakapan Dimas dan tuan Anggara sedari tadi.
"Siapa wanita itu? " (Ucap oma Marya menghampiri tuan Anggara.)
"Mama." (Ucap tuan Anggara kaget.)
Meskipun oma Marya adalah mertua tuan Anggara tetapi tuan Anggara mengangap nya lebih dari seorang mertua bahkan tuan Anggara tidak mengizinkan oma Marya untuk tinggal sendiri di rumah nya.
"Anggara, aku tidak pernah melihat Dimas seperti tadi, Ayo katakan padaku siapa wanita hebat itu bahkan karena wanita itu hari ini kau berhasil memeluk putra mu Dimas. " (Ucap oma Marya penasaran.)
"Mama,dia adalah Diva sahabat masa SMA nya Dimas, Dimas sangat mencintai nya, tetapi tidak pernah mampu mengungkapkan perasaan nya, sampai saat ini dia kembali dan bertemu dengan Diva lagi. " (Ucap tuan Anggara kepada oma.)
"Tetapi aku dengar jika wanita itu hamil Anggara, itu artinya dia sudah mempunyai suami. " (Ucap oma Marya khawatir.)
"Aku juga bingung ma, aku belum sempat menanyakan hal itu kepada Dimas, mama tenang saja, Dimas akan kembali nanti dan aku akan membicarakan hal ini lagi. " (Ucap tuan Anggara memegang pundak oma Marya.)
"Baik kah, aku harap Dimas tidak sakit hati untuk yang kesekian kali. " (Ucap oma Marya meningal kan ruang perpustakaan itu.)
Di sisi lain
"Sayang, cepat lah bukan kah hari ini kau akan pergi ke pengadilan agama untuk mengurus penceraian mu dan Diva. " (Ucap Luna memagil Aziel.)
Di dalam kamar, Aziel diam menatap kosong tembok kamar, entah kenapa hari ini kaki nya begitu berat untuk melangkah pergi ka pengadilan agama.
"Diva, di mana kau sekarang? " (Batin Dimas.)
"Tuhan, kenapa hatiku sakit untuk melakukan hal ini, aku merasa ada sebuah ikatan antara aku dan Diva. "(Batin Aziel sambil mengingat saat malam di mana Diva mual-mual.)
" Bagaimana jika dia hamil? "(Batin Aziel tiba-tiba memikirkan hal tersebut.)
" Ziel, kau ini kenapa? Apa kau berat untuk berpisah dengan Diva? Kalu begitu jangan lakukan biar kan saja aku yang pergi. "(Ucap Luna kembali berkating.)
Mendengar ucapan kuna Aziel pun sadar dari lamunan nya.
" Aku akan pergi, dan kau jangan terlalu mendesak ku. "(Ucap Aziel keluar dari kamar nya.)
Luna menatap heran Aziel yang terlihat cuek kepada nya.
__ADS_1
Bersambung ....