Istri Kontrak Tuan Muda

Istri Kontrak Tuan Muda
Episode #69


__ADS_3

Di sisi lain


"Brian apa kau sudah menemui Diva? " (Ucap mama Gita.)


Brian hanya diam menatap kosong tembok ruang tamu.


"Brian ada apa dengan mu? Sejak kemarin kau terus saja murung dan tidak mau bicara! " (Ucap mama Gita kesal.)


"Aku sudah menemui nya. " (Jawab Brian singkat.)


"Benar kah? Bagus lah sekarang coba cerita kan pada mama apa yang kau bicarakan dengan nya? " (Ucap mama Gita antusias.)


"Ma, sudah lah ku rasa cukup untuk mengangu hidup nya lagi. " (Ucap Brian menatap mama nya.)


"Brian ada apa sebenarnya? Ayo katakan? " (Ucap mama Gita bingung.)


"Diva hamil ma. " (Ucap Brian dengan raut wajah yang terlihat menyesal.)


"Benar kah? Lalu? " (Ucap mama Gita duduk di sebelah Brian.)


"Saat aku ke mansion Aziel, dia sudah tidak berada di sana, ku rasa rumah tangan nya dengan Aziel sama hancur nya dengan rumah tangga ku dengan Tara. " (Jelas Brian kepada mama nya.)


"Nah, bagus jika begitu kau akan semakin mudah untuk mendapatkan Diva kembali. " (Ucap mama Gita memegang tangan Brian.)


"Cukup ma! Apa yang mama katakan? Sudah cukup aku membuat nya menderita sekarang aku tidak ingin masuk kembali kedalam kehidupan nya, dengar kan aku ma dia terlihat depresi saat aku datang kerumah nya dia hampir saja bunuh diri. " (Untuk Aziel mengusap kasar wajah nya.)


Gita terlihat bingung dengan apa yang di katanya Brian sungguh ia merasa tidak bisa mencerna perkataan Brian dengan baik.


"Apa maksud mu Brian? " (Tanya mama Gita pelan.)


"Sudah lah, aku pusing aku ingin istirahat. " (Ucap Brian meningal kan mama nya yang masih terlihat bingung.)


***


Di sisi lain


Sela dan David baru saja tiba di kantor Diva.


"Terima kasih kau sudah mengantar ku. " (Ucap Sela turun dari mobil David.)


"Sama-sama kalau begitu aku ke kantor dulu. " (Ucap David tersenyum sambil menampilkan lesung pipi nya yang begitu Manis.)


"Baik lah hati-hati. " (Ucap Sela melambaikan tangan nya.)


David pun kembali melajukan mobil nya menuju kantor Aziel.


Sementara Sela berjalan memasuki kantor.

__ADS_1


"Dewi tunggu! " (Ucap Sela memangil Dewi yang sedang membawa berkasnya.)


"Iya, ada apa nona Sela? " (Ucap Dewi menghampiri Sela.)


"Apakah kakak ipar sudah datang? " (Tanya Sela kepada Dewi.)


Dewi terdiam ia bingung entah apa yang harus ia katakan kepada Sela.


"Dewi? Kau kenapa? " (Tanya Sela bingung.)


"Ah, iya anu nona Sela tadi nona muda sudah datang tetapi hanya beberapa menit dan dia pergi lagi entah kemana. " (Ucap Dewi gugup.)


"Benar kah? Apa kau tidak sempat untuk bertanya? " (Tanya Sela menaikan satu alis nya.)


"Maaf nona Sela saya tidak sempat bertanya apa pun karena seperti nya nona muda sedang buru-buru. " (Ucap Dewi.)


"Baik kah kalau begitu terima kasih kau boleh lanjut bekerja. " (Ucap Sela memegang pundak Dewi.)


"Baik nona Sela. " (Ucap Dewi kembali melajukan pekerjaan nya.)


Sela bingung, tidak seperti biasanya Diva pergi ke kantor hanya beberapa menit.


"Ada apa dengan kakak ipar? Apakah dia masih kurang enak badan? Tetapi kenapa dia sama sekali tidak mengabari ku bahkan tidak menitipkan pesan. " (Batin Sela sambil berjalan menuju ruang kerja nya.)


Di sisi lain Dimas begitu sibuk mengurus segala sesuatu untuk keberangkatan nya dan Diva besok pagi, sampai-sampai ia lupa untuk datang ke mansion Aziel untuk merawat tuan Baylor.


"Baik Terima kasih. " (Ucap Dimas mengambil surat yang di berikan lisa padanya.)


Dimas berjalan tergesa-gesa melewati lorong rumah sakit.


Brak... (Dimas menabrak seseorang hingga kertas yang ia pegang berserakan.)


"Astaga, maaf-maaf, aku tidak sengaja. " (Ucap wanita itu membantu Dimas mengumpulkan kertas yang berserakan.)


"Tania?" (Ucap Dimas menatap wanita yang membantu membereskan kertas nya yang berserakan.)


"Dimas? " (Ucap Tania menatap Dimas tidak percaya.)


"Kau, mengapa kau di sini? " (Ucap Dimas.)


"Ah, itu ibu ku di rawat di rumah sakit ini. " (Ucap Tania.)


"Ouh iya, aku lupa Diva mengatakan hal itu kepada ku beberapa hari lalu, maaf aku terlalu sibuk sehingga belum bisa menemui mu. " (Ucap Dimas tersenyum.)


"Ah, tidak masalh, ngomong-ngomong mengapa kau terburu-buru sekali? " (Tanya Tania bingung.)


"Ah, tidak hanya ada sedikit pekerjaan mendadak. " (Bohong Dimas.)

__ADS_1


"Surat rujukan? " (Ucap Tania melihat surat Dimas yang terjatuh lalu di pungut nya.)


Dengan cepat Dimas merampas surat itu dari tangan Tania.


"Ah, ini milik pasien ku. " (Ucap Dimas gugup.)


Tania sama sekali belum sempat membaca nama dari pasien tersebut karena Dimas lebih dulu merampas nya.


"Benar kah?" (Ucap Tania sedikit curiga dengan gelagat Dimas.)


"Iya, kalau begitu aku permisi dulu. " (Ucap Dimas kembali melangkah kan kaki nya meningal kan Tania.)


"Ba... baik lah. " (Ucap Tania bingung dan kembali menerus langkah nya.)


Sementara itu Dimas melajukan mobil nya menuju rumah nya.


Tidak butuh waktu lama Dimas pun tiba di rumah nya.


"Dimas." (Pangil papa Dimas tuan Anggara.)


"Pah, aku akan brangkat besok. " (Ucap Dimas menghampiri papa nya yang duduk di ruang tamu.)


"Dimas duduk lah ada sesuatu yang ingin papa bicarakan pada mu. " (Ucap tuan Anggara.)


"Ada apa pa? " (Ucap Dimas mendekati papa nya dan duduk di samping papa nya.)


"Huh, Dimas kemarin oma mu mendengar semua percakapan kita. " (Ucap Anggara.)


"Lalu? " (Tanya Dimas singkat.)


"Oma mu mempertanyakan tentang Diva. " (Ucap tuan Anggara menatap Dimas.)


"Mengapa oma mempertanyakan soal Diva? " (Tanya Dimas bingung.)


"Dimas dengar kan papa, jika Diva hamil berarti dia mempunyai suami, kenapa harus kau yang mengurus nya apa kata suaminya nanti, nak aku tidak ingin kau menghancurkan rumah tangga orang lain dan aku juga tidak ingin pada akhir nya kau terlalu berharap dan sakit hati. " (Ucap papa Dimas khawatir.)


"Pah, tenang saja, aku memang mencintai nya, tetapi aku juga membantu nya dengan tulus pah, aku tidak mengharapkan apapun. " (Ucap Dimas menatap papa nya.)


"Baik kah nak jika kau benar-benar ingin membantu nya dengan tulus, papa hanya ingin bilang berhati-hati lah." (Ucap tuan Anggara memeluk Dimas putra semata wayang nya.)


"Tentu saja, aku akan mengingat kata-kata papa, Terima kasih. " (Ucap Dimas membalas pelukan sang papa.)


"Baik lah, kalau begitu pergi lah ke kamar mu dan beres kan baju-baju dan lain-lain keperluan yang kau butuhkan selama di Sana. " (Ucap tuan Anggara memegang bahu Dimas.)


"Baik pa, kalau begitu aku ke kamar dulu. " (Ucap Dimas berlalu menuju kamar nya.)


Dimas memang benar-benar lelaki yang bertanggung jawab.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2