Istri Kontrak Tuan Muda

Istri Kontrak Tuan Muda
Episode #64


__ADS_3

"Mengapa? Apa yang terjadi dan di mana Diva sekarang? " (Ucap Brian bingung.)


"Maaf Pak, saya di sini hanya penjaga gerbang jadi saya tidak tau banyak soal ini tetapi yang saya dengar adlaah tuan muda Aziel dan nona Diva ingin berpisah karena tuan muda Aziel telah menemukan cinta pertama nya. " (Jelas penjaga gerbang tersebut yang berhasil membuat Brian kebingungan karena tidak mengerti.)


"Ah baik kah kalau begitu aku permisi. " (Ucap Brian tidak mau bertele-tele lagi.)


Brian bingung dengan perkataan sang penjaga gerbang.


"Huh, sebaiknya aku kerumah Diva, saat sekarang dia pasti akan ada di rumah nya, iya tentu saja karena dia tidak akan pergi jauh. " (Racau Brian seperti orang gila.)


Sementara itu, Diva masih terus mengamuk sehingga rumah nya berantakan dan penuh dengan pecahan blik.


Pikiran Diva kacau, dipenuhi berbagai masalah yang kini terlintas di benak nya, perlahan tangan nya meraih pecahan belink yeng terus serak di lantai.


"Aku sudah bosan dengan semua ini! " (Ucap Diva meraih belink.)


Sementara itu Brian baru saja tiba di rumah Diva.


"Semoga hari ini aku bisa bertamu dengan Diva. " (Ucap Brian turun dari mobil nya.)


Brian pun berjalan menuju pintu rumah Diva, ia merasa heran karena pintu itu sama sekali tidak di tutup.


"Diva! Apa kau ada di dalam? " (Ucap Brian melangkah masuk.)


Tidak ada jawaban apapun dari Diva itu semakin membuat Brian curiga, pikiran nya meduga jika ada maling di dalam rumah itu.


Brian masuk semakin jauh menuju ruang tengah.


"Diva apa yang kalian lakukan! " (Ucap Brian saat melihat Diva yang hendak mengiris urat nadi nya nya mengunakan pecahan kaca.)


"Brian! " (Ucap Diva mengangkat kepala nya.)


"Diva jauh kan benda itu dari tanggan mu! " (Ucap Brian mencoba mendekati Diva.)


"Tidak! Jangan mendekat atau aku akan benar-benar melakukan nya. " (Ucap Diva dengan mata merah dan rambut acak-acakan.)


"Baik, baik lah dengar kan aku mati itu bukan jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah yang ada hanya akan menambah masalah. " (Ucap Brian perlahan mendekati Diva.)


Dengan sigap Brian memegang tangan Diva yang memegang serpihan kaca tersebut dan hasilnya tangan nya lah yang terluka.


"Lepaskan aku! " (Teriak Diva saat Brian memeluk nya.)


"Diva sadar lah dengan apa yang kau lakukan, Apa kau ingin mati dengan cara konyol seperti ini?" (Ucap Brian memeluk erat Diva.)


Tiba-tiba Diva merasa perut nya begitu sakit.


"Ahhh, perut ku! " (Ucap Diva memegang perut nya.)


"Diva, apa yang terjadi? " (Ucap Brian bingung.)


"Tolong! Cepat bawa aku kerumah sakit! Ba... bayi ku! " (Ucap Diva jatuh pingsan.)

__ADS_1


Brian kaget dengan perkataan Diva.


"Ba... bayi? " (Ucap Brian menatap Diva yang pingsan di pangkuan nya.)


Brian mengenepikan pikiran nya dan langsung menggendong Diva masuk ke dalam mobil nya.


Brian mengendarai mobil nya dengan kecepatan tinggi dan tidak butuh waktu lama ia pun tiba di rumah sakit.


"Diva bertahan lah, kau akan baik-baik saja. " (Ucap Brian sambil mengandung Diva.)


"Suster tolong! " (Triak Brian.)


Dua orang suster itu pun bergegas membawa brangkar dan menaruh Diva di atas nya.


" Suster di mana dokter nya?! " (Ucap Brian khawatir.)


"Sabar pak. " (Ucap suster itu menahan Brian yang hendak masuk kedalam ruangan Diva.)


Tidak lama kemudian Dimas pun tiba.


"Dokter Diva dalam bahaya cepat! " (Ucap Brian sambil memegang kerahasiaan baju Dimas.)


"Diva? " (Ucap Dimas kaget.)


Mendengar nama Diva seketika Dimas langsung masuk kedalam ruangan tersebut.


Dua hari ini Dimas terlalu sibuk dengan pekerjaan nya sehingga ia tidak sempat untuk menemui Diva bahkan menayangkan kabar nya.


Dengan segera Dimas menangani Diva dan memberikan Diva alat bantu pernapasan.


Dimas mengambil hasil lab Diva dan membaca nya.


"Tidak! Ini tidak mungkin! " (Ucap Dimas menitikan air mata nya.)


"Dokter, ada tumor di rahim perempuan itu tetapi dia sedang hamil, hanya ada satu jalan untuk menyelamatkan dia kita harus menggunakan kandungan itu. " (Ucap suster itu kepada Dimas.)


"Seperti nya Diva sudah sejak lama mengidap penyakit berbahaya ini, tetapi mengapa dia merahasiakan nya? " (Batin Dimas.)


"Dok, apa yang dokter pikir kan? " (Tanya suster bingung.)


"Ah, maaf kan saya, tetapi kita tidak bisa bertindak jika dia belum sadar Sus. " (Ucap Dimas menatap Diva yang terbaring lemah.)


Sementara itu Brian masih menunggu di luar.


Dring... dring... dring... (Suara telfon di ponsel Brian.)


Tertara nama mama di layar ponsel Brian.


Call onn


"Hallo, Brian bisa kah kau pulang sekarang ada seseorang yang ingin bertemu dengan mu, dia adalah rekan bisnis almarhum papa mu." (Ucap mama Gita di sebrang telpon.)

__ADS_1


"Tapi ma.. " (Ucap Brian terputus karena mama nya mematikan telfon.)


Call off.


"Huh, jika aku tidak pulang mama akan kecewa. Ah sudah lah ini aku pulang dan akan kembali lagi ke sini. " (Ucap Brian berjalan pergi dari rumah sakit.)


Sementara itu.


"Sus tolong temui orang yang membawa Diva ke sini tadi. " (Ucap Dimas.)


"Baik dokter. " (Ucap suster itu berjalan keluar.)


Akan tetapi di luar suster itu tidak menemukan siapa pun.


"Maaf dok, di luar kosong tidak ada orang. " (Ucap suster kembali ke dalam.).


"Benar kah? Lalu kemana lelaki tadi? " (Ucap Dimas bingung.)


"Saya juga tidak tau dok. " (Ucap suster bingung.)


Tiba-tiba Diva membuka mata nya.


"Ibu... ibu... " (Racu Diva.)


"Diva, kau sudah sadar? " (Ucap Dimas menghampiri Diva.)


"Dok saya tinggal dulu. " (Ucap suster paham.)


"Baik." (Ucap Dimas singkat.)


"Dimas? Di mana aku?" (Ucap Diva melihat sekeliling nya.)


"Kau berada di rumah sakit. " (Ucap Dimas memegang tangan Diva.)


"Anaku? Anaku baik-baik saja? " (Ucap Diva memenang perut nya.)


"Tenang saja, dia baik-baik saja kau jangan khawatir. " (Ucap Dimas memegang perut Diva.)


Sebenarnya hati Dimas terasa begitu sakit saat ia tau Diva hamil anak Aziel tetap akan lebih sakit saat mengetahui penyakit yang di derita Diva saat ini, entah bagaimana Dimas harus menjelaskan nya.


"Diva, aku ingin bicara sesuatu pada mu. " (Ucap Dimas mengengam erat tangan Diva.)


"Katakan saja. " (Ucap Diva yang masih lemah.)


"Kita harus mengugurkan kandungan mu. " (Ucap Dimas menatap sedih Diva.)


"Apa? Apa kau gila?! " (Bentak Diva.)


"Diva, ada tumor di rahim mu! Jika kau tidak mengugurkan kandungan mu makan nyawa mu akan hilang, sangat kecil kemungkinan untuk kau bisa melahirkan nya! " (Jawab Dimas menatap Diva.)


Deg...(Bagai di sambar petir jantung Diva seakan ingin berhenti berdetak mendengar penuturan Dimas.)

__ADS_1


Sungguh saat ini penderitaan nya begitu lengkap, akan kah Diva bisa menghadapi semua ini? Dan akan kah Dimas punya solusi lain? Pergi untuk berobat di luar negri misalnya?


Bersambung ....


__ADS_2