
"Huh, aku bahkan belum bicara apapun. " (Ucap Dimas kesal.)
"Lalu apa? Apa yang ingin kau katakan selain itu? " (Ucap Diva begitu takut.)
"Dengar kan aku, jika kau benar-benar tidak ingin mengugurkan kandungan mu, maka hanya ada satu jalan. " (Ucap Dimas.)
"Apa? Ayo cepat katakan, aku akan melakukan apapun demi anaku. " (Ucap Diva memegang tangan Dimas.)
"Ikut lah dengan ku ke kota (P). " (Ucap Dimas memegang tangan Diva.)
"Apa? Mengapa harus kesana? " (Ucap Diva bingung.)
"Kita akan mencoba pengobatan di sana apa kau mau? " (Tanya Dimas menatap Diva lekat.)
Diva terdiam dan berfikir keras.
"Diva kau boleh memikirkan ini terlebih dahulu, aku permisi. " (Ucap Dimas berdiri dari duduk nya ingin keluar dari ruangan Diva.)
"Tunggu! " (Ucap Diva memegang tangan Dimas.)
"Hm? " (Ucap Dimas menaikan satu alis nya.)
"Baik lah, sudah aku katakan demi anaku apapun akan aku lakukan. " (Ucap Diva menangis.)
"Benar kah? Aku berjanji bahwa kau akan sembuh dan anak mu akan baik-baik saja. " (Ucap Dimas memeluk Diva.)
"Kalau begitu kapan kita akan pergi? " (Tanya Diva mendongak kan kepala nya menatap Dimas.)
"Secepatnya, aku akan mengurus semuanya dan memberi tahu Aziel. " (Ucap Dimas memegang pipi Diva.)
"Aziel? Tidak Dimas jangan! Aku tidak ingin siapa pun tau tentang keadaan ku sekarang. " (Ucap Diva menatap Dimas.)
"Diva, bagaimana mungkin kau merahasiakan ini kepada Aziel, dia adalah ayah dari bayi yang ada di perut mu. " (Ucap Dimas berusaha meyakinkan Diva.)
"Cukup! Dimas jangan sebut anak ini anak Aziel, Dimas ini anak ku hanya anak ku aku tidak akan membiarkan Aziel dan keluarga tau jika aku hamil. " (Ucap Diva menangis sambil mencengkram kuat lengan Dimas.)
"Huh, baik lah, jika itu yang kau ingin kan aku akan merahasiakan ini, aku akan segera mempersiapkan semuanya. " (Ucap Dimas keluar dari ruangan Diva.)
"Sudah saat nya aku melupakan semuanya tentang Aziel, dan membawa anaku pergi dari sini. " (Batin Diva.)
Dua hari kemudian.
Hari ini Dimas mengantarkan Diva pulang kerumah nya, untuk meneruskan pakaian dan lain-lain.
"Terima kasih. " (Ucap Diva tersenyum turun dari mobil Dimas.)
__ADS_1
"Ingat lah, setelah bersiap-siap, kau harus istirahat besok pagi kita sudah akan brangkat ke kota (p) kau memiliki waktu hari ini untuk menyelesaikan segala nya. " (Ucap Dimas dari dalam mobil nya.)
"Baik lah, aku mengerti. " (Ucap Diva masuk ke dalam rumah nya.)
Dimas hanya tersenyum dan kembali melajukan mobil nya.
Baru saja Diva ingin masuk kedalam rumah tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti di depan rumah nya.
Ternyata itu adalah mobil milik Aziel.
"Diva! " (Pangil Aziel saat Diva ingin masuk kerumah nya.)
"Ada apa kau kemari? " (Tanya Diva melirik Luna yang selalu berada di samping Aziel seperti lintah saja.)
"Tenang saja, aku kemari hanya meminta kau untuk menandatangani ini. " (Ucap Aziel memberi secarik kertas dari pengadilan agama.)
Diva mengambil kertas yang di berikan Aziel dan membaca nya.
Sungguh hati Diva terasa begitu sakit Aziel begitu cepat membuat semua itu.
"Tidak aku tidak boleh menangis. " (Batin Diva.)
Dengan kondisi nya yang masih belum stabil tangan Diva perlahan gemeteran memegang bulpoint dan menandatangani surat tersebut.
"Sudah, sekarang kumohon pergi dari rumah ku. " (Ucap Diva datar.)
"Aziel ayo kita pergi, Diva sudah menandatangani nya. " (Ucap Luna memegang tangan Aziel.)
"Huh." (Leguh Diva masuk kedalam rumah sambil memgangi perut nya.)
"Ziel! Ada apa dengan mu? Mengapa kau terus diam? " (Ucap Luna mulai kesal.)
"Aku... menurut mu kenapa Diva terus memegangi perut nya? " (Ucap Aziel bingung.)
"Sudah lah, mungkin dia sakit perut sekarang ayo masuk mobil. " (Ucap Luna menarik tangan Aziel menuju mobil.)
Sementara itu tangis Diva pecah, hati nya begitu hancur membayangkan jika anak nya lahir tampa seorang ayah, itu membuat nya semakin membenci Aziel.
"Hiksss, sayang maaf kan momy, momy janji akan menjadi momy sekaligus dady untuk mu. " (Ucap Diva masuk ke kamar nya.)
Diva mulai mengemasi barang-barang nya, memasukkan satu persatu baju nya kedalam koper.
Tiba-tiba ia teringat akan perusahaan nya, jika ia pergi bagaimana dengan perusahaan nya.
"Apakah aku harus menyerah kan perusahaan kepada Sela?" (Ucap Diva duduk di kasur nya.)
__ADS_1
"Tapi jika aku menemuinya dan bilang tentang semuanya ini, dia pasti akan memberi tahu Aziel." (Ucap Diva merasa bingung.)
Setelah berfikir cukup lama, Diva pun memutuskan untuk menulis surat untuk Sela dan Tania sahabat nya.
Supaya ketika ia pergi mereka tidak bingung mencari keberadaan diri nya.
"Selesai, dan sekarang aku hanya tinggal mengantarkan surat ini ke kantor. " (Ucap Diva memasukkan dua pucuk surat kedalam tas nya.)
Diva pun berjalan keluar dari rumah nya sambil menunggu taxi.
"Mau kemana nona? " (Tanya sopir taxi itu membukakan pintu untuk Diva.)
"Perusahaan grup Afkar ya pak. " (Ucap Diva masuk kedalam taxi.)
"Baik nona. " (Ucap sopir itu melajukan taxi nya sesuai arah tujuan Diva.)
Tidak butuh waktu lama, Diva pun tiba di perusahaan nya.
Ia pun berjalan cepat masuk ke kantor supaya tidak berpapasan dengan Sela karena jam segini Sela pasti blm datang ke kantor.
"Nona muda, syukur lah nona sudah sembuh. " (Ucap Dewi menghampiri Diva.)
"Dewi, bisakah kau membntu ku? " (Tanya Diva .)
"Tentu saja nona, apa yang tidak buat nona muda. " (Ucap Dewi sedikit lebay. Tetapi begitu lah sikap nya.)
"Tolong berikan dua amplop ini kepada Sela, katakan padanya amplop yang berwarna biru itu berikan kepada Tania dan yang kuning untuk nya. " (Ucap Diva memberikan dua amplop kepada Dewi dengan warna berbeda.)
"Tapi nona, sebentar lagi nona Sela pasti akan datang kenapa nona tidak memberikan nya sendiri? " (Tanya Dewi bingung.)
"Tidak! Bukan sekarang Dewi berikan itu besok. " (Ucap Diva memegang lengan Dewi.)
"Ba... baik lah nona muda. " (Ucap Dewi mengaruk kepala nya yang tidak gatal.)
"Baik lah Terima kasih atas bantuan mu, aku permisi dulu. " (Ucap Diva bergegas pergi meninggalkan Dewi yang masih terlihat bingung.)
"Nona! Nona...! " (Teriak Dewi.)
Diva tidak menghiraukan teriakan Dewi ia terus berjalan pergi meninggalkan kantor nya.
"Jalan pak! " (Ucap Diva masuk kembali kedalam taxi.)
"Kita kemana lagi nona? " (Tanya sopir taxi sopan.)
"Pulang pak, ikuti saja arahan ku. " (Ucap Diva menahan air mata nya.)
__ADS_1
Diva tau jika memberikan surat itu hari ini makan Sela akan menemui nya jadi dia meminta agar Dewi memberikan nya besok, agar Sela tidak bisa menemui nya.
Bersambung ....