
"Terlalu banyak drama. " (Ucap Aziel melihat Marisa dan Diva.)
"Kau benar-benar lelaki yang tidak punya hati Aziel. " (Ucap Marisa menatap tajam Aziel.)
"Bibi, sudah lah. " (Ucap Diva mencoba menenangkan Marisa.)
Tiba-tiba penjaga gerbang mansion masuk dan memberi tahu Diva jika ada seseorang yang sudah menunggu nya di luar.
"Permisi nona muda di luar ada orang yang menunggu nona muda. " (Ucap penjaga pintu gerbang tersebut.)
"Baik, terima kasih. " (Senyum Diva kepada sang penjaga gerbang.)
"Sama-sama nona muda, kalau begitu saya permisi. " (Ucap penjaga gerbang itu kembali ke luar.)
Diva hanya menganguk pelan.
"Bibi, Sela, seperti nya aku harus pergi sekarang. " (Ucap Diva memegang erat koper nya.)
Sementara itu bi Sumi menatap sedih Diva dari pintu dapur mansion.
"Benar yang aku duga, tuan Aziel telah membawa kembali nona Luna dan sekarang membuang nona muda Diva. " (Batin bi Sumi kepala pelayan mansion.)
Diva berjalan mendekati Aziel dan perlahan melepaskan cincin pernikahan yang melingkar di jari manis nya.
"Aku kembalikan ini pada mu. " (Ucap Diva meletakkan cincin di tangan Aziel.)
Sementara itu Aziel hanya diam di hati nya ada rasa yang begitu tidak ingin Diva pergi dari jya namun ia menepis semua perasaan itu, ia merasa jika Luna lebih berharga daripada Diva.
Setelah berpamitan dengan Sela dan Marisa Diva pun berjalan keluar sambil menarik koper nya, Sela dan Marisa hanya diam mematug menahan kesedihan, sementara Aziel kembali ke kamar nya menemui Luna.
"Kau ingin aku antar ke mana? " (Tanya Dimas memasukkan koper Diva ke bagasi mobil nya.)
Ya seseorang yang menunggu Diva di luar gerbang adalah Dimas, Diva meminta Dimas untuk menjemput nya karena itu Dimas mengambil libur hari itu untuk mengantar Diva.
"Pulang ke rumah ku. " (Ucap Diva masuk ke dalam mobil Dimas.)
"Baik lah, tetapi aku lupa letak rumah mu karena sudah begitu lama aku tidak ke sana. " (Ucap Dimas mengarungi kepala nya yang tidak gatal.)
"Haha kau ini ada-ada saja, begini, kau ikuti saja arahan ku. " (Ucap Diva tersenyum ke arah Dimas.)
"Baik lah tuan putri. " (Ucap Dimas mulai melajukan mobil nya.)
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama Diva dan Dimas pun tiba di rumah Diva.
"Diva, rumah mu masih sama seperti dulu ya tidak ada yang berubah basih rapi, banyak tumbuhan hijau pokoknya alam banget. " (Ucap Dimas turun dari mobil.)
"Tentu saja karena aku mebayar seseorang untuk merawat rumah ini saat aku sudah mengusir mereka. " (Ucap Diva menarik koper nya.)
"Mereka? Maksud mu? ibu tiri, adik tiri dan ayah mu?" (Ucap Dimas menaikan satu alis nya.)
"Iya, sudah lah jangan bahas mereka, ayo masuk! " (Ucap Diva mengeluarkan kunci dari dalam tas nya.)
"Ah, baik lah. " (Ucap Dimas.)
Baru saja Dimas ingin masuk ke dalam rumah Diva tetap ia mendapat telfon dari rumah sakit.
Call off
"Hallo dokter Dimas. " (Ucap seseorang dari sebrang telpon.)
"Iya hallo, ada apa? " (Tanya Dimas.)
"Maaf dokter Dimas ini darurat dokter yang bertugas hari ini tidak bisa hadir karena ada tugas mendadak, sedangkan rumah sakit kita sekarang menerima satu pasien korban kecelakaan yang harus segera di oprasi. " (Ucap seseorang di sebrang telpon yang tentunya adalah rekan Dimas.)
"Astaga, baik lah 20 menit lagi aku akan tiba di sana, tolong laku kan apapun yang bisa membuat nya bertahan. " (Ucap Dimas mengusap kasar wajah nya.)
"Dimas, Ada apa? " (Tanya Diva menghampiri Dimas yang terlihat begitu panik.)
"Diva aku harus kerumah sakit sekarang, mereka membutuhkan ku." (Ucap Dimas panik.)
"Dimas, dengan kan aku, tenang kan dirimu jangan panik seperti ini kau akan mengendarai mobil jika kau mengendara dalam keadaan panik makan itu akan bahaya bagi mu. " (Ucap Diva memegang kedua pundak Dimas sambil mencoba memenangkan Dimas.)
"Huh, maaf kan aku aku mengerti Diva Terima kasih kalau begitu kau masuk lah aku akan mengunjungi mu lain kali. " (Ucap Dimas memegang tangan Diva.)
"Baik lah, Hati-hati. " (Ucap Diva berdiri di depan pintu.)
Dimas pun kembali melajukan mobil nya menuju rumah sakit.
di sisi lain
"Rumah ini sunyi sekali tampa kakak ipar. " (Ucap Sela sambil duduk di tepi ranjang nya.)
Sela mengambil ponsel nya.
__ADS_1
Call onn
"Hallo David, kenapa kau tidak datang bukan kah kau bilang akan ke mansion pagi ini? " (Tanya sela saat David mengangkat telfon nya.)
"Maaf sayang, tugas kantor semakin menumpuk apalagi tuan muda masih saja belum ke kantor. " (Ucap David di sebrang telfon.)
"Huh, baik lah, kalau kau sibuk kau boleh menutup telfon nya. " (Ucap sela terlihat lemas.)
"Baik kah, kalau begitu aku tutup telfon dulu saat aku sudah menyelesaikan semuanya aku akan menelfon mu kembali. " (Ucap David mematikan telfon secara sepihak.)
"Huh, ini semua gara-gara perempuan jahat itu, aku harus memberinya pelajaran. " (Ucap Sela kesal.)
Begitu lah Sela yang semakin lama semakin membenci Luna bahkan ia jarang pulang kerumah nya karena malas melihat Aziel dan Luna yang kian bermesraan di rumah hati Sela semakin sakit melihat nya.
Sementara Marisa ia hanya fokus merawat tuan Baylor ia mengenepikan semua masalah yang sedang ia hadapi saat ini demi kesehatan tuan Baylor.
Dua hari kemudian.
Kini semuanya telah berjalan seperti biasa, Diva juga hari ini sudah mulai ingin kembali beraktifitas di kantor nya.
"Selamat pagi nona muda. " (Ucap semua karyawan Diva yang berada di kantor.)
"Pagi semuanya. " (Jawab Diva dengan senyum manis nya.)
Diva berjalan ke ruangan nya, tetapi sebelum itu ia melirik ruangan Sela tetapi Sela masih belum tiba, Hati Diva kembali sakit saat mengingat di mana dia selalu brangkat bersama Sela ke kantor setiap pagi nya. Tetapi sekarang bertemu Sela saja sudah sangat sulit.
Sementara itu Tania masih merawat Ibu nya di rumah sakit.
"Aduh, kenapa akhir-akhir ini aku sering mual? " (Ucap Diva menghentikan pekerjaan nya.)
"Huek...hueeek..." (Diva menutup mulut nya sambil berlari ke kamar mandi yang berada di ruang kerja nya.)
Sementara itu karyawan Diva memasuki ruangan Diva untuk mengantar berkas yang harus cinta da tangani oleh Diva, karena nia tidak melihat Diva di sana ia pun merasa khawatir.
"Di mana non Diva? Apakah ia di kamar mandi? " (Ucap karyawan tersebut bejalan ke arah kamar mandi.)
Tidak ada suara Diva yang terdengar dari kamar mandi melainkan suara air yang keluar dari wastafel.
"Nona, apakah nona berada di dalam? " (Ucap karyawan itu sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi.)
Diva pun membuka pintu kamar mandi karena mendengar suara seseorang yang memangil nya.
__ADS_1
Bersambung ....