
"Nona muda, kenapa diam saja? " (Tanya David yang masih berdiri menunggu jawaban Diva.)
"Ah, Aziel? Mungkin dia berada di ruang rawat papa. " (Jelas Diva tersenyum paksa kepada David.)
"Yasudah, kalau begitu aku permisi dulu nona munda. " (Ucap David berlalu.)
"Siapa dia? " (Tanya Dimas menatap Diva.)
"Asisten pribadi Aziel. " (Ucap Diva tersenyum kecut.)
"Ouhh." (Ucap Dimas singkat.)
"Sudah lah, sekarang kita mau kemana? " (Tanya Diva.)
"Emm, bagaimana jika kita ke suatu tempat. " (Ucap Dimas tersenyum.)
"Suatu tempat? Di mana? " (Tanya Diva penasaran.)
"Rahasia." (Ucap Dimas menggendong Diva dan membawa Diva masuk ke mobil nya.)
"Apa yang kau lakukan? Aku masih bisa berjalan sendiri! " (Teriak Diva memberontak.)
"Sudah jangan brisik, jika kau bejalan itu akan lama tiba di mobil lihat lah cuaca sangat panas aku tidak ingin kau terkena sinar matahari. " (Jelas Dimas mendudukkan Diva ke kursi mobil nya.)
"Huh, kau ini masih saja sama seperti dulu tidak ada yang berubah. " (Ucap Diva tersenyum.)
Sejak dulu Dimas memang tidak pernah berubah sikap perhatian dan nada bicara nya yang lembut akan membuat siapa saja nyaman berada di dekat nya.
"Benar kah? Padahal aku berharap kau akan mengatakan aku ini semakin tampan. " (Ucap Dimas duduk di kursi mobil sebelah Diva dan mulai menyalakan mesin mobil nya.)
"Ya ku pikir itu memang benar. " (Ucap Diva tertawa renyah.)
Dimas menatap wajah Diva yang sedang tertawa.
"Diva, kau cantik sekali, meskipun aku tau saat ini kau mengalami masalah yang sangat besar, dan itu terlihat dari mata mu, tetapi aku salut kau begitu pintar tertawa dan menyimpan semua luka. " (Batin Dimas sambil menatap wajah Diva lekat.)
"Hey, kenapa kau menatap ku seperti itu? Ayo jalan! " (Ucap Diva memukul lengan Dimas.)
__ADS_1
Dimas tersadar dari lamunan nya yang memikirkan tentang Diva saat Diva memukul pelan lengan nya.
"Aishh, dasar tidak sabaran. " (Ucap Dimas melajukan mobil nya keluar dari area rumah sakit.)
Di sisi lain
"Sela, kau mau kemana? " (Tanya David saat ia berpapasan dengan Sela.).
"Eoh, apa kau melihat kakak ipar? " (Tanya Sela bingung.)
"Nona muda? " (Ucap David.)
"Iya, siapa lagi? " (Ucap Sela kesal.)
"Aku melihat nya dengan seorang lelaki di pintu keluar rumah sakit, seperti nya dia ingin pergi bersama lelaki itu, dan kaki nya terlihat terluka. " (Ucap David menjelaskan apa yang ia lihat beberapa menit lalu.)
"Astaga, apa yang terjadi dengan nya? " (Ucap Sela memegang kepala nya yang terasa pusing.)
" Sudah lah, kau harus tenang, aku lihat mata nona muda sembab ku rasa ada sesuatu yang dia alami, mungkin saja saat ini dia ingin menenangkan dirinya. " (Ucap David mencoba menenangkan Sela.)
"Bagaimana aku bisa tenang, aku tidak bisa tenang jika ada sesuatu yang terjadi padanya. " (Ucap Sela menahan tangis.)
"Aku akan makan jika kau berjanji untuk menemani ku mencari kakak ipar. " (Ucap Sela memegang tangan David.)
"Baik lah, aku berjanji, sekarang ayo kita temui bibi di ruang rawat tuan Baylor." (Ucap David mengelus rambut Sela.)
"Baik lah. " (Ucap Sela tersenyum.)
Mereka pun berjalan menuju ruang rawat tuan Baylor.
Sementara itu di ruang rawat tuan Baylor Marisa dan Aziel masih saja berdebat.
"Bukan begitu maksud ku bibi. " (Ucap Aziel menurunkan nada bicara nya.)
"Lalu apa? Kau membentak bibi mu sendiri hanya karena aku tidak merestui hubungan kalian! Aziel apa kau tidak melihat kondisi papa mu? Jika kau bercerai dengan Diva apa yang akan kau katakan saat papa mu sadar? " (Ucap Marisa tidak bisa menahan tangis nya lagi.)
"Bibi benar, hiksss aku menyesal telah kembali, karena aku hanya membuat hancur keluarga buana. " (Ucap Luna mengeluarkan air mata buaya nya.)
__ADS_1
"shttt, jangan katakan itu lagi, kau diam saja aku akan mengurus semuanya. " (Ucap Aziel menatap Luna.)
Pas sekali saat itu Sela dan David tiba di ruangan tuan Baylor.
"Mama ada apa ini? " (Tanya Sela semakin bingung.)
"Tanyakan saja pada kakak mu. " (Ucap Marisa menatap Aziel.)
"Seperti nya ini masalah keluarga tidak baik aku terlalu ikut campur. " (Ucap David ingin keluar.)
"Tidak, tetap di sini bersama ku! " (Ucap Sela menahan tangan David.)
"Sela, David kebetulan kalian ada di sini, aku ingin meluruskan masalah ku dan Diva sekarang. " (Ucap Aziel menatap Sela dan David bergantian.)
"Apa maksud mu? " (Ucap Sela menatap tajam Aziel.)
"Sela, bibi, dengar kan aku, keputusan ku sudah bulat aku benar-benar akan berpisah dengan Diva dan menikahi Luna, dari awal aku menikah dengan Diva itu bukan atas dasar cinta melainkan karena paksaan dari papa, dan di mana salah ku jika sekarang aku sudah menemukan cinta ku yang sesungguhnya. " (Ucap Aziel panjang lebar.)
"Cinta yang sesungguhnya? Kak Ziel katakan pada ku apa kau benar-benar tahu tentang apa itu cinta yang sesungguhnya? " (Ucap Sela mendekati Aziel.)
"Tentu saja aku tau, karena di hati ku hanya ada Luna sejak dulu, bukan Diva. " (Ucap Aziel merasa enteng.)
"Begitu? Aku tidak habis fikir dengan kebodohan yang telah kau lakukan bsaat ini. " (Ucap Sela memegang kepala nya yang semakin pusing akibat masalah yang kian bertumpuk.)
"Sudah lah Sela, seharusnya kau tau Diva itu bukan wanita yang baik, dia mencoba menuduh Luna soal orang yang ingin membunuh papa, lalu dia juga menuduh Luna ingin mengacungkan keluarga kita. " (Ucap Aziel yang dibutakan oleh cinta bodoh nya kepada Luna.)
"Seperti nya kau lah yang tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. " (Ucap Sela menujuk wajah Aziel.)
"Sudah aku tidak ingin terus berdebat, akuntegas kan sekali lagi aku benar-benar ingin berpisah dengan Diva, aku yakin Luna akan lebih baik dari Diva dan dia juga akan bisa menjaga papa. " (Ucap Aziel kekeh.)
"Apa? Berpisah? Mengapa? " (Tanya Sela tidak Terima.)
"Bibi, Sela Diva sudah menyetujui ini, dan dia hanya minta papa di pindah kan ke rumah agar papa di rawat di rumah, hanya itu syarat dari nya dan aku menyetujui nya. " (Ucap Aziel mengakhiri ucapan nya dan menarik Luna keluar dari ruangan itu.)
"Mama? Apa yang sebenarnya terjadi hari ini kepada kakak ipar dan kak Ziel? " (Ucap Sela menangis.)
"Mama juga tidak mengerti, mama Minta carilah Diva dan tanyakan kepada nya. " (Ucap Marisa menyeka air matanya.)
__ADS_1
Tampa berkata apapun Sela langsung keluar dari sana sambil menyeka air mata nya menuju ruang parkir mobil nya, tanpa menghiraukan David yang mengejar nya.
Bersambung ....