
Pras menyergap tubuh Mitha ketika dirinya sedang bersiap siap merias wajahnya.
" Mas diem ih aku mau touch up dulu "
" Hmm bentar yang "
" Kamu dari semalem naik mulu perasaan mas. Jangan jangan pake obat kuat haha "
" Ya enggalah, gak pake aja gini apalagi pake. Kaya yang bakal tahan aja ngelayanin nya " Pras menciumi leher Mitha.
" Terus kenapa nempel nempel mulu ? Biasanya juga cuek "
" Emang mas cuek ya ? Berarti ini efek kangen, mas udah lama gak di belai belai "
Mitha tak hentinya terkekeh ketika mendengar ucapan Pras yang bukan hanya manja namun kekanakan menurutnya. Momen langka ini harus di abadikan pikir Mitha. Mitha mengambil ponsel di meja riasnya lalu memotret kemerasraan mereka berdua yang Mitha post di akun sosmednya.
" Nanti repost ya postingan story aku " Titah Mitha.
" Emang story apa ? "
" Ya ini foto kita berdua mas. " Mitha memperlihatkan layar ponselnya.
" Biar apa hmm ? "
" Biar yang panas makin panas " Mitha menjulurkan lidahnya.
" Acieee si cemburuan. Mau sekalian post foto ciuman kaya gini ? " Pras mencium bibir Mitha yang sontak membuat Mitha tertawa.
" Udah ah mas udah siang. Ayo siap siap kerja "
__ADS_1
Pras mengiyakan lalu segera bersiap bersamaan dengan Mitha. Setelahnya mereka sarapan bersama dengan anak anak juga sambil menunggu Mitha menyu*sui Mecca dan Pras menyuapi El. Sedang Maylinda hanya di kamarnya beristirahat.
" Mba titip Ibu ya kalo ada apa apa kabari kami " Pesan Mitha pada pengasuh anak anak.
" Iya Bu. "
Mereka menikmati perjalanan berdua, sengaja tidak membawa supir agar ada beberapa orsng yang stay di rumah.
Sesampainya mereka, Jo sudah menyambut karena memang Jo masih mendampingi pekerjaan Mitha dan juga menunggu Pras untuk mengikuti Meeting menggantikan Maylinda.
" Bunda sakit apa ? " Tanya Jo.
" Demam. Lagi istirahat sekarang. Gue aja yang mimpin rapat. "
" Ya emang Lo. Masa gue, nih materi yang mau di bawain di meeting " Jo menyerahkan ipad nya yang berisikan tentang materi meeting.
" Ok masih ada setengah jam buat gue cek dulu "
" Mit Lo ikut juga ya soalnya ada hubungan sama operasional rumah sakit cabang. " Jelas Jo.
" Tenang Lo cukup nyimak biar Lo tau "
" Iya tenang aja sayang ada mas .. " Pras mengacak rambut Mitha gemas.
" Mas aku udah catokan jadi berantakan "
" Iya ih Lo di rumah sakit juga sempet sempetnya dugun dugunan. Tuh pada liatin baper " Jo menunjuk mereka yang terlihat saling berbisik.
Dinda disana yang nampak tak terlalu senang namun memaksakan diri tersenyum, Presdir mereka yang terkenal tak pernah update atau post apapun di akun sosial medianya, tiba tiba saja merepost foto mesra dengan Mitha bahkan setelah 4 tahun mereka bersama dengan caption " My beautiful Wife ".
" Presdir lagi bucin gila sama Bu Mitha ya guys " Ucap Resa pada Dinda ketika Pras, Mitha dan Jo sudah pergi menuju ruang meeting.
__ADS_1
" Mau gak bucin gimana lihat aja Bu Mitha sekarang makin shining shimmering splendid gitu " Jawab Dinda.
" Iya sih, mana jadi direktur rumah sakit pula. The power of orang dalam yakan ? Haha " Tambah Resa dangan nada meremehkan.
" No comment ah gue, gak ada pengaruh buat gue "
" Ya ada dong, gue yakin doi ngedadak kerja disini saking takutnya Lo ganggu Presdir. Kayanya aja bilang maafin, mau lupain masa lalu tapi diem diem masih masih mendem dendam ke Lo Din "
" Ya terus ? Gue harus bales gitu ? "
" Ya bales lah. Masa nyali Lo cuman segitu aja. Kalo bisa rebut lagi aja tuh Presdir biar gak ngerasa kecantikan Bu Mitha. Ya .. minimal biar sadar diri aja dia tuh biasa aja, cuman hoki karena bisa di hamilin sama Presdir. " Resa dengan senyum devilnya.
Pernikahan Pras, hamilnya Mitha hingga lahirnya anak kedua mereka selalu di kaitkan dengan insiden yang terjadi. Mereka sudah menganggap Mitha wanita rendah yang memanfaatkan segala cara untuk mendapatkan Pras padahal sebaliknya, Pras lah yang mengejar ngejar Mitha. Lagi pula bagi Pras tidak penting latar belakang istrinya, yang Pras dambakan hanya keluarga yang utuh dan memiliki anak anak yang sehat yang tidak pernah Reina. berikan untuknya. Itu mengapa Pras merasa sangat mencintai dan berhutang jasa pada Mitha yang dengan tulus melahirkan kedua anaknya.
Brraaakk .. Daffa menggebrak meja.
" Apaan sih Dok ? Bikin kaget aja "
" Kalian abis ngegosip kan ? "
" So tau banget ikut campur aja. " Jawab Dinda ketus, jujur Dinda muak dengan Daffa yang terlalu ingin tau masalah mereka.
" Adu adu ini mulut anak residen sama dokter spesialis aja gini. Mentang mentang saya bukan konsulen kamu. "
" Yaudah dong dok jangan gangguin saya mulu. Saya cape dengerin ocehan dokter ! Lagian ya cewe yang dokter bela itu belum tentu lebih baik dari saya. Ayo dokter cari tau aja sendiri udah berapa kali Bu Mitha hamil di luar nikah sama Presdir ? DUA KALI ! Dan itu membuktikan kalo Bu Mitha bukan wanita baik baik, gak lebih cuman mau ngejerat Presdir. " Jawab Dinda tersulut emosi.
" Saya emang pernah berhubungan sama Presdir, tapi saya tidak pernah menyerahkan kehormatan dan harga diri saya pada beliau. Jadi sekarang siapa yang lebih buruk huh ? " Tanya Dinda.
" Hmm masih tetep kamu lah. Mereka ngelakuin juga saya yakin karena suka sama suka terus bagus dong sama Presdir di nikahin, karena berani berbuat merekapun bertanggung jawab. Kalo sama kamu Presdir tuh gak suka makannya gak pernah mau nyentuh kamu. Ya kan ? Realistis aja gue juga cowok .. "
" Dasar be-rengsek " Dinda menjatuhkan tumpukkan rekam medis yang di pegangnya ke meja. Lalu pergi begitu saja karena kesal dengan ucapan Daffa yang memang ada benarnya karena bukan tak ada dan tak memberikan kesempatan pada Pras saat mereka bersama dulu, namun Pras yang terlihat kurang nyaman dengan kedekatan dan sentuhan dari Dinda.
__ADS_1
" Udah dokter Daffa, salah apa sih Dinda sampe di bully abis abisan gitu. Padahal dia udah ngalah ninggalin Presdir. "
" Salahnya dia sama kamu tuh selalu ngerendahin orang lain, padahal gak ada manusia yang sempurna. Kalo pendidikan kalian lebih tinggi dan merasa lebih terhormat, maka Mitha juga punya kelebihan. Dia lebih tulus dan rendah hati di banding kalian. Lihat aja, dia istri seorang Presdir, tapi gak pernah lupa bilang maaf, terimakasih dan permisi saat berinteraksi dengan orang lain. Sedangkan kalian ? Mentang mentang dokter, saya pernah lihat kalian ngegrutu ke perawat bilang gini aja ko gak bisa sih. Padahal kalian disini tuh masih residen, masih tahap study apalagi nanti kalo udah jadi dokter spesialis utama " Daffa menggelengkan kepalanya masih saja ada manusia tidak tau diri akan kesalahannya.