
Merawat dua balita sekakigus meski dengan di banntu oleh suster membuat Mitha cukup kewalahan. Apalagi kini Mecca tengah rewel karena tidak enak badan sedang Pras ya seperti biasa Pras mungkin dokter bedah tersibuk di rumah sakitnya sendiri. Mecca pun tak pernah lepas dari gendongan Mitha sejak pagi tadi sampai saat ini padahal waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.
Mitha mengayun Mecca dengan sabar dalam gendongnnya, tiap kali Mecca terlelap dan Mitha turunkan ke ranjang pasti saja menangis hiteris. Alhasil Mitha harus tidur sambil duduk.
Mitha pun saat ini tidak terlalu fit karena terserang flu, rasanya Mitha ingin ikut menangis saja. Semakin malam demam Mecca semakin tinggi dan tak kunjung turun. Bahkan sampe 40 derajat. Mitha menghubungi Pras berulang kali namun tak kunjung terhubung. Akhirnya Mitha memberanikan diri untuk membawa putrinya ke IGD.
" Halo Mit .. Ada apa call malem malem " Tanya Vidya.
" Ada Jo Vid ? Sorry banget ganggu, tolong bangunin Jo Vid. Anak gue demam. Gue udah call Pras tapi gak ada jawaban " Suara Mitha bergetar menahan tangis.
" El ? Apa Mecca ? Ini Jo udah bangun. "
" Mecca Vid "
" Jo sama gue kesana Vid tunggu ya sambil Lo siap siap. Nanti biar El gue yang jagain "
" Makasih ya Vid "
Bingung rasanya terlebih Maylinda pun sedang ke Bali ada acara komunitas. Memang paling benar Vidya dan Jo yang bisa di andalkan. Sekalipun di rumah memiliki driver, body guard, security dan nanny namun Mitha tak bisa mempercayakan putranya pada orang asing tanpa pengawasan keluarga.
Sekitar 10 menit Jo dan Vidya sudah tiba, Mitha dan Jo segera menuju IGD sedang Vidya di tinggalkan di rumah untuk menjaga El.
" Emang Pras ada Op apa gimana sih Jo ? Sampe gak bisa jawab panggilan gue "
" Bedah terjadwal sih enggak, gak tau kalo bedah darurat. Gue belum cek ruang bedah di buka dokter siapa aja gue tadi langsung kesinu " Jelas Jo.
" Its okay Jo, fokus aja. Nanti juga kita tau sendiri kalo udah nyampe. "
Mereka sampai di depan IGD segera Mitha membawa Mecca ke IGD dan menjelaskan keadaannya. Karena menggunakan obat tak kunjung turun demamnya, dokter memutuskan untuk menginfus Mecca. Jo pergi untuk mencari tau keberadaan Pras.
__ADS_1
Karena Mecca tak berhenti menangis saat di tidurkan, Mitha akhirnya ikut berbaring di ranjang dan membiarkan Mecca tertidur di dadanya. Mitha menatap kosong, lelah luar biasa rasanya. Sejak siang dirinya tak sempat makan dan tidur. El yang ikut rewel karena melihat Mecca menangis terus pun membuat Mitha semakin tertekan, baru sekarang Mitha bisa sedikit mengambil nafas beristirahat. Namun bukannya beristirahat Mitha malah menangis. Entah kenapa tiba tiba rasanya ingin menangis saja, mungkin karena psikis nya pun ikut lelah.
" Pras lagi ada Op Mit. Gue udah kasih tau ko Mecca di rawat disini. Tenang ya " Ucap Jo menghampiri sambil menunduk sibuk dengan gadget nya.
" Ok " Jawab Mitha singkat.
Terdengar suara Mitha serak hingga membuat Jo mengangkat kepala lalu menatap wajah Mitha yang ternyata sudah sembap dengan mata berkaca menahan tangis di hadapan Jo.
" Lah kenapa Mit ? " Tanya Jo lalu memegang pundak Mitha.
" Lo ada yang sakit ? Atau Lo butuh sesuatu Mit ? " Tanya Jo khawatir.
Ditanya tanya seperti itu, seperti pemantik yang di siram bensin. Seketika Mitha malah menangis terisak. Menangis sejadi jadinya sambil memeluk Mecca erat.
Tangis Mitha cukup menarik perhatian mereka yang ada disana, meski tangisan bukan suatu hal yang aneh di IGD namun ini yang menangis adalah istri pemilik rumah sakit tentu saja menjadi pertanyaan apa yang hendaknya terjadi.
" Gue ngerti Mit .. Gak papa Lo boleh nangis sepuas Lo "
" Gue butuh suami Jo bukan mesin pencetak uang, bukan robot pekerja ! Gue cape banget buat ngurus diri sendiri aja gue gak bisa hiks " Curhat Mitha.
" Gue usahain ya nanti gue atur lagi semuanya biar Pras bisa lebih senggang. Maaf gue juga ambil andil dalam masalah ini, harusnya gue ngertiin keadaan Lo bukan ambil aja semua case yang minta di tanganin sama Pras " Sesal Jo.
" Tega banget sih kalian ke gue "
Mendengar kabar bahwa Mecca masuk IGD karena demam, Pras pun berlari secepat kilat menuju IGD. Ah pikiran Pras sudsh kacau, semua hal buruk yang terjadi dalam rumah tangganya selalu bermuka dsri tempat ini. Itu mengapa Pras paling ingin menghindari, sejarsng mungkin ke IGD.
" Yang .. " Panggil Pras begitu melihat Mitha yang tengah mendekap Mecca dalam pangkuannya.
__ADS_1
" Maaf yang maaf banget, mas ada op darurat. " Jelas Pras.
" Berpa jam kamu Op huh ? Aku dari siang hubungin kamu ! Aku ngabarin Mecca sakit, tapi kamu gak ada baca satu pun chat aku ! "
" Mas ada praktek sampe sore yang .. bener bener gak sempet baca chat terus langsung makan langsung Op "
" Udah udah ini IGD kasian yang lain, kasian Mecca juga. Tidurin dulu aja Mit siapa tau udah nyenyak " Saran Jo menengahi.
Mitha pun menurut dan menurunkan Mecca yang untungnya benar benar tidur lelap. Mitha meninggalkan ruangan menuju halaman IGD yang segera di susul Pras.
" Maaf yang .. " Ucap Pras.
" Maaf kata kamu mas ! Kenapa kamu selalu gak ada di saat aku butuh ! "
" Sayang .. Kamu tau sendiri dari dulu kerjaan mas gini. "
" Iya aku TAU !!! Aku udah coba ngertiin kamu ! Tapi kenapa kamu gak ngertiin aku. Aku cape ! Aku ngurus anak anak tanpa kamu. "
" Maaf yang, maaf aku gak selalu ada buat kalian " Mata Pras pun berkaca melihat istrinya menangis melupakan emosi yang di tahan selama beberapa bulan ini.
" Lihat aku mas ! Aku sampe gak bisa ngurus diri aku sendiri karena terlalu sibuk sama anaak anak. Mau kamu kasih baby sitter 10 pun aku bakal tetep gini. Karena bukan mereka yang aku butuh tapi KAMU ! "
Pras menarik tangan Mitha lalu mendekap nya erat membiarkan Mitha menangis di dadanya.
" El dan Mecca bukan cuma anak aku. Mereka juga anak kamu mas ! Kenapa cuman aku yang di tuntut buat selalu ngerawat mereka ? Kenapa kamu biarin aku ngerasa sekesepian ini " Mitha memukuli dada Pras.
Pras tak tau di balik senyum yang selalu Mitha berikan saat menngantar Pras berangkat kerja, ada getir disana. Mitha merindukan keluarganya, Mitha merindukan kehidupan berkeluarga yang sederhana namun sarat kehangatan. Mitha berekspektasi Pras akan seperti ayahnya yang selalu memiliki waktu bersama keluarga. Mitha mencoba memahami kesibukkan Pras dan pura pura baik baik saja, namun ini sudah mengenai anak. Rasa lelah yang membelenggu Mitha akhirnya membuat Mitha kehilangan kesabarannya.
__ADS_1