
"Semut kata mu? Apa kau belum pernah merasakan kekuatan semut? " (Ucap Aziel ingin berdiri namun kaki nya kembali sakit dan kembali terduduk di kasur.)
"Eoh, apa kau benar-benar kesakitan? " (Ucap Diva membungkuk dan melihat kaki Aziel.)
Saat itu lah Aziel merasakan bahwa Diva memang wanita yang benar-benar menyebalkan tetapi dia merasa nyaman saat perempuan itu memegang kaki nya.
"Apakah di sini? " (Tnya Diva memegang kaki Aziel.)
"Hm." (Ucap Aziel menatap Diva.)
Rambut panjang Diva yang tergerai dan terlihat menutupi wajah nya membuat Aziel tidak tahan untuk menginginkan rambut itu agar ia bisa menatap wajah manis istri nya.
"Kau cantik. " (Ucap Aziel pelan sambil menyingkirkan rambut Diva ke telinga.)
"Apa? " (Ucap Diva tidak mendengar.)
Namun saat itu lah Luna tiba di ruang rawat tuan Baylor, sementara Marisa dan Sela memutuskan untuk menemui dokter Dimas terlebih dahulu.
"Aziel, apa yang terjadi? " (Ucap Luna datang dan mendorong Diva.)
"Luna? " (Ucap Aziel.)
"Ah." (Lebih Diva saat Luna mendorong nya.)
Dorongan itu tidak terlalu keras hanya saja di samping sofa itu adalah tembok otomatis kepala Diva terhantuk ke tembok.
"Luna apa yang kau lakukan? " (Ucap Aziel memang kepala Diva yang terlihat memerah.)
"Ah, maaf-maafkan aku tidak sengaja, aku hanya panik. " (Ucap Luna berpura-pura.)
"Aku baik-baik saja! "(Luna berdiri dan berjalan ke arah pintu keluar.)
Kebetulan sekali Sela, Marisa dan Dimas baru saja ingin masuk ke ruang rawat tuan Baylor otomatis mereka berpaspasan.
"Bibi." (Ucap Diva sambil memegang kepala nya.)
"Diva, ada apa dengan kepala mu? " (Tanya Marisa memegang kepala Diva.)
"Tidak apa-apa bibi, tadi Luna panik dan mendorong ku. " (Ucap Diva.)
Sebenarnya kepala Diva tidak lah sangat sakit hanya saja Diva ingin memberi pelajaran kepada Luna.
"Kau! Beraninya kau melakukan itu kepada kakak ipar! " (Ucap Sela menghampiri Luna.)
Brak... (Dengan cepat Sela menjambak rambut Luna dan mendorong Luna ke tembok sehingga kepala Luna terbentur dua kali lipat lebih kuat dari Diva.)
"Rasakan itu! " (Ucap Sela kembali menghampiri mama nya.)
"Diva kepala mu terlihat memar, ayo ikut aku, aku akan mengobati nya." (Ucap Dimas menarik tangan Diva.)
"Diva! " (Ucap Aziel ingin mengejar Diva.)
"Aziel, ah kepala ku sakit! " (Ucap Luna memegang kepala nya yang berdarah.)
__ADS_1
"Astaga Luna kepala mu berdarah. Sela! Apa yang kau lakukan? " (Ucap Aziel membentak Sela.)
"Apa? Apa yang aku lakukan hah? " (Ucap Sela melawan.)
"Sudah cukup! Aziel bawa wanita ini kekuar dari sini aku sudah muak melihat nya. " (Ucap Marisa.)
Karena malas berdebat dengan sang bibi, Aziel oun memutuskan untuk membawa Luna keluar dan mengobati nya.
Di sisi lain.
"Huh, kenapa perasaan ku tidak enak? " Ucap Maya duduk di sofa.)
"Maya, ada apa dengan mu? " (Tanya Adnan bingung.)
"Entah lah, aku hanya kepikiran Tara. " (Ucap Maya menyalakan TV nya.)
"Berita hari ini, seorang pencari kayu bakar, menemukan wanita tergeletak di pingir hutan, dengan badan yang penuh luka memar, di duga wanita tersebut adalah korban dari pemerkosaan, beruntung nya wanita itu masih hidup dan segera di larikan kerumah sakit. "(TV.)
" Astaga, bukan kah itu koper milik Tara? "(Ucap Maya kaget melihat berita yang ada di TV.)
"Apa yang kau katakan Maya, koper bisa saja sama bukan? " (Ucap Adnan.)
Beberapa menit kemudian.
Tok... tok... tok. (Suara ketukan di luar pintu kontrakan Adnan.)
"Siapa itu? " (Tanya Maya.)
Maya pun berjalan kearah pintu dan membuka nya.
Alangkah kaget nya Maya Karena yang ada di depan pintu nya adalah seorang polisi.
"Permisi buk, apa ini rumah Ibu Maya? " (Tanya polisi itu.)
"Be...benar." (Ucap Maya ketakutan.)
"Kami datang kesini ingin menyampaikan bahwa anak anda yang bernama Tara menjadi korban pemerkosaan, sekarang ada di rumah sakit. " (Ucap polisi itu.)
"Apa? Anak saya masuk rumah sakit? " (Ucap Maya kaget.)
Awal nya Maya menduga jika polisi itu datang dengan maksud lain tetapi ternyata itu tentang Tara.
Mendengar Maya yang menangis histeris Adnan pun menghampiri nya.
"Apa ada apa ini? " (Tanya Adnan memegang pundak Maya.)
"Maaf Pak, saya dari pihak kepolisian menyampaikan bahwa anak bapak yang bernama Tara menjadi korban pemerkosaan dan sekarang di rawat di rumah sakit. " (Polisi itu kembali menjelaskan.)
"Hiksss, mas Tara mas, ayo! Ayo kita kerumah sakit! " (Jerit Maya sambil menangis.)
"Terima kasih atas informasinya pak, kami akan segera kerumah sakit. " (Jawab Adnan.)
"Baik kalau begitu saya permisi dulu. " (Ucap polisi tersebut meningal kan kontrakan Maya.)
__ADS_1
"Ayo kita kerumah sakit. " (Ucap Adnan menarik tangan Maya.)
Mereka pun pergi kerumah sakit mengunakan taxi karena mereka sudah tidak mempunyai kendaraan apapun.
Sementara itu di sisi lain.
"Apakah masih sakit? " (Ucap Dimas mengobati kepala Diva.)
"Aw, itu sangat perih! " (Ucap Diva memegang tangan Dimas.)
Kebetulan sekali saat itu Aziel lewat di depan ruangan Dimas karena dia juga baru saja mengobati kepala Luna di ruangan dokter di sebelah Dimas.
Aziel memberhentikan langkah nya melihat dari pintu kaca ruangan Dimas.
Hati Aziel memanas melihat Diva memegang tangan Dimas dengan wajah mereka yang berdekatan lebih tepat nya seperti orang yang sedang berciuman.
"Aziel, kenapa kau berhenti? " (Tanya Luna.)
Tetapi Aziel tidak menjawab apapun, ia kini seperti dibuat tersiksa oleh perasaan nya sendiri.
Entah kenapa Aziel merasa tidak rela saat Diva dan Dimas berdekatan seperti itu.
"Ziel, kau kenapa?" (Tanya Luna mengibaskan tangan nya ke wajah Aziel.)
"Em, Luna kau pergi lah ke ruang rawat papa, aku masih ada urusan. " (Jelas Aziel.)
"Tapi kenapa? " (Tanya Luna sok manja.)
"Pergilah! " (Ucap Aziel menatap tajam Luna.)
"Ba... baiklah. " (Ucap Luna pergi meninggalkan Aziel.)
Sementara itu Dimas baru saja selesai mengoleskan salap di kepala Diva.
"Ah, bisakah ini di bersih kan saja? Aku merasa perih. " (Ucap Diva menatap lekat Dimas.)
"Tidak Diva, jika aku membersihkan nya luka mu tidak akan sembuh. Begini saja biar kan aku meniup nya, jika perih pejamkan mata mu aku akan menempel kan kapas ini. " (Ucap Dimas.)
"Eoh, baik lah. " (Ucap Diva memeram kan mata nya.)
"Nah begitu. " (Ucap Dimas tersenyum sambil meniup kepala Diva.)
Brak... (Aziel menendang pintu ruangan Dimas.)
"Apa yang kalian lakukan? " (Ucap Aziel menarik Diva dari hadapan Dimas.)
"Ah, bisa kah kau pelan-pelan! " (Ucap Diva.)
"Aziel? Bisa kah kau mengetuk pintu terlebih dahulu? " (Ucap Dimas menatap Aziel.)
Dimas menatap Aziel dengan tatapan bingung.
Bersambung ....
__ADS_1