Istri Kontrak Tuan Muda

Istri Kontrak Tuan Muda
Mendisiplinkan


__ADS_3

Meeting sedang berlangsung membahas tentang perkembangan Rumah Sakit cabang yang mengalami kemerosotan karena ada Rumah Sakit baru yang sudah memiliki fasilitas lebih lengkap sehingga bisa melakukan banyak pembedahan yang biasanya hanya di lakukan di Rumah Sakit besar.


Rumah Sakit cabang memang tidak pernah menerima pembedahan semacam itu, seperti halnya transplantasi akan di rujuk ke Rumah Sakit pusat karena minimnya fasilitas dan juga SDM yang ada. Dahulu itu tak jadi masalah karena di kota kecil itu hanya ada satu Rumah Sakit, namun setahun ke belakang setelah Rumah Sakit baru yang tak jauh berdiri disana, pasien banyak yang beralih dengan fasilitas yang lengkap tanpa harus repot repot ke kota besar.


" Jadi bagaimana Bu Mitha, sebagai Direktur operasional, ini ada di bawah kewenangan Ibu. " Tanya Pras yang seketika mendapatkam tatapan tajam dari Mitha.


Prasetya sialan .. Bilangnya aja tenang ada mas, eh malah Lu sendiri yang jadiin gue tumbal .. Gerutu Mitha dalam hatinya, namun Mitha tetap berusaha tersenyum menelan kekesalannya.


" Baiklah .. Boleh saya menjelaskan di depan ? " Tanya Mitha.


" Sure .. " Jawab Pras dengan senyum manisnya.


Awas ya mas !


" Okay, atas persetujuan Presdir, saya menyarankan untuk rumah sakit cabang juga di perbesar dan di lengkapi fasilitasnya. Dan untuk masalah SDM, Rumah Sakit kita sudah mendapatkan cukup banyak dokter baru semenjak perekrutan. Jarak rumah sakit pusat ke cabang pun hanya sekitar 3 jam, belum lagi ini tahun dimana para koas dan residen baru masuk. Kita bisa membagi SDM saat di perlukan, seperti jika ada operasi besar. Kita punya poin plus karena Rumah Sakit kita sudah lama berdiri dengan dokter dokter yang sudah memiliki nama. Bukan kah itu akan menaik kan kredibilitas Rumah Sakit kita ? Meski Rumah Sakit cabang tapi memiliki kualitas dan fasilitas setara Rumah Sakit Pusat ? "


" Betul Bu Mitha, hanya saja masalahnya, Kita sedang membangun pusat bedah disini. Pengeluaran kita akan membengkak jika membangun kedua nya secara bersamaan. " Timbal Jo.


Sialan Lo Jo, sama samanya kaya Pras bikin gue mikir keras di hari pertama.


" Kita memang tidak bisa membangun keduanya, tapi kita bisa memprioritaskan salah satunya. Pusat bedah di bangun untuk lebih menarik banyak pasien dan meningkatkan pendapatan Rumah Sakit Pusat, namun kembali lagi itu masih perkiraan. Persentase kenaikannya pun belum bisa di pastikan, namun untuk Rumah Sakit cabang, jika di biarkan mungkin dalam 3 atau 5 tahun kedepan, sudah dapat di pastikan harus di tutup karena hanya akan menimbulkan kerugian. Bukan hanya memperburuk keuangan Rumah Sakit, namun juga citra nama baik Rumah Sakit kita. Penting bagi kita mempertahankan reputasi, karena itulah yang membuat Rumah Sakit kita besar " Jelas Mitha dengan percaya diri meski hanya berbekal apa yang ada di pikirannya karena belum sempat mempersiapkan materi operasional yang dapat di presentasikan saat meeting ini.


" Baik terimakasih Bu Mitha, gagasan Ibu bisa saya terima dan silahkan di bicarakan dengan team sekaligus di kordinasikan dengan divisi keuangan. Minggu depan kita meeting lagi untuk membahas perluasan Rumah Sakit cabang beserta laporan keuangan yang harus di siapkan. Kita bisa compare data pembangunan untuk cabang dengan pusat untuk memperhitungkan mana yang lebih menguntungkan dan layak di prioritaskan. Sekian meeting siang ini, ada yang perlu di bahas lagi ? " Tanya Pras menutup meeting yang sudah berlangsung selama 4 jam itu.


" Untuk saat ini cukup Presdir " Jawab Jo yang di setujui yang lainnya.


" Baik saya ucapkan terimakasih, selamat kembali bekerja. "


Meeting pun usai, untuk pengalaman pertama menurut Pras Mitha sudah cukul menakjubkan. Tapi di balik kemampuan Mitha berpartisipasi dalam rapat, secara pribadi Pras sudah tau ekspresi wajah Mitha yang saat ini menatapnya tajam sedang bersiap akan melampiaskan amarah.

__ADS_1


Hanya tiga orang yang tersisa di ruangan, Pras, Mitha dan Jo.


" Ayaangg .. " Panggil Pras manja.


" Mulai .. Mulai .. " Ucap Jo iri.


" Jangan marah atuh, mas kan wajib ngetes secara langsung segimana kemampuan kamu "


" Gak ngasih ranjau juga kali. Gimana kalo tadi aku gak bisa jawab ? "


" Mampus, geludd lah Mitha biar tau rasa tuh si Pras ya sama istri sendiri tega banget. " Jo memanasi


" Lo juga sama, belum ngajarin gue apa apa udah ngerjaim gue. Kalian sengaja ya mau ngerjain ? " Gerutu Mitha.


" Apaan enggak lah yang, mas itu yakin kamu pasti bisa jawab dan ngasih solusi. Mas percaya sama kemampuan kamu " Pras mengusap kedua pipi nya yang sedang kesal.


" Tau ah mau marah gue mah " Mitha hendak pergi namun Pras menahan tangan Mitha.


" Jonathan keluar Lo jangan malah cengengesan "


" Ampun ampun Presdir, gue out dulu ah takut malah nonton live film biru " Kekeh Jo.


Begiru Jo keluar Pras mendorong tubuh Mitha hingga menempel di tembok sudut ruangan.


" Mau ngapain mas, ini di Rumah Sakit "


" Mas gak akan lepasin kamu sampe kamu berhenti marah. " Pras menarik tengkuk Mitha untuk mendekatinya.


__ADS_1


" Masss .. Ampun beneran ini aku gak marah " Ucap Mitha berharap Pras melepaskannya.


" Bener ? "


" Iya bener, kamu ih gak tau tempat "


" Yaudah kalo udah gak marah, aku lepas. "


" Sayang .. " Pras memeluk Mitha dari belakang kala Mitha merapihkan berkas yang hendak di bawanya.


" Mas pernah gak nyentuh nyentuh kamu itu bukan karena gak mau, tapi karena gak ada waktu dan kesempatan buat ketemu kamu. Sekalinya sekarang di kasih banyak waktu plus satu kerjaan yang bikin kita tiap saat ketemu. Mas tuh bawaannya suka tegang yang " Bisik Pras.


" Aaahhh Aku pindah ke cabang aja kalo gini. Takut di gre*pein mulu tiap hari sama kamu "


" Jangan Lah ! " Jawab Pras.


" Kamu tau kan banyak yang ngegoda mas disini, kalo kamu gak ada nanti mereka makin menjadi. Emang mau suaminya makin banyak yang godain ? "


" Siapa yang mau godain kamu terang terangan depan aku heh ? Aku pindahin dia ke cabang paling jauh ! "


" Haha gemesin banget sih yang .. Kalo kamu mau kamu boleh pindahin siapa aja, tapi kan kata kamu dulu gak usah. Kamu bisa handle kan ? Mas gak masalah kalo kamu mau ngasih mereka pelajaran. " Pras membelai rambut Mitha merapihkan nya kebelakang telinga.


" Kenapa gak sama mas aja disiplinin dokter dokter yang ganjen ? "


" Karena ganjen gak masuk pada hal yang terlarang. Kecuali kalo udah sampe pelecehan haha ya kali mas di lecehin mereka. Palingan mereka tuh ngasih mas makanan, ngajakin mas makan siang bareng atau nemenin mas piket. "


" Kalo ngebully orang ? Apa itu bisa di disiplinin ? "


" Bisa dong, itu mah di larang banget. Emang siapa yang di bully dan siapa yang ngebully ? " Tanya Pras dengan polosnya.

__ADS_1


__ADS_2