
Di tengah kesibukkannya bermain dengan anak anak, notifikasi di ponsel Mitha menyala. Sebuah pesan masuk datang dari Pras.
" Kidss .. " Panggil Mitha pada kedua anaknya.
" Mommy mau ketemu daddy dulu ya ? Kalian disini sama mba okay ? Gak lama ko "
" Okay mommy, biar abang El yang jaga adik. " El menepuk dadanya memperlihatkan bahwa dirinya anak lelaki yang berani.
" Terimakasih abang sayang. " Mitha menciumi keduanya bergantian lalu bergegas menuju kamarnya untuk berganti pakaian dan sedikit touch up.
Mitha membawa kendaraannya seorang diri karena supir pribadinya sedang cuti dan supir Pras pun stay di rumah sakit.
" Siang Bu .. " Sapa seorang security di depan lobby.
" Bisa bantu parkiran mobil saya pak ? Kebetulan saya gak bawa supir. "
" Tentu saja boleh Bu "
" Terimakasih .. " Mitha turun lalu menyerahkan kunci mobil pada security yang berjaga.
Banyak mata menatap Mitha, akhir akhir ini Mitha menarik perhatian orang orang. Mitha yang selalu di anggap pendiam, penurut, dan tidak mencolok itu ternyata aslina cukup mandiri dan bisa di anggap sosok independent woman masa kini.
" Suka banget lihat Bu Mitha, gak manja kaya kebanyakan istri konglomerat. " Ucap seorang respsionis di meja informasi.
" Iya bener, terus gak pengen di layani berlebihan. Gak gila hormat juga, orangnya sopan banget sama ramah " Jawab yang lainnya.
Ya memang Mitha seperti itu, ramah. Tidak pernah semena mena karena merasa dirinya istri seorang Presdir. Malah bisa di bilang sikap nya sangat sederhana namun tetap elegan dan berwibawa. Meski banyak orang yang iri namun tak sedikit juga orang yang mengagumi nya.
Mitha melenggangkan kaki menuju ruangan Pras yang berada di lantai 5, padahal bisa saja Mitha langsung memarkirkan mobilnya di lantai 5. Namun, Mitha sengaja ingin melewati lobby dan area departemen bedah hanya untuk mengawasi apakah suaminya ada disana, apakah wanita itu disana dan apa saja yang mereka lakukan.
Namun saat Mitha lewat Pras tidak ada disana, Dinda pun tidak ada. Hanya ada Resa, Daffa, beberapa perawat dan dokter koass yang tak Mitha kenal.
" Siang Bu Mitha .. Mau ketemu Presdir ? " Sapa Daffa.
" Siang dokter Daffa. Iya, suami saya di ruangannya ? "
__ADS_1
" Iya Bu, oya mau sekalian saya antar saya mau ke lantai 5 juga. "
" Ah gitu boleh kita sama sama aja kesana. " Ucap Mitha.
Mereka berjalan menuju arah lift dan masuk ke lift yang kebetulan kosong.
" Kamu nerima pesan waktu itu ? Yang aku kirim foto Dinda dan Pras ? " Tanya Daffa.
" Iya aku terima. "
" Kamu gak cemburu atau kesel sama mereka ? "
" Kesel cuman aku gak mau kehilangan rumah tangga hanya karena emosi sesaat. Btw thanks ya infonya Daf. Berkat kamu aku bisa disini sekarang "
" Maksudnya ? "
" Aku mutusin buat kerja disini. Kemarin aku udah tes dan interview sama Jo, katanya hasilnya udah keluar "
" Oh ya ? Good for you .. "
" Hmm .. Apa kamu tau semuanya ? "
" Iya aku tau Daf, dari awal mereka semua ngira aku rendah. Awalnya aku diem aja karena aku ngerasa belum layak buat ngelawan mereka. Tapi sekarang study aku udah selesai, aku juga punya pengalaman di LN. Aku udah siap " Mitha menarik nafasnya panjang.
" Aku bangga sama kamu, dan aku dukung keputusan kamu. Ask me if you need some help okay ? " Daffa menepuk pundak Mitha.
" Okay Daf "
Percakapan mereka terhenti karena lift sudah terbuka. Mitha berjalan ke arah kiri dimana ruangan Pras disana sedang Daffa ke kanan menuju ruangannya.
Mitha membuka pintu ruangan Pras perlahan, takut dirinya mengganggu karena ini waktu istirahat makan siang, biasanya di gunakan Pras untuk tidur. Namun ternyata Pras sedang berbincang nampak serius dengan Jonathan dan beberapa lainnya. Seperti nya mereka sedang ada meeting.
" Aduh MashaaAllah suami gue kalo ekspresinya lagi serius gitu bener bener memporak poranda kan perasaan " Ucap Mitha yang seketika mengusap dadanya. Hatinya berbunga bunga, bangga senang bahagia dan banyak hal yang tak bisa di ucapkan.
Mitha mengurungkan niatnya untuk masuk dan mebih memilih menunggu di luar dan menghubungi Pras.
__ADS_1
Melihat notifikasi di layarnya ada pesan dari Mitha, Pras segera menunda dulu aktifitasnya.
Mengetahui istrinya sedang menunggu, Pras segera menyelesaikan tugasnya. Hari itu bagian personalia meminta persetujuan untuk penerimaan koas baru berikut dengan data data mereka. Biasanya hanya melalui Jo, namun karena kebetulan Jo ada di ruangan Pras jadi mereka berdua yang melakukannya.
Seperti janjinya hanya berselang 5 menit Pras keluar, lalu mengajak Mitha masuk ke ruangan.
" Terimakasih ya Nida sudah temenin istri saya " Ucap Pras pada sekertarisnya.
" Sama sama Presdir "
Pras pun menggandeng Mitha masuk menuju ruangannya, sedang HRD keluar dan Jo masih bertahan disana ingin sekalian memberi tau hasil tes dan wawancara Mitha kemarin.
" Hey Mit ! " Sapa Jo.
" Hey " Mitha pun duduk di sofa.
" Oya hasil nya udah ya gue udah kasih tau bapak Presdir Lo lulus, mulai besok Lo bisa training sama gue. Gue yang ajarin Lo semua tentang operasional rumah sakit ini karena kebetulan gue yang back up kerjaan direktur lama. " Jelas Jo.
" Serius ? Tapi ini penilaiannya objektif kan ? "
" Ya objektif lah. Itu hasil psikotes Lo. Mana bisa gue boong kan yang ngisi Lo. Hasilnya memang Lo punya bakat di bidang ini " Tambah Jo.
" Selamat datang Direktur Operasional, Ibu Paramitha Aloysia, semoga anda dapat berkontribusi dengan baik di rumah sakit ini. Senang menerima anda menjadi bagian dari kami " Sambut Pras yang mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
" Terimakasih Presdir, semoga saya bisa memenuhi harapan semuanya dan amanah dalam mengemban tugas " Mitha meraih tangan Pras lalu tersenyum seraya mencium punggung tangan itu setelahnya.
" Haaaahhh nyamuuukkk nyaamuuukk " Gerutu Jo.
" Sirik aja Lo, udah sana deh besok aja mau ajak Mitha keliling dan lain lainnya mah. Gue mau mesra mesraan dulu "
" Rada ada gila gilanya ya Bapak Pras ini " Jawab Jo yang segera melenggang pergi, daripada menjadi obat nyamuk di ruangan Pras, lebih baik dirinya pergi berkeliling.
Jo memang paling senang berkeliling, Jo ingin selalu memastikan bahwa pelayanan dan kinerja staff di rumah sakit ini sudah berjalan maksimal. Itu kenapa Jo sangat di takuti, karena jika ada satu saja yang salah atau kurang maka Jo tidak akan segan menegur secara lisan atau tulisan yang artinya akan di beri surat peringatan. Dan jika sangat fatal, Jo siap memutus hubungan kerja kapan pun tanpa ragu.
" Sstt Pak Jo turun .. " Resa langsung berlari menuju ruang ganti karena takut ditanyai.
__ADS_1