Istri Kontrak Tuan Muda

Istri Kontrak Tuan Muda
Episode #84


__ADS_3

Tidak butuh waktu lama akhirnya mereka pun tiba di bandara. Suasana bandara begitu ramai sehingga Diva agak kesulitan mencari keberhadaan Dimas.


" Aduh, Dimas di mana? Ponsel nya juga sudah tidak aktif. "(Ucap Diva bebrapa kali mencoba menghubungi Dimas.)


" Momy, lihat di sana. "(Ucap Alfa menujuk ke arah lelaki tampan yang sedang duduk di kursi tunggu.)


" Dimas? "(Ucap Diva.)


Seketika Diva berteriak memanggil Dimas.


" Dimaaaaaaas! "(Teriak Diva yang melihat Dimas sedang duduk di kursi tersebut.)


Dimas yang merasa nama nya di pangil pun menoleh ke arah suara.


" Diva?"(Ucap Dimas berdiri.)


Dimas pun berjalan menghampiri Diva yang sedang berdiri di seberang nya sambil memegang tangan kedua anak nya.


"Dimas, aku sangat merindukan mu. " (Ucap Diva melepas tangan Abel dan Alfa lalu memeluk Dimas.)


"Aku juga sangat merindukan mu. " (Ucap Dimas membalas pelukan Dimas.)


Sementara Abel dan Alfa saling pandang.


"Abel, lihat lah mereka seperti suami istri saja. " (Ucap Alfa begitu pintar.)


"Kau benar kak, tetapi momy bilang om Dimas adalah teman nya. " (Ucap Abel tiba-tiba memangil Alfa dengan sebutan kakak.)


"Apa aku tidak salah dengar? " (Ucap Alfa memainkan kuping nya.)


"Dengar, aku harus bersikap baik jika di depan orang lain, kau mengerti? " (Ucap Abel pintar.)


"Momy, jangan terlalu lama berpelukan kaki ku pegal. " (Ucap Alfa kesal.)


"Astaga, maaf kan aku, aku sampai lupa dengan dua malaikat kecil mu. " (Ucap Dimas melepaskan pelukan nya.)


"Alfa, Abel, ayo kemari. " (Ucap Diva.)


"Seperti nya momy baru saja ingat dengan kita, ayo! " (Ucap Abel menarik tangan Alfa.)

__ADS_1


"Astaga, aku tidak menduga jika kedua malaikat kecil mu begitu pintar dan mengemaskan. " (Ucap Dimas tidak sabar untuk memeluk Abel dan Alfa.)


"Abel, Alfa ayo peluk om Dimas, bukan kah selma ini kalian sangat ingin bertemu dengan nya? " (Ucap Diva kepada Alfa dan Abel.)


"Tentu saja momy. " (Jawab Abel dan Alfa bersamaan.)


"Sini sayang, om sangat merindukan kalian. " (Ucap Dimas berjongkok dan memeluk Alfa dan Abel.)


"Kami juga merindukan om Dimas, momy bilang om Dimas pergi setelah usia kami dua bulan. " (Ucap Abel.)


"Maaf kan om sayang, karena om seorang dokter jadi om punya tangung jawab sebagai seorang dokter. " (Ucap Dimas melepaskan pelukan nya dan menatap Abel dan Alfa.)


"Woah, momy juga bilang padaku jika om Dimas adalah seorang dokter yang hebat, suatu saat aku ingin seperti om Dimas. " (Ucap Abel bersemangat.)


"Ada-ada saja. " (Ucap Alfa dingin.)


"Benar kah kau ingin seperti om? Kalau begitu ikut lah om pulang ke kota om ya. " (Ucap Dimas sesekali melirik Diva.)


"Tidak om, momy pasti tidak akan mau. " (Ucap Abel sedih.)


"Ah, em kalau begitu bagaimana jika sekarang kita jalan-jalan ke kebun binatang. " (Ucap Diva mengalihkan pembicaraan.)


"Itu yang aku tunggu-tunggu. " (Ucap Alfa.)


"Biar aku yang nyetir. " (Ucap Dimas.)


"Baik lah. " (Ucap Diva .)


Dimas pun melajukan mobil itu menuju kebun binatang, tidak butuh waktu lama mereka pun tiba di sana.


"Woahhh, indah sekali. " (Ucap Abel senang.)


"Abel, Alfa pergilah melihat-lihat hewan, tetapi jangan terlalu dekat ke kandang ya. " (Ucap Diva kepada dua anak nya itu.)


"Baik lah momy. " (Ucap Abel dan Alfa bersemangat.)


Abel dan Alfa pun berjalan untuk melihat-lihat kebun binatang tersebut, tentu nya ada seorang penjaga di kebun binatang yang mengawasi mereka.


Sementara Dimas dan Diva hanya duduh di kursi di bawah pohon rindang yang ada di kebun binatang tersebut.

__ADS_1


"Diva, ada hal penting yang ingin aku bicara kan pada mu. " (Ucap Dimas terlihat sedikit sedih.)


"Hal penting? Apa itu? Katakan saja. " (Ucap Diva penasaran.)


"Ayah mu, ayah mu meningal dua hari yang lalu, saat itu polisi membawa nya kerumah sakit dan aku sendiri yang menangani nya, tetapi sakit nya terlalu parah dan akhirnya dia meninggal. Aku minta maaf Diva aku tidak bisa menyelamatkan nyawa nya karena sudah terlambat. " (Ucap Dimas menatap Diva.)


Seketika air mata Diva turun mengalir deras membasahi pipi mulus nya, ia tidak menyangka jika ayah nya Adnan akan meningal secepat itu padahal di hati nya ada sedikit niat untuk mempertemukan Alfa dan Abel kepada Andnan karena biar bagaimana oun Adnan adalah ayah kandung nya.


"Hiksss, mengapa? Mengapa secepat itu? Aku bahkan belum mempertemukan Alfa dan Abel dengan ayah. " (Tangis Diva pecah.)


Ada rasa menyesal di hati Diva saat dulu ia telah bertindak kasar ke pada ayah nya yang menyebabkan ibu nya meningal.


"Sudah lah, jangan menangis, ini sudah takdir, jika abi boleh memberi saran, aku ingin kau pulang, sudah terlalu lama kau di kota ini, kau bisa membawa anak-anak mu untuk mengunjungi makan ayah dan ibu mu. " (Ucap Dimas memegang tangan Diva.)


"Kau benar Dimas, aku tidak bisa terus- menerus tingal di sini aku juga harus kembali dan mengurus semua peninggalan ibu ku, dan membawa anak-anak ke makam kakek dan nenek mereka. " (Ucap Diva menyeka air mata nya.)


"Bagus lah jika kau juga ingin pulang, aku jug tidak bisa berlama-lama di sini, besok aku harus kembali, karena banyak pasien yang membutuhkan aku, kau bagai mana apa kau ingin ikut dengan ku besok atau menyusul belakangan? " (Ucap Dimas menatap Diva penuh tanda tanya.)


"Hm, aku tidak tau jika harus pulang sendiri, lebih baik ikut dengan mu besok. " (Ucap Diva memantap kan hati nya.)


"Kau sudah benar-benar memikirkan ini? " (Ucap Dimas.)


"Iya." (Ucap Diva serius.)


"Baik lah, kalau begitu nanti malam kita bicara kan ini kepada anak-anak. " (Ucap Dimas tersenyum lega.)


Dimas telah berhasil membujuk Diva agar mau kembali ke kota asal nya, meskipun Dimas tau jika Diva pasti masih sangat takut jika anak-anak nya akan bertemu dady mereka, hal itu memang tidak bisa di pungkiri.


Dua jam berlalu, kini Diva dan Dimas membawa Abel dan Alfa pulang ke vila.


"Bagaimana hari ini? Apakah menyenangkan? " (Ucap Diva turun dari mobil sambil memegang tangan Abel.)


"Sangat menyenangkan. " (Ucap Abel tersenyum bahagia.)


"Biasa saja. " (Ucap Alfa turun dari mobil dan berjalan masuk ke rumah.)


"Diva, dia benar-benar mirip..(Ucap Dimas terpotong karena Diva menatap nya tajam.)


" Ah, Abel sayang masuk lah dulu, pintar kakak mu Alfa untuk segera mandi dan setelah itu kau juga mandi lalu, kalau kau dan kakak mu sudah mandi temui momy di ruang tengah, kau mengerti? "(Ucap Diva memegang kedua pundak Abel.)

__ADS_1


Abel hanya menjawab dengan senyuman dan angukan kepala.


Bersambung ....


__ADS_2