
Sementara itu Adnan merasa pusing melihat rumah yang berantakan.
"Maya hentikan! Apa yang kau lakukan? Sadar lah ini kontrakan bukan rumah mu, bagaimana jika pemilik kontrakan datang dan mengusir kita! " (Ucap Adnan menahan tangan maya yang hendak memecahkan fas bunga.)
"Lepas kan aku! Dengar, ini semua gara-gara anak mu! " (Ucap Maya menangis.)
"Sadar lah, seharusnya kau tidak menyalahkan Diva dalam hal ini, bukan kah sejak dulu kau dan tara yang sangat sering membuat Diva menderita, mungkin itu balasan untuk kalian! " (Ucap Adnan melepaskan tangan Maya.)
"Hahaha, kau menceramahi ku? Apa kau tidak sadar bukan hanya aku dan Tara yang menyiksa Diva tetapi kau sendiri, kau adalah ayah kandung nya tetapi kau juga ikut menyiksa nya. " (Ucap Maya dengan air mata membasahi pipi nya.)
"Cukup! Aku begitu karena ulah kalian! Sekarang aku akan pergi dari sini dan meminta maaf kepada Diva, dan mulai sekarang jangan pernah cari aku lagi! " (Ucap Adnan masuk ke kamar nya untuk membereskan baju-baju nya.)
"Tidak! Jangan ku mohon sekarang aku tidak punya siapa-siapa lagi mas tolong jangan pergi! " (Ucap Maya berlari mengejar Adnan ke kamar nya.)
Di sisi lain
Sela dan Diva tiba di mansion pukul 07.06
"David apa kau tidak mau masuk dulu? " (Tanya Sela turun dari mobil.)
"Tidak usah ini sudah larut aku akan kembali besok. " (Ucap David tersenyum kepada Sela.)
"Baik lah David kalau begitu hati-hati. " (Ucap Diva menarik tangan Sela masuk ke rumah.)
"Sela, aku akan membereskan kamar papa, apa kau mau membantu ku? " (Ucap Diva menampilkan senyum lembut nya.)
"Baik lah kakak ipar ayo! " (Ucap Sela tersenyum paksa.)
Diva dan Sela pun membereskan kamar tuan Baylor, setelah selesai mereka pun menunggu di ruangan tengah.
Tidak butuh waktu lama ambulans yang membamemba tuan Baylor pun tiba di mansion.
"Sela, seperti nya papa sudah tiba, kau tunggu lah di kamar papa aku akan melihat kedepan. " (Ucap Diva terus tersenyum.)
"Baik lah kaka ipar. " (Ucap Sela berjalan menuju kamar tuan Baylor.)
"Kakak ipar kenapa kau terus tersenyum? Apakah itu akan menjadi seyum terakhir yang aku lihat di wajah mu? " (Batin Sela sambil terus berjalan menuju kamar tuan Baylor.)
Sementara itu di pintu masuk mansion. Ada beberapa suster yang turun dari ambulans.
"Bibi." (Ucap Diva menghampiri Marisa.)
"Iya sayang, kau dari mana saja? Bibi mencari mu sepanjang hari di rumah sakit tetapi kau tidak ada. " (Ucap Marisa memegang pipi Diva.)
"Aku, hanya keluar sebentar bibi, maaf kan aku." (Ucap Diva tersenyum.)
__ADS_1
"Kenapa Diva aneh sekali? Dia seperti nya tidak ada masalah apapun. " (Batin Marisa.)
"Bibi kenapa bibi diam saja? Ayo bantu mereka membawa papa ke kamar. " (Ucap Diva menghampiri mobil ambulans.)
Beberapa saat kemudian tuan Baylor pun telah di bawa ke kamar nya dengan beberapa Suster yang akan merawat tuan Baylor selama di rumah.
Masalah dokter, Aziel meminta agar Dimas untuk datang setiap hari ke mansion nya.
"Aku sudah menuruyi semua keinginan mu. " (Ucap aziel berdiri di hadapan Diva.)
"Iya, terima kasih. " (Ucap Diva tersenyum.)
Sementara luna hanya tersenyum miring menatap Diva.
"Kalau begitu aku ke kamar dulu. " (Ucap Diva.)
"Kakak ipar aku ikut dengan mu. " (Ucap Sela berjalan mengikuti Diva.)
Sementara Marisa menjaga tuan Baylor di kamar, meskipun ada suster tetapi Marisa masih tidak percaya karena suster mudah saja lengah.
"Bibi, apakah bibi tidak lelah? Aku akan menjaga papa, bibi istirahat saja di kamar. " (Ucap luna berpura-pura baik.)
"Yang di katakan Luna benar, bibi sudah menjaga papa sejak pagi, sebaiknya bibi istirahat. " (Ucap Aziel membenarkan ucapan Luna.)
Sementara itu di kamar Sela.
"Sela, jika aku pergi jaga papa baik-baik. " (Ucap Diva tersenyum ke arah Sela sambil mengemasi baju-baju nya ke dalam koper.)
Sela hanya diam menatap Diva ia tidak bisa berkata-kata lagi, hatinya terasa sakit melihat keluarga nya yang awalnya baik-baik saja malah hancur berantakan hanya karena seorang perempuan.
Setelah selesai mengemasi barang nya Diva berjalan duduk di samping Sela.
"Kenapa kau harus pergi? " (Tanya Sela memeluk Diva erat.)
"Sela, dengar setiap pertemuan pasti ada perpisahan, kau harus kuat bukan kah kita masih bisa bertemu? " (Ucap Diva tersenyum sambil melepaskan pelukan Sela.)
"Sekarang mandi, lah aku akan membuat kan makan malam untuk mu dan yang lain. " (Ucap Diva keluar dari kamar.)
Diva berjalan menuju dapur mansion, tetapi saat sedang pergi ke dapur ia bertemu dengan Luna.
"Kasian sekali kau. " (Ucap Luna memulai lagi.)
"Haha, tetapi aku lebih kasihan kepada mu. " (Ucap Diva tersenyum miring.)
"Apa maksud mu! " (Ucap Luna mulai memanas.)
__ADS_1
"Ada apa ini? " (Tanya Aziel yang tiba-tiba datang.)
Tiba-tiba saja Luna menegang pipi nya dan menangis.
"Ah, Diva kenapa kau masih saja tidak suka padaku hiksss. " (Ucap Luna berpura-pura di tampar oleh Diva.)
Aziel yang melihat itu pun menghampiri Diva dan Luna.
"Luna, kau kenapa? " (Ucap Aziel melihat pipi Luna.)
"Ziel, aku tidak apa-apa, tadi aku hanya berniat ingin membantu Diva untuk memasak tetapi dia malah bilang aku tidak bisa memasak dan menampar ku. " (Ucap Luna berpura-pura kesakitan.)
"Diva! Apa yang kau lakukan? Mengapa kau masih saja berbuat jahat kepada Luna? Apa kau masih belum puas? " (Ucap Aziel membentak Luna.)
"Benar kah begitu? Luna coba aku lihat pipi mu. " (Ucap Diva memegang wajah Luna.)
Lalu ....
Plak... plak...(Dua buah tamparan keras dari Diva berhasil mendarat di kedua belah pipi Luna.)
"Aw, sakit!"(Ucap Luna memegang kedua belah pipi nya.)
" Nah, ini baru benar! "(Ucap Diva tersenyum miring.)
" Diva! Kau! Kau benar-benar keterlaluan! "(Ucap Aziel ingin menampar Diva.)
Tetapi tiba-tiba saja Diva memegang perut nya.
" Hueek... hueek. "(Mual Diva dan berlari ke kamar mandi.)
" Diva kau.. "(Ucap Aziel terpotong saat Marisa tiba di dapur mansion.)
" Apa yang kau lakukan? Ada apa dengan Diva? "(Tanya Marisa melirik pintu kamar mandi yang berada di dapur mansion tersebut.)
" Aku, aku tidak tau. "(Ucap Aziel terlihat cemas.)
" Gawat, dia tidak boleh hamil ini akan makin menghalang rencana ku. "(Batin Luna khawatir.)
Tampa berkata apapun lagi Marisa menghampiri kamar mandi.
" Diva, sayang kau kenapa nak? "(Ucap Marisa sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi.)
Tidak ada jawaban apa pun dari Diva kecuali suara air yang kelaur dari wastafel.
Bersambung ....
__ADS_1