Istri Kontrak Tuan Muda

Istri Kontrak Tuan Muda
Surat Pemanggilan


__ADS_3

Pras duduk di kursi kebesarannya, menyandarkan kepala ke belakang dan menutup mata. Lelah fisik dan pikirannya yang berkecamuk berpadu menjadi satu seakan ingin melumpuhkan dirinya.


" Are you okay mas ? " Tanya Mitha yang tanpa Pras sadari masuk ke ruangannya lalu berdiri di belakangnya, memijat kepala Pras lembut.


" Thanks sayang .. Mas selalu baikan kalo ada kamu. "


" Udah mas jangan terlalu di pikir. Kerjaan kamu udah banyak, jangan di bebanin sama hal hal gak penting. "


Pras mengangguk lalu meraih tangan Mitha dan mencium nya lembut. Beban di pundaknya seakan makin berat tiap harinya, tapi Pras tak ingin menyerah, istrinya saja sudah ikut berjuang mati matian masa dirinya malah menyerah. Begitu pikir Pras.


Tokk .. Tokk


" Masuk .. " Ketukan pintu itu mengganggu kemesraan Pras dan Mitha.


" Ah maaf Presdir " Ucap sekertaris Pras saat melihat ada Mitha disana.


" Gak papa. Kenapa ? " Tanya Pras.


" Orangtua dari dokter Dinda dan dokter Resa sudah datang dan menunggu di ruang rapat. "


" Okay, dua menit lagi saya kesana. Tolong panggilkan juga Jo untuk ke ruang rapat lebih dulu " Titah Pras.


" Baik Presdir " Sekertaris Pras lantas keluar lalu menghubungi sekertaris Jonathan untuk menyampaikan intruksi Pras.


" Kamu mau nemuin mereka mas ? "


" Harus. Saya harus kasih pelajaran mereka, saya mau nyaksiin sendiri gimana respon orangtua mereka. Jangan sampe masalah kita di pelintir di buat cerita yang enggak enggak. Kamu tau sendiri mereka suka memutar balikkan fakta dan cerita. " Jelas Pras yang segera bangkit, merapihkan kemeja dan dasinya lalu meraih jas di sofa.


" Boleh aku ikut ? "


" Boleh sayang. Ayo .. " Pras menggenggam tangan Mitha membawanya jalan bersama menuju ruang rapat.


Sebelum Pras dan Mitha datang, Jonathan sudah lebih dulu memasuki ruangan. Disapanya kedua orangtua dari Dinda dan Resa dengan ramah dan sopan, meskipun Jonathan sendiri muak pada anak anaknya, namun tentu Jonathan tidak akan menjudge kedua orangtua mereka.


" Perkenalkan saya Jonathan Wakil Dirut Abraham Group. Dan ini Pak Bisma bagian personalia rumah sakit. " Jelas Jonathan, sebenarnya masalah ini bisa di handle oleh Bisma selaku bagian personalia, namun sesuai intruksi Pras, mereka ingin turun tangan karena menyangkut nama baik perusahaan dan rumah sakit mereka.


" Saya Ahmad dan istri saya Rina. Kami orangtua Dinda pak. " Jujur orangtua Dinda saja agak kaget terdengar dari suara nya yang bergetar, terdengar masalah anak mereka cukup besar hingga Wakil Dirut saja turun tangan.

__ADS_1


" Saya Ridwan dan istri saya Fani. Kami oangtua Resa Pak Jonathan. " Sama seperti orangtua Dinda, orangtua Resa pun terlihat tegang.


Sedang Dinda dan Resa yang berada di samping mereka hanya tertunduk, takut sekaligus malu.


" Baik, terimakasih sudah menyempatkan datang memenuhi panggilan kami. Kita tunggu sebentar ya, karena Presdir sedang menuju kesini juga. " Jawab Jo, lalu Jo mulai membuka berkas yang di berikan Bisma. Jo membaca setiap poin, memastikan sanksi yang akan di berikan sudah sesuai.


" Ok, udah cukup. Nanti kita tanda tangani setelah Presdir. "


" Baik Pak. " Jawab Jo.


Krreettt .. Pintu terbuka pelan. Terlihat Pras dengan tampilan formalnya yang membuatnya nampak semakin berwibawa.



" Selamat siang Presdir .. " Sapa Jo dan Bisma yang segera berdiri, membuat yang lainnya pun reflek berdiri menyambut Pras.


" Siang .. Silahkan duduk " Pras mempersilahkan mereka duduk, berbeda dengan Jo yang masih memajang ekspresi ramah, Pras justru terlihat sangat dingin.


" Loh Dokter Pras ? " Tanya Rina yang kebetulan pernah di perkenalkan oleh Dinda saat mereka berhubungan.


" Ibu kenal ? " Tanya Ahmad.


" Iya Pak, Dokter Pras itu konsulen Dinda. Yang pernah Ibu ceritakan, mereka pernah ada hubungan. "


Mata Mitha seketika menatap tajam ke arah Pras yang duduk di sampingnya.


Jadi hubungan kalian sempat sejauh itu sampe keluarganya aja kenal kamu mas .. Gumam Mitha.


" Mungkin ada sebagian yang belum tau saya. Saya Prasetya Presiden Direktur Abraham Group dan di samping saya Paramitha Direktur Operasional Rumah Sakit. "


Perkataan Pras cukup menusuk Rina, dirinya memang tau hubungan putrinya dan Pras sudah kandas. Namun tak pernah tau apa alasannya dan Rina pun tak tau bahwa kini Pras menjabat Presdir Abraham Group. Yang Rina tau, Pras adalah konsulen Dinda saat dulu berkenalan.


" Jadi ada masalah apa sebenarnya Pak dengan anak anak kami ? Setau kami, anak anak kami, anak yang berprestasi tapi tiba tiba kami mendapat surat panggilan. "


" Biar Pak Jo yang menjelaskan . " Pras menjawab pertanyaan Ridwan.


" Betul bapak, ibu. Anak anak bapak dan ibu merupakan salah satu dokter residen yang berprestasi dan bahkan mendapatkan beasiswa dari yayasan pendidikan kami. Namun ada beberapa hal yang cukup fatal telah di lakukan dokter Dinda dan dokter Resa hingga menyebabkan mereka di kenakan beberapa sanksi indisipliner. "

__ADS_1


" Mana mungkin pak ! Tindak tidak disiplin apa yang anak kami perbuat ? " Kini Ahmad yang menentang tak terima.


" Silahkan Pak Bisma jelaskan pelanggaran apa saja yang telah di perbuat Dokter Dinda dan Resa. "


" Baik, yang pertama Upaya Provokasi yang menyebabkan kegaduhan, dua menjatuhkan harkat martabat rekan seprofesi, tiga menyebar luaskan berita tidak valid yang menimbulkan fitnah, ke empat bersikap tidak profesional. "


" Oke cukup Bisma. " Intruksi Pras.


" Bisa di katakan, anak anak Ibu dan Bapak telah menyebarkan penyakit di rumah sakit saya. Menebar fitnah dan ujaran kebencian yang sebenarnya bisa sampai saya tuntut ke meja hijau. Terlebih yang menjadi korban adalah anak dan istri saya, dengan keluarga saya saja berani apalagi pada orang lain yang di rasa lebih rendah dari mereka. " Lanjut Pras.


" APA BENAR DINDA ? " Seketik wajah Ahmad memerah menahan malu dan amarah pada putrinya.


" Tenang dulu pak .. " Rina menarik tangan Ahmad.


" BAPAKMU INI SEORANG PEJABAT TINGGI DI DAERAH INI. BERANI BERANINYA KAMU MEMPERMALUKAN KELUARGA KITA ! " Lanjut Ahmad yang duduk penuh kecewa.


" Kamu juga Resa, kamu tau kami pengusaha. Mengapa kamu berani melempar kotoran pada perusahaan sebesar Abraham Group. Akan bagaimana usaha kami nantinya Resa. " Kini Ridwan yang mulai mengintimidasi putrinya.


Mereka datang dari keluarga berada dan terhormat, tindakan Dinda dan Resa benar benar membuat harga diri mereka terluka, terlebih tentu kepentingan bisnis dan politik mereka pun bisa terganggu.


" Silahkan lanjutkan sanksi yang mereka akan terima .. " Titah Pras pada Jo.


" Untuk sanksi, sesuai yang telah di sepakati bersama, kami tidak akan mengeluarkan mereka karena kami mempertimbangkan masa pendidikan mereka yang hampir selesai, namun kami tetap menjatuhkan scors selama satu bulan dari semua kegiatan, lalu setelah pendidikan selesai, Dokter Dinda dan Dokter Resa akan masuk dalam daftar hitam perusahaan kami dan rekanan sehingga tidak akan bisa berkarir kembali di seluruh perusahaan yang di naungi Abraham Group beserta perusahaan perusahaan atau rumah sakit yang bekerja sama dengan kami. "


" Astagfirullah Dinda Ya Allah " Seketika Rina histeris dan menangis memikirkan masa depan putrinya yang bisa di katakan hampir mustahil untuk berkarir di negara ini.


" Apa tidak ada solusi lain Presdir ? Kami siap mengganti rugi atau apapun itu. " Ucap Fani mencari solusi


" Apakah ganti rugi perusahaan kalian mampu mengobati sakit hati keluarga kami ? " Pras menatap tajam.


" Atau Presdir, saya bisa membantu apapun dengan jabatan saya. Kita bisa bekerja sama memperluas usaha Presdir di daerah saya ini. Saya akan mempermudah segalanya, asal jangan jatuhi anak saya sanksi seberat ini " Kini Ahmad memberi penawaran dengan iming iming jabatannya.


" Alih alih meminta maaf dan mengakui kesalahan anak anak kalian, kalian malah berebut menyogok saya dengan hal yang tidak seberapa untuk saya. Jika saya mau, bukan hanya anak anak kalian, kalian pun bisa saya hancurkan sampai jadi debu. " Pras menggelengkan kepala heran.


" Pantas saja, anak anak kalian seperti ini. Karena kalian menunjukkan sikap tidak hormat pada sesama manusia, kalian hanya menilai dengan materi. Kalian pikir semua masalah bisa selesai dengan uang dan jabatan. Selamat anak anak kalian mewarisi watak kalian .. " Ucap Mitha yang bangkit, lalu tanpa pamit keluar dari ruangan itu.


Mitha merasa terhina dengan ucapan mereka yang seolah dapat membeli segalanya termasuk harga dirinya dan anak anaknya.

__ADS_1


__ADS_2