
"Sepertinya dia tidak masuk hari ini. " (Ucap Sela.)
"Apa kau tau alasan nya? " (Ucap Diva heran.)
"Tidak." (Jawab Sela singkat.)
"Hm, bagaimana setelah selesai rapat kau temani aku ke rumah nya, sehabis itu baru kita jenguk papa di rumah sakit. " (Ucap Diva menatap Sela.)
"Baik lah kakak ipar, apa yang tidak untuk mu. " (Jawab Sela tersenyum kepada Diva.)
"Ah, Terima kasih. " (Ucap Diva membalas senyum hangat Sela.)
Di sisi lain, Tara sedang mengendap-endap keluar dari rumah Brian saat Gita sedang lengah, sementara Brian sudah brangkat ke kantor.
"Taxi." (Ucap Tara memberhentikan taxi.)
"Mau kemana mbak? " (Tanya sopir taksi kepada Tara.)
"Ke jalan angrek nomer lima ya pak. " (Ucap Tara kepada supir taxi tersebut.)
"Baik mbak. " (Ucap sopir itu melakukan mobil nya.)
Beberapa saat kemudian
Tok ... tok ... tok. (Suara ketukan di pintu luar rumah kontrakan Maya.
"Hujan, siapa itu? Apa jangan-jangan pembantu yang di kirim Tara? " (Ucap Maya bersemangat menuju ke arah pintu.)
"Ibu." (Ucap Tara menangis dan memeluk Maya.)
Maya merasa kaget dengan apa yang di lihat nya, ternyata itu bukan lah pembantu melainkan putri nya sendiri.
"Tara, apa yang terjadi? " (Ucap Maya melepaskan pelukan Tara.)
"Hiksss, ibu bantu aku. " (Ucap Tara menangis.)
"Sudah sekarang masuk dulu dan cerita kan apa yang terjadi. " (Ucap Maya menarik tangan Tara masuk ke dalam rumah.)
Mereka pun masuk ke dalam rumah.
"Hiksss, ibu aku tidak mau tinggal di sana lagi. " (Ucap Tara menangis sambil duduk di sofa ruang tamu.)
"Apa yang kau katakan? Jika kau tidak tingal di sana hidup mu akan menjadi gembel seperti ayah dan ibu sekarang. " (Ucap Maya memegang erat kedua bahu Tara.)
"Dengar kan aku bu, di sana aku di perlakuan seperti pembantu oleh mama nya Brian, dia baik kepadaku cuma kalau Brian ada di rumah. " (Ucap Tara terus menangis.)
"Apah? Mengapa bisa seperti itu? " (Tanya Maya heran.)
__ADS_1
"Bagaimana tidak bisa, wanita tua itu setiap harinya hanya bilang Diva Diva dan Diva. Dia bilang gara-gara aku Brian meningalkan Diva dan itu artinya dia sama sekali tidak menyukai ku bu." (Ucap Tara menahan emosi nya.)
"Sialan, Lagi-lagi Diva yang menghalangi kebahagiaan mu Tara, selalu saja wanita itu yang banyak mendapatkan perhatian. " (Ucap Maya mengepalkan tangan nya.)
"Makanya bantuin aku dong bu. " (Ucap Tara kesal.)
"Tenang saja sayang, bagaimana pun caranya ibu akan memarahi Brian karena ibu nya menyiksa mu di rumah." (Ucap Maya berdiri dari duduk nya.)
"Jangan! Aduh ibu apa yang akan ibu lakukan, jika begitu aku bisa melakukan nya sendiri jika aku mau. " (Ucap Tara mengusap kasar wajah nya.)
"Kenapa? " (Tanya Maya heran.)
"Dengar bu, wanita tua itu mempunyai rekaman CCTV saat aku menjebak Diva di restoran itu. " (Ucap Tara menyerah.)
"Apa? Bagaimana bisa, kau terlalu ceroboh, seharusnya kau mengecek terlebih dahulu sebelum melakukan segala hal. " (Ucap Maya memarahi Tara.)
"Sudah lah, jika ibu hanya terus memarahi ku seperti ini lebih baik aku pulang saja. " (Ucap Tara ingin berdiri dari duduk nya.)
"Tunggu Tara, jika kau pulang sekarang kau tentu akan di siksa lagi di sana, apa kau tidak ingin mendengarkan masukan ibu terlebih dahulu? " (Ucap Maya tersenyum jahat.)
"Apa? Ibu punya rencana? Rencana apa? " (Tanya Tara penasaran.)
"Huh, itu mudah sekali, kau hanya harus mengambil ponsel mertua mu, dan menghapus video itu, lalu dia tidak akan bisa mengancam mu lagi. " (Ucap Maya menatap Tara dengan senyum miring nya.)
"What? Astaga kenapa aku tidak berfikir seperti itu? " (Ucap Tara menepuk jidat nya.)
"Ibu, terima kasih, kalau saja aku tidak ke sini aku pasti tidak akan mendapatkan ide ini. " (Ucap Tara tersenyum jahat.)
Di sisi lain
"Kakak ipar, bagaimana? Apa kita jadi pergi ke rumah Tania? " (Ucap Sela berjalan mengiringi Diva keluar dari ruang rapat.)
"Tentu saja, jika kita sudah tau keadaan nya, kita langsung ke rumah sakit untuk menjenguk papa. " (Ucap Diva terus melangkah menuju ruangan nya.)
"Baik lah, aku akan ambil tas ku dulu di ruang kerja ku. " (Jawab Sela berlalu.)
"Baik aku tunggu kau di parkiran. " (Ucap Diva sedikit menaikan nada suara nya.)
"Siap boss! " (Ucap Sela yang semakin menjauh.)
Di sisi lain
"Kita mau ke mana? " (Tanya Luna menatap Aziel yang sedang menyetir mobil.)
"Lihat saja aku akan membawa mu ke suatu tempat yang dulu biasa kita kunjungi. " (Ucap Aziel menatap Luna sambil tersenyum.)
"Benar kah, aku sudah lupa. " (Ucap Luna berpura-pura.)
__ADS_1
"Kau ini, selalu saja mengemaskan ucap Aziel mengelus kepada Luna.)
" Sudah lah, fokus saja menyetir. "(Ucap Luna tersenyum.)
"Baik lah."(Ucap Aziel singkat.)
Sementara itu Diva dan Sela mengendarai mobil nya menuju rumah Tania.
Tidak butuh waktu lama Diva dan Sela pun tiba di kediaman Tania.
" Kakak ipar apa ini rumah nya? "(Ucap Sela menujuk rumah kecil yang berpagar hitam.)
" Iya ini rumah nya. "(Ucap Diva turun dari mobil.)
" Rumah nya kecil sekali ya. "(Ucap Sela bingung.)
Maklum Sela yang berasal dari keluarga ternama ketika melihat rumah kecil menjadi sedikit ling-lung, bahkancara membuka pintu pagar ajah dia tidak tau.
" Aduh, kakak ipar, pagar ini tidak bisa di buka. "(Jelas Diva mendorong dan merapih pagar itu.)
" Huh, dasar kamu ya, lihat lah, itu ada kunci kayu coba kau naikin ke atas itu akan terbuka, hahaha. "(Diva menertawakan Sela yang terlihat sangat lucu.)
" Ouh, hehe, aku tidak melihat nya. "(Ucap Sela mengaruk-Garuk kepala nya yang tidak gatal.)
" Yasudah Ayo masuk. "(Ucap Diva berjalan mendahului Sela.)
Setelah tiba di depan pintu rumah Tania Diva mencoba mengetuk dan memangil Tania.
" Tania... permisi, apa kau ada di dalam? "(Ucap Diva sedikit menaikan nada suara nya.)
" Kakak ipar sudah lah, sepertinya rumah ini kosong. "(Ucap Sela kepada Diva.)
" Kau benar, kemana pergi nya Tania? Biasanya dia selalu mengabari ku. "(Ucap Diva bingung.)
" Mungkin dia lupa, yasudah sebaiknya kita kerumah sakit saja. "(Ucap Sela menarik tangan Diva.)
" Huh, baik lah. "(Ucap Diva mengikuti langkah kaki Sela.)
Saat Diva dan Sela sudah keluar dari pagar rumah Tania ada seorang ibu-ibu paruh baya yang menghampiri mereka.
" Non Diva? "(Ucap wanita paruh baya tersebut.)
Diva yang mendengar namanya di pangil pun menoleh.
" Bi Maryam?"(Ucap Diva menatap wanita itu.)
Bersambung ....
__ADS_1
Hay, terima kasih banyak. Dan jangan lupa untuk like, komen, fote, follow, hadiah, dan favorit. 💓