
Alih alih memecat atau mempermalukan Daffa karena mencoba mendekati istrinya, Pras lebih memilih adu skill dengannya. Ya mungkin karena itu Pras, Pras punya cara elegan dibanding ribut ribut tidak jelas. Toh menurut Pras, kelancangan Daffa masih pada tahap yang bisa di toleransi.
" Dok sekarang kayanya sering jadiin dokter Daffa asisten pas bedah. " Iseng Dinda mengajak Pras berbicara karena memang biasanya Pras mengajak Dinda.
" Istri saya lebih tenang saya gak deket kamu Din " Jawab Pras jujur.
" Oh gitu ya " Jawab Dinda canggung sambil menggaruk tengkuknya malu.
" Selain itu, saya suka kinerja Daffa apalagi buat operasi besar kaya transplantasi. Biar lebih banyak pengalaman karena di rumah sakit lamanya gak bisa lakuin prosedur itu " Jelas Pras membuat Dinda menunduk kan kepalanya enggan lagi bertanya.

" Saya ke ruangan dulu ya Din, infokan kelas maju satu jam, tempatnya seperti biasa di aula. " Titah Pras meninggalkan Dinda di depan ruangannya begitu saja.
Pras membuka pintu lalu menutupnya cuek meski di depan pintu ada Dinda.
" Ngapain tuh orang ada disana "
" Astaga, sialan Lo ngagetin gue aja. Ngapain Lo di ruangan gue ? "
" Gue mau tanda tangan berkas tapi katanya Lo lagi ke IGD jadi gue nunggu disini. Itu si Dinda ngapain sama Lo berdua. Abis ngapain Lo ? "
" Kan Lo tau gue abis dari IGD, Dinda ngikutin gue karena dia konsul buat bahan tesis nya. " Jelas Pras.
" Kenapa nanyain nya ke Lo aja, dokter bedah perasaan banyak. Jodohin sama si Daffa aja tuh sama sama spek perusak hubungan orang "
" Kan Lo tau gue konsulen nya. Ya wajar dia nanya ke gue, yang lain juga sama bukan Dinda aja. Lagian Lo bawel banget kaya ibu ibu "
" Gue lihat dia masih obsesi ke Lo, jangan Lo kasih kesempatan. "
" Kalo gue kasih kesempatan udah gue ajak konsulnya berdua aja di ruangan. Tapi kan kagak, gue suruh dia nanti buat jelasin lebih lanjut pas kelas. " Jelas Pras yang langsung mengambil berkas dsri tangan Pras lalu membubuhkan tanda tangannya disana.
Setelahnya Pras merebahkan tubuh di sofa, lelah rasanya. Hari ini jadwal Pras cukup padat karena harus mengisi kelas sore hari nanti, selagi masih ada waktu Pras memilih istirahat.
Pras
Yang ijin pulang telat ya mas ada kelas dulu nanti sore ..
^^^Mitha^^^
__ADS_1
^^^Oke mas. Tapi mas gak bawa mobil, Jo juga pulang sampe jam 5 kan ?^^^
Pras
Iya yang, gapapa biar Jo lembur
^^^Mitha^^^
^^^Jangan mas kasian Vidya katanya lagi gak enak badan tadi call sama aku. Biarin aja Jo pulang, nanti mas aku yang jemput ya^^^
Pras
Oh gituu .. Ok yang makasih🫶
" Bro .. " Panggil Pras pada Jonathan yang kebetulan sedang bersamanya.
" Hmm "
" Lo gak usah lembur, Mitha mau jemput gue "
" Seriusan ? "
" Iya, istri Lo lagi gak enak badan katanya .. "
" Waaahh jangan jangan bukan sakit Jo "
" Terus ? "
" Coba tanyain udah dapet belum, apa lagi telat ? Kalo telat Lo bawain testpack gih ngambil dari gudang persediaan "
" Iya juga ya, ko gue gak kepikiran kesana. Ok wait gue mau call bini gue dulu. " Jonathan keluar dari ruangan Pras, sengaja mencari privasi untuk membicarakan hal ini dengan memilih menghubungi Vidya di ruangannya sendiri.
Pras mengambil laptop dari mejanya lalu bergegas menuju aula, dirinya harus mengajar sore ini. Kelas biasa berlangsung sampai pukul 8 atau 9 malam dengan jeda break maghrib sekitar 20 menit. Tidak terlalu lama namun cukup menguras tenaga, terlebih para residennya sedang bersiap untuk menyusun tesis hingga sesi tanya jawab menjadi lebih panjang dari biasanya.
Pukul 8 malam Mitha sudah sampai di area rumah sakit, sudah lama dirinya tak menginjakkan kaki disana. Beberapa menatapnya dengan sopan beberapa lagi hanya lewat begitu saja. Ya sudahlah lagi pula Mitha bukan seseorang yang gila hormat.
" Malam Bu Mitha " Sapa seorang dokter yang berjaga di area informasi departemen bedah.
" Malam .. Hmm kayanya Presdir masih kelas ya ? " Mitha mengedarkan pandangannya.
__ADS_1
" Iya .. Presdir masih kelas, kamu kesini mau jemput Mit ? " Jawab Daffa dari arah belakang.
" Ish dokter Daffa " Seorang dokter senior memelototi nya karena menurut mereka Daffa bersikap tidak sopan.
" Gak papa dok .. " Mitha mengangguk canggung.
" Iya dok, orang kita temenan ko ya Mit "
" Mau temenan juga, harusnya kamu lebih sopan karena ini lingkungan kerja. " Ucap Pras yang baru turun dari aula sukses membuat semua orang kaget.
" Presdir .. " Panggil mereka bersamaan sambil mengangguk.
" Iya maaf Presdir. Saya kadang memang tidak pandai menempatkan diri. "
" Udah mas gak usah di perbesar " Mitha melingkarkan tangannya ke tangan Pras.
" Untung istri saya baik dan rendah hati. Jadi santai aja .. Harusnya kamu jadi direktur rumah sakit yang kerja sama mas disini " Ucap Pras dengan senyum manisnya.
Perlakuan dan perhatian Pras yang seperti itu membuat setiap mata yang melihat mereka begitu iri melihatnya. Ingin sekali rasanya memiliki suami seperti Pras.
" Sstt see ? Presdir di jemput istrinya gila romantis banget mereka " Ucap Resa menyenggol tangan Dinda yang sama sama baru turun dari aula.
" Terus ? Ya biarin aja namanya juga sama istrinya. "
" Coba kalo Bu Mitha gak balik Indo, yang sekarang ada di posisi dia tuh harusnya Lo Din. Lebih pantes sama Lo padahal, kalian sama sama pinter, ambisius beda sama Bu Mitha yang kaya santai aja kebanyakan juga ngurus suami sama anak paling di rumah "
" Ya mungkin emang selera Presdir tuh istri rumahan bukan work holic kaya Dinda, Re " Jawab yang lainnya.
" Lagian Bu Mitha juga pinter ko, gak semua yang di kategorikan pinter itu harus dokter. Bu Mitha pinter di bidangnya buktinya dia sampe dapet beasiswa di LN "
" Hmm gak asik kalian mah positif vibes banget. " Ucap Resa.
" Ya lagian Lo ngegosip mulu Re, ketahuan Presdir tamat riwayat Lo. Jangan cari masalah, kita udah pada mau selesai " Jawab Dinda membenarkan ucapan teman temannya.
Melihat Dinda CS mendekat ke area informasi membuat Mitha mengeratkan genggamannya pada lengan Pras. Pras mengerti ke khawatiran istrinya.
" Its okay sayang hmm "
" Ayo kita pulang mas " Ajak Mitha lembut, Mitha tak membenci Dinda hanya saja Mitha tak ingin lebih lama melihat wajah wanita itu.
__ADS_1
Dinda hanya mengingatkan Mitha pada hal hal menyakitkan yang pernah dirinya alami, namun setidaknya kini Mitha tak lagi histeris saat melihat Dinda, hanya berusaha menghindar demi kebaikan bersama.
" Yaudah saya pamit dulu ya semua. Selamat bekerja " Pamit Pras yang langsung melingkarkan tangannya di pinggang Mitha, memberikan kenyamanan dan rasa aman.