
Hari ini di adakannya rapat untuk menentukan dokter yang terpilih masuk di rumah sakit mereka. Termasuk Maylinda ikut pengambilan keputusan, memilih dokter bukan hal yang mudah. Selain mereka harus kompeten, mereka juga harus memiliki kredibilitas yang baik sebagai daya tarik untuk rumah sakit kedepannya dalam segi bisnis.
" Mas udah siap aja " Ucap Mitha dengan suara serak khas bangun tidur.
" Iya yang mas kan ada meeting sama bunda juga "
" Oh iya aku lupa " Mitha bangkit lalu menyandarkan tubuhnya di ujung ranjang, mengumpulkan kesadaran sepenuhnya.
" Kalo masih ngantuk tidur lagi aja. Mas sama bunda sarapan di luar ko. Biar anak anak mah mba yang nyiapin makannya " Pras mendekati Mitha lalu membawa kepala Mitha untuk bersandar di perutnya karena posisi Pras berdiri sedang Mitha masih duduk.
" Emangnya mas udah sehat ? Semalem kan gak enak badan ? " Tanya Mitha memeluk pinggang Pras manja.
" Sehat gak sehat ya mau gimana lagi. Final nya sekarang, abis ini mas gak akan terlalu sibuk. Punya waktu istirahat lebih banyak juga. " Jelas Pras yang segera mengenakan maskernya.
Pras terserang flu berat sejak semalam, sebenarnya Pras ingin istirahat khawatir menularkan pada yang lain. Namun, meeting ini penting dan tak bisa di tunda.
" Mas berangkat dulu ya sayang " Pras menciumi puncak kepala Mitha meski terhalang masker.
" Iya mas, jangan lupa sarapan sama minum obat ya "
" Iya sayang ku cinta ku sholehah ku " Jawab Pras gemas.
Mitha hanya tersenyum manis, suaminya itu melalui hari hari yang amat sangat sibuk ini hampir setengah tahun lamanya. Jika di ingat bahkan Pras saja tidak menyentuh Mitha selama sebulan karena terlalu sibuk, sering tidak pulang dan sekalinya pulang Mitha sudah terlelap dan ketika Mitha bangun seringnya seperti ini, Pras sudah bersiap untuk berangkat.
Selain Pras yang menjadi sibuk, Mitha tak kalah sibuk dan lelahnya harus mengurusi dua balita yang sedang aktif aktifnya, kini bagi mereka sek*s bukan prioritas meski tentu saja hasrat itu ada namun terkalahkan oleh rasa lelah dan kurangnya kesempatan.
Untunglah di tengah kesibukkan mereka tetap saling meluangkan waktu untuk setidaknya saling memperhatikan kesehatan satu sama lain. Untuk saat ini hal seperti ini pun sudah cukup.
" Keterusan bro ? " Tanya Jo yang melihat Pras kurang fit.
" Heem .. "
" Hadudu abis ini ngambil cuti deh Lo istirahat "
" Rencananya emang gitu, sekalian mau ngajak Mitha staycation deh " Curhat Pras
__ADS_1
" Staycation ? "
" Iya .. Lo tau ini gue drop juga bukan kecapean. Tapi belum dapet jatah sebulan haha " Kekeh Pras.
" Serius ? Kuat bener, hati hati ah bini Lo masih muda. Kelamaan di anggurin nanti nyari yang super aktif "
" Sialan, gue juga masih on kali. Cuman susah waktu susah kesempatannya. Lo rasain aja nanti kalo udah punya anak "
Berbicara tentang anak, Jo juga ingin segera memiliki anak, namun sayangnya Vidya masih ingin menunggu karena kini sudah sampai tingkat akhir kuliahnya. Vidya tak ingin mengacaukan kelulusan hanya karena punya bayi.
" Lo yang punya banyak anak pengen punya banyak waktu, sedang gue yang punya banyak waktu pengen punya anak. "
" Lah tinggal bikin aja. Emang masih nunda ? "
" Iya masih, Vidya mau nya sampe graduation. "
" Padahal kan sekarang kuliah lagi online, ke kampus juga sekali kali. Sebulan paling berapa kali sih, paling 2x malah kan kadang sekali aja " Pras tau karena Mitha pun kini seperti itu.
" Ya tapi Vidya gak kaya istri Lo yang gak keberatan buat ngelakuin banyak hal dalam satu waktu. Vidya tuh kalo mau kuliah ya kuliah kalo mau punya anak ya fokus sama anak gitu. Gak akan mau dia nyambi ini itu. Makannya Lo harus bersyukur, gak semua istri mau repot kaya Mitha. " Curhat Jo.
" Bagus kalo Lo pengertian gitu. Previllage orang kaya, gak bisa bantu pake tenaga sendiri ya minimal ngeringanin pake jasa orang haha "
Mereka pun sampai di area rumah sakit. Waktu menunjukkan pukul 7.30 masib setengah jam lagi sebelum meeting di mulai. Pras mengambil kesempatan untuk sarapan terlebih dulu di kafetaria rumah sakit.
" Pagi dok .. " Sapa para dokter muda yang sedang beristirahat pasca lepas piket.
" Pagi .. Pada mau sarapan ? " Tanya Pras.
" Iya dok, baru lepas jaga. " Jawab diantara salah satunya.
" Iya kelihatan dari nguapnya haha " Kebetulan yang di belakang menguap.
" Maaf dok "
" Gak papa, manusiawi. Yaudah ambil sarapannya saya yang traktir semua " Ucap Pras pada kelima dokter muda itu.
__ADS_1
" Wah serius dok ? Terimakasih banyak " Mereka terlihat bersemangat dan langsung ceria.
Pras tak mengenal semuanya karena mereka dokter dokter koas yang bukan di bawah departemen bedah. Tapi tentu sebagai direkrut rumah sakit, Pras tidak membeda bedakan siapapun.
" Dermawan sekali bapak Pras ini " Celoteh Jo.
" Ya dari dulu. Mobil mewah yang Lo pake aja itu hibah dari gue haha "
" Kalo ngomong, suka bener "
Merekapun tertawa sejenak sambil sarapan berbicara banyak hal ringan sebelum rapat yang tentu suasananya akan cukup menegangkan nanti.
Pras membuka rapat dengan serius, rapat pun di mulai dengan penghitungan anggaran yang akan di alokasikan dan berapa dokter yang dapst terserap hingga perhitungan laba untuk saty tahun kedepan jika menempatkan dokter dokter baru di departemen yang di anggap strategis. Dalam keadaan yang kurang fit Pras masih harus berfikir keras meski kepalanya agak pusing kini.
" Total tenaga medis yang terserap sekitar 18 dokter, 30 perawat, 8 analis dan 5 ahli gizi. Semua terbagi kedalam 8 departemen yang sebagian besar akan di tempatkan di departemen bedah. " Ucap Pras mengambil keputusan yang di setujui semua bagian managemen.
Kini Pras hanya tinggal mempresentasikan dan mendiskusikan dokter siapa saja yang terpilih.
" Terakhir ada Dokter Daffa Haikal Putra. Spesialis bedah umum, salah satu lulusan terbaik universitas luar negeri dengan beasiswa penuh. Track record dan kredibilitasnya bagus meski tidak cukup di kenal karena selama ini mengabdikan diri di rumah sakit daerah pelosok dan tertinggal. "
Jo menyikut lengan Pras yang membuat Pras segera menatapnya.
" Jangan dia. " Bisik Jo
" Kenapa ? "
" Gue gak suka dia deketin Mitha lagi nanti. " Curiga Jo.
" Ck .. Gimanapun penilaian kita harus objektif Jo. Hal pribadi bisa di urus nanti. Kalo dia kompeten, dia layak di kasih kesempatan. "
" Terserah, hati hati aja awasin dia " Jawab Jo tak ingin mendebat.
Akhirnya meeting pun selesai sore hari, sesuai keputusan yang di sepakati bersama, Daffa menjadi salah satu dari 18 dokter yang lulus seleksi dan dinyatakan menjadi dokter tetap di rumah sakit Pras.
__ADS_1