
Di sisi lain
Sela tiba di rumah sakit, air mata nya tidak ada henti nya menetes ia berjalan cepat mencari keberadaan Tania.
"Sus pasien yang berada di kamar ini mana? " (Ucap Selamat saat tiba di depan pintu ruang rawat ibu Tania.)
"Maaf mbak pasien yang di rawat di kamar ini sudah sembuh baru saja mereka keluar dan sekarang mungkin masih di tempat administrasi. " (Ucap suster itu kepada Sela.)
"Ouh baik sus terima kasih. " (Ucap Selamat bergegas menuju ruang administrasi.)
Benar sekali ternyata Tania dan ibu nya berada di sana.
"Tania! " (Pangil Sela dari jauh.)
"Sela?" (Gumam Tania.)
Sela pun berjalan menghampiri Tania.
"Tania aku ingin bicara pada mu. " (Ucap Sela.)
"Baik lah, sebentar. " (Ucap Tania sambil mendorong kursi roda ibu nya.)
Mereka pun berjalan meninggalkan ruang administrasi tersebut.
"Kau mau bicara apa? Mengapa mata mu bengak dan sebab begitu. " (Ucap Tania bingung menatap Sela.)
Sela mengontrol diri nya agar tidak kembali menangis karena ia tidak mau ibu Tania tau tentang ini ia takut jika kondisi ibu Tania akan kembali drop.
"Aku rasa kita tidak bisa membicarakan nya sekarang. " (Ucap Sela mengkode Tania.)
"Aku mengerti. " (Ucap Tania.)
Tania pun memangil salah satu suster dan meminta suster tersebut untuk menjaga ibu nya.
"Sus, saya titip ibu saya sebentar ya. " (Ucap Tania kepada suster tersebut.)
"Baik mbak. " (Ucap suster itu mengambil alih kursi roda ibu Tania.)
"aibu aku tingal sebentar ya. " (Ucap Tania berjalan mengajak Sela ke lorong rumah sakit.)
"Ada apa? " (Ucap Tania bingung.)
"Ini, kau bisa membaca nya. " (Ucap Tania meberikan amplop biru sesuai perkataan Dewi.)
"Apa ini? " (Tanya Tania menaikan satu alis nya.)
__ADS_1
"Itu surat dari kakak ipar. " (Ucap Sela dengan mata yang kembali berkaca-kaca.)
Tania pun membuka surat tersebut dan membaca nya.
Isi surat:
𝘚𝘢𝘩𝘢𝘣𝘢𝘵 𝘬𝘶 𝘛𝘢𝘯𝘪𝘢, 𝘮𝘢𝘢𝘧 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘪 𝘮𝘶, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 kau terus menangis karena kepergian ku. 𝘑𝘢𝘨𝘢 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘮𝘶 𝘣𝘢𝘪𝘬-𝘣𝘢𝘪𝘬, 𝘥𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘨𝘢 𝘪𝘣𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱 𝘪𝘣𝘶 𝘮𝘶 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘮𝘣𝘶𝘩, 𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘬𝘢𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘚𝘦𝘭𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘬𝘰𝘮𝘱𝘢𝘬 𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘩𝘢𝘢𝘯 𝘬𝘶, a𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘪𝘮𝘶.
𝘋𝘪𝘷𝘢 𝘈𝘧𝘬𝘢𝘳.
Begitu lah isi surat singkat yang di tulis Diva untuk Tania.
Seperti Sela Tania juga mulai menangis, ia tidak menyangka jika sahabat nya pergi meninggalkan nya tampa memberi tahu kemana diri nya pergi.
"Sela, katakan padaku jika ini hanya lelucon mu. " (Ucap Tania memegang bahu Sela.)
"Tania, ini bukan lelucon aku juga mendapatkan surat dari kakak ipar, mungkin hati nya terlalu sakit karena perbuatan Aziel. " (Ucap Luna menundukkan kepala nya.)
"Kurang hajar, aku sudah menduga jika kakak sepupu ku itu adalah lelaki bajingan! " (Ucap Tania mengengam erat surat dari Diva.)
"Aku juga membenci nya, dan juga wanita itu aku akan memberikan perhitungan kepada nya saat aku sudah menemukan bukti jika ia benar-benar wanita penipu. " (Kesal Tania tak kalah geram nya kepada Luna.)
"Kalau begitu aku akan membantu mu untuk membongkar kebusukannya. " (Ucap Tania menahan emosi nya.)
"Terima kasih. " (Ucap Sela langsung memeluk Tania.)
"Baik lah, kita tunggu kabar dari David. " (Ucap Sela dengan mata yang memerah.)
"Baik, hubungi aku nanti malam. " (Ucap Tania melepas pelukan nya.)
Kedua orang itu sekarang benar-benar marah kepada Luna dan Aziel karena mereka menduga Diva pergi di sebabkan hati nya yang sakit melihat Aziel dan Luna.
Dari sini lah Sela, Tania dan David semkin dalam mengeruk informasi tentang Luna.
"Baik sekarang aku permisi dulu, aku akan kembali ke kantor. " (Ucap Sela kepada Tania.)
"Baik lah hati-hati, dan aku juga blm bisa masuk kantor hari ini karena aku harus mencari perawat untuk ibu ku di rumah. " (Ucap Tania kepada Sela.)
"Tidak mengapa, aku mengerti keadaan ibu mu, kau juga hati-hati. " (Ucap Sela lalu melangkah kan kaki nya keluar dari rumah sakit.)
"Lihat saja, aku akan membongkar kebusukan wanita yang telah membuat hidup sahabat ku menderita. " (Batin Tania lalu kembali menemui Ibu nya.)
Sementara itu, Aziel seharian mengendarai mobil nya berkeliling kota, pikiran nya kosong, seketika rasa menyesal dan khawatir jika ia tidak akan pernah bertemu anak nya dan Diva terlintas di pikiran nya.
"Dimana kau! " (Ucap Aziel sambil mengemudi mobil dengan kecepatan tinggi.)
__ADS_1
Beberapa kali Aziel mencoba menghubungi Diva tetapi nomer Diva sama sekali tidak aktif.
Jelas saja orang Diva lagi di pesawat dan tentu saja di negara (P) Diva mengunakan kartu yang berbeda dengan Aziel.
"Arghhh! Wanita tadi bilang jika Diva pergi bersama seorang lelaki? Siapa lelaki itu? " (Batin Aziel.)
Sementara itu di mansion.
"Kak, harus berapa lama lagi kau akan terbaring lemas seperti ini? Diva sudah pergi dari rumah ini karena kebodohan Aziel dia membuang madu hanya demi secangkir kopi pait. Kak satu lagi yang ingin ku katakan aku curiga jika sekarang menantu mu Diva sedang hamil,jika tebakan ku benar kau akan segera punya cucu." (Ucap Marisa sambil menangis menatap tuan Baylor yang masih blm sadar dari koma nya.)
Sungguh sebuah keajaiban setelah Marisa berkata demi kian tangan tuan Baylor mulai bergerak, ini pertama kali nya tuan Baylor memberi tanda bahwa dia akan segera sadar.
"Kakak kau... kau mendengar ku? " (Ucap Marisa kaget.)
Marisa yang panik pun segera mengambil ponsel nya dan menghubungi Aziel.
Dring... dring...(Angap sahabat suara ponsel Aziel yang berbunyi.)
Aziel yang mendengar ponsel nya berdering oun menepikan mobil nya dan bergegas melihat siapa yang menelfon.
"Diva, iya itu pasti Diva. " (Ucap Aziel merogoh ponsel di saku baju nya.)
"Bibi? " (Ucap Aziel kembali meredup.)
Aziel pun mengangkat telfon Marisa meskipun ia sedih karena itu tidak sesuai harapan nya.
Call onn
"Hallo bibi, ada apa?" (Ucap Aziel dengan suara serak.)
"Aziel kau di mana? Cepat kah pulang, papa mu dia mengerakan jari nya. " (Ucap Marisa panik.)
"Baik lah aku segera pulang. " (Ucap Aziel mematikan telfon secara sepihak.)
Call off.
Aziel kembali melajukan mobil nya menuju jalan pulang ke mansion buana, di sisi lain ia merasa bahagia namun ia di sisi lain ia merasa sedih karena tidak menemukan Diva.
Tidak butuh waktu lama, Aziel oun tiba di mansion.
"Bibi, bagaimana apa apa papa sudah sadar? " (Ucap Aziel mendekati ranjang papa nya.)
"Seperti nya papa mu membutuhkan dokter terlebih dahulu Ziel. " (Ucap Marisa.)
"Kenapa bibi tidak menghubungi Dimas bisa? " (Ucap Aziel bingung.)
__ADS_1
Aziel tidak tau jika Dimas sudah tidak ada di kota tersebut.
Bersambung...