
" Kayanya Mitha gak suka sama kamu ya Din ? " Tanya Daffa di ruang istirahat dokter yang kebetulan mereka hanya berdua disana.
" Kenapa emang dok ? "
" Kelihatan dari gelagatnya, kata orang kalian punya cerita buruk di masa lalu. "
"Itu kan cuman masa lalu dok .. "
" Sayang banget, Mitha beneran tulus ke Presdir. Kalo saya di posisi dia, seumur hidup pun Presdir dan kamu gak akan pernah saya maafin. "
" Memangnya dokter Tuhan bisa menghakimi saya seperti itu ? Lagian itu urusan saya, dokter gak usah mau tau dan ikut campur. Toh kami tidak ada hubungan lagi. " Jelas Dinda.
" Sayang saya telat pindah kesini, kalo waktu itu saya udah disini, udah saya bawa pergi Mitha. Mungkin kamu sama temen temen kamu mandang Mitha itu rendah karena dari status sosial dan latar pendidikan yang berbeda dari kalian. "
" Terus apa peduli dokter ? "
" Saya peduli karena saya dan Mitha berasal dari tempat yang sama. Mitha jauh lebih baik dari kalian yang ada disini karena fasilitas orangtua. Mitha menunda mimpinya buat ngewujudin dulu mimpi keluarganya, adiknya. Bukan gadis manja kaya kalian. "
" Ahh I see, dokter masih ada rasa kan sama Bu Mitha ? "
" Iya ! Tapi saya bisa mengendalikan diri. Saya tau dia mencintai suaminya, tidak seperti kamu yang saat tau Presdir masih mencintai Mitha namun memaksa Presdir menerima perasaan kamu. Kamu terobsesi ke dia, mungkin terobsesi juga ingin merasakan jadi istri seorang Presiden Direktur rumah sakit ternama. Di kenal banyak orang, ikut komunitas sosialita di luar sana hmm ? " Daffa tersenyum smirk.
" Cukup ya dok ! Saya gak seburuk itu. "
" Kalo gak seburuk itu harusnya kamu gak terus terusan ngedeketin dan cari perhatian Presdir ! Memangnya saya gak tau ? Munafik kamu Din. Berisikap seolah kamu korban yang terbully, padahal itu sebab tingkah mu sendiri. Saat orang lain bersimpati melihat kamu, kamu pun mencari kesempatan mendekati lagi Presdir. Itu yang kamu bilang gak buruk ? Bahkan saya yang hanya mendengar cerita orang orang saja sudah merasa jijik dan sakit hati sama kamu, apalagi Mitha ! " Ucapan Daffa kini benar benar menyakiti hati Dinda.
Dinda tak lagi menjawab hanya menatap Daffa yang entah mengapa tiba tiba saja memaki nya seperti ini. Apakah Daffa tadi menguping pembicaraannya di ruang residen ?
Ya 1 jam yang lalu Resa dan Dinda berada di ruang piket residen. Mereka baru saja selesai mandi lalu sedikit bergosip sambil menunggu rambut yang kering dan touch up beberapa saat. Pembicaraan mereka di dengar oleh Daffa yang awalnya ingin meminta seorang residen bedah untuk menjadi asistennya di operasi malam nanti. Namun Daffa mengurungkan niatnya setelah mendengar kata kata Dinda dan Resa yang terkesan merendahkan Mitha, memang dari awal Resa lah yang selalu mengompori Dinda hingga akhir nya Dinda pun keceplosan membicarakan Mitha.
__ADS_1
Daffa keluar dari ruang istirahat dokter dengan ekspresi marahnya. Ingin rasanya lebih dari tadi memaki Dinda namun saat melihat Dinda yang mulai menangis Daffa pun tak tega. Daffa sudah mengira selama ini Dinda masih belum sepenuhnya melupakan Pras, bahkan di tengah hubungannya dengan Radit, Dinda menjadikan Radit hanya kedok agar tak banyak yang menggunjing dirinya karena pernah menjadi wanita gelap Presdir. Lagipula Radit pun sama, belum terlalu mencintai Dinda. Akhir akhir ini hubungan merekapun merenggang karena Dinda yang selalu sibuk. Bukan hanya sibuk bekerja, namun sibuk mencari perhatian mantan kekasihnya.
Daffa meraih ponsel di meja kerjanya lalu tanpa basa basi mengirimkan banyak sekali foto yang di ambilnya tanpa sepengetahuan Pras atau pun Dinda. Foto Dinda yang selalu berusaha mendekati Pras.
Dinda yang berusaha memberikan makan siang saat Pras beristirahat di taman.
Dinda memberikan kopi saat Pras piket malam.
Bahkan Dinda pernah memberi bunga sebagai ucapan selamat saat Pras sukses membawa rumah sakit mendapat predikat rumah sakit terbaik.
Mitha terbangun kala melihat ponselnya terus menerus bergetar, untunglah saat itu Pras berada di ruang kerjanya. Mitha cukup kaget melihat rentetan pesan yang Daffa kirim padanya, Mitha bisa tau itu Daffa karena melihat dari foto profilnya. Seketika hati Mitha terasa panas, Mitha kira semuanya sudah selesai. Namun wanita itu ternyata tanpa rasa malu masih saja mengejar lelaki yang sudah jelas beristri.
Tokk .. Tokk
" Mas .. " Panggil Mitha.
" Hmm masuk aja yang " Titah Pras.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.
" Kenapa ? Perasaan tadi udah tidur " Tanya Pras.
Mitha menarik nafas dalam sebelum berbicara, dirinya ingin membicarakan semua dengan tenang. Mitha menyunggingkan senyum manisnya, lalu mendekati Pras dan duduk di pangkuannya. Mitha mengalungkan tangannya ke leher Pras.
__ADS_1
" Mas gak mau nemenin aku ? " Tanya Mitha dengan ekspresi menggoda.
Ahhh siall di goda gitu aja tegang
Tanpa jawaban Pras langsung menutup laptopnya lalu mengangkat tubuh Mitha keluar dari ruang kerja menuju kamar mereka. Begitu masuk, Pras langsung merebahkan tubuh Mitha di ranjang dengan lembut.
Pras membelai rambut Mitha lalu turun ke lehernya dan kebagian bagian sensitif lainnya membuat si empunya meremang nikmat. Mitha menikmayi setiap sentuhan itu, menerima setiap perlakuan Pras pada tubuhnya.
" Hmm mass .. " Mitha mengeratkan pegangannya ke punggung Pras kala Pras mulai melakukan puncak permainan.
" Sebentar lagi ya sayang " Jawab Pras dengan nafas tersengal.
Semakin cepat pergerakannya rasa ledakan itu semakin cepat sampai di ujungnya. Hingga akhirnya cairan hangat itu meleleh keluar.
Sekitar 10 menit mereka sama sama mengambil nafas sejenak sebelum membuka suara. Di liriknya Mitha tak kunjung tidur, Pras sudab berfikir mungkin ada yang ingin Mitha bicarakan, karena jika sudah lelah dan tak ada apapun biasanya Mitha langsung tertidur atau langsung ke kamar mandi membersihkan diri.
" Tumben ngajak duluan " Tanya Pras yang kini berbalik menghadap Mitha lalu merapihkan rambut Mitha yang agak berantakan.
" Lagi mau aja .. " Mitha sengaja memancing suaminya apakah akan mengerti atau tidak bahwa ada hal yang ingin Mitha sampaikan.
" Ada mau nya yang lain kah ? " Tanya Pras berusaha peka.
" Hmm aku tuh pengen minta sesuatu tapi malu " Ucap Mitha manja.
" Malu kenapa ? Kamu mau apa sok bilang, mas gak berani nawarin mobil, tas, baju, sepatu karena setau mas kamu gak suka minta hal hal kaya gitu "
" Emang bukan "
__ADS_1
" Terus mau nya apa sayang ? "
" Hmm gimana ya ngomongnya, akuu boleh gak kalo ikut kerja di rumah sakit mas ? " Pertanyaan Mitha membuat Pras diam seketika.