
"Jangan bertanya soal itu, yang jelas aku mendengar semua obrolan kalian jadi kalian mesti tau sejak kapan aku berdiri di sini dan mendengar kan pembicaraan kalian. " (Ucap Marisa dengan mata yang memerah.)
Seketika Sela dan Aziel dan Sela pun saling pandang.
"Sela jawab mama, benar kah Diva pergi dengan keadaan nya yang sedang hamil? " (Ucap Marisa mulai meneteskan air matanya.)
Suasana di mansion sekarang begitu penuh dengan kesedihan, hal itu tentu saja di sebabkan oleh satu orang yaitu Luna.
"Mama maaf kan aku,hiksss aku juga baru tau sekarang. " (Ucap Sela memeluk mama nya sambil menangis.)
"Aku sudah menduga, jika malam itu Diva mual karena hal itu, tetapi dia mencoba merahasiakan semuanya dari kita, sekarang apa yang harus kita katakan kepada om mu Sela, jika kita menceritakan yang sebenarnya kondisi nya yang baru pulih akan membuat nya kembali drop. " (Ucap Marisa menangis.
"Mah, tenang lah semua ini akan ada solusi nya. " (Ucap Sela mencoba menenangkan mama nya.)
"Aziel pikir kan sesuatu. " (Ucap Marisa.)
Aziel hanya diam pikiran nya kini campur aduk, ia tidak tau harus berbuat apa lagi.
"Aziel kenapa kau diam saja cari Diva Aziel dia pergi dalam keadaan hamil dan itu anak mu apa kau tidak punya hati? " (Ucap Marisa sambil mengguncang tubuh Aziel.)
"Bibi tenang lah, aku yakin aku akan menemukan Diva dimana pun dia berada. " (Ucap Aziel santai.)
"Baru sekarang kau ingat mencari kakak ipar? Lalu bagaimana dengan ****** mu itu?" (Tanya Sela marah.)
"Sela aku mencari Diva hanya demi papa dan anakku bukan karena aku mencintai nya " (Ucap Aziel berbohong.)
Sejujurnya ada perasaan sakit di dalam hati nya saat mengetahui Diva tidak lagi berada di kota tersebut, namun Aziel terus menepis perasaan cinta yang sesungguhnya di hati kecil nya itu.
"Kau benar-benar lelaki yang tidak punya hati nurani! Lihat saja aku akan membuktikan jika Luna adalah wanita yang jahat, dan saat kau tau baru lah kau akan menyadari betapa bodoh nya kamu karena telah menyia-nyiakan kakak ipar hanya demi dia. " (Ucap Sela menatap Azis dengan tatapan tajam lalu berlari masuk kedalam kamar nya.)
"Kau benar-benar keras kepala Aziel. " (Ucap Marisa meningal kan Aziel masuk ke kamar tuan Baylor.)
Sementara itu Luna baru saja keluar dari kamarnya.
"Aziel, bagaimana keadaan papa? Apakah papa benar-benar sudah sadar? " (Ucap Luna Pura-pura perhatian.)
"Iya, papa sudah sadar. " (Ucap Aziel.)
"Boleh kah aku melihat nya? " (Tanya Luna ingin masuk ke kamar tuan Baylor.)
__ADS_1
"Jangan sekarang, bibi ada di dalam, nanti saja ya sekarang kau di kamar saja bukan kah kau sedang tidak enak badan? " (Ucap Aziel begitu peduli.)
"Ah, iya benar sekali tetapi aku khawatir aku ingin melihat keadaan papa. " (Ucap Luna begitu pintar mencari perhatian.)
"Nanti saja, sekarang kau istirahat lah terlebih dahulu ya. " (Ucap Aziel memegang kedua pundak Luna.)
"Ah, baik lah kalau begitu. " (Ucap Luna tersenyum miring sambil berjalan kembali ke kamar.)
"Ternyata Aziel masih benar-benar peduli padaku. " (Batin Luna.)
Sementara itu Aziel kembali masuk kedalam kamar tuan Baylor.
"Aziel, di mana Diva? Apa dia sudah pulang dari kantor? " (Tanya tuan Baylor.)
"Papa, Diva sedang mengurus proyek di luar negri jadi untuk seminggu ini dia tidak bisa pulang. " (Ucap Aziel berbohong.)
"Benar kah? Padahal aku sudah sangat merindukan nya aku ingin melihat nya. " (Jelas tuan Baylor begitu merindukan menantu kesayangan nya.)
Mendengar itu hati Marisa semakin sakit ia merasa begitu bersalah karena ikut berbohong.
"Benar pah, papa jangan terlalu banyak pikiran, sekarang istirahat lah terlebih dahulu. " (Ucap Aziel membenarkan selimut papa nya.)
"Woahhh, fila ini indah sekali Dimas, apa kita akan benar-benar tinggal di sini? " (Ucap Diva turun dari mobil.)
Setelah banyak berbincang dengan dr. Lukman di rumah sakit Diva sangat Dimas pun di berikan tempat tinggal oleh dr. Lukman ya itu fila nya, karena dr. Lukman ingin Diva mendapatkan perawatan yang alami di sana, karena suasana fila itu begitu indah dan sejuk.
"Tengah saja, keren sekali Diva dokter Lukman benar-benar baik pada mu, ia bahkan meminjamkan kita sebuah vila di tepi danau agar kau mendapatkan udara segar dan ke nyaman. " (Ucap Dimas sambil membawa koper Diva masuk ke dalam fila.
Sementara itu di sisi lain nya Sela mondar-mandir di kamar nya menunggu kabar dari David.
Tak lama kemudian ponsel Sela pun berdering, menandakan bahwa ada panggilan masuk.
"Akhirnya David menelpon ku. " (Ucap Sela mengambil ponsel nya dan menekankan tombol hijau.)
Call onn
"Hallo, bagaimana? Apa kau sudah menekankan bukti? "(Ucap Sela tidak sabar.)
" Sela, gawat keluarga mu dalam bahaya, terutama tuan Baylor. "(Ucap David dengan nada bicara yang cukup menegangkan.)
__ADS_1
" Maksud mu? "(Ucap Sela khawatir.).
" Aku tidak bisa menjelaskan nya di telpon, temui aku di cafe biasanya, ajak Tania bersama mu. "(Ucap David di seberang telepon.)
" Baiklah 20 menit aku dan Tania akan tiba di kafe. "(Ucap Sela mematikan telfon secara sepihak.)
Sela menyambar tas nya dan bergegas keluar dari kamar nya menuju mobil nya yang berada di parkir mobil mansion.
Tanpa memberi tahu sangat mama Sela melajukan mobil nya menuju rumah. Tania.
Tidak butuh waktu lama ia pun tiba di rumah Tania.
Tok... tok... tok. (Suara ketukan di luar pintu rumah Tania.)
"Iya sebentar. " (Ucap Tania sambil berjalan membuka pintu.)
"Tania ayo ikut aku. " (Ucap Sela menarik tangan Tania.)
"Sela, tunggu ada apa ini, mengapa begitu terus gesa-gesa." (Ucap Sela tidak mengerti.)
"Sela, bukan kah kau bilang kau ingin membantu ku menguak kebenaran tentang Luna? " (Ucap Sela mentap Tania.)
"Iya, aku ingin dia menderita karena telah membuat Diva pergi. " (Ucap Tania kembali berapi-api.)
"Makanya utu sekarang ikut aku, David menghubungi ku dia meminta agar kita membantu nya dia menunggu kita di kave. " (Ucap Sela panik.)
"Oke tunggu sebentar. " (Ucap Tania masuk kedalam rumah.)
Beberapa saat kemudian Tania kembali keluar dengan jaket hitam nya, tentunya setelah pamit kepada ibu nya.
Seperti orang kesurupan Sela kembali melajukan mobil nya bergegas menuju kave tempat di mana David menunggu nya.
Beberapa saat kemudian mereka pun tiba di kave tersebut.
"Silahkan nona, tuan David telah menunggu di ruangan VIP." (Ucap pelayan kafe yang sebelumnya telah di suruh oleh David untuk menunggu Tania dan Sela di depan kave.)
"Baik, Terima kasih. " (Ucap Sela dan Tania berlalu.)
Sela dan Tania pun masuk keruangan VIP yang berada di kave tersebut.
__ADS_1
Bersambung ….