
Pras sampai di rooftop dengan nafas yang tersengal. Di atas sana sudah ada beberapa orang lain dan di bawah juga lebih banyak lagi. Rumah sakit itu berlantai 12 dan mereka berada di tingkat paling atas.
" Dindaa .. " Gumam Pras.
" Hmm Hhhaaaahh " Jo menarik nafas panjang lalu menghembuskannya kuat, seolah geram melihat sikap Dinda yang tidak ada habis dan jera nya.
" Drama apalagi ini Din ? " Tanya Jo dingin.
" Kenapa pak Jo ? Kenapa anda selalu saja ikut campur dengan urusan saya. "
" Okay, baik. Kalo begitu silahkan melompat. Saya tidak akan ikut campur. " Jonatahan merentangkan tangannya mempersilahkan Dinda melakukan keinginannya.
Pras masih diam terpaku di dekat pintu. Tidak maju ataupun mundur, tidak pula membujuk apalagi memprovokasi. Jujur saja, emosi yang Pras tahan sudah sampai ubun ubun nya. Kalau saja tidak berdosa ingin rasanya dirinya lari kesana dan menjatuhkan Dinda dengan kedua tangannya sendiri.
" Pak Jo anda memang manusia berhati iblis. "
" Mana ada iblis seperti saya. Yang ada kamu sedang di rasuki iblis Dinda. "
" Sudah Din, jangan dengarkan Jonathan semua bisa dibicarain baik-baik. Kita sesama wanita, ayo kita bicara Din. " Bujuk Kinan.
Keriuhan ini membuat kepala Pras semakin pusing, bahkan telinganya kini terasa berdenging. Pras memegang kepala sebelah kanan nya. Suara dengingan itu semakin kuat. Pras hanya menggelengkan kepala nya beberapa kali, untuk menjernihkan pikiran.
" Cukup Din .. " Ucap Pras menggelegar, menghentikan keriuhan disana, perdebatan antara Jo dan Dinda, da juga Kinan yang berlemah lembut memohon dan membujuk Dinda.
Akhirnya semua diam ..
" Kamu dokter Dinda, kamu tau berapa banyak keajaiban yang di luar nalar manusia. Kamu bisa saja lompat sekarang, tapi kamu yakin kamu bisa mati ? Bagaimana kalau kamu hanya cacat, cacat seumur hidup. Bagaimana kalau kamu mengalami cedera otak ? Bibir mu yang berisik itu tidak lagi bisa berkata, makan mu melalui selang, badan mu kaku. Bukan kah itu lebih menakutkan daripada kematian ? Apa kamu ingin menghukum dirimu sendiri semenyedihkan itu ? "
Ucapan Pras membuat semua orang bergidik ngeri, tentu saja karena mereka dokter mereka pernah melihat kejadian seperti ini.
" Silahkan jika kamu mau mati, tapi pastikan matilah dengan benar dan jangan lakukan di tempat saya karena saya tidak akan sudi mengurusi nya. Ingat Din, bagaimana pun cara kamu mengakhiri hidup kalau Tuhan berkata belum saatnya, maka kamu tak akan bisa mati begitu saja. Konyol sekali, bukannya hadapi hukuman mu di dunia ini sembari intropeksi. Kamu malah ingin merasakan hukuman yang lebih berat di alam abadi. Panjang nya usia mu itu bukan hukuman Din, tapi kesempatan untuk menebus semua kesalahan mu .. "
Jleeebbb ..
Sontak semua mata tertuju pada Pras, kata kata Pras memang menyakitkan, namun cukup menyadarkan bukan hanya bagi Dinda tapi bagi semua orang yang mendengarnya. Yang bahkan mungkin kata kata motivasi saja sudah tidak bisa membangkitkan jiwa yang hampir mati, tapi cercaan Pras berhasil meruntuhkan tekad Dinda untuk mati.
__ADS_1
Dinda terhuyung lemas lalu menangis sejadi jadinya. Keinginan nya untuk mati malah terasa menjadi hukuman paling menyakitkan dan menakutkan saat ini. Segera Kinan menangkap tubuh Dindan, di peluknya erat.
" Lihatlah Din, kami masih peduli padamu. Pras juga. Meski cara menyampaikannya keras, namun Pras memberitahu mu, bahkan menyadarkan kita semua bahwa tidak ada yang bisa berkuasa atas diri kita sendiri kecuali atas kehendak Tuhan Din. " Ucap Kinan lembut.
" Bukan keinginan Pras menyakitimu, bukan keinginan kamu juga menghancurkan hidup Mitha, semua terjadi dan mengalir begitu saja di luar kemampuan kita. Tugas kita hanya memperbaiki kesalahan di masa lalu Din, dan berhenti mengulangi kesalahan yang sama " Lanjut Kinan.
Melihat Dinda yang sudah cukup tenang, Pras pun membalikkan badan lalu pergi begitu saja. Pras hendak ke ruangannya untuk beristirahat sejenak, sepertinya tekanan darah Pras melonjak efek adrenalin dan juga kelelahan berlari menuju rooftop.
" Bareng Pras .. " Ucap Jo seraya berlari menyusul sahabatnya.
Baru saja menuruni anak tangga beberapa langkah, penglihatan Pras terasa berkunang kunang seiring dengan nafas nya yang tidak teratur. Pras memilih duduk di sudut tangga untuk mengatur nafas, daripada memkasakan diri lalu membuat dirinya celaka. Pras ingat di rumah anak istrinya menunggu.
" Lo kenapa Pras ? " Tanya Jo.
Pras tak menjawab.
" Gue gak bisa Jo. " Pras kehilangan kesadaran.
" Sial .. Sial .. Lo pake acara pingsan segala. " Ucap Jo panik sambil meraih ponsel dengan tangannya yang gemetar.
" Halo .. Tolong bawa tandu ke tangga darurat. Presdir pingsan. Cepat " Intruksi Jo, melakukan panggilan ke departemen gawat darurat.
Ingin menghubungi Mitha namun takut Mitha overthinking dan mengganggu kehamilannya. Feeling Jo, Pras tidak ada masalah berarti mungkin hanya kelelahan hingga Jo memutuskan untuk tidak mengabari Mitha dulu.
Satu jam berlalu, Jo masih setia menunggu. Kini sudah pindah ke dekat bed Pras berbaring. Tak lama terdengar batuk kecil.
" Pras .. " Panggil Jo sambil menggoyangkan tangannya pelan.
" Alhamdulillah gue masih hidup. " Ucap Pras saat membuka mata dan melihat lampu serta tirai rumah sakit.
" Makannya Lo kalo khotbah jangan sekata kata, itu si Dinda masih hidup sehat walafiat, malah Lo yang hampir kena serangan jantung. "
" Ah masa iya ? " Jawab Pras seraya bangkit dari tempat tidurnya perlahan.
" Ga tau juga sih gue haha tapi ya pokonya tekanan darah Lo tinggi, bisa bikin serangan jantung, pendarahan otak, stroke. Gitu katanya "
__ADS_1
" Untung engga .. " Pras menyandarkan kepalanya ke tembok.
" Istri gue gak tau kan ? " Tanya Pras.
" Kayanya engga kalo gak ada yang cepu, kalo tau udah pasti dia kesini. "
" Bagus, thanks ya gak kabarin Mitha dulu. Gue takut dia kenapa napa. "
" Terus sekarang gimana ? "
" Gue mau call dia dulu, ngabarin gak bisa pulang. Kayanya gue harus istriahat dulu disini. "
" Oke deh. Gue juga gak akan pulang. "
" Lo balik aja Jo kasihan Vidya. Gue ok kok lagian disini banyak yang ngurusin gue. "
" Bener Lo ? "
" Iya bener, udah Lo balik aja. "
Jo menganggukan kepalanya, menurut. Segera Jo pun bangkit meninggalkan Pras, setidaknya terlihat Pras sudah stabil jadi Jo tenang meninggalkannya. Tak lupa Jo menitipkan dulu Pras pada yang lainnya untuk di perhatikan.
" Halo yang .. " Panggil Pras pada Mitha saat panggilannya terhubung.
" Iya mas .. "
" Maaf ya hari ini mas gak bisa pulang, ada pasien darurat. Maaf gak bisa nepatin janji buat cepet cepet pulang. "
" Hmm gitu ya mas ? Yaudah. Emang pasien darurat apa mas ? "
" Hmm itu pasien yang masuk IGD harus di cek dulu. "
" Oh gitu, sekarang kamu di IGD dong ? "
" Iya yang di IGD .. "
__ADS_1
" Padahal IGD kosong nih mas, gak ada pasien bedah. " Ucap Mitha yang ternyata sudah ada di IGD 5 menit yang lalu bertepatan dengan Jo yang pulang, Mitha tentu saja mendapat kabar tentang suaminya.
Begitu Pras menghubunginya dan berbohong tentang pasien, Mitha segera mengecek daftar pasien IGD hanya untuk menangkao basah kebohongan suaminya.