Istri Kontrak Tuan Muda

Istri Kontrak Tuan Muda
Bikin Minder


__ADS_3

" Maass .. " Mitha mendorong tubuh Pras yang sudah menghimpitnya.


Namun dengan sigap tangan itu Pras tahan, Pras masih terus melanjutkan pergulatannya.


" Hmm .. Ini di mobil mas " Mitha menahan de*sahan ketika Pras kita mengecup tepat di leher jenjangnya memberikan sensasi gelinyar yang nikmat.


" Sebentar sayang, sambil nunggu hujan reda. " Bisik Pras dengan nada sensual.


Tangan Pras mulai bergerilya ke dada Mitha meremasnya lembut lalu beralih mulai membuka satu persatu kancing baju Mitha yang saat itu kebetulan menggunakan kemeja. Bagian atas itu sudah terbuka sempurna, satu tarikan saja Pras berhasil membuka baju yang menutupi ke molekan tubuh istrinya.


" Mas nanti ada yang lihat " Mitha masih berusaha menolak.


" Kaca mobil kita gelap gak kelihatan ke dalam, terus kita juga di halaman cuci mobil yang tertutup kiri kanan belakangnya sama tembok tinggi. Gak akan ada yang lihat mau kamu sambil kayang di mobil juga " Ucap Pras yang tengah memeluk Mitha, mengintip ke bagian belakang mencari pengait bra untuk lalu membukanya.


Mitha sudah tak bisa menolak lagi, baju nya pun sudah Pras lucuti di tambah cuaca yang mendukung untuk melakukannya. Akhirnya Mitha pasrah saja, meski dirinya pun bingung akan bagaimana cara melakukannya di tempat sempit seperti ini.


" Sini naik yang .. " Pinta Pras menepuk pahanya memberi tanda untuk Mitha duduk di pangkuannta ketika mereka sudah sama sama polos.


" Eeuummhh " Mitha melenguh kala merasa penyatuan mereka sudah sempurna hanya tinggal pergerakannya.


" Goyangin gini yang " Pras meremas kedua pan*tat Mitha menggerakannya maju dan mundur. Memberi sensasi pijatan dan jepitan yang nikmat.


" Ah ini enak yang " Puji Pras pada istrinya.


Mereka menikmati penyatuan itu benar benar hingga hujan reda. Mitha memunguti pakaian mereka yang berserakan ke kursi kemudi lalu mengenakannya satu persatu, di liriknya jam sudah menunjukkan pukul 12.40. Satu jam sudah melayani keinginan Pras.


" Kamu jago banget mas di tempat kaya gini juga, jangan jangan dulu kamu suka gini " Telisik Mitha.


" Suka sih enggak, cuman pernah yang hehe " Seringai Pras.


" Sama siapa ? "


" Ya sama si Reina, sama siapa lagi ? Gini gini mas gak suka free sek*s. "

__ADS_1


" Aku kira pasangan haram aja yang suka main di mobil "


" Ya itu kan mereka karena gak ada tempat, kalo mas lebih ke gak tau tempat. Toh selama cuman berdua dan buka di tempat umum juga ya gak masalah kali "


" Terserah deh .. Udah reda mas. Ayo berangkat, jangan sampe kamu aneh aneh lagi "


" Engga akan yang mas sehari ini udah dapet dua kali. Mas bukan superman " Pras terkekeh.


" Ya faktor U sih gak bisa bohong mas "


" Sembarangan, suami kamu tuh masih aktif dan produktif kalo mau di bikinin dede bayi lagi juga bisa "


" Jangan ! Aku gak kasih jatah kamu kalo coba coba bikin aku kebobolan " Mitha menatap tajam.


" Engga sayang, mas gak setega itu. Mampir dulu ke rumah Rizal ya ? Mas mau jengukin istrinya sambil cek bentaran "


" Iya mas "


Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan dan mampir ke rumah Rizal, jaraknya hanya sekitar 15 menit. Sesampainya disana Pras segera menjenguk dan memeriksa istri Rizal. Untunglah Pras selalu membawa medical kit untuk keadaan keadaan darurat seperti ini.


" Selain infus, ini bakal butuh lab darah. Bawa ke RS gue ya. Gue panggilin ambulance kesini " Tawar Pras.


" Boleh Pras, thanks ya. Dia selalu ngotot bilang gak papa, udah ke dokter ini. Tapi makin sini makin parah ga di rasa "


" Ya kita yang sehat yang harus maksa buat kebaikan bersama. Oke gue udah kabarin orang RS buat jemput Lo sama istri kesini. "


Pras berpamitan, teringat janji akan menemani anak anak.


" Baik sekali ya bapak Pras " Ucap Mitha saat mereka sudah di mobil.


" Namanya sama temen, kalo bisa bantu ya di bantu "


" Seneng banget jadi kamu, banyak temennya. "

__ADS_1


" Ya karena emang mas dari jaman baheula, dari jaman sekolah, kuliah. Orangnya suka bergaul. Sering menonjol daripada yang lain, itu bukan mas yang ngomong tapi dosen. Jadinya banyak yang kenal "


" Minder aku mas punya suami sepinter dan sepopuler kamu. Aku gak ada secuil kukunya dari kamu. "


" Kamu juga pinter, buktinya bisa ikut pertukaran ke LN "


" Hoki aja itu mas. "


" Tapi btw temen kamu itu si Daffa dia juga pinter. Usianya pasti gak jauh dari kamu kan tapi dia udah jadi dokter bedah. "


" Lah Daffa kan ikut kelas akselerasi dulu nya mas terus aku sama dia tuh justru kakak kelas. Jadi dia lulus lebih cepet beberapa tahun dari aku. Pokonya orang lain kuliah umur 18, dia mah akselerasi 2 tahun jadi 16 tahunan kalo gak salah. "


" Pantesan. Wah mas punya saingan berat nih "


" Hahaha "


" Kenapa ketawa ? "


" Jangan merendah mas, kamu udah nyelesain doktoral sedang dia belum. Kamu juga bukan sekedar dokter tapi konsulen, tinggal nunggu beberapa tahun lagi lengkap lah sudah jadi Profesor. "


" Widih kamu percaya banget mas bakal sampe sejauh itu. Padahal mas orangnya gak ambisius cuman kebetulan aja suka ke capai "


" Nye nye nye .. "


" Tapi ko kamu bisa tau sama dia, katanya gak inget "


" Oh itu kita pernah ngobrol waktu kamu sakit. Ya kebetulan aja ketemu. Cuman ngomongin itu ko gak ada yang lainnya mas. "


" Hmm gitu, duh harus warning dih. Kalo sama yang banyak duitnya mas gak khawatir kamu gak mata duitan soalnya. Tapi kalo sama yang pinter mas khawatir, soalnya selera kamu cowok cowok yang pinter haha "


" Mas ih berisik " Mitha mencubit pinggang Pras yang sontak membuat mpunya merintih namun kemudian tertawa.


Empat tahun bersama tentu Pras mengenal betul karakter istrinya, hingga sudut pandang mana yang membuat Mitha kagum terhadap lawan jenis. Tak perlu melihat pada orang lain, melihat pada dirinya sendiri saja. Mitha cenderung kagum saat melihat Pras mengajar, melatih para koas dan menghadapi pasien hingga mendapat julukan dewanya departemen bedah daripada merasa bangga karena suaminya seorang Presdir yang tajir melintir.

__ADS_1


Di mata Mitha, ketampanan Pras naik hingga 1000% saat dirinya menjadi dosen, presentasi di depan kelas, membedah pasien sambil mengajar. Selalu nampak menawan dan karismatik.


Tentu saja bukan hanya Mitha yang merasa begitu mungkin 100% wanita di rumah sakitnya setuju dengan pemikiran Mitha, terbukti dari setiap kelas yang Pras isi selalu saja membuat suasana riuh karena bergosip betapa tampan dan berwibawanya Pras dengan segala kemampuan dan kepintarannya.


__ADS_2