
Gita tersenyum kecil melihat pintu kamar nya yang terbuka sekarang ia tau siapa yang masuk ke kamar nya dan ia juga tau apa yang di incar Tara.
"Ah, apakah angin sekencang ini sehingga pintu kamar ku menjadi terbuka?" (Ucap Gita sambil berjalan mengunci pintu.)
"Arghhh, kok di kunci? Gimana gue mau keluar! " (Batin Diva di bawah ranjang.)
Gita pun kembali berjalan ke menuju ranjang nya.
Tampa di sengaja saat ingin naik ke ranjang mama Gita menginjak tangan Tara dan itu membuat Tara meringis kesakitan.
"Aw! " (Jerit kecil Tara dari bawah kolong ranjang.)
Mendengar ada suara dari bawah ranjang nya mama Gita pun melihat ke bawah.
"Kau! Apa yang kau lakukan di sini? " (Ucap mama Gita pura-pura tidak tau.)
"Ah, mumpung sudah ketahuan, aku ingin kau memberikan ponsel mu padaku wanita tua! " (Ucap Tara kekuar dari kolong ranjang.)
"Itu tidak akan terjadi, kau ingin menghaous rekaman ini bukan? Jangan bermimpi kau wanita jahat! " (Tegas Gita.)
"Karena kau telah tau bagaimana aku, maka kau harus memberikan ponsel ou atau aku akan bertindak kasar. " (Ucap Tara semakin mendekati mama Gita.)
"Tara! Jangan keterlaluan! Sekarang juga keluar dari kamar ku atau aku akan benar-benar menyerah kan rekaman ini kepada Brian? " (Ucap mama Gita.)
"Rekaman apa?" (Ucap Brian yang sedari tadi menguping di luar pintu.)
"Astaga gawat! " (Ucap Tara panik.)
Mendengar suara Brian mama Gita pun bergegas membuka pintu kamar.
"Brian." (Ucap mama Gita memeluk putra nya.)
"Tara, apa yang kau lakukan kepada mama ku? " (Ucap Brian menatap tajam Tara.)
"Aku tidak.. " (Ucap Tara terpotong.)
"Dia ingin mencelakai mama Brian, hanya karena dia tidak mau rahasia licik nya terbongkar." (Ucap Mama Gita.)
"Tidak! Itu tidak benar, Brian kau pasti lelah ayo kita ke kamar. " (Ucap Tara menarik tangan Brian.)
"Tidak! Aku tidak lelah, dengar kan aku Tara mengapa kau keluar dari kamar dan pergi ke kamar mama? " (Tanya Brian menahan emosi.)
Ternyata saat Tara kekuar dari kamar Brian belum lah sepenuhnya tidur.
"Aku...aku...Brian tolong dengar kan penjelasan ku. " (Ucap Tara memegang tangan Brian.)
__ADS_1
"Brian, seperti nya ini saat nya kau mengetahui semua tentang wanita licik ini. " (Ucap mama Gita memberikan ponsel nya kepada Brian.)
Tara ingin merampas ponsel itu, tetapi Gita menghalangi nya.
"Jadi? Jadi kau sengaja menjebak Diva? Dan yang di katakan Diva itu benar! Bahwa kau sama sekali tidak hamil? " (Bentak Brian menatap tajam Tara.)
Plak...(Sebuah tamparan keras dari Brian berhasil mengenai pipi kiri Tara.)
"Brian, tolong maaf kan aku, hiksss tolong maafkan aku. " (Ucap Tara menangis sambil memegang pipi nya.)
"Memafkan mu? Dengar aku hampir saja melukai Diva dan menaruh dendam kepada nya! " (Bentak Brian baru menyadari kebodohan nya.)
"Brian mama tidak mau lagi perempuan ini ada di rumah kita, sekarang juga mama ingin kamu cerai kan dia dan usir dia dari rumah kita! " (Ucap mama Gita memegang tangan Brian.)
"Tenang saja ma, aku akan membuat nya menyesal telah berbohong pada ku. " (Ucap Brian masuk ke kamar nya.)
Beberapa saat kemudian Brian keluar dengan membawa koper Tara.
"Pergi dari rumah ku! Dan masalah penceraian aku akan mengurus nya! " (Ucap Brian melemparkan koper Tara.)
"Tidak, ku mohon jangan hikss aku mohon Brian maaf kan aku. " (Ucap Tara bersujud di depan Brian.)
"Cukup! Karena kau aku kehilangan Diva, dengan bodoh nya aku mempercayai mu! Sekarang juga kekuar dari rumah ku! " (Bentak Brian menujuk ke arah pintu.)
"Tetapi ini malam, aku takut jawab Tara beralasan.)
Karena sudah tidak ada jalan lain lagi Tara pun memilih keluar dari rumah Brian dengan membawa semua barang nya sambil menangis.
" Brian maaf kan mama sudah telat memberi tahu mu. "(Ucap Gita memeluk Brian.)
" Tidak ma, ini bukan salah mama, sekarang masuk lah ke kamar dan istirahat. "(Ucap Brian membawa mama nya masuk ke kamar.)
Sementara itu Tara menangis di sepanjang jalan, mau naik taxi dia tidak mempunyai uang dan ini sudah jam 04.30
" Aku harus kemana? Sialan, sekarang aku sudah seperti orang terbuang. "(Ucap Tara menangis dan menjerit di tepi jalan.)
Tampa Tara sadari dia masuk ke gang kecil yang sunyi dan gelap.
" Eh, bro lihat ada mangsa. "(Ucap salah satu preman kepada teman nya.)
" Iya, cantik juga ya. "(Ucap preman yang satu nya.)
" Tunggu apa lagi ayo! "(Ajak pereman itu kepada teman nya.)
Dua preman itu pun menghampiri Tara.
__ADS_1
" Hay cantik. "(Ucap preman menghalangi jalan Tara.)
" Ma... mau apa kalian!? "(Ucap Tara panik.)
" Hey, jangan galak-galak, kami hanya ingin bermain. "(Ucap preman satu nya memegang tangan Tara.)
" Lepas! Lepaskan aku! "(Ucap Tara memberontak.)
" Melepaskan mangsa cantik seperti mu? Tidak mungkin. "(Jwab pereman itu menarik Tara.)
" Kalian mau bawa aku kemana! Lepas kan! Tolong... tolong! "(Jerit Tara sambil menangis.)
" Sayang, jangan berteriak karena itu percuma kau tidak akan mendapatkan pertolongan, lihat lah di sini sunyi, hanya ada kami. "(Ucap preman itu lalu menarik Tara ke semak-semak.)
Skuat apapun Tara menangis dan menjerit tidak ada seorang pun yang mendengar nya karena memang itu adalah jalan buntu, mana ada orang subuh-subuh di sana.
Mungkin ini adalah hukuman atau balasan dari perbuatan Tara kepada Diva. Kedua preman itu memper***a secara bergantian, sehingga Tara pingsan.
Setelah Tara pingsan kedua preman itu pun meningal kan Tara lalu mereka kabur entah kemana.
Si sisi lain
"Huaaam." (Diva menguap saat bangun dari tidur nya.)
Diva melihat sekeliling, sudah ada suster yang sedang merawat tuan Baylor. Suster itu tersenyum ke arah Diva.
"Kenapa kau tersenyum kepada ku? " (Tanya Diva bingung.)
"Tidak nona, aku hanya iri sedikit melihat dan tuan muda. " (Ucap suster itu cengegesan.)
Tampa Diva sadari ternyata ia tidak di atas pangkuan Aziel dengan tangan Aziel yang memeluk erat pinggang nya.
Diva pun bergegas bangun dan membenarkan baju nya yang berantakan.
Tampa sengaja Diva menginjak kaki Aziel dan itu membuat Aziel kesakitan dan terbangun.
"Ahh, apa kau ingin mematahkan kaki ku?! " (Ucap Aziel memegang kaki nya.)
"Aduh, maaf-maafkan aku, aku tidak sengaja. " (Ucap Diva melihat kaki Aziel.)
"Tidak sengaja kata mu? Kau lihat ini? Kaki ku memar begitu. " (Ucap Aziel mencari perhatian.)
"Apa? Memar? Yang benar saja! Kau kira aku ini gajah? Baru keinjek segitu doang sudah menangis dasar semut payah! " (Ucap Diva menatap kesal Aziel.)
Sementara itu Luna mengikuti Sela dan Marisa kerumah sakit mengunakan taxi karena Marisa dan sela tidak mengijinkan Luna menumpang mobil mereka.
__ADS_1
Bersambung ....